JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3 kali sehari
Setelah keduanya membersihkan diri masing-masing. Baik Evan dan Rania segera pulang karena mereka berdua sangat mengkhawatirkan Junior yang pastinya bocah itu tidak akan bisa tidur tanpa kehadiran mamanya.
Namun, ada sesuatu yang membuat Rania sedikit bermasalah. Ia yang biasanya suka cepat jika berjalan mendadak hari itu ia seperti putri Solo yang jalannya selangkah demi selangkah.
Evan berjalan mendampingi sang istri yang terlihat berusaha berjalan cepat. "Jangan cepat-cepat! Kamu masih sakit, kan!" seru Evan.
Jarak kamar Villa sampai ke tempat perkiraan mobil cukup jauh. Apalagi medan yang cukup menukik sehingga membutuhkan waktu lama untuk menaiki turunan tangga.
"Nggak apa-apa, aku masih bisa menahannya. Junior sudah nungguin kita!" jawab Rania yang berusaha menahan rasa nyeri yang masih tersisa dengan berpura-pura.
"Iya aku tahu. Ya udah kalau gitu, naik ke atas dan aku akan membawamu turun ke mobil!" sahut Evan sambil berjongkok di depan sang istri dan meminta Rania untuk naik ke atas. Seperti saat pertama Evan menggendong Rania dulu.
"Naik ke sini?"
"Ya iyalah, Sayang! Memangnya naik ke mana lagi? Naik ke kamu juga udah kan tadi!" jawaban Evan sontak membuat Rania memutar bola matanya.
"Ayo cepetan! Tangganya masih jauh ke bawah. Biar kamu nggak kecapean!" sahut Evan. Rania pun akhirnya mengikuti perintah sang suami. Rania langsung naik ke atas punggung sang suami.
Setelah Rania naik ke punggungnya, Evan pun segera turun ke parkiran mobil. Rania menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami sambil memejamkan matanya.
Evan tersenyum saat ia menoleh ke samping. Dilihatnya sang istri yang sedang menyandarkan tubuhnya pada punggung Evan.
"Nah, kalau digendong seperti ini kan enak, empuk! Coba dulu kamu kayak gini, nggak usah pakai nyekik segala!" seru Evan yang masih teringat saat pertama kali dirinya menggendong Rania, di mana sang istri berpegangan kuat pada lehernya dengan menjauhkan dadanya dari sang punggung sang suami.
"Dihhh kesenangan kamu dong!" jawab Rania.
Evan pun tertawa kecil ketika mengingat pengamalan itu.
"Ya nggak apa-apa dong! Toh akhirnya aku juga kan yang mendapatkannya, gede banget lagi. Padahal kamu itu tomboi loh! Kok bisa onderdilnya besar semua. Mana bersih dan putih sekali!" terang Evan yang membuat gemas sang istri.
Rania mencubit pipi suaminya. "Ihhh nih orang. Dasar mesum!"
"Eh eh jangan dicubit dong! Suka banget sih nyubit-nyubit. Nanti kegantengan suamimu hilang gimana coba!" gerutu Evan sambil terus berjalan turun.
"Yang bilang kamu ganteng itu siapa? Dihh kePD an!" celetuk Rania.
"Ya kamu lah!"
"Idih kapan aku bilang gitu! Perasaan aku nggak pernah bilang kamu ganteng. Kamu tuh nyebelin banget dari dulu. Nggak pernah senyum nggak pernah ramah, merengut mulu. Bikin emosi mukanya!" jawab Rania saat teringat bagaimana sikap Evan saat mereka sekolah.
"Gimana nggak merengut. Lihat kamu cekikikan mulu sama Ryan. Panas tahu nggak nih hati!" sahut Evan.
Mendengar pengakuan dari sang suami. Rania menempelkan pipinya dengan wajah sang suami. "Hmmm iya maaf! Aku kan nggak tahu kalau kamu cemburu. Aku pikir kamu emang wajahnya gitu. Makanya aku cuek aja! Eh ternyata gondok juga. Maaf ya, Sayang, muacchhh!" Rania mencium pipi sang suami untuk membuat Evan tersenyum.
"Kamu tuh nggak peka sama sekali! Padahal aku sering ngikutin kamu jalan sama Ryan dan gengnya!"
"Hah, serius! Kamu sering ngintilin aku dong! Cie ternyata aku punya pemuja rahasia ya dari dulu. Padahal aku pikir nggak ada cowok yang suka sama cewek model aku! Jadi, aku ya fun fun aja! Aku juga pergi sama Ryan cuma buat happy-happy doang!" jelas Rania.
"Ya aku juga nggak tahu kenapa aku bisa suka sama kamu. Padahal kalau mau aku bisa tuh deketin si Lula, gadis tercantik di kelas. Udah cantik, pinter, ramah, tapi sayang aku kurang suka dengan dia!" ucap Evan.
