Ayla Prameswari, instruktur latihan keras dengan nama sandi Mamba di Pulau Seraya, terpaksa kembali ke Jakarta setelah sinyal misterius Berkas 531 muncul dekat keluarga kandungnya. Di rumah mewah Prameswari, ia berhadapan dengan orang tua yang lebih menyayangi Alina, anak angkat yang pandai bersandiwara lembut. Ternyata yayasan amal keluarga menyembunyikan jalur obat eksperimen ilegal berdarah. Saat Ayla menyelidiki, Arga Wiratama, penyidik khusus yang pernah ia tembak tiga tahun lalu, datang menawarkan kerja sama. Antara dendam masa lalu, rahasia keluarga, dan kasus mematikan—siapa yang sebenarnya bersembunyi di balik topeng baik hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joko Joko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 03 - Putri yang Tidak Diundang
Kamar itu masih wangi parfum Alina.
Ayla berdiri di ambang pintu, melihat warna krem lembut di dinding, tirai putih tipis, meja rias penuh botol mahal, rak berisi tas kecil dari berbagai merek, dan bingkai foto keluarga Prameswari yang tersusun rapi.
Di salah satu foto, Alina berdiri di antara Marwan dan Ratna. Reno di belakang mereka, satu tangan di bahu Alina. Mereka semua tersenyum.
Tidak ada ruang kosong untuk anak yang hilang.
Seorang asisten rumah tangga berdiri di belakang Ayla dengan wajah bingung. “Non, barang Non Alina mau dipindahkan ke kamar mana?”
Ayla masuk dan mengambil satu bingkai foto.
“Tanya pemiliknya.”
“Non Alina sedang di bawah.”
“Kalau begitu turunkan semua barangnya ke bawah. Biar dia memilih sendiri.”
Asisten itu ragu. “Tapi Bu Ratna mungkin...”
Ayla menoleh.
Asisten itu langsung menunduk. “Baik, Non.”
Ayla tidak membentak. Tidak mengancam. Namun ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat orang lebih baik menurut.
Dia meletakkan kembali bingkai foto, lalu membuka jendela. Udara Jakarta yang panas masuk bersama suara kendaraan dari kejauhan.
Ponselnya bergetar.
Maya mengirim pesan suara.
“Bagaimana? Sudah bertemu keluarga sinetronmu?”
Ayla menekan tombol balas. “Lebih buruk. Sinetron masih punya penulis yang kadang kasihan pada tokohnya.”
Maya tertawa di seberang.
“Aku sudah kirim data awal soal pembelian obat. Nama pemesan belum jelas, tapi pembayaran lewat perusahaan cangkang yang pernah bekerja sama dengan Prameswari Group.”
Senyum Ayla hilang.
“Divisi apa?”
“Logistik medis. Empat tahun lalu tidak aktif. Dua bulan terakhir mendadak bergerak.”
Ayla berjalan ke meja rias, membuka laci satu per satu. Kosmetik, perhiasan, beberapa amplop undangan acara, kartu nama sponsor. Semua rapi. Terlalu rapi.
“Alina terlibat?”
“Belum tahu. Tapi orang seperti dia biasanya tidak bermain di ranah obat eksperimen.”
“Jangan meremehkan orang yang hidup dari pura-pura lemah.”
“Aku tidak meremehkan. Aku cuma bilang kalau dia terlibat, kemungkinan dia hanya pintu kecil. Orang yang membuka gudang pasti lebih tinggi.”
Ayla melihat satu amplop di bawah tumpukan undangan. Di bagian depan tertulis acara charity Prameswari Foundation untuk anak hilang dan korban perdagangan manusia.
Lucu.
Keluarga yang tidak tahu cara memperlakukan anak hilangnya sendiri justru membuat yayasan untuk anak hilang.
“Cari tahu siapa yang mengurus yayasan.”
“Sudah. Ratna dan Alina.”
Ayla tertawa tanpa suara.
“Baik.”
Maya berhenti sebentar. “Ayla.”
“Hm?”
“Jangan terlalu cepat membakar rumah itu. Kalau perusahaan mereka benar dipakai untuk jalur obat, kita butuh dokumen.”
“Aku tahu.”
“Dan jangan bunuh Alina.”
“Kalian semua membosankan.”
“Itu berarti jangan.”
Ayla memutus panggilan.
Di lantai bawah, suasana rumah mulai terdengar ramai. Suara koper digeser, langkah tergesa, bisikan pelayan. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka tanpa diketuk.
Ratna masuk dengan wajah tegang.
“Ayla, kamu tidak bisa begini.”
