Usianya baru menginjak 20 tahun, dia masih kuliah semester empat. Kania Gabriela, gadis yang ceria dan manja itu bersahabat dengan Bella Anastasya yang memiliki seorang paman bernama Axel Niel Pradita Winata.
Laki-laki blesteran Jerman Jawa itu adalah seorang duda beranak satu. Kania mengenal Axel dari sahabatnya Bella yang juga blesteran Jerman Jawa dari mamanya.
Karena iseng sering mengobrol dengan Axel om dari sahabatnya, Kania justru mengajak laki-laki itu menikah.
"Om, nikah yuk?"
"Eh, bocah. Kuliah yang benar, jangan mikir nikah."
Begitulah ketengilan Kania pada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummi asya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Masakan Axel
Rencana Kania akan mendekati Axel itu hari ini akan dia lakukan setelah, rencana yang cukup banyak di kepalanya.
Kini setelah pulang dari kampus, sengaja dia berangkat sendiri ke kafe tanpa menunggu lagi Bella.
"Kania, Lo mau kemana?" tanya teman satu jurusan.
"Mau kerja," jawab Kania singkat sambil menyalakan mesin motor.
"Kerja? Kerja di mana? Nguli Lo?"
"Sorry, gue ngga mau kasih tahu Lo. Udah deh, gue cabut. By."
Kania langsung melakukan motor Scoopy-nya dengan cepat, Bella datang menatap temannya juga.
"Lo ngga ikut kerja sama Kania? Lo kan sahabat karibnya," tanya teman satu jurusan juga dengan Kania.
"Kerja? Oh, dia emang kerja kok," jawab Bella singkat saja.
"Emang kerja di mana tuh si Kania?"
"Nguli."
"Waah, jadi bener Kania kerja nguli. Ck ck ck, cantik-cantik kok kerja nguli sih? Perasaan Kania itu papanya juga direktur, kok dia nguli sih.'
Bella tidak menanggapi ucapan temannya itu, dia langsung mengambil motornya lalu pergi tanpa pamit lagi.
Sementara itu, Kania sudah memarkirkan motornya di tempat parkiran khusus karyawan. Dia langsung masuk, suasana kafe cukup ramai dan gadis itu langsung menuju lokernya menyimpan tas di sana.
"Kenapa baru datang? Sejak siang tadi pengunjung ramai, harusnya Lo itu kerja dari pagi," ucap Sinta dengan ketus.
"Sorry, gue kan kuliah." jawab Kania.
"Kuliah, seharusnya kamu harus milih kerja atau kuliah. Jangan seenaknya saja kalau kerja, enak bener kerja separuh waktu tapi gaji penuh," ucap Sinta lagi.
Kania menatap kesal pada Sinta itu, tapi dia langsung pergi tanpa bicara lagi. Dia malas meladeni Sinta yang selalu mencari kesalahannya setiap kali dia mengerjakan sesuatu.
"Kania, kamu baru datang?" Axel menyapa.
"Iya om, maaf. Tadi di kampus dosennya masuk semua, malah korupsi waktu lagi. Maaf ya om," jawab Axel.
Axel menatap Kania sambil menghela napas panjang, lalu beralih pada Sinta yang tak jauh dari tempat Kania semula. Sinta menatap kesal pada Kania, tapi ketika Axel menatapnya dia pun tersenyum tipis.
"Cepat kamu ke dapur, yang lain kewalahan tuh meladeni pengunjung."
"Iya om."
"Oh ya, Bella kenapa ngga ikut?"
"Ngga tahu om, aku ke dapur dulu."
Kania langsung berbalik dan melangkah menuju dapur, Axel memandangnya sampai menghilang ke dapur. Tapi kemudian senyumnya mengembang, lalu pergi ke kantornya.
_
Pukul setengah sepuluh malam, Kania belum pulang karena memang setelah tutup semua karyawan harus membereskan meja dan kursi serta alat masak dan juga alat makanan.
Kania bagian mengelap meja dari sekian banyak meja dan kursi, di bantu dua orang karyawan laki-laki.
"Udah semua Kania? Gue udah selesai."
"Ini bentar lagi, bantuin dong."
"Ogah, gue udah capek dari siang. Selesaikan aja tuh, tinggal dua lagi kan?"
