NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ibuku Ingin Menjual Rumah

Beberapa saat kemudian setelah mengemudi lima belas menit. Mobil yang dikendarai Damar akhirnya berhenti di halaman rumah Yulia. Setelah mematikan mesin, ia segera turun dan melangkah menuju pintu depan. Pikirannya masih dipenuhi percakapan dengan sang ayah pagi tadi.

Begitu memasuki rumah, Damar mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia mencari sosok wanita yang kini menjadi tempatnya bergantung setelah pernikahannya dengan Nafisa di hampir berakhir.

Belum sempat ia memanggil, sepasang tangan melingkar di tubuhnya dari belakang.

“Damar, ada apa?” Suara lembut yang terdengar menggoda itu menyapa telinganya.

Damar langsung berbalik. Benar saja, Yulia berdiri di hadapannya dengan senyum manis di bibir.

“Sayang ....” Damar mengembuskan napas, kemudian meraih tangan perempuan itu. “Semalam, Nafisa memberiku surat perceraian.”

Senyum Yulia sedikit memudar. “Lalu?”

Damar menunduk sejenak sebelum kembali menatapnya.

“Enggak ada pembagian harta. Dulu, aku sendiri yang membuat kesepakatan kalau salah satu dari kami berselingkuh, seluruh harta akan menjadi milik pihak yang dikhianati.” Ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Karena aku yang berselingkuh, semuanya jadi milik Nafisa.”

Yulia terdiam sebentar. Namun, tak lama kemudian, ia menggeleng pelan dan mengusap lengan Damar.

“Enggak masalah. Anggap saja kamu sudah membayar Nafisa atas semua yang terjadi. Sekarang, kamu punya aku.”

Damar menatap wajah perempuan di hadapannya. Dari nada suaranya, Yulia terdengar begitu tulus.

Perasaan lega perlahan menyelinap ke dalam hatinya.

“Tapi, ada masalah lain, Sayang.” Damar menarik napas panjang. “Ayahku bilang, setelah kita menikah, kita harus pergi dari kota ini.”

Kening Yulia seketika berkerut. “Kenapa?”

“Rumah peninggalan kakek dan nenekku di desa gam ada yang menempati. Ayah menyuruhku tinggal di sana sekaligus mengurus sawah mereka.” Damar menggenggam tangan Yulia, lalu menatapnya dengan sedikit keraguan. “Jadi, kita tinggal di sana saja, ya? Kamu mau, kan, Sayang?”

Yulia langsung menggeleng kecil.

“Tinggal saja di sini, Damar. Buat apa kita pindah ke desa?”

Damar terdiam sesaat. Ia sudah menduga Yulia akan keberatan, tetapi ia sendiri tak punya banyak pilihan setelah diusir secara halus oleh ayahnya dari rumah keluarga.

“Kamu gak mau ikut aku, Sayang?”

“Mau,” jawab Yulia cepat. Ia kemudian melirik ke sekeliling rumah sebelum kembali menatap Damar. “Tapi, bagaimana dengan rumah ini?”

Damar mengikuti arah pandangannya. Rumah yang selama ini ditempati Yulia memang cukup nyaman, tetapi ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk memulai kehidupan baru bersama perempuan itu.

“Dijual saja, Sayang.”

Yulia kembali mengernyit. Ia menarik tangannya perlahan, kemudian menatap Damar dengan raut ragu.

“Damar, rumah ini haknya Nafisa. Kalau dijual, bagaimana?”

Damar segera meletakkan kedua tangannya di bahu Yulia, berusaha meyakinkan perempuan itu agar tak terlalu memikirkan persoalan tersebut.

“Kita kasih saja Nafisa uang lima puluh juta. Sisanya kita pakai untuk membuka usaha di desa.”

Yulia tak langsung menjawab. Matanya masih menatap Damar dengan keraguan yang belum sepenuhnya hilang.

Damar mengusap bahunya lembut.

“Sayang, percayalah sama aku. Kita bisa memulai hidup baru di sana. Gak perlu terus memikirkan masa lalu.”

