Dinikahi karena ingin membalaskan dendam kematian sang kakak yang meninggal karena bunuh diri.
Mahendra Addison Wijaya, duda anak satu yang tampan, kaya dan berkuasa. Menyimpan dendam pada seorang gadis muda cantik bernama Alisia.
Kakaknya, Brahmana. Ditemukan meninggal di apartemennya gantung diri. Dan semua bukti yang ada mengarah pada Alisia sebagai penyebabnya.
Akankah cinta bersemi di hati Mahendra yang sudah terlampau benci pada Alisia, dan apakah cinta Alisia tetap singgah dalam hati setelah menerima kekejaman demi kekejaman dari Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANITA SELINGKUH
"Aaakkhh?? Lep-paskan ak-kuh? Hiks hiks hiks."
Dua Bodyguard memegangi kedua tangan Siya kanan dan kiri.
Mahend melangkah angkuh menuruni anak tangga dengan sorot matanya yang tajam menghunus pada Siya.
"Kau sangat berani, Siya. Aku akui itu. Tapi kau menunjukkan kemampuanmu pada tempat dan orang yang salah." Mahend duduk di sofa. Bersandar angkuh dengan kedua tangannya ia bentangkan pada punggung sofa.
"Sampai kapan kau akan melakukan ini padaku, Tuan Mahendra?" hilang sudah rasa takut Siya. Ia tak lagi ingin ditindas. Cintanya tak dihargai, dirinya tak dikasihi. Lantas untuk apa tetap bertahan jika memang itu tujuannya? Ingin melihat Siya mati bunuh diri.
"Ha ha ha ha!" tawa Mahend menggema.
"Kau sudah tahu jawabannya, Istriku Siya?"
Siya dan Mahend saling menatap tajam. Keduanya merasakan titik sakit yang serupa meski tak sama.
Betapa menderitanya seorang Mahend. Kakak yang sangat disayangi mati bunuh diri. Memicu pertengkaran kepada Anita sang istri sampai bercerai, hingga Ayahnya Tuan Wijaya yang tak sanggup menanggung derita mati karena jantung. Perusahaan yang anjlok dan hampir bangkrut, hingga butuh waktu 3 tahun untuk memulihkan semua, berusaha sembuh dari luka. Dan akhirnya bisa kembali jaya. Namun luka di hati tetap singgah tak terobati.
"Baiklah... Berikan aku sebuah pisau. Atau tali. Apa saja. Aku akan melakukannya di hadapanmu saat ini juga. Agar kau puas, Mahendra?"
"SIYAAA?" sontak Mahend berteriak dan berdiri.
Tatapan Mahend semakin tajam, dan Siya pun terus menatapnya seakan memberikan perlawanan.
"Bawa Siya ke kamarku." perintah Mahend pada para Bodyguardnya.
"Baik, Tuan."
Siya tak melawan. Membiarkan 2 Bodyguard itu menarik dirinya kembali menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar Mahend.
"Aaahhhh?" Mahend berteriak, entah apa yang sebenarnya membuat Mahend lebih marah saat ini, benarkah karena Tom yang masuk ke kamar Siya. Atau karena Siya yang mengatakan menyerah dan akan mengakhiri hidupnya. Mahend mulai terjerat di dalam permainan yang ia ciptakan.
...****************...
Pukul 1 siang. Tom mengantar pulang Sabrina ke rumah mewahnya setelah selesai periksa. Ia memasuki rumah mewah Wijaya beriringan dengan Sabrina sambil ngobrol ringan. Hingga mereka memasuki ruang tengah.
Mahend masih duduk disana sejak tadi. Diam membatu. Tentu banyak hal yang berputar dalam pikirannya. Ada getaran cinta yang tumbuh yang tak ingin Mahend akui.
"Mahend? Kamu di rumah? Tidak kerja?" Sabrina melihat Mahend kaget. Mahend pun mendongak, ia tak menyadari kedatangan mamanya yang bersama dengan Tom. Pria yang sudah membuatnya sangat marah hingga melampiaskannya pada Siya tadi.
