Novel ini adalah sequel dari Terjebak Gairah Monster Tampan
Jeremy Suryawijaya adalah adik kandung dari Cintyara Alona Suryawijaya dengan bersuamikan Pria hebat yaitu kakak ipar Jeremy yang memberi Jeremy fasilitas penuh untuk memulai bisnisnya di usia yang begitu muda setelah kakaknya Alona menikah dan membina biduk Rumah tangga dengan Johan Rahadiningrat.
Pertemuan pertamanya dengan Kimberly Tejakusuma gadis cantik di Dreamy Internasional Highschool yakni adalah junior di sekolah yang sama dengannya. Gadis cantik itu seringkali mencuri pandang dan melihatnya dari kejauhan tingkah lucunya yang akhirnya membuat Jeremy juga jatuh hati padanya. Namun sayang seribu sayang ternyata Kimberly sudah di jodohkan dengan Arsen yang notabene berasal dari keluarga konglomerat yang orang tuanya bersahabat baik dengan Kimberly dan menjodohkan keduanya sedari bayi. Bagaimana cara Kimberly lepas dari belenggu perjodohan itu saat cintanya dengan Jeremy akhirnya bersambut?
Yuk mampir zeyeng ditunggu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ippiiieee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan Semu!
🚘
🚘
🚘
Dalam perjalanan pulang dari sekolah, suasana di dalam mobil terasa santai. Jalanan siang itu tidak terlalu ramai, sehingga Mang Ujang bisa mengemudi dengan tenang. Ily duduk di kursi belakang sambil melihat pemandangan di luar jendela.
Beberapa menit kemudian, Mang Ujang berdeham pelan.
“Non… maaf ya Non,” katanya agak ragu.
Ily yang sejak tadi melamun langsung menoleh.
“Hah? Maaf kenapa, Mang?”
Mang Ujang menggaruk kepalanya.
“Sepertinya Mamang tadi sedikit melanggar rencana kita.”
“Melanggar gimana?” tanya Ily penasaran.
“Flyer yang kita cetak sebenarnya cuma satu lembar. Tapi tadi Mamang langsung memberikannya ke Den Jeremy.”
Ily langsung terdiam beberapa detik.
Mang Ujang semakin gelisah.
“Padahal rencananya kan mau diperbanyak nanti sore,” lanjutnya. “Kalau dia tidak merespons, Mamang harus cetak ulang lagi.”
Ia menghela napas panjang.
“Jadi Mamang agak khawatir.”
Ily justru tersenyum kecil.
“Sudah, Mang. Tidak apa-apa.”
Mang Ujang menoleh sebentar lewat kaca spion.
“Benarkah?”
“Kalau dia tidak merespons berarti memang tidak ada kesempatan buat Ily untuk lebih dekat dengannya,” jawab Ily pelan.
Mang Ujang mengangguk perlahan.
“Kalau begitu Mamang malah jadi ingat kisah lama Mamang,” katanya.
“Kisah apa?”
“Mamang dulu juga pernah mengalami perasaan yang mirip.”
Ily sedikit penasaran, tetapi sebelum sempat bertanya lebih jauh—
...Tit… tit… tit… tit…
Suara notifikasi ponsel Mang Ujang tiba-tiba berbunyi.
Ia segera mengambil ponselnya yang diletakkan di dashboard.
“Eh?”
“Ada pesan baru.”
Mang Ujang membuka pesan itu.
Di layar hanya terlihat satu karakter.
.
Satu titik.
Mang Ujang mengerutkan kening.
“Non… sepertinya Den Jeremy salah kirim pesan.”
Ily langsung menegakkan tubuhnya.
“Kenapa, Mang?”
“Dia cuma kirim tanda titik.”
Ily ikut bingung.
“Mungkin dia sedang mengetes nomor ponsel Mamang,” katanya.
Namun di dalam hati, Ily justru berdoa.
Ya Tuhan… semoga dia benar-benar tertarik.
Semoga dia mengirim pesan lagi.
Semoga dia bertanya tentang les itu.
Beberapa detik kemudian—
...Tit… tit… tit… tit…
Notifikasi kembali berbunyi.
Mang Ujang langsung membuka pesan itu.
Unknown Number
test..
Mang Ujang langsung mengetik balasan.
Me
ya?
Pesan berikutnya muncul tidak lama kemudian.
Unknown Number
Apa ini benar mencari guru les?
Mang Ujang hampir melonjak kegirangan.
Me
Ah ya benar sekali. Silakan, bisa mulai kapan mengajarnya?
Ily yang duduk di belakang langsung mendekat sedikit untuk melihat layar.
Unknown Number
Saya bisa mengajar setiap Jumat setelah sekolah.
Me
Mulai jam 04.00 sore bagaimana?
Unknown Number
Baik. Bisa diberi alamatnya?
Mang Ujang langsung mengirimkan share location mansion Tejakusuma.
Setelah itu ia menatap layar dengan wajah penuh harap.
Ily hampir tidak bisa menahan kegembiraannya.
“Mang… itu benar dia?”
“Iya Non! Dia benar-benar menghubungi Mamang.”
“Serius?”
“Serius!”
Ily langsung tersenyum lebar.
“Berarti dia mau mengajar?”
Mang Ujang mengangguk.
