"Aku duda beranak satu," katanya dengan menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya.
Adakalanya seseorang mengidamkan pernikahan dengan sesama lajang. Namun, apa yang terjadi ketika Irene Putri Hadinata justru hendak dilamar oleh seorang Dokter Duda. Bukan karena cinta, tapi karena seorang anak yang lebih dekat kepada Irene dan memilih Irene yang sebaiknya menjadi Mama sambungnya.
Bisakah pinangan ini berakhir bahagia? Apakah mungkin masa lalu dan berbagai problem menikahi duda bisa membuat Irene tetap setia kepada suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maksud Kedatangan
"Jadi siapa ini? Keliatannya kita belum saling mengenal yah?" tanya Bunda Ervita begitu mereka sudah masuk ke ruang tamu.
"Maaf mengganggu, saya Rangga ..., dan putri saya, Thania namanya," kata Rangga memperkenalkan diri secara singkat.
Bunda Ervita dan Ayah Pandu menatap pria muda yang baru saja duduk di sofa. Mengamati dengan saksama benarkah bahwa pria muda yang datang itu benar-benar sudah memiliki anak? Sebab, dari wajah dan penampilannya terlihat pria muda bernama Rangga itu masih muda. Bahkan jauh lebih muda dibandingkan dengan menantu keluarga Hadinata yang bernama Satria. Mungkin, jika diamati bisa saja pria muda itu justru seumuran dengan Irene.
"Halo, aku Thania ...."
Seketika Thania berdiri dan mengulurkan tangannya, ingin berjabat tangan kepada kedua orang tua Miss Irene. Sebab, itu juga pembelajaran di sekolah ketika bertemu dengan orang, sebaiknya berjabat tangan.
"Oh, namanya Thania yah ... pinternya Thania," balas Bunda Ervita.
"Pinter kamu, Nak," kata Ayah Pandu sembari menjabat tangan kecil Thania.
"Thania manggilnya siapa ya? Oma dan Opa atau apa?" tanya Thania lagi. Terlihat bahwa Thania memiliki kepercayaan diri dan juga dia tak takut bertanya.
Bunda Ervita dan Ayah Pandu tersenyum karena Thania yang berani. Walau masih kecil, tapi Thania terlihat tidak takut dengan orang yang baru saja ditemui. Thania berkata seperti itu karena Ayah Pandu dan Bunda Ervita mungkin hampir seusia Oma Kanaya dan Opa Bisma.
"Kamu seusia dengan cucu kami, jadi ... panggil Eyang saja," balas Ayah Pandu.
"Eyang ..., Thania jadi punya Eyang," balas Thania dengan girang, dan tampak centil.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita pun tersenyum. Mungkin nanti cucu ketiga dan keempatnya akan lahir, bisa berlaku centil juga seperti Thania ini. Rangga hanya diam menatap putrinya sendiri yang sekarang tampak centil. Padahal Rangga sendiri deg-degan, tapi Thania justru terlihat lebih berani.
"Thania usianya berapa?" tanya Bunda Ervita.
"Dua bulan lagi lima tahun, Eyang," jawabnya dengan mengangkat tangan, dengan kelima jarinya terbuka. Tanda bahwa usianya akan lima tahun.
Setelah menanyai Thania, kemudian Bunda Ervita yang sekarang berinisiatif menanyai pria muda yang mengaku memiliki anak berusia lima tahun itu.
"Jadi, apa benar Nak Rangga ini Papanya Thania?" tanya Bunda Ervita.
"Iya, benar Bu ... saya Papanya Thania," balasnya.
"Masih muda sekali," komentar Bunda Ervita. "Lalu, maksud kedatangannya ke sini untuk apa?" tanya Bunda Ervita lagi.
Akhirnya yang membuat Rangga deg-degan ditanyakan juga oleh Bunda Ervita. Pasti juga banyak orang tidak percaya kalau dia sampai jauh-jauh datang ke Jogjakarta hanya untuk mengantar Thania bertemu dengan gurunya.
Melihat Papanya masih diam, Thania kecillah yang justru berbicara. "Eyang, Thania ini sejak kecil tidak memiliki Mama. Boleh enggak kalau Miss Irene jadi Mamanya Thania?"
Sorot mata Thania terlihat mendamba. Binar matanya seolah menunjukkan haus akan kasih sayang seorang ibu. Melihat Thania kecil seolah membuat Bunda Ervita teringat dengan masa lalunya dulu, di mana putri sulung yang mendamba kasih sayang seorang ayah. Sedangkan sekarang di hadapannya ada seorang anak kecil yang mendamba kasih sayang seorang ibu. Jika yang berkata demikian adalah anak kecil, rasanya Bunda Ervita benar-benar tersentuh.
