Andra yang jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu dengan Mila, perempuan yang telah bersuami itu mampu menggetarkan hatinya hingga membuat dia mencari tahu seperti apa kehidupan yang sedang di jalani Mila bersama suaminya. "Mila, kau tak pernah bahagia kan hidup bersama suamimu itu?" tanya Andra menatap serius Mila. "Bapak tidak perlu tahu urusan rumah tanggaku!" sentak Mila. "Ceraikan saja suamimu dan jadilah istriku, kau akan kujadikan ratu dalam hidupku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PandaMaiden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Mila berdiri memeluk kedua lengannya sendiri di balik jendela kamar hotel. Lampu-lampu kota yang berkelap-kelip di bawah sana memang indah, tetapi gemerlap itu sama sekali tidak mampu menenangkan badai di dalam pikirannya.
Foto yang dikirim oleh nomor tak dikenal itu terus terbayang, tercetak jelas di ingatan.
Dalam foto tersebut, terlihat rumah kontrakan yang dulu ia tempati bersama Arjun. Namun, yang membuat seluruh pasokan udara di paru-paru Mila seolah tersedot habis bukanlah bentuk rumahnya, melainkan tulisan yang dicoretkan di pintu menggunakan cat merah darah:
"PULANG SEBELUM AKU MENJEMPUTMU."
Tidak ada sosok manusia di foto itu. Namun, ancaman tersirat di dalamnya sudah cukup untuk membuat dada Mila terasa sesak meremang.
"Apa dia benar-benar sudah tahu aku ada di sini?" gumamnya lirih.
Mila mencoba menggelengkan kepala, berusaha menepis kemungkinan terburuk. "Enggak... mana mungkin."
Hotel tempat rombongan mereka menginap dipilih langsung oleh pihak perusahaan dan lokasinya dirahasiakan dari publik. Bahkan, akun media sosial Mila sudah lama mati suri—ia tidak pernah lagi mengunggah apa pun tentang kehidupannya.
Lalu, bagaimana bisa Arjun mengirimkan foto mengerikan itu tepat di saat ia sedang jauh dari rumah?
Semakin dipikirkan, kepalanya justru semakin pening. Demi mengusir rasa cemas, Mila melangkah lunglai mengambil sebotol air mineral, lalu menegguknya cepat.
"Tenang... besok juga sudah pulang," bisiknya berulang kali, seperti sedang merapalkan mantra untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Sementara itu, di kamar sebelah, Andra masih terjaga.
Laptopnya yang menyala di atas meja masih menampilkan lembar laporan keuangan perusahaan. Namun, sejak lima belas menit yang lalu, tidak ada satu pun halaman yang berpindah. Pikirannya justru melenceng jauh, dipenuhi oleh bayangan wajah Mila.
Mengingat bagaimana cara wanita itu tersenyum tipis saat menunjukkan piring makannya yang kosong tadi malam, sudut bibir Andra tanpa sadar ikut terangkat.
"Aneh..." Andra terkekeh pelan pada diri sendiri. "Baru kali ini ada orang yang berani mengomeli aku hanya gara-gara telat makan."
Selama ini, semua orang di sekitarnya hanya sibuk bermuka manis dan menyenangkan hatinya demi menjaga posisi atau sekadar segan pada statusnya sebagai pemilik perusahaan. Tidak ada yang benar-benar berani menegur ketegasannya.
Namun, Mila berbeda. Wanita itu memarahinya dengan ketulusan yang polos tanpa dibuat-buat. Justru kepedulian sederhana itulah yang perlahan menyusup dan menghangatkan hati Andra yang selama ini dingin.
Senyum di wajah Andra perlahan memudar saat ingatannya kembali pada cerita Mila mengenai Arjun. Seketika, tatapan matanya berubah tajam dan sedingin es.
"Aku tidak akan membiarkan laki-laki itu menyakitimu lagi, Mila," desisnya tegas.
Andra segera meraih ponselnya dan mendial sebuah nomor. Begitu panggilan tersambung, suara berat dari seberang langsung menyahut.
"Halo? Masih bangun, Ndra?"
"Lagi kerja. Aku butuh bantuanmu sekarang."
"Ada masalah serius?" Nada bicara sahabatnya langsung berubah tanggap.
Andra menghela napas berat. "Tolong cari semua informasi tentang Arjun. Mulai dari pekerjaan, catatan utang, sampai lingkungan pergaulannya saat ini."
"Terdengar sangat personal. Ini masalah serius?"
"Sangat serius."
Pria di seberang telepon terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas. "Oke. Besok pagi aku mulai bergerak."
"Bukan besok," potong Andra cepat tanpa bantahan. "Malam ini."
"Tumben kamu segalak ini? Ada apa sebenarnya?"
"Karena aku tidak mau perempuan itu terluka lagi."
"Perempuan?" Seberang telepon menangkap sinyal yang tidak biasa.
Andra baru menyadari kalimatnya yang terlalu impulsif. Ia berdeham canggung. "Hmm... pokoknya kerjakan saja secepatnya."
"Hahaha... baik, Bos. Dimengerti."
Setelah telepon ditutup, Andra mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sendiri bingung, entah sejak kapan dirinya mulai terlalu mengkhawatirkan dan terlibat sejauh ini dalam hidup Mila.
Di sudut kota yang lain, di dalam sebuah rumah kontrakan yang tampak berantakan dan pengap...
Arjun duduk bersila di lantai sambil menenggak minuman keras murahan langsung dari botolnya. Botol-botol kosong berserakan di sekitarnya, berpadu dengan puntung rokok yang berserakan. Matanya merah padam, dipenuhi kilat amarah.
