Jihan wanita yang mencintai suami Anita. Tapi, Ia mendekati Anita untuk mencari tahu, apa sebab Angga bisa menyukai dirinya. Lama kelamaan, Jihan dan Anita justru bersahabat, dengan sebuah rahasia yang rumit.
Anita yang tak mengetahui posisi Jihan, begitu senang ketika mendapatkan seorang sahabat baru. Yang bahkan, satu server ketika mengobrolkan mengenai kekasih dan suami mereka.
Bagaimana ketika Anita tahu, ketika pria yang Jihan cintai adalah suaminya? Dan bahkan tanpa sadar, Anita mendukung Jihan untuk mendapatkan lelaki itu untuk menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari yang di tunggu telah tiba. Hari untuk datang ke acara Leni, sahabat Anita. Mereka telah bersiap dan berdandan rapi, dan akan datang ke acara itu bersama sesuai janji.
"Jangan baper, ya? Nanti di sana pasti banyak temen yang bawa anak. Dan lagi, pertanyaan mereka ngga perlu di jawab kalau sakit." ucap Angga padanya.
"Iya, aku udah kebal sama pertanyaan itu." jawab Anita, yang merapikan kemeja Angga.
Angga pun melingkarkan tangan kanannya di pinggang Anita yang ramping. Mengajaknya turun dan berpamitan dengan Mama sukma.
"Udah mau berangkat?"
"Iya, Ma. Kami pamit dulu, ya? Mama ngga papa kan, di rumah sendirian?" tanya Angga.
"Ah, biasa aja. Palingan abis ini Mama tidur."
Anita mencium tangan mertuanya, lalu pergi dengan membawa kado strolernya untuk anak Leni.
*
Di sebuah rumah yang besar, berdiri tenda dan hiasan yang mewah. Tak lupa dengan foto bayi tampan yang di pajang di depan. Anita menatapnya dengan penuh rasa gemas.
"Ayo, Mas_Kita masuk. Udah ngga sabar gendong baby mungilnya." ajak Anita pada Angga.
Mereka pun masuk, tak lupa menyalami penyambut tamu yang berdiri di depan. Dan dengan ramah, suami Leni menyambutnya dari dalam.
"Udah di tungguin Leni dari tadi. Masuk aja." ucap Afkar pada keduanya.
"Ita aja yang masuk, disana juga kumpulan Ibu-ibu semua. Ngga nyambung kalau gabung." ujar Angga, lalu memberikan kado untuk anak mereka.
"Repot-repot banget sih, Mas. Ngga usahlah kasih kado segede ini. Doa aja cukup buat kita."
"Halah, kayak sama siapa aja, Kar." balas Angga.
Mereka pun duduk berdampingan, sembari menikmati acara yang sebentar lagi dimulai. Sementara itu, Anita pun masuk ke dalam kamar untuk menemui sahabatnya.
"Hey, maaf baru dateng." sapa Intan yang bergabung dengan sahabat yang lain. Dan seperti yang Angga katakan, mereka semua membawa anaknya masing-masing, dan hanya Anita yang belum.
Pov Anita.
Mataku menyorot ke pada mereka satu persatu. Memangku, menggendong, dan mengajak bermain anaknya dengan yang lain. Sedangkan aku? Aku hanya menggendong tas dan kado spesial yang ku bungkus dari rumah.
"Len, ini buat si bujang. Semoga suka, ya?" ucapku padanya.
"Walah, makasih loh, Mba. Repot-repot gini." ucap Leni, lalu meraih Hadiah itu dari tanganku.
Aku mendekati bayi mungil itu, lalu meminta izin untuk menggendongnya.
"Boleh, silahkan." ucap Leni padaku.
Aku mengangkat tubuhnya yang kemudian menggeliat. Tampak begitu menggemaskan, dan aku mendekapnya dengan begitu hangat. Ku ciumi Ia dengan segala rasa cinta yang ku miliki.
"Gendong terus, Mba Ita. Siapa tahu, besok-besok nular. Ngga bosen apa, jenguk dan kasih hadiah terus? Sesekali, pengen lah ya di jenguk dan di kasih hadiah." ujar seorang teman yang menggendong anaknya di pojokan.
Ucapan yang sederhana, mungkin sekaligus mendoakan. Tapi, kenapa begitu sakit ketika melewati telingaku. Kenapa harus juga masuk ke dalam hatiku, bahkan itu terlalu dalam ku rasakan.
" Terimakasih doanya. Semoga, segera di jabah oleh yang maha kuasa." balasku padanya.
Ya, semua tahu jika aku hanya berusaha tegar di depan mereka. Dan menjalankan janjiku di hadapan Mas Angga sebelum berangkat kemari.
Leni yang mengerti perasaanku, hanya mengelus bahuku dan mencoba menyabarkan hati ini. Sedangkan aku sendiri, hanya bisa mengalihkan perhatian dengan cara terus menimang Bayi Azka, dan terus menciuminya. Leni pun geram, tapi Ia tak mungkin mengusir tamu yang ada, dan aku memaklumi itu.
ortu tuh gk perlu ikut campur urusan rmh tangga ank.
bs kacau.
pdhl kn ita tersiksa yo tertekan.
angga kudu tegas wlwpun itu mama nya.
akoh s7 sm sifat angga...👍
mpe kapok ogah pijetan lg...
trs pasrah aj dah..
ank tuh kn rezeki..
eh..hamil ternyta..wlw lama tp hamil jg kok...
stlah sekian purnama akoh lewati...😊
br nemu crita mu lg thor..✌
ttp mndukung semua karyamu thor..
sehat2 yo..💪👍