Mahend mencoba mengendalikan emosinya. Ia tak ingin kembali marah-marah dan bertengkar dengan Tom di depan Sabrina.
"Mamah sudah pulang, bagaimana hasilnya?"
"Tante baik-baik saja, Mahend. Hanya harus lebih banyak istirahat, dan lebih tenang, jangan sampai stres. Itu bisa memicu tekanan darahnya naik dan mengganggu jantungnya." Tom yang menjelaskan secara detail pada Mahend. Dan tak mendapat tanggapan.
"Mamah cepatlah tidur. Istirahat yang cukup. Antar mamah ke kamar, Lim."
"Baik, Tuan. Mari Nyonya." Lim menggerakkan tangan sopan agar Sabrina lebih dulu melangkah.
Tom berdiri disana. Ia sudah bisa menebak jika Mahend pasti marah padanya. Dan dia pasti sudah melihat CCTV jika dirinya masuk ke dalam kamar Siya.
"Bisa kita bicara, Tom?" suara Mahend sangat tegas dan angkuh.
"Tentu." Tom sangat santai menanggapi.
Mahend pun melangkah lebih dulu, dan Tom mengikuti di belakangnya. Naik ke lantai atas menuju ruang kerja Mahend.
Saat melewati kamar Siya, Tom berhenti sejenak.
'Apa Mahend telah melakukan sesuatu lagi terhadapmu, Siya? Bersabarlah. Aku akan membantumu keluar dari penjara ini.'
Mahend yang telah sampai di depan pintu seperti dinding menuju ruang kerja itu, berhenti dan menoleh pada Tom yang berdiri menatap pintu kamar Siya seakan menyimpan rasa.
"Apa kau begitu tertarik dengan apa yang menjadi milikku, Sepupu?" suara Mahend yang ditekankan membuat Tom lekas menoleh. Dan dia melanjutkan langkahnya ke arah Mahend.
Dua cucu Addison yang tampan dan gagah itu kini berada di ruang kerja Mahend saling berhadapan.
Mahend sangat menahan emosinya yang ingin kembali meledak dan menghajar Tom.
"Apa yang kau lakukan dengan Siya di dalam kamarnya tadi pagi, Tom?" suara Mahend terdengar berat dengan penuh penekanan.
Tersungging senyum sinis di sudut bibir atas Tom seakan mengejek Mahend.
"Kau cemburu, Mahend?"
"Jawab pertanyaanku tanpa balik bertanya, Tom?"
Tom malah tertawa kecil. Dan Mahend semakin menatapnya tajam dengan urat di wajah yang sudah menonjol menahan amarah.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya obrolan biasa antara Dokter dan Pasiennya." Tom sangat santai. Dia bahkan telah duduk di sebuah kursi dalam ruangan itu.
"Berhenti bermain-main denganku, Tom. Jauhi Siya mulai sekarang. Atau aku akan_?" ucapan Mahend terputus karena Tom angkat suara cepat.
"Jika kau melakukan sesuatu padaku, maka kupastikan kita akan bertemu di meja hijau, Mahend."
Dua saudara yang sangat dekat pada waktu dulu itu kini berada pada ujung sisi yang berlawanan. Berseteru karena seorang wanita.
"Aku tak melakukan apa-apa untuk membantu Siya karena aku menghormati Tante Sabrina yang sudah merawatku dan menyayangiku layaknya putranya sendiri. Tapi jika kau menantangku, akan aku terima dengan tangan terbuka." Tom berdiri angkuh. Melangkah pergi dari ruang kerja itu, Tom merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan.
"Breng_sek!" 'Cyaacckk' Mahend membanting satu benda terbuat dari kaca yang ada di atas meja. Hingga pecahannya berserakan pada lantai marmer hitam yang mengkilap.
...****************...
Flash Back On.
1 bulan sebelum Brahmana berada di pesawat hendak terbang ke Paris.