Ayla sedang duduk di kursi meja rias, memegang salah satu kalung berlian Alina. Dia mengangkat wajah.
“Tidak bisa apa?”
Ratna melihat kalung di tangan Ayla. “Itu milik Alina.”
“Aku tahu. Aku sedang melihat apakah dia punya selera.”
“Letakkan.”
Ayla meletakkan kalung itu dengan patuh.
Justru kepatuhan itu membuat Ratna semakin tidak nyaman.
“Kamar ini sudah ditempati Alina bertahun-tahun.”
“Sebelumnya disiapkan untuk siapa?”
Ratna terdiam.
Ayla tersenyum. “Untuk anak kandung yang hilang, kan?”
Wajah Ratna memerah. “Kamu selalu bicara seolah kami sengaja membuangmu.”
“Tidak.”
Ayla berdiri.
“Kalian hanya sengaja memilih nyaman setelah aku kembali.”
Ratna seperti tertampar. “Kamu tidak tahu rasanya menjadi orang tua yang kehilangan anak.”
“Benar. Aku cuma tahu rasanya menjadi anak yang hilang.”
Ruangan itu sunyi.
Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk sesaat, ada sesuatu yang hampir mirip rasa bersalah di wajah wanita itu.
Namun pintu kembali terbuka.
Alina muncul. Matanya merah, rambutnya sedikit berantakan, tetapi tetap terlihat cantik. Dia berdiri di samping Ratna, seperti anak kecil yang membutuhkan perlindungan.
“Mama, tidak apa-apa,” katanya pelan. “Kalau Kak Ayla mau kamar ini, aku pindah.”
Ratna langsung memegang bahunya. “Tidak, Nak. Kamu tidak perlu selalu mengalah.”
Ayla nyaris tertawa.
Selalu mengalah.
Gadis yang hidup memakai nama orang lain itu disebut selalu mengalah.
Alina menatap Ayla dengan mata basah. “Kak, aku tahu Kakak masih marah padaku. Tapi tolong jangan membuat Mama sedih.”
Ayla berjalan mendekat.
Alina mundur setengah langkah tanpa sadar.
Ratna segera berdiri di depannya. “Ayla.”
Ayla berhenti.
“Aku bahkan belum menyentuhnya.”
“Tatapanmu menakutkan.”
“Kalau begitu suruh dia jangan menatapku.”
Alina menggigit bibir. “Kak, kenapa kamu sangat membenciku? Aku benar-benar tidak pernah ingin merebut apa pun darimu.”
Ayla mengangguk pelan.
“Bagus. Kalau begitu besok kita umumkan ke media keluarga bahwa kamu bukan anak kandung Prameswari.”
Wajah Alina membeku.
Ratna langsung berkata, “Ayla!”
Ayla melihat Alina. “Kenapa diam?”
Alina menunduk. “Aku... aku takut orang-orang salah paham.”
“Salah paham apa?”
“Mereka mungkin mengira aku penipu.”
“Bukankah kamu bukan penipu?”
Alina mengangkat wajah, air matanya jatuh. “Aku tidak pernah meminta jadi anak keluarga ini. Aku juga korban keadaan.”
“Korban yang nyaman sekali.”
Ratna tidak tahan lagi. “Cukup. Kamu baru pulang, tapi mulutmu sudah seperti ini. Tidak bisakah kamu bersikap lebih lembut? Alina punya kondisi mental yang lemah. Dokter bilang dia tidak boleh terlalu tertekan.”
Ayla menatap Alina.
“Kondisi mental lemah, tapi kuat sekali pegang status.”
Alina menangis lebih keras.
Ratna memeluknya.
Di saat itulah Reno muncul di depan pintu. Wajahnya kusut, mungkin karena baru selesai menerima telepon dari manajer. Dia melihat ibunya menangis, Alina menangis, dan Ayla berdiri tanpa ekspresi.
Kesimpulannya mudah.
“Ayla, minta maaf.”
Ayla menoleh.
Reno masuk, suaranya ditahan agar tidak berteriak. “Aku tidak tahu bagaimana hidupmu selama ini. Mungkin berat. Tapi bukan berarti kamu boleh pulang lalu menyakiti semua orang.”
Ayla menatapnya beberapa detik.
“Kamu aktor, ya?”
Reno bingung. “Apa?”
“Pantas. Kamu cepat sekali membaca adegan tanpa naskah.”
Wajah Reno mengeras. “Jangan sinis.”
“Aku baru bertanya kenapa Alina tidak mau mengumumkan dia bukan anak kandung. Itu menyakiti siapa?”
Reno terdiam sebentar.
