Fb : Wulandari
Ig : mommy_mikayla
Bijaklah dalam membaca.
Takdir yang mengharuskan gadis cantik yang berusia 19 tahun yaitu Andin Arindra. Andin dengan terpaksa menerima tawaran Bianca Kaliza istri pertama Kenan Mahendra untuk menjadikan dirinya isrti kontrak (Istri kedua).
Bianca dan Andin sama-sama terdesak. Bianca terdesak, karena mertuanya meminta dirinya agar secepatnya hamil. Namun, rahim Bianca sudah di angkat jadi Bianca tidak bisa hamil. Andin terpaksa menerima tawaran Bianca karena untuk membayar hutang-hutang paman dan bibinya kepada lintah darat.
Andin menjadi istri kedua hanya sampai hamil dan melahirkan. Di saat Andin hamil, di saat itu juga Bianca akan berpura-pura hamil.
Kenan sebagai suami yang sangat mencintai sang istri hanya bisa mengikuti permainan yang di buat istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
"Maaf Bu! Saya tidak melihat Andin," kata rekan kerja Andin.
"Oh!" Bianca mangut-mangut. Bianca memutusakan untuk keruangan kerja suaminya.
Saat ini Kenan tengah mempelajari berkas-berkas yang baru saja ia terima dari Arini. Andin sedari tadi terus mengintip. Andin benar-benar tidak bisa keluar.
"Sudah selesai," ucap Kenan seraya bersenderan di kursi kerjanya.
Huft!
Kenan membuang nafas kasar.
"Andin... "
Kenan teringat Andin. Saat Kenan bangkit tiba-tiba saja Bianca nyelonong masuk.
"Kemana Andin?" tanya Bianca ketus.
"Andin__?" Kenan pura-pura tidak mengetahuinya.
"Ya!" jawab Bianca ketus.
"Sayang kok kamu cari Andin kesini. Di sini bukan tempat kerjanya," ucap Kenan enteng agar Bianca tidak curiga.
Bianca yang masih kesal dengan suaminya. Bianca pun keluar begitu saja. Lalu Bianca membanting pintunya secara kasar.
Bruuk!
Kenan sampai kaget dan menyentuh bidang dadanya. Kenan tersenyum tipis. Ia begitu senang dengan kepergian istri pertamanya. Kenan kembali mengunci pintu ruangan kerjanya. Kemudian Kenan masuk ke dalam kamar. Di sana Andin tengah duduk di tepi ranjang dengan tubuh yang gemeteran. Andin benar-benar bingung harus gimana lagi untuk menghindar dari Kenan.
"Ndin... " Kenan duduk di sebelah Andin.
Andin sama sekali tidak berani menatap Kenan. Andin terus mengalihkan pandangannya. Kenan semakin gemas. Kenan meraih wajah Andin agar menghadapnya.
"Ndin kamu ingat saat malam pengantin?" Tanya Kenan dengan lembut.
Namun Andin tidak menyahut.
Kenan tersenyum simpul,"Saya suka loh sama kamu yang agresif seperti itu Ndin."
"Itu karena terpaksa. Demi memenuhi syarat dan perjanjian yang sudah di sepakati," ucap Andin acuh.
Kenan ketawa renyah,"Terus setelah beberapa kali kita melakukannya, apa masih terpaksa Ndin?" tanya Kenan yang terus menatap lekat wajah Andin. Hingga manik mata keduanya itu beradu.
Andin tidak menyahut. Ia kembali diam.
"Ndin, saya akan mempertahankan pernikahan ini. Tapi saya tidak akan menceraikan istri pertama saya. Ndin, saya akan berbuat adil," jelasnya dengan lembut.
Kenan menyatukan dahinya dengan dahinya Andin. Tangan Kenan meraih dagunya Andin. Lalu Kenan mencumbu lembut bibir ranum Andin. Dan Andin masih saja diam tak membalas cernaan dari suaminya. Namun Kenan tidak menyerah. Kenan benar-benar ingin melakukan itu dengan Andin.
Kenan menghentikan permainannya sejenak,"Ndin... pleace!" Kenan memelas.
Ya Tuhan apakah aku sudah menjadi istri yang berdosa, yang menolak keinginan suami. Ya Tuhan... Andin benar-benar bingung. Andin tahu kalau kalau mba Bianca tidak akan mau di madu. Mba Bianca pasti ingin pernikahan aku dan Mas Kenan itu berakhir saat anak ini lahir. Tapi sekarang, aku sudah melihat cinta di sorot matanya Mas Kenan.
Andin tetap diam saja.