"Kenapa kau tega melakukan ini pada adikku, Anita?" Bram mendapati Anita yang tengah berjalan bergandengan tangan mesra dengan seorang pria ketika melewati loby sebuah Hotel di pusat kota.
"Itu bukan salahku, Kak Bram? Kau lihat sendiri bagaimana sikap Mahend kepadaku, dia sangat dingin. Dan jarang sekali pulang." Anita memberi pembelaan diri.
"Kau tahu jika Mahend seperti itu karena dia sibuk bekerja. Hingga kau pun bisa bergaya sosialita dan foya-foya bukan?" Bram pun membela adiknya.
"Terserah apa katamu, Kak Bram. Jika kau ingin mengatakannya pada Mahend. Lakukan saja. Aku memang ingin agar bisa segera bercerai darinya. Tapi akan ku pastikan, bahwa hak asuh Al akan jatuh ke tanganku."
Al, si kecil yang baru berusia satu setengah tahun kala itu, dan masih membutuhkan asupan ASI dari Anita. Membuat Bram diam. Membiarkan kesetiaan Mahend di khianati oleh sang istri.
Semakin lama Anita semakin berani, saat Mahend tidak pulang ke rumah, karena harus ke luar kota atau ke luar negri. Anita pun turut tak pulang juga. Dan dia bergonta-ganti pria sesukanya.
Sabrina yang sudah tak lagi bisa bersabar ingin sekali memberitahukan kelakuan istrinya itu pada Mahend, namun Bram yang mencegahnya. Jika melihat usia Al, pengadilan pasti akan memberikan Hak asuh pada Sabrina. Dan Bram tak ingin itu terjadi.
Di hari lain.
Bram tengah melakukan panggilan video dengan Siya di ruang tengah. Obrolan ringan seputar hari yang melelahkan.
Raut bahagia terpancar dari wajah Bram, ia bahkan selalu tersenyum dan sesekali tertawa. Wijaya yang menuruni anak tangga itu jadi penasaran dengan siapa Putra pertamanya itu tengah bertelepon, hingga membuatnya sangat bahagia.
"Khem!." Wijaya berdehem menggoda sang putra, lalu duduk di sofa yang lain.
"Siya, Kak Bram tutup dulu ya teleponnya? Nanti Kakak hubungi lagi." Bram pun mengakhiri panggilan.
Tatapan Wijaya menggoda sang putra yang terlihat berbunga-bunga.
"Ehm? Sepertinya, anak papah ada yang sedang jatuh cinta? Apa malah sudah punya kekasih? Dan tidak dikenalkan sama Papahnya?" suara Wijaya yang sudah paruh baya terdengar renyah penuh semangat, Pria itu masih menyisakan sisa-sisa garis ketampanannya yang diwariskan pada kedua putranya.
"Papah?" Bram merasa malu. Tentu saja. Hingga mereka berdua tertawa bersama.
"Jadi, siapa dia?" Wijaya kembali bertanya.
"Belum pacar, Pah. Aku baru akan menyatakan cintaku besok pada waktu yang tepat."
Mereka terus ngobrol membicarakan tentang Siya. Lebih tepatnya Bram yang sangat menggebu menceritakan sosok wanita yang dicintainya itu pada sang Papah.
"Papah tidak bisa membuka pintu ruang kerjamu, Bram. Apa kau mengganti sandinya?"
"Iya, Pah."
"Papah tadi mau mencari buku designe untuk perhiasan yang ingin papah luncurkan di musim semi."
Bram mengangguk mengerti, dan dia pun menyebutkan sandi barunya pada Wijaya, hingga wijayalah satu-satunya orang yang tahu sandi Ruangan Bram, selain Bram sendiri. Lalu Bram mengatakan jika semua yang mereka bicarakan barusan itu adalah rahasia mereka berdua.
"Ha ha ha ha" Tawa keduanya terdengar indah nan bahagia.
Flash Back Of.
...****************...
tng ca w bla'in
anjirr... anjirr... w bnci otak w sndri 🤦🏻♀️
🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻🏃🏻💨