Alina langsung bersuara lirih, “Kak Reno, sudah. Aku tidak apa-apa. Mungkin memang aku harus pergi.”
Reno menatap Alina dengan iba.
Ayla melihatnya dan merasa adegan ini membosankan.
Dia berjalan ke meja, mengambil amplop charity foundation, lalu melemparkannya ke arah Reno. Amplop itu jatuh di dadanya.
“Keluarga ini punya yayasan untuk anak hilang. Kamu pernah bertanya anak hilang di rumahmu sendiri tidur di mana saat usia sepuluh tahun?”
Reno menatap amplop itu.
Ratna memucat. “Ayla, jangan membahas masa lalu seperti itu.”
“Kenapa? Tidak enak didengar?”
Tidak ada yang menjawab.
Ayla mengambil koper kecilnya yang masih di dekat pintu.
“Aku tidak jadi pakai kamar ini.”
Alina mengangkat wajah, tampak lega sebelum sempat menyembunyikannya.
Ayla menangkap ekspresi itu dan tersenyum.
“Aku akan pakai kamar tamu di lantai tiga. Kamar ini terlalu banyak sandiwara. Aku alergi.”
Dia melewati mereka.
Reno menahan suara. “Ayla.”
Ayla berhenti.
“Apa tujuanmu pulang?”
Ayla menoleh sedikit.
“Mengambil yang milikku.”
“Saham?”
“Itu salah satunya.”
“Yang lain?”
Ayla menatap Alina.
“Kesenangan melihat orang yang terlalu lama duduk di kursi orang lain mulai gelisah.”
Alina menggigil.
Ayla berjalan keluar.
Di tangga, dia berpapasan dengan Marwan yang baru naik dari ruang kerja. Pria itu jelas sudah mendengar sebagian pertengkaran.
“Kita bicara di ruang kerja,” kata Marwan.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Ayla mengangkat alis. “Baik.”
Ruang kerja Marwan ada di lantai dua, dipenuhi rak buku dan penghargaan bisnis. Begitu pintu ditutup, Marwan langsung meletakkan satu map di meja.
“Ini perjanjian pelepasan hak sementara.”
Ayla membuka map.
Isinya dokumen legal. Sangat rapi. Terlalu rapi untuk sesuatu yang katanya mendadak.
Dia membaca beberapa baris, lalu tertawa.
“Kalian ingin aku menunda pengambilan saham sampai rapat keluarga berikutnya?”
Marwan berkata, “Ini untuk stabilitas perusahaan.”
“Bukan untuk Alina?”
“Jangan bawa-bawa dia.”
“Lucu. Semua orang menyuruhku jangan membawa Alina, padahal semua jalan di rumah ini selalu berujung padanya.”
Marwan menahan marah. “Kamu belum mengerti bisnis. Jika saham itu langsung masuk ke namamu, publik akan bertanya. Investor akan gelisah.”
“Aku bisa menenangkan investor.”
“Dengan apa?”
Ayla menutup map.
“Dengan membeli mereka.”
Marwan terdiam.
Dia menatap putrinya seperti baru sadar ada sesuatu yang salah dengan informasi yang dia miliki.
“Kamu bekerja apa sebenarnya?”
Ayla tersenyum.
“Mahasiswi.”
“Jangan main-main.”
“Aku belum mulai main-main.”
Ponsel Ayla berbunyi. Sebuah pesan dari Maya muncul.
Perusahaan cangkang itu terhubung ke yayasan Ratna. Ada transaksi atas nama Alina.
Ayla membaca pesan itu, lalu menatap Marwan.
Senyumnya berubah tipis.
“Pak Marwan.”
Marwan tidak suka dipanggil begitu oleh anak kandungnya, tetapi dia tidak sempat menegur.
Ayla mengetuk map di meja.
“Sebelum bicara sahamku, sebaiknya Anda cek dulu yayasan istri dan putri kesayangan Anda.”
Wajah Marwan berubah.
“Apa maksudmu?”
Ayla berdiri.
“Aku baru pulang beberapa jam, tapi rumah ini sudah lebih menarik dari dugaanku.”
Dia berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, dia menoleh.
“Oh, satu lagi. Jangan siapkan dokumen bodoh seperti ini lagi. Aku tidak suka dihina dengan kertas murah.”
Pintu tertutup.
Marwan tetap berdiri di ruang kerja, menatap map di meja.
Untuk pertama kalinya, dia merasa anak yang pulang itu mungkin bukan sekadar gadis liar yang bisa disuruh pergi.
Mungkin rumah ini yang akan dipaksa berubah.