NovelToon NovelToon
Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Pak Bos, Tolong Lepaskan Aku!

Status: tamat
Genre:CEO / One Night Stand / Cinta Terlarang / Percintaan Konglomerat / Mengubah Takdir / Wanita Karir / Office Romance / Tamat
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kartika

Di hari yang sama, **Kirana Halim** ditinggalkan kekasih empat tahunnya hanya karena dianggap "tidak selevel"—dan di hari yang sama pula, nomor teleponnya diserahkan sang ayah kepada penagih utang demi utang keluarga **Rp 2 miliar**. Malam itu, dalam keadaan mabuk dan hancur lebur, Kirana melakukan satu kesalahan fatal: tidur dengan bosnya sendiri—**Arka**, manajer dingin yang diam-diam diidamkan seluruh karyawati **PT Cakra Nusantara**.

Paginya, Kirana cuma ingin menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Tapi Pak Bos yang biasanya tak tersentuh itu malah berubah jadi pria yang tak sudi melepasnya.

"Anggap saja tidak pernah terjadi, Pak."
"Kamu terlalu manis. Mana bisa kulepas?"

Dari karyawan kontrak bergaji **Rp 6 juta**, Kirana bertekad naik dengan tangannya sendiri—memenangkan tender, diangkat jadi karyawan tetap, naik jadi manajer, sampai kursi direktur. Sementara itu, fitur **"JodohMatch"** di aplikasi Belio terus mencocokkan jodohnya sesuai penghasilan: dari satpam, pegawai kantoran… sampai akhirnya menunjuk pria yang sama—Arka.

Di antara mantan yang menyesal, saingan anak konglomerat, cinta lama yang tiba-tiba kembali, tekanan "bibit-bebet-bobot", dan badai keluarga yang merenggut segalanya, hanya satu hal yang tak pernah berubah: **Arka selalu memilih Kirana.** Dan Kirana? Ia bersumpah akan menjadi perempuan yang pantas—untuk Arka, dan untuk siapa pun.

Tapi kalau pada akhirnya takdir benar-benar mempertemukan mereka lagi… kira-kira, siapa yang akan melamar lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Pilihan

"Pilih," bisik Arka. "Dia atau aku?"

Kirana menatap tangan Arka yang terbuka di bawah pergelangan tangannya. Demam membuat kulitnya panas, tetapi pertanyaan itu jauh lebih panas. Ia bisa saja menjawab saat itu juga. Satu kata, satu nama, lalu semuanya selesai.

Tetapi kalau ia menjawab di bawah tekanan mata yang sakit dan suara yang parau, ia tidak akan pernah tahu apakah itu pilihan atau belas kasihan.

Kirana menarik napas panjang.

"Aku tidak akan menjawab saat kamu demam."

Mata Arka menggelap.

"Kira."

"Tidak." Suaranya bergetar, tetapi ia memaksa diri tetap berdiri. "Kamu sendiri yang bilang tidak akan memaksaku. Jadi jangan membuat aku memilih karena kamu sakit."

Arka menatapnya lama. Untuk sesaat, Kirana mengira ia akan membantah. Namun jari-jarinya akhirnya jatuh lemas ke seprai.

"Aku takut," ucapnya pelan.

Dua kata itu menghantam lebih keras daripada cemburu.

Kirana duduk di sisi ranjang. "Aku tahu."

"Kamu tidak tahu."

"Aku tahu rasanya takut kehilangan sesuatu sebelum sempat memilikinya."

Arka memejamkan mata. Panas di wajahnya belum turun. Lelaki itu, yang biasa membuat satu ruangan diam hanya dengan menaruh map di meja, kini tampak seperti orang yang terlalu lama menahan luka sendirian.

Kirana mengambil kompres, menaruhnya di dahi Arka.

"Tidur dulu."

"Kamu pergi?"

"Nanti. Setelah suhu kamu turun."

"Setelah itu?"

Kirana menelan ludah. "Setelah itu aku harus berpikir dengan kepala dingin."

"Aku tidak suka kepala dinginmu."

"Sayangnya itu satu-satunya bagian dari diriku yang membuat kita belum menghancurkan hidup masing-masing."

Arka tertawa sangat pelan, lalu meringis. Kirana hampir tersenyum, hampir menangis.

Ia menunggu sampai napas Arka lebih teratur. Pukul dua lewat sedikit, demamnya turun ke 37,8. Baru setelah itu Kirana mematikan lampu kamar, meninggalkan air dan obat di meja, lalu keluar dari apartemen dengan dada seperti tertinggal di sana.

***

Mega membuka pintu kos dengan rambut berantakan dan kaus oversize.

