Alur slow.
Tidak suka silahkan skip
WARNING !! BANYAK TYPO...
MASIH PROSES PERBAIKAN PUEBI
Di mohon untuk tidak berkomentar negatif. Hargai jerih payah penulis.
Awalnya rumah tangga Naina Dan Bagas berjalan seperti biasa. Mereka memiliki buah hati bernama Hasna Nabila. Bagas begitu menyayangi keluarga kecilnya itu.
Hingga sebuah ujian menerpa rumah tangga Naina Dan Bagas, yang mana Naina harus menelan pil kekecewaan.
Bagas telah menikah lagi, tanpa sepengetahuan Naina. Bahkan Orang tua Bagas juga ikut andil dalam hal itu.
Apa yang akan di lakukan Naina selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idaa_nafishaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak diundang
Bagas dan Ibu menoleh...
Seorang wanita berjalan menghampiri mereka, wanita dengan topi serta kaca mata hitam.
Seseorang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Clara yang datang dengan senyum mengembang.
" Selamat pagi bu, mas Bagas.." Clara langsung mengandeng lengan Bagas.
" Clara kenapa kau datang ke sini?" Tanya Bagas.
" Memangnya aku tidak boleh berada di sini. Ini kan rumah kamu otomatis jadi rumahku juga aku kan sekarang istri kamu Mas, apa kamu lupa jika sekarang istri kamu itu bukan hanya Naina, tapi aku juga?" Ketus Clara sambil melepaskan pelukannya.
" Clara bukan itu maksudku.."
" Sudahlah mas, Aku sedang dalam suasana hati yang baik jadi aku tidak akan berdebat denganmu oke."
" Kenapa kau datang ke sini?" Tanya Bagas lagi.
" Aku ingin mengajak Mas untuk berbulan madu."
" Clara, tapi aku belum menyelesaikan masalahku dengan Naina?"
" Aku pikir masalah kalian sudah selesai, karena aku melihat Naina sudah keluar dari rumah ini bersama dengan keluarganya." Ucap Clara santai.
" Aku bahkan belum mengatakan apapun kepada Naina."
" Bohong kalau Mas belum mengatakan apapun kepada Naina."
" Oke, aku memang sudah berbicara dengan Naina. Dan kamu pasti tahu apa yang Naina inginkan dariku. Dan aku tidak bisa mewujudkan keinginan dari Naina." Terang Bagas.
" Aku pikir permasalahnya sudah selesai dan Naina mau menerima ku. Karena itu aku datang ke sini untuk menjemputmu, karena kita akan berangkat ke Paris."
" Clara bisakah kita tidak pergi kesana?" Pinta Bagas.
" Maaf mas. Tapi ini bukan keinginanku ini keinginan dari kedua orang tuaku." Ucap Clara.
" Apa?" Ucap Bagas terkejut.
" Ya, mereka harus mengurus perusahaan yang ada di Paris jadi Mama dan Papa mengajak kita untuk berangkat bersama dengan menggunakan jet pribadi mereka. Mereka berpikir bahwa kita perlu berbulan madu. Papa bahkan sudah mengutus orang untuk mengurus perusahaan selama kamu pergi berbulan madu dengan ku."
" Apa...?" Sekali lagi Bagas terkejut.
" Sudah sana kamu pergi lah berbulan madu dan nikmati masa-masa indah kalian. Soal Naina biar Ibu yang menangani."
" Ibu memang ibu mertua terbaik." Ucap Clara.
"Tentu saja nak." Ucap Ibu yang merasa bahagia karena sekarang Clara sudah merasa bahwa Ibu berada di pihaknya. Sekarang mereka saling berpelukan.
" Tunggulah disini, Ibu akan membantu Bagas untuk bersiap-siap lalu kalian bisa pergi hari ini."
" Tentu."
Tanpa disuruh Clara langsung duduk di ruang tamu sambil menunggu Bagas selesai bersiap.
" Ayo ikut ibu.."
Ibu langsung menarik tangan Bagas dan mereka berjalan ke lantai atas sambil tersenyum kearah Clara yang memandang kepergian mereka.
Setelah mereka sampai di kamar, Ibu segera mengeluarkan koper Bagas dan memasukkan beberapa baju dengan jumlah banyak karena mungkin Bagas dan Clara akan berada di Paris dalam waktu yang cukup lama.
" Bu, Bagas tidak bisa pergi meninggalkan Naina yang sedang bersedih Bu."
" Sudah sana. Naina biar ibu yang mengurusnya. Ibu yakin Naina dapat memahami semua ini, ibu akan meminta Bapak untuk membantu menjelaskannya kepada Naina."
" Bagaimana jika Naina tidak mau mendengarkan penjelasan dari Ibu dan Bapak dan tetap menuntut cerai dariku?"
" Ya kita akan kabulkan permintaan nya lagi pula Ibu yakin Naina tidak akan dapat bertahan setelah berpisah denganmu."
" Bu..."
