Ratu Shen Yue menikah di usia muda dan merebut tahta setelah tahun kelima pernikahannya. Setelah dia berhasil menduduki kekuasaan tertinggi. Wanita mulia itu tidak pernah menikah lagi. Dia hidup dalam kesendirian di sangkar besar yang ia gunakan untuk mengurung dirinya sendiri.
Di usianya yang hampir mencapai empat puluh tahun. Ratu Shen Yue menghembuskan napas terakhirnya.
Semua kehidupan itu seperti sebuah mimpi panjang. Di saat wanita itu membuka matanya untuk kedua kalinya. Dia sudah menjadi putri satu-satunya dari kediaman Bangsawan Li.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memungut pria sekarat
Setelah orang-orang penunggang kuda itu pergi. Li Qianzhi keluar dari himpitan meja dan kursi.
Dreakkk...
Gadis muda itu langsung menatap kearah suara. Dia melangkah pelan menuju gang kecil di samping kedai. Di dalam kegelapan samar-samar gadis itu melihat seseorang yang tengah tergelatak tidak sadarkan diri. Li Qianzhi mendekat, dia ingin memastikan jika orang itu masih bernapas. "Dia masih hidup." Berniat melangkah pergi. Namun salah satu kakinya di cengkeraman kuat.
"Bantu aku," suara pria itu terdengar lemah.
Li Qianzhi diam untuk beberapa saat memikirkan langkah yang harus ia ambil selanjutnya. "Huh, sudahlah. Lagi pula aku juga tidak tega melihat orang sekarat." Dia membantu pria itu untuk bangkit perlahan. Dan membawanya menuju kekediaman.
Sesampainya di kediaman Bangsawan Li. Gadis itu berdiri diam di depan lupa anjing di bagian belakang kediaman. "Aku rasa kau juga bisa masuk kedalam sini."
"Nona, dalam keadaan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa masuk kedalam lubang sekecil itu. Bagaimana jika kita cari jalan lain?" Pria itu mencoba meyakinkan.
Tapi rasa takut Li Qianzhi terlalu kuat. "Jika aku kembali membawa pria asing di kediaman. Ayah pasti akan mematahkan kedua kakiku. Kau masuk lebih dulu." Dia mendorong pria itu agar segara masuk kedalam lubang anjing.
Baru saja setengah jalan pria itu berhenti merangkak. Dia menekan perutnya yang sudah mengeluarkan banyak darah segar.
Drkakk...
"Emmm..." Menekan rasa sakit.
Dorongan kuat di berikan.
"Jangan terlalu lama. Jika ada penjaga kediaman yang menyadari keberadaan kita. Kita akan berada dalam masalah besar," ujar Li Qianzhi setelah menendang kuat pantat pria itu.
"Iissss..." Pria itu menjatuhkan tubuhnya di antara rerumputan. Menekan kuat luka yang mengalami robekan lebih lebar pada bagian perut bawah.
Setelah Li Qianzhi berhasil merangkak masuk kekediamannya melalui lubang anjing. Dia segera membantu pria itu untuk bangkit. "Aaaaaa..." Sekalipun gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya tetap saja tidak ada pergerakan.
Li Qianzhi berhenti menarik lengan pria itu. "Tuan, kau juga harus berusaha. Tinggi tubuh kita terlampau jauh. Menjadikan berat badanmu juga tidak setara denganku."
Menarik kembali. "Ayooo...Kenapa tidak ada pergerakan. Kau terlalu berat." Gadis itu melepaskan tangannya.
Bbuukkk...
"Aaa... Isssss..." Desisan rasa sakit terdengar.
Baru terangkat sedikit saja Li Qianzhi menjatuhkannya lagi.
"Nona, tolong sedikit lebih pelan. Aku masih menginginkan nyawaku." Pendarahan di tubuh pria itu semakin deras.
"Tunggu di sini." Li Qianzhi berjalan pergi mencari benda yang bisa ia gunakan untuk memindahkan pria itu. "Ini saja." Berjalan kembali menghampiri pria yang sudah sekarat. Dia ikatkan tali di kedua kakinya.
"Apa yang kau lakukan?" Kata pria itu dengan tenaga yang tersisa. Dia terlihat semakin cemas memperhatikan gadis yang telah mempermainkan dirinya.
Li Qianzhi masih di sibukkan dengan ikatan mati di kedua kaki pria itu. "Hanya ini cara yang dapat aku pikirkan. Sudah..." Dia berdiri. "Kau siap. Jalan..."
