"Aku yang menciptakan penderitaanmu... maka aku juga yang akan jadi takdir bahagiamu."
Lili tidak pernah menyangka akan bertransmigrasi ke dalam novel buatannya sendiri—menjadi Lilian, seorang pelayan biasa. Mengerikannya, ia datang saat Damian, sang tokoh utama pria, berada di titik terendah.
Dibuang keluarga, posisinya dijarah, dan tunangannya direbut anak angkat yang licik.
Tahu betul penderitaan ciptaannya, Lilian pasang badan. Berbekal 'pengetahuan masa depan', ia membongkar kejahatan anak angkat itu dan menuntun Damian merebut kembali segalanya.
Namun, saat dendam terbalaskan dan Lilian berniat pergi, Damian justru menguncinya erat.
"Kamu yang mengajarkanku cara bangkit, Lilian. Jangan harap bisa pergi setelah merebut hatiku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.23 —Bukti
Pagi harinya di kantor Aetheria Tech, suasana terasa sibuk. Namun, penuh dengan semangat. Setelah kemenangan besar di pameran VEI, telepon kantor tak berhenti berdering dari para investor yang ingin bekerja sama.
Di ruang kerja utama, Damian duduk bersama Felix dan Lilian yang bertindak sebagai asisten pribadinya. Mereka sedang menyeleksi berkas lamaran kerja untuk menambah tim inti Aetheria Tech—mulai dari Lead Engineer, spesialis Cyber security, hingga tim legal untuk mematenkan seluruh penemuan Damian agar tidak dicuri lagi oleh Laurent Group terutama Gavin.
Bukan hanya itu, Damian juga mulai berpikir untuk mencari lahan luas demi membangun gedung perusahaan Aetheria Tech yang lebih besar dan mandiri. Urusan pencarian lahan itu sendiri sudah diserahkan penuh kepada Lilian, yang dengan cekatan mengurusnya.
"Bos, tim hukum kita sudah merampungkan pendaftaran hak paten generator bola kinetik laut," ujar Felix seraya menyerahkan berkas pertanggungjawaban.
Damian mengangguk, lalu memeriksa laporan di hadapannya dengan tatapan puas. "Bagus, Felix. Pastikan tidak ada celah hukum sekecil apa pun."
Setelah Felix selesai melaporkan tugasnya dan pamit keluar ruangan untuk mengecek berkas lain, suasana ruang kerja berubah hening. Lilian kini menatap Damian dengan raut wajah yang amat serius.
"Damian..." panggil Lilian pelan. "Soal kecelakaan Kara... aku sudah menemukan bukti mutlak kejahatan Gavin di dalamnya."
Damian tersentak, pulpen di tangannya seketika terhenti. Tatapan matanya mendadak berubah tajam dan dingin. "Bukti... kejahatan Gavin?"
Lilian mengangguk. Ia mengeluarkan sebuah map tebal serta satu flashdisk dari tasnya—hasil dari penukaran poin dan uang yang ia lakukan bersama si peri mini semalam. Walaupun ia harus merelakan sebagian poin sistem dan pundi-pundi dolarnya habis, Lilian sama sekali tidak rugi. Asal tokoh antagonis ciptaannya itu bisa segera dijebloskan ke penjara, semuanya sepadan!
Lilian menyerahkan flashdisk itu dan membuka map di hadapan Damian.
"Malam itu, Kara didorong oleh Gavin dari lantai dua. Sebelum jatuh, Kara sempat menunjuk wajah Gavin dan mereka bertengkar hebat," jelas Lilian.
Lilian lalu menunjuk satu berkas analisis medis rahasia dari rumah sakit yang berhasil didapatkan Sistem. "Dan bukan cuma itu, Damian... Ini laporan medis otopsi jaringan tubuh Kara. Selama ini Kara tidak bangun bukan cuma karena benturan... tapi karena Gavin meracuninya secara perlahan. Racun itu menggerogoti jaringan inti tubuhnya sedikit demi sedikit."
DEGG!
Dada Damian serasa dihantam godam raksasa. Matanya membelalak menatap lembaran bukti medis itu, urat-urat di leher dan lengannya menegang hebat. Napasnya memburu, dibakar oleh amarah dan rasa bersalah yang luar biasa.
"Gavin..." bisik Damian dengan suara bariton yang tercekik dan sarat akan hawa membunuh. "Dia... dia berani menyentuh adikku sampai seperti ini?!"
Lilian memegang kedua tangan Damian yang gemetaran dan terkepal rapat di atas meja, mengusapnya lembut untuk menenangkan pria itu. "Aku ada di sini, Damian. Kita punya semua buktinya sekarang. Gavin tidak akan pernah bisa lolos lagi."
Damian menatap Lilian dengan pendar mata yang campur aduk—antara murka pada Gavin dan rasa keharuan yang mendalam pada Lilian yang sudah berjuang sejauh ini untuknya.
