"GADIS GILA! APA KAMU NGGA PIKIRKAN MASA DEPAN KAMU?!" bentak pemuda itu sambil menarik tangan Ana.
Ana memandang dengan takut tapi ia juga merasa lega karena sebenarnya, dia tidak berniat untuk bunuh diri.
Anabella Queena Tanaya, tidak pernah menginginkan wajah yang buruk rupa dan tidak memiliki teman itupun hanya bisa putus asa di atas atap apartemen yang sering ia kunjungi ketika merasa sedih.
Dua lelaki tampan datang ke hidupnya dan semuanya berubah dengan sangat drastis. "Apa aku bermimpi?"
Tekad gadis itu ingin jadi glow up, bukan main - main. Tahap demi tahap, bahkan ia berusaha menutupi luka masa lalu di sekolahnya yang lama, berbuah manis bahkan terlalu manis.
Tapi siapa sangka dengan dirinya yang sekarang, Ana malah dibuat bimbang dengan kejadian tak terduga di sekolah barunya.
Apa Ana akan bisa tetap menjadi Ana yang glow up tanpa ada yang tahu bahwa dia sebenernya korban pembullyan??
Atau ada seseorang dari masa lalunya yang mengetahui semua tentang Ana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Berliana Febbyola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 KEYAKINAN YANG MENGGANGGU
Setelah keduanya saling menatap tajam, Ana langsung mengalihkan pandangannya. Nathan sadar sekarang Ana tidak melihat ke arahnya lagi, lalu ia pun beranjak pergi. Kai melihat Nathan pergi langsung melihat ke arah Ana yang sedang membaca buku.
Posisi duduk gadis itu miring dan saat mengibaskan rambut panjangnya, terlihat benda berkilauan di lehernya. Kai memfokuskan pada kalung yang dipakai Ana.
Ia pun langsung teringat sesuatu..
"Kalung itu.."
"Aku seperti pernah melihatnya, model dari kalung itu tampak unik."
Bentuk hati dengan kristal berkilauan di tengahnya dan tali rantai kecil. Itu sangat familiar.
Saat Kai akan mengingat tentang kalung yang sama dengan kalung Ana, tiba - tiba Pak Anton datang untuk memulai pelajaran selanjutnya.
Kai pun langsung membenarkan duduknya dengan rapi walaupun hatinya terus bertanya - tanya tentang kalung tersebut.
"Apa dia adalah orang yang aku cari selama ini?" batin Kai.
Pak Anton dengan ciri khasnya, sebelum masuk pasti membuat puisi atau pantun yang sangat dramatis untuk menghibur siswa - siswinya.
"Kenapa kalian semuanya kayak gak bersemangat begitu? Apa karena sekarang adalah pelajaran terakhir. Dan pengajarnya, Bapak?"
Semua serentak menjawab "Nggak kok, Pak!"
"Lalu? Hem, baiklah bapak akan kasih pantun." sahut Pak Anton dengan percaya diri.
"JANGAN!" jawab mereka serentak.
"Ah, nggak merepotkan kok. Bapak senang menghibur kalian." sahutnya dengan tersenyum jaim.
Membuat seisi kelas menepuk jidat kecuali Kai yang masih duduk rapi dan kalem.
Ana sedikit tertawa bersama teman - teman yang lainnya, karena baru kali ini dia dapat guru yang humoris.
Pak Anton pun mulai berpantun.
"Minum kopi tubruk di kedai
Sambil menatap bintang berkilau
Rajin pangkal pandai
Kalau bucin pangkal galau.."
"Owww... Bapak kok paham banget soal percintaan. Apa jangan - jangan bapak pu-" terharu Andi, siswa paling berisik dan pemalas.
"Stop. Bapak akan sakit hati kalau ditanya soal pacar. Karena bapak masih lajang." Sahut Pak Anton, lalu menutup mulutnya.
Semua tertawa begitupun juga Ana, Kai diam - diam memandang Ana dan tanpa sadar ia tersenyum samar.
Kai langsung kembali kalem. Dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Setelah seisi kelas dibuat tertawa oleh Pak Anton, pelajaran pun akhirnya dimulai dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat.
Bel pulang pun berbunyi.
"YEEAYYY!!!" sorak mereka gembira.
"Eits. Tunggu dulu, besok ada ujian matematika. Jangan lupa belajar, jangan kecewakan bapak ya. Good luck!"
Semuanya, serentak dengan bersemangat "YES, SIR!"
Pulang sekolah Ana, Sheila dan Jeje, akan pergi ke toko buku untuk membeli keperluan sekolah. Dan tak lupa Ana memberikan kabar kepada Citra agar tidak menjemputnya. Karena pagi tadi, Citra berpesan untuk menunggunya agar pulang bersama.
"Halo Kak Citra. Kak, hari ini kakak nggak perlu jemput aku ya."
"Halo. Kenapa? Kamu mau main kah?" jawab Citra.
"Ehem. Dan pergi ke toko buku juga dengan teman - temanku. Nggak apa - apa kan?" sahutnya.