Ia melempar ponselnya begitu saja ke atas sofa usang di dekatnya.
"Masih berani kamu memblokir nomor gue, hah?!" Arjun tertawa sinis, suara tawanya menggema bergidik di ruangan yang sepi. "Kamu pikir bisa kabur selamanya dari gue, Mila?"
Arjun kemudian meraih sebuah amplop cokelat dari atas meja kayu yang rapuh. Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto hasil cetakan. Semua foto itu memperlihatkan gerak-gerik Mila akhir-akhir ini; saat wanita itu melangkah masuk kantor, berjalan menuju area parkiran, bahkan saat Mila sedang keluar membeli makan siang beberapa hari yang lalu.
Arjun mengusap pelan permukaan salah satu foto dengan ibu jarinya. "Kamu kelihatan jauh lebih cantik kalau lagi ketakutan," bisiknya dengan senyum miring yang mengerikan. "Tunggu saja... aku bakal bikin kamu pulang merangkak ke pelukanku."
Tok... tok...
Suara ketukan di pintu depan memecah keheningan. "Masuk," seru Arjun malas.
Seorang pria bertubuh kurus melangkah masuk dengan sebatang rokok yang terselip di jarinya. "Gimana situasinya?" tanya Arjun langsung.
"Sesuai perintahmu, Jun. Dia memang lagi di luar kota sekarang," jawab Bagas.
Arjun tersenyum puas, menegguk minumannya lagi. "Bagus."
"Tapi... ada satu hal, Jun," pria itu tampak ragu sejenak. "Informasi dari lapangan bilang, bos besar dari perusahaan tempatnya bekerja juga ikut di rombongan itu."
Arjun mendengus remeh. "Bos? Lalu kenapa?"
"Masalahnya... mereka katanya sering kelihatan berdua. Ada yang sempat melihat mereka bersama beberapa kali."
Prang!
Botol di tangan Arjun seketika melayang dan hancur berkeping-keping menghantam dinding. Pria kurus itu sampai tersentak kaget dan mundur selangkah.
"Berani-beraninya dia...!" Arjun berdiri dengan napas memburu, kedua tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jun..."
"Diam!" bentak Arjun kalap. Sorot matanya kini dipenuhi oleh kabut kebencian yang pekat. "Kalau bajingan itu berani menyentuh milik gue... akan gue hancurkan dia sekalian!"
Keesokan paginya, jam baru menunjukkan pukul enam tepat.
Mila akhirnya terbangun setelah semalaman hanya bisa terlelap selama beberapa jam saja. Ketika bercermin, matanya tampak sembab dan kepalanya terasa begitu berat akibat kurang tidur.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu yang tiba-tiba membuat Mila sedikit terperanjat. Ia melangkah mendekat dengan waspada. "Siapa?"
"Pihak room service, Bu."
Mila mengernyitkan dahi bingung. Ia merasa sama sekali tidak memesan layanan apa pun sepagi ini. Dengan hati-hati, Mila membuka pintu sedikit, membiarkan celah kecil untuk melihat keluar. Seorang petugas hotel berdiri dengan senyum ramah, membawa sebuah nampan berisi sarapan hangat yang mengepulkan aroma gurih.
"Ini menu sarapan untuk Ibu Mila."
"Maaf, tapi saya tidak memesan sarapan ke kamar."
"Sudah dibayar dan dipesankan sejak subuh tadi, Bu."
"Dari siapa?"
Petugas itu tersenyum sopan. "Dari salah seorang tamu hotel di lantai ini juga."
Mila tidak perlu berpikir dua kali untuk menebaknya. Pasti Pak Andra... pikirnya.
Ia menghela napas pelan, ada rasa hangat yang mendadak menyusup di dadanya. "Baiklah, terima kasih."
Setelah menutup kembali pintu kamarnya, Mila membawa nampan itu ke atas meja. Di samping gelas susu hangat, ia mendapati secarik kertas kecil. Tulisan tangan yang rapi dan tegas di atasnya langsung menarik perhatian Mila.
"Sarapan dulu. Jangan sampai sakit lagi. Hari ini jadwal kita cukup padat. —Andra."
Tanpa sadar, segaris senyum tipis terukir di wajah pucat Mila. "Orang ini... perhatiannya benar-benar kelewatan," gumamnya pelan.
Namun, di saat yang bersamaan, kehangatan itu justru memicu rasa takut yang baru di dalam lubuk hatinya. Mila takut... ia takut jika ia mulai terbiasa dengan semua atensi dan perlindungan ini. Ia takut menjadi lemah dan bergantung pada kebaikan Andra.
Dan yang paling membuat seluruh tubuhnya mendadak dingin adalah... jika Arjun sampai tahu ada pria lain yang memperlakukannya sebaik ini, mantan suaminya yang posesif dan kasar itu pasti tidak akan tinggal diam. Arjun akan menghancurkan siapa saja.
Mila menatap ke arah jendela, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya.
Namun, tepat di seberang jalan di depan gedung hotel—tanpa disadari oleh siapa pun, sebuah lensa kamera panjang menyembul dari dalam kaca mobil yang terbuka sedikit. Kamera itu membidik tepat ke arah jendela kamar Mila, mengambil beberapa gambar dengan cepat.
Sang fotografer gelap kemudian menurunkan kameranya, lalu mengetikkan sebuah pesan singkat di ponselnya.
"Target masih terpantau di dalam kamar hotel, Bang."
Hanya butuh waktu beberapa detik hingga sebuah balasan masuk dari nomor Arjun.
"Awasi terus. Jangan sampai lolos sekecil apa pun jaringnya."