"Kenapa? Bukannya dia tipe-tipe idaman cowok jaman sekarang. Cantik, seksi, pinter nggak kayak aku yang katamu bodi cowok!" sahut Rania.
"Hmmm iya, dia memang cantik dan seksi tapi sepertinya onderdil dia palsu semua. Jadi jijik lah aku. Semua cewek-cewek di sekolah tuh aku rasa nggak ada yang alami. Semuanya cuma palsu. Kecuali kamu dan Rina." terang Evan.
"Aku dan mbak Rina!"
"Hmmm ... cuma kalian berdua yang berbeda diantara semua cewek di sekolah. Hanya saja, sifat kalian tuh berbeda sekali seperti bumi dan langit. Yang satunya kalem sampai bicara pun aku tidak berani melihat wajahnya. Yang satunya lagi suaranya seperti pakai toa masjid. Tapi herannya kenapa aku bisa jatuh cintanya sama kamu bukan ke Rina!" ungkap Evan.
"Ya mana kutahu! Kok malah nanya aku! Tanya sendiri sama hati kamu kenapa kamu jatuh cinta sama aku hayo! Padahal mbak Rina itu lebih segalanya dari aku. Dia pinter dandan, anggun, sedangkan aku, cewek pecicilan, tomboi, nggak suka dandan. Emang kamu lihat aku dari apanya sih!" tanya Rania penasaran.
"Aku juga nggak ngerti. Mungkin benar pepatah mengatakan. Jika cinta itu tidak memandang wajah dan fisik. Tapi inner beauty yang terpancar dari hatimu. Kamu memang gadis bar-bar, tomboi dan ceplas-ceplos. Tapi, ada satu hal yang membuatku kagum kepadamu," jawab Evan.
"Apa?" tanya Rania penasaran.
"Sifat dermawan dan kasih sayangmu kepada anak-anak yatim piatu. Bagaimana kamu menghibur mereka dan membuat mereka tersenyum. Saat itu aku merasa jika kamu adalah gadis yang spesial." jawab Evan yang membuat Rania tersenyum.
"Dari mana kamu tahu jika aku sering menemui mereka? Padahal aku tidak pernah bilang ke siapapun jika aku sering ke panti asuhan untuk menghibur mereka," tanya Rania.
Di saat yang bersamaan. Akhirnya Evan sampai di anak tangga terakhir. Evan menurunkan tubuh sang istri lalu berdiri di hadapannya menjawab pertanyaan sang istri.
"Kamu ingin tahu dari mana aku mengetahui semuanya tentang itu? Kamu setiap dua hari sekali datang ke panti asuhan, bukan? Setiap hari Selasa dan Minggu. Kamu selalu menyempatkan datang ke panti untuk sekedar membelikan mereka makanan dan buku cerita. Aku juga sering melihat kamu bernyanyi bersama mereka. Dari mana aku tahu semuanya itu? Karena aku secara tidak sengaja mengikutimu dari belakang. Cewek dengan motor sport datang ke panti asuhan dan itu adalah kamu. Mulai saat itu aku mulai terkesima dengan kepribadianmu. Dibalik sifat tomboimu. Ternyata hatimu sangat lembut dan feminim dan akhirnya aku jatuh cinta kepadamu ...."
Rania tampak terharu dan salah tingkah mendengar pengakuan dari sang suami. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka jika Evan mengagumi dirinya yang Rania sendiri merasa tidak mungkin ada pria yang mau mencintainya.
Rania tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bibirnya seolah terkunci, selama ini Evan menyembunyikan perasaannya terhadap Rania meskipun pria itu sudah menjadi suami kakak kembarnya. Tapi sekarang, takdir sudah menyatukan cinta keduanya.
"Sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi, Ran! Allah sudah menakdirkan kita untuk hidup bersama. Dan aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Wanita yang sudah meluluhkan hatiku sekarang sudah bisa kumiliki, aku mencintaimu!"
Evan mencium kening sang istri dan Rania tampak menitikkan air matanya. Tak tahan dengan rasa harunya. Rania memeluk sang suami dengan erat.
Di bawah langit bertabur bintang. Evan dan Rania saling berpelukan. Mereka berdua saling mengungkapkan perasaan.
"Aku tidak bisa berkata apa-apa selain terima kasih banyak atas semuanya. Aku minta maaf jika selama ini aku sudah berkata kasar dan kurang sopan kepadamu. Aku sangat menyesal!" ungkap Rania yang masih berada pada dada sang suami.