Yulia menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangan. Sepertinya, ia sedang mempertimbangkan usulan tersebut.

“Bahkan kalau kita tinggal di desa, kita memang bisa memakai uang hasil panen sawah. Tapi kamu tahu sendiri, Sayang, panen gak setiap bulan. Kita tetap butuh uang untuk kebutuhan sehari-hari.”

Damar mengangguk, “Kalau kita punya usaha, kita bisa mendapatkan penghasilan tambahan,” ujarnya meyakinkan. “Kita pikirkan nanti usaha apa yang cocok.”

Yulia kembali mengembuskan napas. Setelah beberapa saat, akhirnya ia mengangguk pelan.

“Baiklah. Aku akan bicara dengan Nafisa soal rumah ini.” Ia berhenti sejenak, lalu menatap Damar lagi. “Tapi, kalau dia gak mau bagaimana?”

Damar mengangkat bahu, seolah persoalan itu tak terlalu sulit untuk diselesaikan.

“Kalau dia gak mau, ya sudah. Tanpa persetujuannya pun, rumah ini akan tetap kita jual.”

Yulia terdiam mendengar jawaban tersebut, tetapi akhirnya ia mengangguk juga.

“Baiklah.”

Senyum lega langsung menghiasi wajah Damar. Ia menarik Yulia ke dalam pelukannya, lalu mendekap perempuan itu erat-erat.

“Terima kasih, Sayang.”

Yulia membalas pelukannya, sementara Damar memejamkan mata sejenak.

.

.

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Cahaya matahari yang menembus jendela kamar rumah sakit menerangi sebagian ruangan yang sejak pagi terasa tenang. Nafisa duduk di sisi ranjang, memperhatikan Oma Rima yang kini berbaring dengan napas teratur. Perempuan paruh baya itu tampaknya tidur pulas setelah menghabiskan waktu berbincang dengan mereka.

Setelah memastikan Oma Rima benar-benar terlelap, Nafisa mengalihkan pandangan ke arah Dewangga. Sejak tadi, pria itu sibuk bekerja menggunakan laptopnya, sesekali menggerakkan jemari di atas papan ketik tanpa menghiraukan keadaan sekitar.

Nafisa menghela napas pelan. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan kotak kecil berisi gelang pemberian Oma Rima, lalu bangkit dari kursi.

Dengan langkah hati-hati agar tak membangunkan perempuan yang sedang beristirahat itu, ia menghampiri Dewangga.

“Pak.”

Dewangga menghentikan gerakan jemarinya dan menoleh sekilas. “Ada apa?”

Nafisa menyodorkan kotak kecil yang dibawanya. “Gelang ini saya kembalikan kepada Bapak.”

Dewangga melirik kotak itu sebentar, kemudian kembali menatap layar laptopnya.

“Simpan saja.”

“Tapi, Pak, saya—”

“Oma sudah memberikannya kepadamu.” Dewangga menutup laptopnya setengah, lalu menatap Nafisa. “Kalau nanti Oma bertanya tentang gelang itu, apa yang harus saya jawab?”

Nafisa terdiam sesaat. Ia tak menyangkal bahwa perkataan Dewangga masuk akal, tetapi tetap saja ia merasa tak pantas menyimpan pemberian yang sebenarnya ditujukan untuk calon menantu pria itu.

“Bapak bilang saja gelangnya sudah saya simpan dengan baik,” jawabnya setelah berpikir sejenak. “Kalau nanti Bapak punya pasangan baru, gelang itu bisa diberikan kepadanya. Kita juga bisa menjelaskan bahwa sebenarnya kita hanya rekan kerja.”

“Simpan.”

Kali ini, suara Dewangga terdengar lebih tegas. Tatapannya bahkan jauh lebih tajam daripada biasanya.

Nafisa langsung terdiam. Ia menundukkan pandangan, tak berani menatap pria itu terlalu lama. Kotak kecil di tangannya pun kembali ia genggam erat.

Keheningan pun menyelimuti ruangan. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama.