Kenan menyerah akhirnya."Ya sudah Ndin. Sana keluar, lanjutkan pekerjaan kamu," ucap Kenan ketus.
Ada rasa kekecewaan yang saat ini Kenan rasakan.
Huft!
Kenan bangkin seraya membuang nafas kasar. Mata Kenan mulai memerah dan berkaca-kaca.
Andin benar-benar sudah tidak mau. Andin hanya menjalankan tugasnya sampai hamil. Setelah hamil dia sama sekali tidak mau. Padahal Ndin, sekarang saya melakukannya atas dasar cinta bukan paksaan demi memenuhi keinginan Bianca. Tapi ya sudahlah!
Saat Kenan hendak melangkahkan kakinya. Andin meraih tangan Kenan hingga membuat tubuh Kenan duduk kembali di sebelahnya.
"Aku tidak mau menjadi istri yang berdosa karena tidak mau melayani suami. Mas Kenan, sekarang Andin akan melayani Mas Kenan," ucap Andin dengan lembut.
Kenan tersenyum. Ia begitu sangat senang mendengarnya.
*Dan mungkin ini untuk terakhir kalinya Mas. Setelah ini Andin akan pergi. Tapi Andin akan kembali saat kandungan Andin menginjak usia 8 bulan. Andin akan tetap memenuhi apa yang sudah di janjikan sebelumnya. Menyerahkan anak ini kepada kamu dan Mba Bianca.
🌹🌹🌹*
Bianca masih kesal karena ia tidak berhasil menemukan Andin. Kata rekan kerja Andin, emang tadi Andin masuk dan mulai bekerja. Setelah Bianca mencari-cari sampai ke sudut perusahaan, Bianca tak berhasil menemukan sosok Andin.
"Si Andin kemana sih?" gerutu Bianca kesal. Bianca saat ini tengah berada di loby perusahaan.
Padahal Andin tengah menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Kenan saat ini melakukannya dengan penuh cinta.
"Terimakasih Ndin. Saya mencintaimu," ucap Kenan di saat tubuhnya tengah beradu dengan tubuh Andin.
Bianca memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Selama ini Bianca belum pernah menceritakan masalahnya.
"Mungkin saat ini mama harus tahu apa yang sudah aku sembunyikan. Siapa tahu mama bisa membantuku," gumam Bianca saat dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuanya.
Bianca akan tetap berpura-pura hamil dan Bianca akan meminta bantuan mamanya agar rencanya yang pura-pura hamil itu berjalan dengan lancar.
1 jam kemudian___
Kenan dan Andin sudah selesai. Bahkan sudah mandi dan sudah memakai pakaiannya kembali.
"Ndin kamu jangan keluar dulu. Nanti pada curiga dengan rambut kamu yang basah," kata Kenan seraya mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Andin hanya mengangguk.
Kenan bertekuk lutut, saat ini Andin masih duduk di tepi ranjang. Kenan mengelus-ngelus perutnya Andin.
"Anak papa sekarang minta apa? Katakan saja, jangan sungkan. Papa akan memenuhinya semampu papa. Asal jangan yang aneh-aneh. Seperti ngidamnya istri Erlan Gemilang yang meminta Erlan untuk memanjat pohon pepaya. Istri Erlan yang bernama Alika, ngidamnya aneh-aneh. Ingin makan gudeg langsung di kota Jogyakarta. Setelah sampai malah tidak mau makan, malah Erlan yang memakannya sampai muntah. Sayang, kamu jangan seperti itu ya? Jangan menyiksa papa. Itu sama aja ngerjain," ucap Kenan seraya mengelus-ngelus perut Andin.
Andin menahan tawa. Ia merasa lucu dengan ngidamnya istri temannya itu. Sejauh ini Andin belum merasakan ngidam yang aneh-aneh sampai menyiksa calon ayah dari sang buah hatinya.
"Ndin kamu tidak ingin sesuatu?" tanya Kenan yang masih bertekuk lutut.
"Andin cuman ingin makan siomay di pinggiran jalan yang suka nongkrong di sekitaran taman kota," kata Andin tanpa sungkan.
"Baiklah. Saya akan belikan. Kamu tunggu. Awas jangan kabur," ucap Kenan.
"Iya.... "
Aku tidak akan kabur sekarang Mas, kamu tenang saja.
Cup...
Kenan mengkecup keningnya Andin.
"Saya pamit Ndin. Assalamu'alaikum," kata Kenan mengucapkan salam.
Andin mencium punggung tangan Kenan,"Walaikum salam."
(Bersambung)