Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
“Sore Ren. Gimana sudah
sehat kan..?”
“Sore. Udah mas, kemaren
juga udah ngantor kok, tapi cuma setengah hari.”
“Kayaknya cuma sakit
sebentar, kamu sudah terlihat agak kurusan....”
“Masak sih.... perasaan
sama saja...”
“Yaaa.... kan orang lain
yang ngelihat.... o ya...ini aku bawa sesuatu. Mudah-mudahan cocok dengan
seleramu.” Kata Bram sambil menyerahkan paper bag. Renata heran
“Apa ini mas...?”
“Buka ajaaa....”
Renata pun membuka. Dan
terlihat dua botol parfum yang dari mereknya memang parfum kesukaan Renata.
“Kok mas Bram tahu kalau
ini merk parfumku...?”
“Apa sih yang gak aku
tahu tentang kamu..???” Bram menjawab sambil nyengir. “Kan aku lihat di kamar kamu
waktu kamu sakit, kan merk itu parfummu yang kebetulan tinggal sedikit ...?
Renata ingat, Bram memang
sudah masuk di kamarnya waktu dia sakit, dan memang parfumnya tinggal sedikit,
karena waktu menemani Bram membeli kaos untuk tennis, dia sempat mencari parfum
di mall, yang kebetulan merk kesukaannya habis.
“Makasih mas, pake
repot-repot beli parfum segala.”
“Gak repot sih. Karena
kebetulan punyaku juga hampir abis, dan sekalian beli juga buat mami..”
Mbok Jum keluar membawa
secangkir kopi dan kue-kue kering.
“Monggo den diminum..”
“Makasih mbok..”
‘Mbok minta tolong ini
dibawa ke kamar ya..” Kata Renata sambil menyerahkan paperbag kepada mbok Jum.
“Ya jeng....”
“Ren kita jalan yuk..” Ajak
Bram setelah mbok Jum pergi ke belakang.
“Kemana...?”
“Yaaaa... muter-muter aja
kemana gitu, sekalian makan. Ngilangin penat, dua hari full aku meeting.
Rasanya kepala pusing”
Renata diam, memikir
sejenak.
“Tapi kalau kamu gak mood
ya gak papa kita ngobrol di rumah aja.” Kata Bram yang melihat Renata masih diam.
“Oke mas, aku ganti baju
dulu.” Renata bangkit berdiri dan menuju kamarnya untuk berganti pakaian,
sementara Bram meminum kopinya dan memakan kue kering. Tak lama Renata keluar
dengan memakai celana jeans dan baju santai serta sneaker yang senada dengan
warna bajunya. Rambutnya diikat agak ke bawah.
“Waahhh... aku dikira jalan
sama ABG nih....” Kata Bram begitu melihat penampilan Renata.
“Haaaa,,,, kenapa mas...????”
Tanya Renata heran
“Lha iyaaa... kamu
seperti anak SMA dengan penampilan begitu Ren...” Kata Bram tersenyum
“Terus... harus kayak
emak-emak maunya mas Bram...?”
“Yeeee... siapa bilang
begitu..??? Aku suka kok..” Jawab Bram sambil tersenyum manis.
“Udah ah... jadi jalan
gak nih..? Atau aku ganti baju..?” Jawab Renata sambil sedikit cemberut.
“Iyaaa... iyaa... Ayo... gitu
aja ngambek.” Kata Bram sambil berdiri dan mengusap kepala Renata.
Keduanya keluar rumah dan
tak lupa pamit dengan mbok Jum.
Sesaat setelah mobil Bram
berjalan, rupanya Erwin datang, dan dia masih sempat melihat Renata masuk ke
dalam mobil dan meninggalkan rumah, tetapi Erwin tidak tahu dengan siapa Renata
pergi. Wajah Erwin terlihat kecewa karena tidak bertemu dengan Renata.
Apakah kamu sudah
menerima kehadiran laki-laki penyembuh luka hatimu Renata? Siapakah laki-laki
itu? Atau kamu pergi dengan temanmu? Tapi ini kan malam minggu. Kata Erwin
dalam hati.
Bebagai pertanyaan muncul
dalam pikiran Erwin. Rupanya dia sudah tahu masa lalu Renata dari Tia, pada
saat dia menceritakan perasaannya terhadap Renata kepada Tia.