Bzzzt ... bzzzt ...

Getaran ponsel di tangan Nafisa membuatnya tersadar dari lamunannya. Ia menunduk, memeriksa layar, lalu mendapati nama yang sudah lama tak ingin dilihatnya muncul di sana.

Ibu.

Seketika, jemarinya menegang.

“Angkat saja. Apa mau wanita itu?” ujar Dewangga, membuat Nafisa spontan menoleh ke arahnya.

Nafisa tak menjawab. Ia hanya menarik napas, kemudian menggeser ikon panggilan untuk menerima telepon tersebut.

“Nafisa, kamu di mana, Nak?” Suara Yulia terdengar dari seberang.

“Katakan saja, Bu. Ada apa?”

Ada jeda singkat sebelum Yulia kembali berbicara.

“Soal rumah, Ibu ingin menjualnya.”

Nafisa terdiam. Genggamannya pada ponsel semakin erat.

“Kenapa Ibu mau menjual rumah itu?”

“Setelah kamu dan Damar resmi bercerai, Ibu dan Damar akan menikah, lalu tinggal di desa. Lagipula, kamu sudah punya rumah sendiri, kan? Jadi, kamu gak membutuhkan rumah itu lagi.”

Nafisa hampir tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

“Meski aku sudah punya rumah sendiri, rumah itu tetap hakku, Bu,” jawab Nafisa, berusaha menjaga suaranya agar tak meninggi. “Aku nggak pernah bilang Ibu boleh menjualnya.”

“Nah, makanya Ibu sudah memikirkan solusinya. Ibu jual rumah itu, kamu dapat lima puluh juta, sisanya untuk Ibu. Adil, kan?”

Nafisa membeku sesaat. ‘Perhitungan macam apa itu?’

Ia sampai tak tahu harus menanggapi perkataan ibunya dari mana.

Nafisa menarik napas panjang, mencoba meredam kemarahan yang mulai memenuhi dadanya.

“Ibu sadar gak apa yang Ibu katakan?” tanyanya tegas. “Meski rumah itu atas nama Ibu, tapi aku gak warisnya adalah aku. Kalau Ibu tetap memaksakan diri menjual rumah itu tanpa menyelesaikan masalah haknya, biar notaris Ayah yang menangani persoalan ini.”

“Naf—”

Nafisa tak ingin mendengar lebih banyak. Ia langsung memutuskan sambungan telepon sebelum ibunya sempat melanjutkan ucapannya.

Layar ponselnya kembali menampilkan halaman utama. Nafisa menatapnya selama beberapa detik, berusaha menenangkan diri setelah percakapan yang menguras emosinya.

“Kenapa?”

Pertanyaan Dewangga membuat Nafisa mengalihkan pandangan dari ponselnya. Pria itu sudah menutup laptop dan kini memperhatikannya.

Nafisa mengembuskan napas pelan sebelum menjawab.

“Ibu saya mau menjual rumah itu, Pak. Padahal, rumah itu sudah diwariskan kepada saya.”

Kening Dewangga berkerut. “Kamu punya surat hak waris?”

“Hak waris?” ulang Nafisa lirih.

“Iya.” Dewangga menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu menjelaskan dengan tenang, “Surat itu bisa membantu memperjelas siapa yang berhak atas rumah tersebut. Meskipun sertifikatnya masih atas nama ibumu, kalau kamu punya dokumen yang membuktikan hakmu, calon pembeli juga perlu mempertimbangkannya sebelum transaksi dilanjutkan.”

Nafisa terdiam sejenak, mencoba memahami penjelasan atasannya.

“Saya punya suratnya, Pak. Tapi, sertifikat rumah dan tanahnya ada di rumah Ibu.”

Dewangga mengangguk kecil.

“Tenang saja. Selama kamu belum menandatangani dokumen apa pun yang menyetujui penjualan itu.”

Nafisa mengangguk pelan. Setidaknya, penjelasan Dewangga membuatnya sedikit lebih tenang.