Gadis itu menyeret tubuh pria itu dengan tali. Seluruh tenaga dia kerahkan.
Pria itu menatap kearah langit dengan pasrah. "Tidak seharusnya aku meminta pertolongannya." Dalam hitungan detik saja dia sudah kehilangan kesadarannya.
"Aaaaaa..."
Keringat berjatuhan di kening Li Qianzhi. Gadis itu terus menarik tali yang telah ia lilitkan menyilang di pundaknya.
Dari kejauhan Bibi pengasuh Ding berlari kuat. "Nona, akhirnya kau pulang juga. Dia siapa?" Menatap terkejut kearah pria yang tengah di seret Nona mudanya. "Kau membunuhnya?" Membelalak melihat tubuh pria itu yang sudah di lumuri darah segar.
"Aku jelaskan nanti. Bantu aku," ujar Li Qianzhi.
Di pertengahan malam itu, Li Qianzhi berhasil membawa pria dengan luka di tubuhnya masuk kedalam kediaman.
"Bibi Ding, bereskan semua bekas darah di setiap jalur yang aku lalui di kediaman dan di luar kediaman. Jangan sampai ada orang yang menyadari keberadaannya di kediaman ini," tegas Li Qianzhi. "Panggil juga Wang Yihan kesini. Luka separah ini aku tidak bisa mengatasinya sendiri."
"Baik." Bibi pengasuh Ding memberikan perintah kepada pelayan dan penjaga. Mereka di arahkan untuk membersihkan bekas darah sepanjang jalur yang di lalui Nona mudanya. Sedangkan dirinya pergi memanggil Tuan muda kedua Wang Yihan. Tabib muda berbakat dari akademi kedokteran.
Dengan terburu-buru Bibi pengasuh Ding menarik Tuan muda Wang Yihan.
"Aaaahh... Bibi Ding. Kenapa memanggilku selarut ini? Aku baru saja memejamkan kedua mataku setelah membuat eksperimen." Pemuda itu sesekali memejamkan kedua matanya. Rasa kantuknya benar-benar tidak bisa di hilangkan. "Apa Qianzhi terluka lagi? Kenapa gadis itu selalu saja membuat masalah. Tidak bisa berdiam diri di rumah." Tangannya terus di tarik Bibi pengasuh Ding.
Memasuki ruangan kamar pribadi Li Qianzhi. Tuan muda Wang Yihan menatap diam. "Dia siapa?"
"Aku akan menjelaskannya nanti. Setelah kau menyelamatkan nyawanya. Cepat dia akan mati." Li Qianzhi menarik kuat tangan temannya itu.
Melihat keadaan pria di atas tempat tidur yang sudah sekarat. Tuan muda Wang Yihan segera memeriksa keadaanya. Dia memberikan pil khusus untuk menghentikan pendarahan. Lalu membersihkan luka di tubuh pria itu. "Ambilkan jarum."
Li Qianzhi mengambil jarum khusus yang di gunakan untuk menjahit luka robekan pada kulit manusia. Dengan kehati-hatian dan keahlian dari Tuan muda Wang Yihan. Pendarahan berhenti, luka juga berhasil di jahit dengan sangat baik.
Setelah dua jam, Pemuda itu akhirnya berhasil menyelamatkan satu nyawa. "Huh..." Dia bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kursi di ruangan tengah. Teko berisi air di tuangkan langsung kemulutnya. Membuat aliran air meluncur bebas kedalam tenggorokan yang sudah mengering.
"Bagaimana keadaannya?" Li Qianzhi duduk di depan pemuda itu.
"Selama ada aku, dia tidak akan mati." Mengelap keringat di keningnya. Saat sadar kembali Tuan muda Wang Yihan mendekat. "Dia siapa? Kenapa kau berusaha sangat keras untuk menyelamatkannya?" Tatapan mata itu di penuhi rasa penasaran.
Li Qianzhi mengambil buah persik di meja. Lalu menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai. Dengan entengnya dia berkata, "Aku tidak tahu."
Keeksss...
Satu gigitan besar di berikan pada buah di tangannya.
"Kau saja tidak tahu siapa dia. Tapi berani membawanya pulang kekediaman. Kau tidak takut Paman mengetahuinya?" Ujar Tuan muda Wang Yihan.
"Haih..." Menghela napas. "Aku sudah terlanjur menemukannya. Tidak mungkin membiarkannya mati begitu saja," saut Li Qianzhi sembari menghabiskan buah persik di tangannya. "Tidak ada hal penting lagi. Kau bisa pergi."