"Mamanya Thania memangnya di mana? Apa Thania tidak memiliki Mama?" tanya Bunda Ervita.
"Maaf ... saya ini sebenarnya seorang duda. Sejak bayi, Thania diasuh dan dibesarkan oleh Ayah dan Bunda saya. Ketika bertemu dengan Miss Irene, Thania merasa cocok dan ingin Mamanya adalah Miss Irene," jelas Rangga sekarang.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Si tamu yang baru saja tiba akhirnya mengungkapkan identitasnya adalah seorang duda. Apakah ini berkaitan dengan pertanyaan Irene beberapa waktu yang lalu? Sebab, dulu Irene pernah bertanya bahwa bagaimana kalau jodohnya adalah seseorang yang pernah gagal? Apakah memang pria muda ini orangnya?
"Boleh tidak Eyang?" tanya Thania.
"Bagaimana caranya supaya Miss Irene jadi Mamanya Irene?" tanya Bunda Ervita dengan tersenyum.
"Ya, harus menikah dulu dengan Papa. Sama seperti Daddy yang menikah dengan Onty," balas Thania.
Mendengar nama Daddy disebut, Ayah Pandu kemudian yang bertanya. "Sudah punya Papa kok masih punya Daddy?" tanyanya.
"Maaf, Bapak. Daddy itu adalah Mas kandung saya. Seharusnya Thania memanggilnya Uncle, tapi karena sering bersama jadi memanggilnya Daddy. Sebelumnya, saya juga menyelesaikan kuliah di luar, sehingga dikira Mas kandung saya itu Daddynya. Maaf," jelas Rangga.
Ayah Pandu menganggukkan kepalanya, sekarang dia tahu dan bisa menerima penjelasan Rangga."Jadi, Nak Rangga dan Thania datang jauh-jauh dari Jakarta yah?" tanya Ayah Pandu lagi.
"Benar, saya dari Jakarta, Pak. Maaf ke sini mendadak dan tidak memberitahu terlebih dahulu," balas Rangga.
Bunda Ervita dan Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. Ternyata tamu yang baru saja datang adalah dari Jakarta. Itu terbilang jauh.
"Bapak dan Ibu, apakah boleh saya berbicara sebentar dengan Miss Irene?" tanya Rangga.
"Silakan saja. Boleh ...."
Ayah Pandu dan Bunda Ervita kemudian berinisiatif mengajak Thania, mungkin Rangga dan Irene harus berbicara serius berdua. "Thania mau ikut Eyang dulu? Papanya mau berbicara dengan Miss Irene," kata Ayah Pandu.
"Mau Eyang. Papa, jadiin Miss Irene sebagai Mamanya Nia yahh," balas Thania.
Rangga tersenyum tipis. Sementara Thania digandeng Bunda Ervita dan Ayah Pandu ke belakang rumah, di belakang rumah ada taman kecil dan akuarium ikan. Sekaligus memberi waktu bagi Rangga dan Irene berbicara terlebih dahulu.
Di ruang tamu, sekarang hanya tinggal Rangga dan Miss Irene saja. Canggung? Tentu saja, Rangga juga sudah memikirkan baik-baik, tinggal menyampaikan maksud kedatangannya yang tiba-tiba kepada Miss Irene.
"Miss," panggil Rangga sembari menatap Miss Irene yang duduk tidak jauh dari tempat duduknya sekarang.
"Ya, Pak. Ada apa?"
"Miss Irene tentu tahu Thania kalau menginginkan sesuatu akan berusaha keras untuk mendapatkannya. Sama seperti sekarang ini. Begini, Miss Irene ... mungkin ini terkesan terburu-buru dan Impulsif, tapi maukah Miss Irene menjadi Mamanya Thania?"
Deg!
Irene yang semula menunduk perlahan mengangkat wajahnya. Dia tatap perlahan pria muda yang duduk tidak jauh darinya itu. Ya, kedengaran terburu-buru dan sangat impulsif sekali. Hidup pun tak sebercanda ini, tapi kenapa dalam sehari ada dua pria yang melayangkan lamaran kepadanya.
Pertama, Harris yang bermaksud melamar Irene. Sekarang, ada Rangga yang bermaksud ingin menjadikannya sebagai Mamanya Thania. Kaget? Ya, tentu saja Irene merasa kaget, karena sejauh ini hubungannya dengan Rangga hanya sebatas guru dan wali murid saja. Irene berani menjamin bahwa tidak ada perasaan spesial untuknya. Jawaban apakah yang akan Irene berikan? Maukah dia dipinang dokter duda?