"Sudahlah! Semuanya sudah berakhir. Sekarang, kita sedang membuka lembaran baru kehidupan rumah tangga kita, dan aku berharap secepatnya kita bisa menghadirkan adik untuk Junior di rahim kamu," ucap Evan sambil mengusap perut istrinya.
Rania tersenyum malu-malu dan menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya kita harus lebih giat lagi untuk membuatnya, agar cepat jadi!" sambung Evan.
"Maksudnya?" Rania sontak membulatkan matanya mendengar ucapan sang suami.
"Ya, ibaratnya kita minum obat secara teratur biar cepat sembuh. Setidaknya sehari 3 kali supaya kamu cepat hamil!" seloroh Evan sambil tersenyum nakal.
"3 kali sehari berturut-turut? Setiap hari?" Rania melototkan matanya mendengar pengakuan absurd suaminya.
"Iya, memangnya kenapa?" jawab Evan yakin.
"Nggak apa-apa sih! Hanya saja di rumah aku nggak sempat pakai CD dong!"
"Ya nggak usah! Ribet nanti! Kalau aku di rumah dilarang memakai CD apalagi pas tidur. Kalau bisa nggak usah pakai apa-apa. Biar masuknya lancar jaya!" jawab Evan sambil memainkan lidahnya pada bibir.
"Dasar gila!" sahut Rania sambil menepuk jidatnya.
"Bodo! Emang aku sudah tergila-gila sama kamu!" sahut Evan.
"Udah ah, pulang yuk! Junior udah nungguin kita!" Rania pun langsung mengajak suaminya pulang sambil menyeret tangan Evan.
"Eh iya iya, kasar banget sih nih cewek!"
"Biarin!" sahut Rania sambil terus membawa sang suami ke mobil mereka.
"Awas nanti ya! Di rumah aku bikin susah jalan lagi kamu!" ancam Evan.
"Nggak takut! Aku juga bakalan bikin kamu sakit pinggang. Lihat aja entar!" sahut Rania
Evan pun tertawa mendengar ucapan sang istri. Ia pun mengikuti perintah sang istri untuk masuk ke dalam mobil.
*
*
*
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Pada akhirnya setelah melaju cukup kencang. Evan pun tiba di rumah sang mertua tepat pukul 8 lebih 5 menit. Suasana di pedesaan yang sunyi membuat suasana rumah menjadi sepi, padahal jam masih menunjukkan sekitar pukul 8.
Evan dan Rania turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum, Bu!"
Terdengar suara salam dari luar. Pak Handoko yang saat itu sedang bersama Junior segera membukakan pintunya.
"Waalaikum salam, kalian sudah pulang!" balas pak Handoko yang akhirnya senang melihat anak dan menantunya sudah kembali ke rumah.
"Iya, Yah! Maaf jika kami pulang malam. Karena tadi ada urusan penting sebentar!" sahut Evan yang memberi penjelasan tentang keterlambatan mereka.
"Iya iya, ayah mengerti. Saking pentingnya sampai lupa pulang ya! Memang itu urusan bisa membuat lupa waktu rupanya ..." jawab pak Handoko sambil tersenyum. Karena ia tahu jika anak dan menantunya sedang memadu kasih.
"Hehehe iya, Yah. Saking nikmatnya sampai kami lupa pulang, eh!" sahut Evan yang langsung menutup mulutnya dengan tangan.
Sontak Rania menyikut perut suaminya yang sudah keceplosan di depan sang ayah. Pak Handoko tertawa dan segera menyuruh mereka berdua untuk segera masuk.
Rania dan Evan pun masuk dengan Rania yang masih bergelayut di lengan sang suami. Karena ia masih merasa nyeri pada area pangkal pahanya. Rania berjalan dengan sedikit menyeret lantaran ia menghindari gesekan antara kedua pahanya.
Di saat yang bersamaan, Junior keluar dari dalam dan melihat kedatangan papa dan mamanya.
"Hore mama dan papa sudah pulang!" teriak bocah itu kesenangan sambil berlari kecil menuju ke arah Rania. Namun, tiba-tiba Junior mengerem larinya karena ia melihat sang mama yang terlihat susah berjalan.
"Junior, Sayang! Mama sudah pulang, Nak!" ucap Rania sambil tersenyum ketika Junior datang kepadanya. Namun, Junior tidak langsung memeluk Rania karena ia merasa jika sang mama sedang sakit.
"Mama kenapa jalannya seperti itu? Kaki mama sakit?"
Sontak, pertanyaan Juniornya membuat semuanya menoleh ke arah Rania. Tak terkecuali pak Handoko dan bu Aisah. Evan pun tak kalah terkejut dengan pertanyaan sang bocah.
"Emmm ... mama ... kaki mama anu ...!" Rania kesulitan mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan sang bocah.
BERSAMBUNG
BERSAMBUNG