"Jam dua pagi, Rana. Kalau ini bukan soal hidup mati, aku tagih biaya konsultasi."

Kirana berdiri di depan pintu, mata merah.

Mega langsung menyingkir. "Masuk."

Lima menit kemudian, Kirana duduk di lantai kamar, memeluk bantal, sementara Mega membuat teh manis panas di gelas retak favorit mereka.

"Jadi," kata Mega, duduk bersila di depannya. "Yang satu demam sambil nanya pilih dia atau aku. Yang satu lagi ngajak masa depan secara legal dan elegan. Hidupmu sekarang sinetron premium."

Kirana menutup wajah dengan bantal. "Jangan bercanda."

"Aku bercanda karena kalau tidak, aku ikut panik." Mega menyentuh lututnya. "Cerita dari awal."

Kirana bercerita.

Tentang Bali. Tentang Cassandra. Tentang Arka yang mengaku menunggu. Tentang Raditya yang tidak memaksa tetapi menawarkan sesuatu yang begitu rapi sampai sulit disebut salah. Tentang Batu Permata, pesan "sudah makan", demam Arka, dan pertanyaan yang membuatnya merasa semua pintu tertutup sekaligus.

Mega mendengarkan tanpa memotong.

Itu salah satu alasan Kirana mencintai sahabatnya. Mega bisa berisik pada dunia, tetapi saat Kirana benar-benar hancur, ia tahu kapan harus diam.

"Aku pernah suka Mas Radit," ucap Kirana akhirnya.

Mega tidak tampak terkejut. "Seberapa suka?"

"Tidak seperti Arka." Ia menggigit bibir. "Tapi ada rasa. Dari dulu mungkin ada. Mas Radit itu... aman. Dia baik. Dia melihat aku tanpa membuat aku merasa kecil. Kalau aku memilih dia, hidup mungkin lebih tenang."

"Dan kalau memilih Arka?"

Kirana tertawa pendek, basah. "Mungkin hidupku tambah rumit."

"Tapi?"

"Tapi ketika Arka sakit, aku tidak bisa duduk diam. Ketika Raditya bicara masa depan, yang aku pikirkan justru Arka belum sempat makan. Ketika Arka bertanya dia atau aku, aku marah karena dia tidak adil, tapi yang paling aku takutkan adalah melihat dia menyerah."

Mega mengembuskan napas.

"Rana."

"Apa?"

"Kamu tidak sedang bingung memilih orang. Kamu sedang takut mengakui pilihanmu karena pilihan itu paling berisiko."

Kirana terdiam.

Teh di tangannya mulai dingin.

"Aku tidak mau jadi perempuan yang hidupnya diringkas oleh laki-laki," bisiknya.

"Memilih laki-laki bukan berarti kamu diringkas oleh dia." Mega menatapnya serius. "Yang penting kamu pilih karena kamu mau, bukan karena dia kaya, bukan karena dia sakit, bukan karena Raditya baik. Kamu pilih karena hatimu tahu pulangnya ke mana."

Kirana menunduk. Air mata jatuh ke bantal.

"Aku takut."

"Aku tahu."

"Aku takut nanti orang bilang aku naik karena Arka."

"Orang sudah ngomong bahkan waktu kamu belum naik. Kalau menunggu semua mulut tutup, kamu tidak akan hidup."

Kalimat itu sederhana.

Dan menyakitkan karena benar.

Mega mengambil ponsel Kirana dari meja. "Mau aku ketik balasan ke dua cowok itu?"

"Jangan."

"Bagus. Aku juga cuma pura-pura jadi manajer cinta."

Kirana akhirnya tertawa kecil.

Tawa itu pecah menjadi tangis yang lebih tenang.

***

Pagi datang dengan langit kelabu.

Kirana tidak tidur banyak, tetapi pikirannya tidak lagi berputar seperti malam sebelumnya. Ia mandi, memakai kemeja putih sederhana, dan mengirim satu pesan kepada Raditya.

Mas Radit, terima kasih untuk malam itu. Saya belum bisa menerima niat Mas. Saya tidak ingin memberi harapan palsu. Kita bicara baik-baik nanti, kalau waktunya lebih tenang.

Ia menatap pesan itu lama sebelum menekan kirim.

Raditya membalas sepuluh menit kemudian.

Terima kasih sudah jujur. Pelan-pelan saja. Saya tetap menghormati kamu.

Kirana menutup mata.

Ia pantas dihormati.

Dan justru karena itu, ia tidak boleh menjadikannya tempat bersembunyi.

***

Arka sedang duduk di sofa ketika Kirana kembali ke apartemennya menjelang siang.

