Fani nggak menyangka sebagai anak petani merantau ke Jakarta bisa merubah hidupnya dan juga hidup keluarganya walaupun harus merasakan sakit hati terlebih dulu.
Menjalani hidup dilandasi tanpa rasa cinta siapa sangka dia kini bisa menerima seseorang yang dulu sangat membencinya.
Ikuti kisah mereka hanya ada di noveltoon
jangan lupa, vote, coment, like dan tambah favorit kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osiye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
"Biarkan aku yang mengatakan sama Dikta." Seseorang yang baru datang menyelah pembicaraan antara bu Rina dan Pricilia.
Semua orang yang sedang berkumpul di ruang keluarga menengok ke arah suara seseorang yang baru datang. bu Rina, Ayumi dan Pricilia membulatkan matanya melihat seseorang yang baru dateng.
Voke Handayani, mantan istri dari Abimana kini berdiri di depan semua orang yang sedang berkumpul dan tersenyum ke arah mereka semua. Bu Rina tersenyum melihat kedatangan mantan menantunya.
Ayumi dan Pricilla saling berpandangan dan menatap tidak suka sama Voke, buat apa perempuan ini ada di rumahnya pikir mereka berdua.
"Selamat malam mamah Rina, Ayumi, Pricil dan Irham," Ucapnya menyapa mereka semua.
"Selamat malam sayang, ya ampun kapan kamu pulang ko kamu nggak kasih tau mamah." Sahut bu Rina berjalan mendekati Voke.
"Sudah seminggu yang lalu mah, maaf Voke nggak sempet ngabarin mamah," Ucapnya memeluk bu Rina.
"Ngapain kamu ke sini mba Voke?" Pricilia langsung menanyakan maksud kedatangan dari mantan istri kakanya Abimana.
"Pricilia yang sopan kalau bicara sama orang tua." Bu Rina nggak suka mendengar ucapan anak perempuannya.
"Loh memangnya apa yang salah? Pricilia cuma nanya ada apa mba Voke datang ke sini jangan bilang mau mengambil Dikta untuk di jadikan pancingan agar kak Abi mau kembali sama dia, bener begitu mba Voke?" Tanyanya sinis.
"Dasar perempuan sialan dari dulu sampai sekarang dia belum juga menyukaiku, lihat saja aku akan menendangmu dari rumah Abimana kalau aku sudah mendapatkan Abimana kembali." Umpatnya dalam hati.
"Kenapa mba Voke ngeliatin aku seperti itu? Apa bener yang aku katakan barusan?" Tanyanya lagi.
"Pricilia sudah cukup! Sejak kapan kamu jadi anak yang nggak punya sopan santun seperti itu!" Teriak bu Rina geram.
Pricilia nggak menjawab ucapan ibunya dia nggak mau lagi berdebat sama ibunya, Ayumi yang melihat mamahnya sedang menahan emosi langsung menyuruh Voke duduk untuk menengahi mamah dan juga adiknya.
"Mba Voke silakan duduk," Ucapnya mempersilahkan Voke duduk.
"Terimakasih, Ayumi." Jawabnya.
Bu Rina melihat Fani yang sedang menuruni anak tangga langsung memanggilnya, Fani yang mendengar namanya di panggil sama nyonya besarnya langsung menghampirinya, dia terkejut saat melihat perempuan yang dia temui tadi siang ada di rumah bosnya.
"Hei, kamu buatkan calon menantu saya minuman dan cemilan yang enak buat dia, apa kamu mengerti?" Bu Rina menyuruh dan bertanya sama Fani.
"Loh mana bisa mamah, mba Fani ini calon istri dari kak Abi, bagaimana bisa mamah menyuruh mba Fani bikin minuman buat mantan istri dari kak Abi." Pricilia menekankan kata mantan istri agar Voke sadar diri.
Bu Rina membulatkan matanya mendengar perkataan anaknya, Voke meremas jarinya menahan geram sama mantan adik iparnya, sedangkan Ayumi menahan senyumnya dari dulu adiknya itu bisa banget bikin orang kepanasan. Irham hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Pricilia apa yang kamu katakan? Nggak usah ngarang cerita kamu anak kecil tau apa kamu hah!" Bu Rina kembali mengingatkan anaknya.
"Maaf nya, non saya bu." Ucapan Pricilia terhenti saat suara yang sangat membantunya geram tiba-tiba menyelah ucapanya.
"Bener bu, yang di katakan Pricilia memang bener kalau Fani adalah calon istri Abimana." Sahutnya tersenyum melihat Fani.
Fani mendengus kecil lagi-lagi bosnya ini bikin darah tingginya naik. "Dasar tuan muda sialan lama-lama tak racun juga ni orang." Batinnya geram.
Abimana yang tau kalau Fani sedang mengumpat dirinya langsung mendekat dan memeluk pinggangnya, Pricilia dan Ayumi mengedipkan matanya mereka terbengong melihat dua orang yang ada di depannya.