Namun, di tengah atmosfer tegang dan emosional itu, pintu ruang kerja Damian mendadak terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita bergaun ketat berwarna merah menyala melangkah masuk dengan gaya yang dibuat-buat, membawa sebuah kotak bekal mewah di tangannya.
"Damian..." sapa wanita itu dengan suara mendayu-dayu.
Damian mengerutkan keningnya, amarahnya yang belum padam seketika berubah menjadi tatapan penuh kejijikan. "Clara? Mau apa kamu ke sini?"
Clara—mantan tunangan Gavin yang dulu paling rajin menghina Damian—melangkah mendekat dengan senyum sok polos. Setelah melihat posisi Gavin yang terancam dicabut fasilitasnya oleh Arthur dan kekalahan Laurent Group, Clara sadar betul bahwa kapal Gavin sedang karam. Sekarang, dia ingin berpindah kapal ke Damian yang makin kaya, sukses, dan berkuasa.
Bahkan Raymond, meminta Clara untuk mendekati Damian setelah mereka memutuskan pertunangan hari itu juga.
"Aku cuma mau mampir bawain kamu makan siang, Damian," ujar Clara halus, meletakkan kotak bekal itu di meja Damian sambil memajukan tubuhnya, sengaja memperlihatkan belahan dadanya. "Aku kasihan liat kamu kerja keras... lagipula, sebenarnya selama ini aku cuma dimanfaatkan sama Gavin, Dam. Aku ini juga korban..."
Belum sempat Clara menyentuh lengan baju Damian, sebuah suara deheman nyaring dan tajam memotong aksinya.
"Wah, wah... ada ulat bulu nyasar ke ruangan pacar orang nih?" cibir Lilian.
Lilian berdiri tegak di samping meja kerja Damian dengan kedua tangan bersedekap di dada. Tatapannya menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan senyum sinis yang sangat puas.
"Pacar? Maksudnya apa? Damian, jangan bilang mantan pelayan ini pacar kamu?!" tanya Clara dengan nada tinggi, matanya melotot tak percaya menatap Lilian dan Damian bergantian.
Damian merangkul pinggang Lilian dengan protektif, menatap Clara dengan dingin dan penuh kejijikan.
"Iya, dia kekasihku. Dan kami baru resmi jadian kemarin," usir Damian terang-terangan tanpa ragu sedikit pun. "Jadi Clara, lebih baik kamu pulang saja. Kehadiranmu sama sekali tidak diterima di sini."
Wajah Clara seketika memerah padam menahan malu dan amarah. Tangannya mengepal erat, meremas kotak bekal mewah yang bahkan belum sempat disentuh sedikit pun oleh Damian. Ketika ia melirik ke arah Lilian, gadis itu hanya memberikan senyuman mengejek yang sangat puas, seolah menegaskan siapa pemenang sesungguhnya.
Dengan napas memburu dan rasa malu yang membumbung tinggi, Clara menghentakkan kakinya keras-keras lalu berbalik pergi meninggalkan ruangan Damian.
Begitu pintu tertutup rapat, Lilian tersenyum puas, begitu pula dengan Damian yang tampak lega benalu itu akhirnya pergi.
"Ayo makan siang, kali ini aku yang bayar. Kamu kan pacarku," kata Damian lembut seraya menatap Lilian.
Lilian mendekat, berjinjit sedikit lalu berbisik tepat di samping telinga Damian, "Iya, iyaa... Mas pacar."
DEGG!
Panggilan hangat nan manis itu sukses membuat jantung Damian berpacu gila-gilaan. Pipi pria dingin itu mendadak merona halus. Tanpa menunggu jawaban dari Damian yang masih terpaku, Lilian langsung menggandeng mesra tangan tegap pria itu untuk keluar dari ruangan.
Saat melewati area meja kerja di luar, Damian berdehem menetralkan suaranya.
"Felix, ayo makan siang," ajak Damian.
Felix mengangkat wajahnya dari tumpukan berkas, menatap pegangan tangan Damian dan Lilian yang begitu erat, lalu menggeleng pelan dengan sudut bibir terangkat gatal.
"Saya sudah pesan makanan, Bos. Kalian aja berdua... saya gak mau jadi obat nyamuk," cibir Felix terkekeh geli.
Lilian tertawa kecil sementara Damian hanya memutar matanya, lalu membawa kekasih barunya itu pergi menikmati makan siang mereka.
Bersambung ...
buat apa bertahan demi laki² yang tidak mau menikahi'mu
balik wwooii... balikk...
wow....
kejutan....
ada apa ini Li...
Emak Bapak'mu gak nyariin Kamu Li
tarik nafas lewat mulut...
buang lwt bawah...
bbrrooootttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
tapi Kamu jadi kaya raya Li
mengganggu aja
dia kau Gagav