Wajahnya masih pucat, tetapi demamnya tampak turun. Di meja ada bubur yang hampir habis. Obatnya sudah diminum. Untuk ukuran Arka, itu sama dengan minta maaf.

"Kamu datang," katanya.

"Aku masih punya kartu akses tamu."

"Aku tidak cabut."

"Aku tahu."

Kirana berdiri beberapa langkah darinya. Kali ini ia tidak membawa makanan. Tidak membawa obat. Tidak membawa alasan.

Arka menatapnya, lebih sadar daripada semalam, dan mungkin karena itu lebih takut.

"Aku minta maaf," katanya lebih dulu. "Semalam aku keterlaluan."

"Iya."

Ia menerima pukulan itu tanpa membela diri.

"Aku tidak mau kamu memilih karena aku sakit," lanjut Arka. "Kalau kamu datang untuk bilang tidak, aku akan dengar."

Dada Kirana bergetar.

"Aku datang bukan karena kamu sakit."

Arka diam.

"Aku juga tidak datang karena kamu memaksaku memilih."

Ia melangkah mendekat, satu langkah, lalu satu lagi.

"Aku datang karena setelah semua alasan, semua ketakutan, semua pilihan yang terlihat lebih benar, yang paling tidak bisa aku bohongi tetap satu hal."

"Apa?"

Kirana menatapnya.

"Aku pilih kamu."

Wajah Arka berubah seperti orang yang baru saja mendapat udara setelah terlalu lama tenggelam.

"Kira..."

"Tapi dengar dulu." Kirana mengangkat tangan, menahan jarak sebelum ia runtuh ke pelukannya. "Aku memilih kamu bukan berarti aku menyerah pada hidupku. Aku masih mau berdiri sendiri. Aku masih mau karierku jadi milikku. Aku tidak mau kamu menyelesaikan semua hal untukku."

"Aku tahu."

"Belum. Kamu harus benar-benar tahu." Suaranya menebal. "Kalau kita jalan, kita cari cara yang tidak membuat aku hilang di belakang nama kamu."

Arka berdiri pelan. "Baik."

"Dan kamu tidak boleh lagi menyuruh aku memilih saat demam."

Untuk pertama kalinya sejak semalam, Arka tersenyum.

"Catatan diterima."

Kirana hampir tertawa, tetapi Arka sudah berdiri di depannya. Ia tidak menyentuh sebelum Kirana mengangguk kecil.

Baru setelah itu ia menariknya ke pelukan.

Pelukan itu tidak panas seperti paksaan. Tidak rapi seperti janji Raditya. Pelukan itu berantakan, lega, dan terlalu benar.

Kirana menutup mata di dada Arka.

"Kita belum pacaran resmi," gumamnya.

"Belum?"

"Jangan sombong."

Arka mengusap rambutnya. "Kalau begitu, akhir pekan ini ikut aku ke Bandung."

Kirana mendongak. "Bandung?"

"Kamu butuh tempat dengan udara dingin untuk kepala dinginmu. Aku butuh tempat untuk membuktikan aku bisa mengejar tanpa membuatmu merasa dikejar-kejar."

"Itu kalimat yang panjang untuk ajakan jalan."

"Aku sedang sakit. Toleransi."

Kirana menatapnya lama. Rasa takut masih ada. Raditya masih harus ia hadapi dengan lebih jujur suatu hari. Kantor, Felicia, nama Hartawan, semua belum hilang.

Tetapi untuk pertama kalinya, semua itu tidak terasa seperti alasan untuk lari.

"Oke," katanya.

Mata Arka menghangat.

"Ke Bandung."

Di luar jendela, Surabaya tetap sibuk dan panas. Di dalam apartemen, sesuatu yang selama ini sembunyi-sembunyi akhirnya berdiri lebih terang, belum sempurna, tetapi sudah memilih arah.

1
harianti hasanuddin
👍
Normida Naibaho
Mksh cefitanya tbor..👍
Linda Nuraini
ceritanya bagus banget 👍👍
🌹 Mommy caeeeem 😍
novel semenakjubkan begini kok sepi pembaca sih,, heran deh akoh,,,
woyyyyyyyy,,,buruan,,,,ayo baca novel ini,,, sumpah,,, bagus banget ceritanya,,,
Ira Widiyastuti
Terima kasih sudah membuat cerita yang bagus
aisiteru
ceritanya menarik walaupun harus mikir alurnya
aisiteru
cerita ini udah tamat ato blm thor? aku tunggu up tp g ada
Kam1la
💪💪👍, hebat langsung sehari jadi banyak bab....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!