"Hei sayang kamu kenapa diem saja," Ucapnya mengusap kepala Fani yang tertutup hijab.
Abimana mendekati bibirnya di telinga Fani, dan membisikkan sesuatu di telinga Fani membuat Fani membulatkan matanya.
"Iya sayang, kamu baru pulang sini aku bawakan tasnya masuk kedalam," Ujarnya.
Fani mencubit pinggang Abimana membuat Abimana mengaduh tapi dia berusaha menutupi karena ibu dan juga mantan istrinya sedang melihat mereka berdua. "Dasar pengasuh sialan beraninya dia berbuat kurang ajar sama saya." Umpatnya."
"Ah... Kalian romantis sekali si." Pricilia meledek Abimana dan Fani.
Voke yang melihat keromantisan Abimana dan Fani merasa panas dia memutuskan untuk pulang dari rumah mantan suaminya, Voke berpamitan sama bu Rina dia menyenggol bahu Fani cukup keras membuat Fani mengadu.
Setelah kepergian Voke, bu Rina menghampiri Fani dan menatap tajam pembantu udik yang sudah membuat Voke pergi dari rumah Abimana.
Plak!
Bu Rina menapar Fani dengan begitu keras membuat Fani kesakitan, Abimana, Pricilia, Ayumi dan juga Irham kaget saat melihat mamahnya menapar Fani.
"Mamah, apa yang mamah lakukan?" Tanya Pricilia melihat mamahnya.
"Berani sekali kamu mendekati anak saya perempuan udik! Inget level kamu nggak sepadan sama keluarga saya! Kamu adalah pembantu dari kampung yang mau mengemis mencari pekerjaan berani sekali kamu merayu anak saya, apa kamu menjual tubuhmu sama anak saya." Perkataan bu Rina bener-bener menyakiti perasaan Fani.
"Mamah apa yang mamah katakan? Apa mamah menilai Abimana serendah itu? Abimana bukan pria yang suka bermain perempuan." Abimana menatap tajam mamahnya.
"Diam kamu Abimana! Kamu berani melawan mamah hanya karena perempuan udik ini?Pembantu seperti dia nggak pantes jadi bagian keluarga Hartawan apa kamu mengerti?" Bu Rina membentak anaknya.
"Mah, cukup mah." Kali ini Ayumi angkat bicara.
Bu Rina nggak menghiraukan ucapan Ayumi, beliau masih menatap tajam Fani yang sedari tadi hanya diam saja, air mata Fani sudah meleleh mendengar perkataan bu Rina yang begitu menyakitkan.
"Kamu perempuan udik, kemasi barang-barang kamu dan keluar dari rumah anak saya! Saya nggak mau melihat kamu masih ada di rumah saya," Ucapannya penuh penekanan.
"Mah, ini rumah Abimana yang berhak mengusir dia itu Abimana bukan mamah." Ujarnya.
"Kamu pilih mengusir perempuan udik ini atau kamu nggak usah menganggap mamah ini sebagai mamah kamu." Bu Rina memberikan sebuah pilihan yang sulit untuk Abimana.
Pricilia menutup mulutnya nggak percaya kalau mamahnya adalah seorang ibu yang nggak punya hati.
"Mah ini sudah malem, mau pergi kemana Fani malem-malem begini?" Ayumi memegang tangan mamahnya.
"Mamah nggak peduli, malam ini juga perempuan udik ini harus keluar dari rumah ini sekarang jug!" Bu Rina menunjuk pintu keluar.
Fani yang sedari tadi diam dan menundukkan kepalanya, kini dia mengangkat kepalanya dan melihat bu Rina, Fani menghapus air matanya dan melihat bu Rina.
"Ibu nggak perlu takut malam ini juga saya akan pergi dari rumah ini, tapi inget saya nggak akan kembali kerumah ini walaupun anak-anak ibu memaksa saya untuk kembali kerumah ini, sebelum ibu sendiri yang memohon sama saya untuk kembali ke rumah ini." Fani melihat bu Rina dengan tatap mata yang sangat terluka.
"Jangan mimpi kamu, saya nggak bakalan memohon untuk meminta kamu buat kembali ke rumah ini." Sahutnya.
"Kita lihat saja." Fani meninggalkan mereka semua.
Abimana hanya diam mematung, dia bingung harus berbuat apa apalagi setelah mamahnya mengancamnya. Di dalam kamar Fani sedang membereskan pakaiannya Santi yang melihat Fani membereskan pakaiannya tersenyum penuh kemenangan.
Bi Sumi yang melihat Fani membereskan pakaiannya menangis sesegukan, beliau nggak rela kalau Fani harus pergi dari rumah ini.
"Akhirnya tanpa aku melakukan sesuatu kamu di usir juga dari rumah ini sama nyonya besar, " Ucapnya.
" Apa yang kamu katakan?" Seseorang langsung bertanya maksud dari perkataan Santi.
Bersambung..
jangan lupa vote, coment beri hadiah buat author bunga dan kopi, biar author semangat update.
maaf terlalu lebay ini