Setelah itu, Nafisa mengalihkan pandangan ke arah ranjang. Oma Rima masih terbaring dengan mata terpejam dan napas yang teratur.

Wajah wanita tua itu tampak tenang, jauh berbeda dari kegaduhan yang sedang berkecamuk dalam pikiran Nafisa.

Ia kembali teringat gelang pemberian Oma Rima yang masih berada di tangannya, juga kebohongan yang harus mereka pertahankan demi menjaga perasaan perempuan tersebut.

.

.

Waktu terus berlalu.

Dewangga menghentikan pekerjaannya sejenak ketika pandangannya beralih ke layar ponsel. Ia meraih benda itu dari atas meja, lalu membuka layarnya untuk memastikan waktu.

Pukul sebelas siang.

Ia mengembuskan napas pelan, kemudian menoleh ke arah Nafisa yang masih sibuk menatap layar laptopnya. Sejak tadi, wanita itu tampak serius menyelesaikan pekerjaannya meskipun mereka berada di rumah sakit.

“Kita makan siang dulu,” ajaknya sambil mulai merapikan barang-barang di atas meja.

Nafisa mengangkat wajah. “Iya, Pak.”

Dewangga mengambil kunci mobil dan ponselnya, lalu beranjak dari kursi. Namun, baru saja ia berdiri, gerakannya terhenti ketika melihat Nafisa mendadak memegangi kepala. Wanita itu memejamkan mata sesaat, sementara tubuhnya tampak oleng seolah kehilangan keseimbangan.

“Nafisa!”

Refleks, Dewangga segera meraih tubuh wanita itu sebelum terjatuh. Satu tangannya menahan lengan Nafisa, sementara tangan yang lain menopang bahunya.

Nafisa perlahan membuka mata. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Dewangga bisa melihat jelas wajah wanita itu.

Sesaat, Dewangga terdiam. ‘Kenapa kalau dilihat dari dekat, dia cantik sekali?’

Dewangga nyaris tenggelam dalam pikirannya sendiri sebelum suara lirih Nafisa menyadarkannya.

“M-maaf, Pak. Saya kehilangan keseimbangan.”

Dewangga segera mengerjap, lalu membantu Nafisa berdiri dengan lebih tegak. “Kamu kenapa? Pusing?”

“Sepertinya tekanan darah saya rendah, Pak,” jawab Nafisa sambil mengusap pelipisnya.

Kening Dewangga berkerut. Ia menatap wanita itu dengan khawatir sebelum akhirnya teringat sesuatu. Dengan cepat, ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang cokelat yang selalu dibawanya ke mana-mana. Ia memang terbiasa menyimpan makanan manis untuk berjaga-jaga ketika gula darahnya menurun.

“Ini, makan cokelat dulu.”

Nafisa menerima cokelat itu dengan sedikit ragu, tetapi akhirnya membukanya juga.

“Terima kasih, Pak.”

“Kamu duduk dan istirahat dulu. Jangan memaksakan diri.” Dewangga mengarahkan dagunya ke kursi di dekat meja. “Saya minta Kalendra memesan makan siang untuk kita.”

Nafisa menurut. Ia kembali duduk sambil memegang cokelat yang baru saja diberikan atasannya.

“Iya, Pak.”

Dewangga menundukkan pandangan ke arah ponselnya. Jemarinya bergerak mencari nama Kalendra dalam daftar kontak, lalu menekan tombol panggilan.

Tak lama kemudian, sambungan telepon terhubung.

“Siang, Pak,” sapa Kalendra dari seberang.

“Pesankan makanan untuk dua porsi.’/”

“Seperti biasa, Pak?”

“Ya. Saya tunggu di rumah sakit.”

“Baik, Pak.”

Dewangga mengakhiri panggilan, lalu menurunkan ponselnya dari telinga. Ia melirik Nafisa yang masih duduk sambil memakan cokelat pemberiannya.

“Kalau masih pusing, bilang sama saya,” pesannya.

Nafisa mendongak. “Iya, Pak.”

Dewangga mengangguk kecil, kemudian kembali duduk di kursinya.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!