" Sudahlah Bagas, Naina itu sebenarnya tidak ingin berpisah denganmu, dia mengatakan ingin bercerai denganmu, semata-mata hanya menakut-nakuti mu agar kau luluh padanya dan meninggalkan Clara. Dan Apa kau tahu resikonya jika kamu sampai meninggalkan Clara?"
" Bagas tahu bu. Bu apakah Bagas adalah suami yang jahat?"
" Tidak nak, Kau adalah suami yang paling bertanggung jawab. Kau bahkan mau berkorban demi kesejahteraan keluarga. Sekarang Jangan pikirkan tentang Naina biarkan dia menjadi urusan ibu dan bapak. Sebaiknya kau segera bersiap dan jangan lupa untuk selalu membuat Clara bahagia karena kehidupan kita tergantung dari kebahagiaan Clara."
" Bu, tapi Bagas tidak ingin kehilangan Naina. Apalagi Hasna. Dan Bagas juga tidak bisa meninggalkan Clara. Bagas mencintai mereka berdua."
Bagas berjalan dan memandangi foto pernikahannya dengan Naina..
" Maafkan aku karena telah mengkhianati pernikahan kita. Dan Maaf kan aku juga karena aku tidak bisa melepaskan mu. Aku begitu mencintai. Aku berjanji akan bersikap adil." Lirih Bagas.
" Sudah sana pergi lah. Jangan biarkan Clara menunggu."
Ibu segera menarik Bagas keluar dari kamar dan menyuruhnya untuk menemui Clara.
" Kami pergi dulu ya ibu.." Ucap Clara sambil mencium pipi ibu Bagas..
" Iya, bersenang-senang lah kalian."
Clara langsung mengandeng tangan Bagas dan mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu mereka.
" Jadi begitu ya, aku pikir kau akan menyusul ku mas. Tapi sepertinya Clara lebih penting sekarang." Ucap Naina yang tidak sengaja melihat Bagas dan Clara berjalan memasuki mobil mewah milik keluarga Clara.
Ya Naina kembali pulang karena dia meninggalkan ponselnya di meja makan.
Naina berjalan masuk bersamaan dengan perginya Ibu dengan mang Udin.
" Huft..."
Naina memutuskan untuk masuk melalui pintu belakang, dan menemui bik Asih dan menanyakan kepada beliau mengenai ponselnya.
" Lo non Naina. Bibi kira non sudah pergi."
" Ya tadinya Naina sudah pergi namun setelah Naina keluar dari kawasan perumahan. Naina baru menyadari jika ponsel Naina tertinggal di meja makan. Apakah Bibi melihatnya?"
" Tidak non, bibi tidak melihatnya."
" Hmm, begitu sebaiknya Naina ke atas untuk mencari ponselnya."
" Apa non mau bibi bantu?"
" Boleh."
Naina lalu segera naik ke atas dan masuk ke kamarnya. Dengan dibantu Bik Asih mulai mencari ponselnya.
" Ini dia, sepertinya Naina lupa meletakkannya di rak buku. Ya sudah kalau begitu Naina kembali pergi ya bik."
" Iya non, dan Bibi akan berada di sini untuk mengganti sprei kamar non Naina."
" Baiklah."
Naina keluar dan menutup pintu kamar dengan hati-hati, saat Naina hendak berjalan dia tidak sengaja mendengar Bik Asih berbicara tentang tentang dirinya.
" Maafkan bik Asih ya non, sebenarnya bik Asih dan Mang Udin sudah lama tahu tentang pernikahan dan Bagas dan juga Non Clara. Tapi karena kami diancam akan dipecat maka kami memilih untuk tetap menutup mata dan telinga. Semoga non Naina diberikan ketabahan yang besar."
Naina berusaha tegar, Naina menghela nafas panjang sebelum akhirnya benar-benar pergi dari rumah itu.
...----------------...
......................
...****************...
......................
...----------------...
......................
...****************...
kamu cantik naina bisa dapat lebih tampan lebih segalanya ....
kalau jadi naina jijik sumpahh 😏
hanya bulsit baru disuguhkan nikmat nya lupa dengan istri sah mu 😏😏
beda dengan Kamila masih pacaran sah² saja merebut toh masih pacaran 😂😂
entah kenapa Thor sosok pelakor berasa tokoh utama Clara dan amelia 😀🤭🤣🤣🤣🤣
laki² punya hati lembut emang mudahh diperdaya dibohongi
kayak mantan pacar ku terlalu baik semua orang sama perempuan sampai² tega menyakiti ku
orang lembut lebih bahaya Jika sudah menyakiti....
kadang isting ibu tajam na
tapi kadang pilihan ibu juga salah
hanya kita² lebih berhati² memilih pasangan....
setiap orang punya cara masing² menjalankan biduk rumah tangga
apalagi sifat naina seperti ku lembut pada pasangan selalu mempercayai pasangan
jika mencurigai laki² pasti bosan ya gakk ..biar lah waktu yang jawab
tau takdir seseorang tidak akan salah
apalagi jika dipisahkanitu tanda bukan jodoh yang baik untuk kita beress 😁
soal penghianat sudah penyakit