( Tahap Revisi)
Apapun yang sudah ditakdirkan untuk datang dalam hidupmu, tidak akan pernah pergi sekeras apapun hatimu membenci.
Taani tidak pernah menyangka hatinya akan berlabuh pada laki-laki pendiam, kutu buku yang menyebalkan.
laki-laki Sederhana yang selalu dibanggakan oleh Ayahnya.
Karena bagi sang Ayah, tidak ada lagi laki-laki terbaik di seluruh negeri ini selain pilihannya.
Pernikahan yang harus Taani jalani dengan terpaksa. Tanpa ada cinta dihatinya.
Bagi Rizwan, Melihat Taani tersenyum di pagi hari, sudah cukup untuk membuatnya semangat pergi bekerja.
Kemanakah bahtera rumah tangga Rizwan akan berlabuh?
Akan kah semuanya kandas begitu saja?
Karena yang sudah tertulis untukmu, tidak akan pernah ditulis untuk orang lain.
......
selamat membaca 💞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzanabuq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
Taani pulang ketika langit hampir sepenuhnya gelap.
Membersihkan diri, kemudian berjalan ke dapur untuk menyiapkan makan malam yang tentu saja
untuknya sendiri.
Rizwan?
Dia masih sibuk dengan cintanya, dengan segala urusannya. Hatinya kembali
merasakan sesak bila mengingat pria itu.
Taani menghela napas menoleh ketika ponselnya yang disimpan di meja
makan berdering.
Berjalan mengambil ponsel matanya membulat ketika nama yang menghubungi
tertera di layar benda pipih itu. Buru buru menggeser tanda hijau pada layar ponselnya.
“Taani” Teriakan terdengar melengking dari ponsel Taani.
“Iyaa, Ris.”
“Maaf, kemarin kamu nelpon nggak ke angkat,” suara Risya sudah melunak.
“Iya nggak apa apa, lagi juga kamu sekarang sibuk karena lembur di kantor
ya?”
Taani mencoba memancing mencari tahu namun dengan tidak terlalu mencolok.
Hehe itulah hebatnya perempuan.
“Lembur?” Risya bertanya.
Tuh kan, Pria itu berbohong!
“Aku kemarin udah tidur. Tadi siang nggak sempet nelpon kamu balik”
“Oh." Taani mengangguk, seolah Risya dapat melihatnya langsung.
“Kamu dimana sekarang, Ris?” belum puas rasanya terus mengorek informasi.
“Di rumah. Aku di rumah, kenapa geh?” Suaranya sudah terdengar gusar.
“Mmm di kantor sekarang sering lembur nggak sih?” menggigit Ibu
jari, berharap sahabatnya ini tidak curiga.
“Nggak.” Risya menjawab singkat.
“Eh iya Tan, aku punya kabar baru.” Risya berteriak antusias
“Sebelumnya aku mau minta maaf dulu nih ya." Suaranya terdengar lembut.
“Kamu tau nggak Tan?” kembali meninggikan suaranya beberapa oktaf.
“Apa?” Taani mengernyit.
“Ya Tuhan, Taani, Mbak Tika-” Suara disebrang sana semakin terdengar antusias.
Suara deru sepeda motor terdengar dari luar. Buru buru Taani memotong pembicaraan Risya, berpamitan sebelum memutuskan panggilan.
TOK TOK TOK
Suara ketukan pintu terdengar dari luar.
Siapa? Itu suara sepeda
motornya Kak Rizwan kan?!
Kenapa harus ketuk
pintu dulu, bukannya dia punya kunci duplikat rumah ini?
Taani beranjak dari kursi rotan ketika pintu di ketuk untuk yang kedua kalinya.
Taani mengernyit saat pintu dibuka, seorang pria berdiri di hadapannya.
Pria itu tersenyum ramah memperkenalkan diri bahwa dirinya adalah rekan
kerja Rizwan di toko.
Taani semakin mengernyit, matanya menyipit menatap pemuda di hadapannya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya mendongak saat mobil Alphard
warna silver berhenti di depan gerbang kayu halaman rumah.
“Mbak, tadi Mas Rizwan, pingsan di toko." Pemuda tadi menjelaskan, seolah mengerti dengan kebingungan Wanita di hadapannya.
Dua orang Pria turun dari mobil membopong Rizwan yang terlihat lemah.
Wajahnya pucat matanya terpejam.
kemejanya acak acakan
Ada apa ini?
Taani Membuka pintu lebar lebar mempersilahkan ketiga pria itu membawa
tubuh Rizwan, menunjukan kamar yang biasa ditempati pria yang matanya terpejam erat itu.
Kamar yang biasa ditempati Rizwan tentunya.
“Maaf, sebenarnya ada apa ya?” Taani bertanya setelah mempersilakan tamunya untuk duduk.
Yang ditanya hanya saling tatap satu sama lain.
“Tadi Kak Rizwan, pingsan di toko? Maksudnya toko apa?”
Salah satu dari pria itu menggeser duduknya.
Menjelaskan yang sebenarnya terjadi
Selama dua pekan ini Rizwan kerja di toko elektronik milik teman lamanya. Setiap
sore setelah pulang dari kantor Rizwan pergi ke toko dan akan pulang ketika larut. Itu yang
membuatnya selalu pulang dengan tampilan acak acakan. Kalau untuk masalah
Parfum tentu saja karena bajunya sudah tercampur dengan debu dan juga keringat setelah seharian bekerja.