"Oke. Jangan pulang terlalu sore. Nanti Ibu berubah jadi singa betina yang lagi PMS." celetuk Citra.
"Baiklah. Bye!"
"Oke, Bye!"
Kedua temannya melihatnya dengan ekspresi menganga. "Kamu telfonan sama kakak?"
"Santai banget."
"Aku pengen punya kakak yang seperti itu." sahut Sheila.
Ana tersenyum malu, "Ah biasa aja. Aku juga sering bertengkar, rebutan makanan sama dia. Hehe.." jawabnya.
"Ayo kita pergi sekarang." ajak Jeje.
Mereka pun pergi bersama naik bis untuk ke toko buku.
Sementara itu, Kai yang pulang dengan menaiki taxi tak sengaja bertemu dengan Nathan yang mengendarai motor. Mata mereka bertemu walaupun terhalangi kaca mobil.
"Pak tolong berhenti dulu."
"Baik, Mas."
Taxi itupun berhenti dan Kai turun dari Taxi. Terlihat Nathan pun menghentikan motornya dan langsung turun.
(Membuka helm)
"(Senyum menyungging) Kenapa? Apa sekarang kamu udah merasa bersalah?" tanya Nathan.
"Than. Kamu harus tau sesuatu." jawab Kai.
"Tau apa? Kematian ayah karena proyek sialan itu? Dan ayah kamu nggak ada campur tangan atas kejadian yang menimpa ayahku? Minggir!"
"Tunggu dulu, Nathan. Ini semua salah paham." tepis Kai.
Nathan menghentikan langkahnya, lalu berbalik melihat dengan tatapan yang bengis.
(Menggunakan helm-nya, kembali menuju motor.)
Kai hanya bisa terdiam dengan mengepalkan tangannya. Ketika melihat Nathan yang semakin menjauh.
Beberapa menit kemudian, Kai sampai di Apartemen milik-nya karena ia memilih untuk tidak serumah dengan ayah dan ibu tirinya.
"(Menghela nafas lelah) Hari ini sangat melelahkan.." keluhnya, membuka satu persatu kancing kemeja.
Memandang bingkai foto mendiang ibunya yang dipajang dinding. Tersenyum.
"Bunda. Aku akhirnya menemukan seseorang yang sudah lama aku cari. Tapi entah kenapa, aku begitu sedih melihatnya sekarang.", sahut Kai.
Kai pun mengingat kalung yang dipakai Ana, sambil berjalan menuju kamar dan membuka laci.
Sebuah foto di dalamnya ada 2 anak kecil, laki - laki dan perempuan. Mereka sedang makan es krim di taman.
"Gadis 8 tahun dan teman bermainku sampai kita berumur 13 tahun. Dan akhirnya harus berpisah, sekarang aku bertemu lagi tapi dalam versi kamu yang sekarang menutupi luka." jelas Kai.
"Apa benar itu kamu, Bella?"
"Kenapa kamu berubah?"
"Apa yang terjadi sampai kamu merubah diri kamu jadi orang lain. Aku merindukanmu tapi aku juga takut kalau kita bertemu, kamu akan terluka karena kenangan masa lalu." sahut Kai sambil terus menatap foto itu.
Membuka kotak, yang disimpan juga di laci bersamaan dengan foto. Isinya : Gelang mute hitam dan gantungan kecil boneka kelinci milik teman masa kecilnya.
Setelah Kai puas memandang foto tersebut, ia pun merebahkan dirinya di kasur dan tak lama ia terlelap.
Bermimpi..
"Bundaaa!!! Ayo keluar Bunda!! Paman tolong, Bunda masih di dalam! Semuanya tolong, Bunda!" teriak seorang anak laki - laki dengan pemandangan mengerikan, kobaran api yang melahap rumah sederhana.
Anak itu terus menangis sambil berteriak meminta pertolongan.
Seseorang masuk ke dalam rumahnya, dan hanya menyelamatkannya saja.
"Paman, Bunda ku masih di dalam. Tolonglah bawa dia keluar juga!"
"Baiklah, Nak. Tunggu ya.."
Anak kecil itu menangis sesenggukan dan berusaha ditenangkan oleh beberapa warga yang sudah berkumpul untuk membantu memadamkan api.
Namun apinya begitu besar sehingga merobohkan beberapa bagian rumah tersebut.
"TIDAAAAKKK!!" teriak Anak kecil itu dan langsung mimpi tersebut berhenti, Kai terengah - engah.
Seperti nafasnya hampir habis karena mimpi yang sama terulang sampai sekarang.
"Aku bermimpi kejadian itu lagi. Hem.." sahut Kai, keringat dingin bercucuran di dahinya.
Melihat ke arah jam, masih jam 1 tengah malam. Kai berusaha untuk tidur lagi tapi tidak bisa.
Ia pun berjalan menuju dapur untuk menenangkan pikirannya dengan minum segelas air putih.
"Sampai kapan, aku terus bermimpi kejadian yang merenggut nyawa Bunda?" mengacak - acak rambutnya, frustasi.
#Bersambung...