Hatinya sedikit kecewa
karena tidak bisa bertemu dengan Renata. Ini adalah malam minggu pertama dia
mau berkunjung ke rumah Renata. Dan dia merasa dirinya bersalah karena tidak
memberitahu Renata kalau akan datang ke rumahnya. Maksudnya akan memberi
surprise. Tapi..... Biarlah... toh hari Senin dia akan ke Surabaya untuk urusan
kantor dengan timnya, yang didalamnya ada Renata. Jadi bisa tanya langsung saat
di Surabaya. Kata hati Erwin untuk menghibur dirinya.
*****
“Kamu pengen makan apa
Ren...” Tanya Bram setelah sekitar dua puluh menit di tengah perjalanan.
“Apa aja mas, terserah.
Aku cuma pengen makan buah aja..” Jawab Renata pendek
“Tuuuhhh....
kan.... kumat lagi males makannya.”
“Lagi
gak ingin makan macem-macem mas.” Renata berdalih
Kemudian Renata diam. Dia
lagi malas berdebat dengan Bram. Pandangannya ke luar jendela. Lalu lintas
malam minggu cukup padat, tapi tidak menimbulkan kemacetan. Ahhh.... sudah
berapa lama aku tidak menikmati malam minggu dengan cowok? Rasanya terakhir
adalah saat Adhit akan berangkat ke luar negeri. Ah... lagi-lagi bayangan Adhit
muncul. Sebegitu besarnyakah perasaan cintaku padanya? Tapi rasa sakit ini???
Renata menghela nafas berat. Sekuat hati dia menahan agar air matanya tidak
menetes.
“Ren....” Bram memanggil nama Renata, tetapi tidak ada
sahutan. Renata masih asyik dengan lamunannya, tidak menyadari kalau ada
panggilan.
“Renata....” Kembali Bram
memanggil dengan tangan memegang tangan Renata..
“Eh... iii... iya mas,
kenapa?” Jawab Renata tergagap karena kaget sambil menoleh.
“Apa yang kamu pikirkan
sih, kok sampai segitunya..??” Tanya Bram lembut
“Gak ada mas....” Renata
menggelengkan kepalanya. Bram menarik tangan Renata dan menciumnya.
“Mas... ih...!!!” Renata
buru-buru menarik tangannya. Dia selalu merasa gugup dengan perlakuan romantis
dan lembut dari Bram.
“Kenapa Ren...??? Kamu
tidak suka..???”
Renata terdiam. Dadanya
berdesir mendapat perlakuan Bram yang demikian. Ada rasa sakit di dadanya.
Seandainya Bram bersikap cuek, itu akan lebih baik bagi Renata, tapi ini....
begitu lembut dengan semua perhatiannya yang sangat besar terhadap dirinya.
Bram tidak pernah bicara ketus.Tutur katanya sangat sopan. Ah.... Renata
kembali menghela nafas berat.
“Sory Ren kalau kamu
tidak suka. Tapi aku akan tetap melakukannya, kamu suka atau tidak suka...”
Kata Bram menoleh sambil mengelus puncak kepala Renata.
“Apa mas Bram biasa
bersikap begitu pada perempuan...?” Tanya Renata.
“Ya... hanya pada perempuan yang aku cintai.. !” Jawab Bram
tegas sambil tersenyum manis. Renata terdiam dengan jawaban yang mematikan dari
Bram, tidak bisa lagi berkata apa-apa. Kembali membuang pandangannya ke luar
jendela. Hatinya merasa teriris. Maaf mas... aku belum bisa memberikan seperti
apa yang kamu berikan padaku. Kembali Renata berkata dalam hati.
“Ehh.... ngomong-ngomong
kita mau makan apa nih... dari tadi jalan terus...?” Bram kembali mengagetkan
Renata.
“Tuuu.... kannn... diem
lagi. Pengen makan apa Ren..??” Tanya Bram lagi mengulang.
“Mas Bram maunya makan
apa..?”
“Kok balik nanya sih....”
“Yaaa... aku bingung juga
mau makan apa...”
“Gimana kalau steak,
kayaknya kamu suka juga kan dan gak terlalu berat...?”
“Oke terserah aja...”
Renata setuju.
next