“Jumat sore jam empat.”
Ily tidak bisa menahan kegembiraannya.
“Berhasil, Mang!”
Mang Ujang tertawa.
“Sepertinya rencana kita berhasil.”
Mobil pun terus melaju menuju mansion Tejakusuma.
🏚️ Mansion Tejakusuma
Sesampainya di rumah, Ily langsung masuk ke dalam.
Di ruang keluarga, Cindy sedang duduk sambil membaca beberapa dokumen pekerjaan.
“Ily,” panggil Cindy.
“Iya Mom.”
“Bagaimana dengan guru lesmu?”
Ily tersenyum.
“Sudah dapat.”
“Benarkah?”
“Iya. Hari Jumat dia akan datang.”
“Jam berapa?”
“Jam empat sore.”
Cindy mengangguk.
“Bagus.”
Namun kemudian ia berkata lagi.
“Tapi sebelum pelajaran dimulai, Mommy ingin berbicara dengannya dulu.”
Ily langsung sedikit tegang.
“Tentu saja, Mom.”
Ia berjalan menuju kamarnya sambil bergumam pelan.
“Aduh… kira-kira Mommy mau tanya apa ya…”
✨
✨
✨
Jumat sore akhirnya tiba.
Langit terlihat cerah dan halaman mansion Tejakusuma tampak tenang.
Sebuah motor sport berhenti di depan gerbang.
Jeremy turun dari motornya dan melihat ke arah bangunan besar di depannya.
Mang Ujang sudah menunggu di dekat pintu masuk.
“Oh, Den sudah sampai,” katanya ramah.
Jeremy mengangguk sopan.
“Selamat sore, Pak.”
“Ayo, saya antar ke dalam.”
Jeremy mengikuti Mang Ujang memasuki mansion.
Mereka berjalan melewati ruang tamu yang luas hingga sampai di depan ruang kerja Cindy.
Cindy memang sengaja pulang lebih awal hari itu.
Ia ingin memastikan bahwa guru les yang akan mengajar putrinya memang orang yang tepat.
Mang Ujang mengetuk pintu.
“Nyonya, guru lesnya sudah datang.”
“Silakan masuk.”
Jeremy melangkah masuk dengan sikap sopan.
Cindy berdiri dari kursinya.
“Selamat sore,” katanya ramah. “Panggil saja saya Tante Cindy.”
Jeremy sedikit menunduk.
“Selamat sore, Tante. Nama saya Jeremy.”
Cindy memperhatikan pemuda itu beberapa detik.
“Jadi kamu juga bersekolah di Dreamy International High School?”
“Iya, Tante.”
“Kelas berapa?”
“Kelas dua belas, jurusan IPA.”
Cindy tersenyum kecil.
“Anakku sudah bercerita sedikit tentangmu.”
Jeremy terlihat sedikit heran.
“Tante mendengar kamu cukup berprestasi.”
Jeremy menjawab dengan tenang.
“Saya memang cukup menyukai pelajaran IPA.”
“Seperti apa?”
“Matematika, fisika, dan kimia.”
Cindy terlihat puas dengan jawaban itu.
“Bagus.”
Ia kembali duduk.
“Kalau begitu saya berharap kamu bisa membantu anak saya meningkatkan nilainya.”
“Saya akan berusaha sebaik mungkin, Tante.”
“Baik. Senang bekerja sama denganmu.”
Setelah percakapan selesai, Jeremy diantar menuju kamar Ily.
Andien yang membuka pintu kamar.
“Silakan masuk.”
Di dalam kamar yang luas itu terdapat meja belajar besar, sofa, dan televisi.
Namun yang menarik perhatian Jeremy adalah muridnya.
Seorang gadis duduk di depan meja belajar.
Ia mengenakan topi dan masker.
Jeremy sedikit heran, tetapi tidak bertanya banyak.
“Pelajaran apa yang ingin kamu pelajari?” tanya Jeremy.
Ily tidak menjawab.
Ia hanya membuka buku-buku pelajarannya.
Matematika.
Fisika.
Kimia.
Jeremy duduk di kursi seberangnya.
“Baiklah. Kita mulai dari yang paling sulit menurutmu.”
Ily menunjuk lima soal kimia.
Jeremy langsung memperhatikan soal-soal itu.
“Baik. Kita mulai dari yang ini.”
Ia menuliskan langkah-langkah penyelesaiannya dengan metode yang lebih sederhana.
“Coba perhatikan cara ini.”
Beberapa menit kemudian, satu soal berhasil diselesaikan.
Ily terlihat sangat senang.
Jeremy lalu menuliskan contoh soal lain.
“Sekarang coba kamu kerjakan yang ini.”
Ily mencoba mengerjakan dengan metode yang sama.
Dan berhasil.
Jeremy mengangguk.
“Bagus. Berarti kamu sudah mulai mengerti.”
Ily tersenyum di balik maskernya.
Kemudian ia menunjuk soal nomor dua.
Jeremy menjelaskan metode yang berbeda lagi.
Saat mencoba menjawab, Ily tanpa sadar berkata,
“Apakah seperti ini?”
Jeremy langsung berhenti menulis.
Ia menatap muridnya dengan lebih serius.
Suara itu terasa sangat familiar.
“Semok…?”
...DEG...