Astaga, jadi parfum itu?
Bukan parfum milik perempuan lain?
Taani saja yang sudah kepalang curiga tidak bisa berfikir jernih.
Rizwan tahu ilmunya dengan otodidak. Ketika barang barang elektronik di panti sering
banyak yang rusak. Pria itu dengan teliti mengamatinya mulai membongkar pasang,
Berhasil?
Tentu saja gagal bahkan puluhan kali gagal. Tapi Rizwan tidak menyerah
baginya untuk menghasilkan suatu karya itu membutuhkan banyak waktu dan usaha.
Rizwan juga rajin mengingat sambungan kabel yang terhubung satu sama
lain agar alat tersebut bisa kembali berfungsi.
Taani mencengkram erat pinggiran kursi merasa berdosa karena sudah berfikiran
buruk terhadap Rizwan.
Hening .
Akhirnya ketiga pria tersebut berpamitan meninggalkan taani yang
masih tergugu, mengutuki dirinya yang sudah ber Prasangka buruk tehadap
suaminya.
Taani berjalan pelan membuka pintu kamar Rizwan. Hatinya kembali ngilu menyaksikan
tubuh terbaring lemah, hanya erangan yang keluar dari mulut pria itu. Tangannya
sesekali berkedut.
Taani berjalan mendekat mengusap dahi Rizwan yang berkeringat.
Panas!!
Buru buru berjalan menuju dapur, tak lama perempuan itu kembali dengan mangkok kaca
berisi air untuk me ngompres Rizwan.
Ada apa dengannya?
Kenapa bisa seperti
ini?
Taani memperhatikan wajah Rizwan, meskipun matanya yang terpejam erat dari jarak dekat tetap saja membuat jantung Taani berdegub hebat.
Terkesip saat mata itu perlahan terbuka, kemudian menatapnya, tersenyum hangat.
“An.." Suaranya terdengar parau.
“Maaf membuatmu repot." Mengambil kain di dahi untuk di simpan kedalam
mangkuk kaca yang ada disampingnya.
“Kamu sudah makan, An?”
“Kak Rizwan, apa apan sih!” bukan jawaban yang keluar dari mulut perempuan itu.
Rizwan mengernyit menatap Taani bingung.
“Apa maksudnya ini? Kak Rizwan itu manusia bukan robot”
“Tuhan menciptakan waktu dua puluh empat jam itu bukan hanya sia sia. Bukan hanya untuk di gunakan untuk bekerja” Taani menekan kata-katanya.
“Jangan menyiksa diri sendiri!”
“Tubuh Kamu itu perlu istirahat, Kak!”
“Bima dan anak anak butuh Kamu!!”
Taani terus berceloteh memarahi pria yang hanya diam di tempat
tidurnya menatap langit langit kamar.
Sesaat hening, hanya suara jarum jam dinding yang terus berdetak.
“Saya tahu kamu mengagumi kota itu, An.” Rizwan menghela nafasnya melirik Taani
yang duduk di pinggiran tempat tidur.
“Saya pikir dengan gaji dan tabungan saya itu tidak akan cukup untuk bisa pergi ke tempat itu.”
“Saya hanya ingin melihatmu bahagia, An. Karena-"
“Omong kosong!” Taani memotong pembicaraan Rizwan
Tersenyum getir.
“Berhenti memikirkan
kebahagiaanku!” Taani beranjak dari duduknya, berdiri menatap Rizwan.
“Aku bahagia Kak, tanpa harus pergi ke kota itupun aku sudah bahagia.”
“Tolong Kak..!” mengatupkan kedua tangan di depan dada, air mata yang sudah
di tahannya tumpah ruah membanjiiri wajah cantiknya.
“Aku bahagia!” Suaranya sudah terdengar pelan, "aku sungguh bahagia, Kak."
“Apa aku harus tertawa sepanjang waktu untuk menunjukan rasa bahagiaku?”
Menghapus air mata di pipinya dengan kasar.
“Berhenti membuatku terus terusan merasa berhutang budi padamu, Kak!”
“Selama ini Kamu, memperlakukan aku sangat baik, tolong, jangan membuatku merasa terus terusan merasa bersalah.”
Taani berbalik, keluar kamar meninggalkan Kamar.
Rizwan hanya diam hatinya sakit kembali menyaksikan Taani menangis di hadapannya.
“Ini cinta, An."
“Tidak ada kata balas budi dalam cinta.”
“Aku mencintaimu, An." Rizwan tersenyum getir menatap langit langit kamarnya.
Sepertinya malam malam lelah Rizwan karena seharian bekerja akan segera berakhir.
Rizwan mengira dirinya akan baik baik saja meskipun harus bekerja paruh waktu.
Tapi ternyata tubuhnya kali ini menolak untuk bekerja sama.
Istirahat dan bekerja lah secukupnya.
Jika sudah berusaha, tidak perlu khawatir tidak kebagian Rizki, karena manusia di ciptakan sudah dengan porsinya masing-masing.
Bersambung...
sukses
semangat