NovelToon NovelToon
My Love My Bride

My Love My Bride

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Tamat
Popularitas:484.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: el nurmala

Visual cast di eps 20.
_______

Menikahi adik sahabat, mengapa tidak?
Kisah cinta beda usia antara Riky dan Alena.

Ikuti kisah mereka ya.
Selamat membaca!
Cerita ini merupakan sekuel 'Permainan Takdir 1&2'.

-------------
Cerita ini hanya fiksi. Jika ada nama, tempat, atau kejadian yang sama. Itu hanya kebetulan semata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tidak peka

Happy reading...

Mentari Senin pagi ini cukup menghangatkan siapa saja yang sudah memulai aktivitasnya di luar sana. Jalanan mulai terlihat padat dengan kendaraan mereka yang hendak menuju tempat bekerja.

Selain menjalankan tugasnya sebagai seorang istri, selama berada di kota ini Alena berniat ikut ke kantor. Hal itu ia lakukan untuk menambah pengetahuan bahan skripsi yang akan disusunnya.

Getaran posel yang berbunyi menjeda Alena yang sedang mengenakan pakaian semi formalnya hari ini. Di layar ponsel tertera nama Alvin, sang kakak yang menghubunginya.

"Hallo, Kak Alvin!"

"Hallo juga, Len. Masih di apartemen Riky?"

"Iya, Kak. Alena seminggu di sini. Kakak masih di rumah Om Salman ya? Sepertinya baru bangun tidur, suaranya serak begitu."

"Iya, di sini masih dini hari. Kakak kebangun barusan Queen ingin bicara sebelum berangkat sekolah."

"Oh, tidur lagi aja."

"Mau sebentar lagi. Alena, kamu sebentar lagi skripsi kan?"

"Iya. Memangnya kenapa?"

"Kenapa nggak sekalian magang di situ aja. Lumayan kan tiga bulan, kamu bisa tinggal sama Riky."

"Iya, juga ya? Tadinya Alena mau magang di parusahaan Kak Alvin, hehe."

"Kalau menurut kakak, lebih baik magang di situ aja. Kan bisa menyelam sambil minum air."

"Maksudnya apa sih Kak? Kalau Kak Riky bilang begitu biasanya ngajak 'main' di kamar mandi, Kak Alvin nggak nyuruh Alena berendam kan?"

Alena tersenyum mendengar kekehan ringan di ujung ponselnya. Ia belum mengerti maksud ucapan kakaknya.

"Kakak dengar dari Laura, katanya kamu sudah berniat mempunyai momongan. Kalau kamu di situ, kan bisa saja dua-duanya didapat. Skripsi iya, usaha dapat momongan juga iya. Hmm? Dan yang pasti Riky pasti akan sangat bahagia kalau kamu ada di sana."

"Iya sih, tapi Alena nggak enak sama karyawan lain Kak."

"Memangnya kenapa? Toh nanti juga kamu kerja di sana. Kalaupun kamu kedepannya nggak kerja, setidaknya kamu dapat pengalaman bekerja yang menyenangkan. Berangkat dan pulang sama suami. Bisa makan siang sama suami. Dan kamu bisa memperlihatkan pada karyawan lain kalau Riky sudah beristri. Biar nggak ada yang berani, biasanya perempuan suka begitu."

"Gitu ya?"

"Kok gitu ya, sih? Nanti kakak bicara sama Maliek ya. Pokoknya kamu tahu beres. Kakak juga kan ingin secepatnya punya keponakan dari kamu."

"Iya deh, gimana kakak aja. Tapi jangan dulu bilang sama Kak Riky ya. Biar jadi kejutan, hehe."

"Oke. Sudah ya, kakak mau tidur lagi. Salam untuk Riky."

"Siap."

Alena mengulumkan senyumnya dan terhenyak saat Riky bertanya, "Apa yang jangan dulu bilang sama aku, Yang?"

"I-itu rahasia," sahut Alena sambil nyengir.

"Mmm, belajar rahasia-rahasiaan ya sekarang." Ujarnya sambil berlalu.

"Bukan begitu, Kak. Maksud Alena biar jadi kejutan." Alena mengekor di belakang suaminya.