"Ck, jahat banget sih ngga bantuin gue."
"Nikmati Kania, daah. Kita pulang ya, hahah."
Kania cemberut, dia melihat meja dua lagi sebenarnya ringan tapi tubuhnya sudah lelah. Mau tidak mau dia harus menyelesaikannya, beberapa orang sudah mulai pulang.
Sejak tadi dia kesal sekali, tapi akhirnya selesai juga. Dan tentu kafe sudah sepi, Kania melangkah menuju tempat loker tapi sebelumnya dia harus cuci tangan lebih dulu.
Ketika melewati ruangan kantor Axel, gadis itu berhenti dan menatap pintu ruangan. Beberapa detik dia menatap pintu ruang kantor Axel, namun dia terkejut ketika sapaan dirinya.
"Sudah selesai Kania?"
Seseorang bertanya, Kania menoleh. Axel.
"Udah om, capek banget nih aku," jawab Kania.
Axel tersenyum kecil, dia berbalik dan melangkah menuju dapur. Kania heran, tapi kemudian dia mengikuti Axel ke dapur.
"Om, mau apa?" tanya Kania.
"Kamu maunya apa?" Axel balik bertanya.
"Aku lapar om," jawab Kania.
"Ayo kita makan."
Axel pun melanjutkan langkahnya di ikuti Kania, tapi gadis itu heran kenapa pergi ke dapur.
"Aku akan masak makanan untukmu, kamu duduk saja di sana ya," kata Axel.
Kania tersenyum senang, tapi dia bukannya menuruti perkataan Axel untuk duduk di kursi. Gadis itu justru mengikuti Axel pergi ke dapur.
"Kenapa ikut? Duduk aja di kursi, nanti makanan aku antar," kata Axel.
"Aku mau lihat om Axel masak, kayaknya enak deh masakan om. Mau bantuin om masak juga," ucap Kania, Axel tersenyum.
Dia membiarkan Kania mengikutinya ke dapur, sampai di sana Axel mengambil celemek lalu mengambil bahan makanan dari dalam kulkas. Setelah itu mengambil wadah dan alat memotong, Kania memperhatikan kelincahan tangan Axel mengambil barang-barang yang di butuhkan.
Pandangannya selalu bergantian, dari bahan yang di buat Axel lalu ke wajah Axel yang tampan itu. Kania sangat terpesona dengan ketampanan Axel apa lagi tangannya lincah mengupas, memotong juga meracik bumbu serta memasaknya.
Axel menoleh pada Kania, gadis itu masih terpesona. Laki-laki itu tersenyum tipis melihat Kania yang masih di posisinya semula, mengagumi dirinya.
"Kamu suka makanan Jerman?" tanya Axel sambil mengaduk masakannya.
"Eh, aku belum pernah coba makanan Jerman om. Om Axel bisa memasak makanan Jerman?" Kania bertanya dengan penasaran.
"Tentu saja, om tinggal di sana sudah lama dan tentunya om sangat bisa membuat masakan Jerman termasuk yang om buat ini." jawab Axel.
"Itu makanan apa om?"
Axel menoleh pada Kania dan tersenyum kecil tanpa menjawab, Kania sendiri menikmati kegiatan Axel yang belum pernah dia lihat meski sudah beberapa Minggu magang di kafenya.
"Itu pasti enak ya om," ucap Kania.
"Sebentar lagi selesai, ini makanan favorit om di Jerman." kata Axel.
Setengah jam dia membuat makanan, lalu di ambil piring yang di bawakan Kania secara suka rela. Tepatnya sengaja dia mengambil piring agar Axel tidak kerepotan.
"Hmm, baunya enak."
Axel memindahkan hasil masakannya ke dalam piring, lalu membawanya ke meja. Kania segera duduk, Axel kembali ke kitchen set mengambil satu masakan lagi lalu mengambil minuman dalam kulkas.
"Makanlah, ini namanya kasepazle dan maultaschen." Axel menjelaskan makanan yang dia buat.
"Namanya sulit di ucapkan om, yang penting aku makan masakan om Axel. Ngga apa-apa kan ngga bisa ngucapinnya?"
Axel mengangguk, dia merasa lucu dengan tingkah gadis cantik di depannya itu.
"Kamu lucu Kania."
_
_
*****