Mendengar itu Tuan muda Wang Yihan menatap kesal. "Benar-benar hanya datang saat membutuhkan bantuan." Dia berdiri. "Aaaaa..." Menguap. "Seperti biasanya. Empat kilo tanaman obat."
"Dalam dua puluh empat jam akan sampai di kediaman Wang," jawab Li Qianzhi menyetujui permintaan Tuan muda Wang Yihan.
Senyuman puas di perlihatkan pemuda itu. "Aku pergi dulu." Dia berjalan pergi dengan kedua mata yang sudah hampir terpejam.
Di dalam ruangan kamar gadis muda itu berjalan mendekati pria yang ia temukan. "Bibi Ding, kau juga bisa beristirahat. Oh ya, jangan sampai masalah ini di ketahui Ayah."
"Bibi paham." Bibi pengasuh Ding pergi dari ruangan kamar Nona mudanya. Dia melangkah menuju kamar pribadinya untuk beristirahat.
Keesokan paginya suara ketukan pintu terdengar sangat kuat dari luar ruangan.
Gadis yang tertidur di kursi ruangan kamar bangun dengan malas.
"Li Qianzhi, kau pergi keluar lagi. Jangan pikir Ayah tidak tahu kau pergi kemana semalam." Suara Tuan Li Feng terdengar di penuhi amarah.
Krekek...
Pintu kamar hanya di buka sebagian.
"Ayah." Li Qianzhi berusaha tersenyum memberikan sambutan hangat kepada Ayahnya.
Brkaakk...
Pintu di tutup kembali dan dia menghadang tepat di depannya.
"Aku hanya ingin melihat cucu kecilku," ujar gadis itu memberikan alasan. "Aaaa..."
Tuan Li Feng menarik kuat telinga putrinya. Dia berjalan menuju halaman kediaman.
"Aku Ratu Shen Yue. Ayah sungguh berani memperlakukan seorang Ratu seperti ini!" Li Qianzhi terus menggerutu.
Di halaman tengah, mereka berhenti.
Tuan Li Feng menatap putrinya. "Aku tidak peduli siapa kau di kehidupan sebelumnya. Di kehidupan ini aku adalah Ayahmu. Dan kau adalah putriku. Jadi Ratu, apa kau berani melawan Ayahmu sendiri?" ujarnya dengan gertakan di giginya.
"Heheh..." Li Qianzhi menatap dengan senyuman. "Tidak." Senyumannya hilang di detik setelahnya. "Ayah, aku hanya ingin melihat cucu kecilku sebentar saja. Lagi pula tidak ada orang yang tahu jika aku putrimu. Aaaa..." Tarikan telinga semakin kencang.
Dengan kesal Tuan Li Feng melepaskan jewerannya. "Untung saja setiap kau pergi keistana tidak ada orang yang tahu identitasmu. Jika pihak istana sampai mengetahuinya. Keluarga kita bisa di anggap pemberontak karena telah menyusup kedalam istana." Menarik napas dalam agar dapat mengatur emosinya kembali.
"Ayah..." Ujarnya manja. Dia menarik lengan Ayahnya menuju kursi yang ada di taman kecil. Mereka duduk bersama, "Sekali ini saja. Aku tidak akan menggulanginya lagi." Li Qianzhi menyandarkan kepalanya di pundak Ayahnya.
"Selama bertahun-tahun keluarga kita selalu menjadi pusat perhatian banyak orang. Kekuasaan yang ada di tanganku membuat sebagian pejabat lain ketakutan. Jika sampai di hati Yang Mulia juga tertanam benih kecurigaan. Ketenangan kekuatan Li akan semakin terancam. Semenjak..." Tuan Li Feng memandang kearah putrinya. "Ratu Shen Yue pergi. Keadaan istana menjadi berubah total. Semua orang berusaha saling menyerang dalam kegelapan. Zhizhi, jangan pernah memperlihatkan kemampuanmu di hadapan semua orang. Ayah hanya ingin kau dapat menjalani hidup tenang. Tanpa perlu terlibat dalam perebutan kekuasaan lagi."
Tuan Li Feng menatap putrinya penuh kelembutan. "Di kehidupan ini. Ayah berharap kau bisa menemukan kedamaian yang selalu kau cari sepanjang hidupmu dulu."
"Ayah, dewa benar-benar berlaku adil kepadaku. Karena telah membiarkan aku kembali dan menjadi putrimu di kehidupan ini." Di bahu Ayahnya Li Qianzhi menemukan ketenangan, kedamaian, kehangatan dan kebahagiaan.