Riky mengenakan pakaian yang sudah disiapkan istrinya tanpa berkata-kata. Pria itu sepertinya merasa kesal karena berpikir istrinya menyimpan rahasia.

"Kak Riky marah ya? Ya sudah, Alena nggak jadi ikut ke kantor kalau begitu." Deliknya hendak berlalu namun terhenti karena Riky menarik pinggangnya.

"Bilang dulu apa yang kamu sembunyikan dari aku," ujar Riky sambil mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Alena.

"Kalau bilang nggak jadi kejutan dong."

"Aku mau keterbukaan dari kamu, bukan kejutan."

"Hmm... Itu, Kak Alvin menyarankan Alena untuk magang di perusahaan Kak Riky. Katanya dia sendiri yang akan bicara sama Kak Maliek. Katanya Kak Riky akan senang kalau Alena ada di sini." Sahutnya sambil menangkup wajah Riky.

"Dasar istri nggak peka," ujar Riky sambil mengecup gemas bibir Alena.

"Nggak peka bagaimana?"

"Memangnya kamu nggak lihat aku senang kamu ada di sini. Dan Alvin, kenapa harus bicara sama Maliek? Tanpa dia bicara pun kamu bisa bekerja di perusahaan itu."

"Ya mungkin biar lebih jelas aja. Kalau Kak Maliek sendiri yang bilang sama kepala divisi keuangan, jadi nggak ada yang berani macam-macam sama Alena. Nggak enak juga sih sebenarnya. Oh mungkin biar tidak terkesan nepotisme. Mentang-mentang suaminya CEO, istrinya juga ikut-ikutan kerja di perusahaan. Begitu mungkin maksud Kak Alvin," ujar Alena beralasan. Ia tak ingin Riky merasa tersinggung dengan apa yang dilakukan kakaknya.

"Bukan cuma mentang-mentang istri CEO, tapi juga mentang-mentang kakaknya ipar Maliek Bramasta sekaligus CEO Al-Azmi Corp. Itu yang pasti," sahut Riky sambil tersenyum.

"Terserah deh, bagaimana pikiran orang saja. Terus, boleh nggak Alena magang di sini?"

"Kamu masih nanya juga? Benar-benar tidak peka."

"Kok masih bilang nggak peka sih?"

"Sayang, baru kemarin aku bilang sama kamu. Aku sudah tidak sabar menunggumu bergabung di perusahaan, eh kamu malah nanya boleh apa enggak. Kalau tidak peka lalu apa namanya, hmm?"

Melihat ekspresi wajah suaminya yang seperti kesal namun juga gemas, Alena hanya nyengir kuda. Bukan hanya Riky, ia pun tentu ingin melihat wajah segar suaminya seperti pagi ini setiap hari.

Alena terlihat anggun mengenakan kemeja polos yang dipadu padankan dengan pencil skirt bermotif. Walau terkesan sederhana, rok yang panjangnya menutup lutut itu memperlihatkan kakinya yang jenjang.

Riky menatap kagum pada istrinya. Ia tidak menyangka, Alena yang selama ini berpenampilan asal-asalan bisa terlihat formal juga.

"Nanti kalau di kantor ada karyawan laki-laki yang minta nomer telepon, jangan di kasih ya." Pesannya.

"Kok begitu. Nanti Alena dibilang sombong dong."

"Biarin. Percuma juga punya nomer kamu, kalau akhirnya aku blokir." Sahutnya cuek.

"Blokir? Oh, jangan-jangan yang memblokir nomer teman Alena juga Kak Riky ya?"

"Siapa, Agam? Memang iya," sahut Riky sambil kembali fokus pada kemudinya.

"Mmm pantas saja. Kenapa memangnya Kak, kok diblokir?"

"Ya karena dia bilang kamu itu sunshine-nya dia. Nggak tahu apa, kamu itu hanya milikku."

"Ternyata Kak Riky posesif juga," ujar Alena mendelikkan matanya sambil mengulumkan senyum.

"Iya laah. Kamu itu istriku, cintaku, belahan jiwaku, segalanya buatku. Aku nggak rela kalau ada mata lain yang menatap dengan cinta sama kamu. Nanti matanya aku colok baru tahu rasa," tegas Riky.

"Ih, serem. Nggak laah, biarkan orang lain dengan perasaannya. Yang terpenting, cinta Alena hanya untuk Kak Riky seorang." Ujarnya sambil tersenyum manis.

Riky tersenyum dan menggenggam tangan Alena. Dikecupnya berkali-kali punggung tangan itu lalu di letakkan di bagian dadanya.

"Kalau ada yang minta nomer ponsel kamu, suruh aja minta izin padaku."

"Terus, bakal diizinin nggak?"

"Enggak. Yang ada aku akan pecat dia."

"Ish, jangan dong. Kasihan..."

"Biar saja. Sudah tahu ada suaminya kok masih berani mendekati. Pokoknya kalau kamu ada waktu senggang, kamu harus ke ruanganku. Jangan basa-basi sama karyawan laki-laki, aku nggak suka." Tegasnya.

"Tahu begini lebih baik Alena magang di perusahaan Kak Alvin deh. Di sana enak ada Kak Rendy juga, dari pada di sini. Belum apa-apa sudah banyak aturan." Deliknya.

"Nggak gitu dong, Sayang." Ujarnya lembut sambil mengusap rahang Alena dengan punggung jarinya.

Alena menoleh, sambil tersenyum ia berkata, "Lena tahu, Kak. Karena itu juga berlaku untuk Kak Riky. Awas aja kalau ada yang berani dekat-dekat."

Keduanya pun tersenyum dengan perasaan yang berbunga-bunga. Mereka semakin semangat menjalani hari dengan adanya orang terkasih.

1
Sri Ariyanti
thor, aku suka karyamu. bagus.
lanjut ke cerita cucu sultan opa salman
Neva Yanti
bagus
Sari
cucok visualnya 👍
Sinta Mayapada
the best cerita mu author.
Sinta Mayapada
Kecewa
Fika
Ahh kamil..dewasa bnget jdi adik...thor carikan jodoh buat kamil...yg gak beda jauh dri ajeng
Fika
Riky sm Alena bener2 yach perpaduan pas sama2 gesrek jiwa humoris nya tinggi bngettt 🤣🤣 pasti mama widya dan papa salim awet muda krn tiap hri dengar guyonan anak sm menantu ditambah paijo 🤣🤣🤣
Eva NurMalla
oke visualnya 😎😎
TePe
ngga tau , suka bgt saam karya author ini
TePe
wah si babang ricky kebakaran jenggot deh😄
TePe
rada2 n8h si ajeng
bunda syifa
Zein sama zemima lumayan jauh y ka'El usia nya
bunda syifa
panggilan di ka'Zein sama Beby Mima pasti bikin yg baca ketawa" sendiri
bunda syifa
jangan d detail proses nya Thor, bikin merinding, jadi ke inget pas dulu lahiran padahal udah lima tahun tapi klo lagi baca kek gini kayak masih kerasa GT sakit nya, pengen d tahan tapi anak nya harus d keluarin tapi mau d keluarin takut segala macem jadi satu 😥😥😥
bunda syifa
puas banget Thor, apalagi klo yg ngikutin ceritanya dari awal pasti kerasa kayak baca cerita dunia nyata saking ceritanya terus berlanjut
bunda syifa
akhirnya aq maraton sampai selesai juga, habis cerita amiera agak ragu mau lanjut kesini, soalnya biasanya klo sekuel ke sekian itu suka beda ceritanya konflik nya kadang lebih berat, tapi karena rasa penasaran yg teramat besar akhirnya yoba lanjut baca apalagi d cerita ini harus kehilangan pak Salman, dn semoga sekuel selanjutnya kisah si cucu pak Salman cerita nya bagus kayak yg lain juga y ka'El, tapi aq tunggu episode nya banyak dulu soalnya aq kesel klo d gantung
bunda syifa
ini Zain umur berapa Thor, udah SD kn, udah besar berarti
bunda syifa
apa dia dokter yg malsuin hasil USG nya ibu Nita dulu itu kah, yg pernah jadi pengemis pas suaminya sakit
bunda syifa
udah lama gc nangis saat baca novel, sekarang d bikin nangis gara" pak Salman meninggal 😭😭😭
bunda syifa
yah mbak dokter nya d anggurin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!