Pagi itu Li Qianzhi duduk santai bersama Ayahnya menyaksikan kehangatan sinar matahari pagi.
Selama empat hari penuh, gadis muda itu melakukan perawatan kepada Pria yang ia punggut di jalanan.
"Kau sudah sadar," ujar Li Qianzhi yang tengah berjongkok di atas tempat tidur tepat di samping pria yang masih terbaring tidak berdaya.
"Kau siapa?"
Gadis itu mendekatkan wajahnya. "Kau lupa siapa aku? Ingat-ingat lagi. Aku sudah susah payah menyelamatkan nyawamu. Bagaimana bisa kau melupakannya."
Pria itu menatap diam untuk beberapa saat. Setelah semua ingatannya kembali dia berkata. "Ah, gadis gila yang hampir membunuhku."
Kedua alis Li Qianzhi menyatu. Dia menggebrak tempat tidur. Untung kasur itu cukup empuk sehingga tidak akan menimbulkan suara gebrakan. "Sepertinya otakmu bermasalah."
Pria itu menatap dingin. "Nona, Pria dan wanita tidak boleh bersentuhan sebelum menikah."
"Benarkah?" Mencengkeram dagu pria itu tanpa kekuatan. "Aku sudah menyentuhmu. Bahkan mengganti bajumu selama empat hari," kata Li Qianzhi tanpa rasa malu.
"Kau?" Pria itu berusaha untuk bangkit. Namun tubuhnya di tahan gadis yang tengah berjongkok di sampingnya. "Iissss..." Tenaganya masih sangat lemas karena luka yang ia alami.
"Jangan bergerak. Jahitan di lukamu masih belum mengering." Li Qianzhi mengangkat tangannya dari wajah lembut itu. Dia turun dari atas tempat tidur. "Kau pasti lapar. Aku akan meminta pelayan membuatkan bubur."
Pria itu bangkit perlahan lalu menyandarkan tubuhnya pada pembatas tempat tidur. Dengan samar dia berkata, "Terima kasih."
Langkah Li Qianzhi terhenti. Dia melirik kearah pria itu. "Aku hanya tidak tega melihat orang sekarat." Melangkah keluar dari kamar.
Setelah setengah jam Li Qianzhi datang membawa nampan. Di atasnya terdapat mangkuk berisi bubur panas. Dia mendekati pria yang masih tidak bisa bergerak leluasa di tempat tidur. Gadis muda itu duduk di sampingnya menyodorkan nampan tepat di depan pria itu. "Kedua tanganmu tidak terluka. Aku rasa kau bisa memakannya sendiri. Jangan terlalu lama nampan ini cukup berat."
Pria itu tersenyum tipis. Sebelum memakan bubur itu dia meniupnya beberapa kali.
Tokk...
Suara ketukan terdengar.
"Siapa?"
"Nona muda, ini Bibi."
"Bibi, kau bisa masuk." Li Qianzhi memberikan tanggapan.
Bibi pengasuh Ding masuk membawa mangkuk berisi obat. Obat yang di resepkan Tuan muda Wang Yihan. Melihat pria itu masih menghabiskan buburnya. Bibi pengasuh meletakkan mangkuk obat di meja samping tempat tidur.
Tidak butuh waktu lama bubur di dalam mangkuk habis tanpa sisa.
Bibi pengasuh Ding memberikan cangkir berisi air minum. Baru di lanjut mangkuk berisi obat. Selang beberapa saat, "Saya akan membawanya kedapur." Membereskan semua alat makan dan mangkuk obat yang sudah kosong. Dia melangkah pergi keluar dari kamar.
Di dalam kamar pria itu menatap kearah gadis muda di depannya.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Tanya Li Qianzhi penasaran.
Pria itu tidak menjawab pertanyaan yang di berikan kepadanya. Tapi dia justru mengajukan pertanyaan lain. "Apa Nona benar-benar orang yang telah mengganti bajuku?"
Li Qianzhi tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia bangkit, "Tidak. Aku hanya bercanda. Aku meminta pelayan pria untuk mengganti bajumu." Mengambil baju baru di dalam lemari. "Kau bisa mengenakannya." Meletakkan baju yang ia bawa di samping pria itu. Setelahnya dia menunggu di luar kamar.
Hanya sepuluh menit Li Qianzhi masuk kembali. Dia melihat pria itu sudah duduk di kursi ruangan tengah. "Tampan seperti yang aku bayangkan."
Pria itu hanya mengerutkan keningnya. mendengar ucapan dari gadis di depannya. Yang berbicara apa adanya.