Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Dunia seolah berhenti berputar dalam sepersekian detik yang terasa begitu abadi. Di dalam ruangan toko roti yang sempit dan dipenuhi aroma manis vanila, suara derap lars sepatu militer menghantam lantai kayu dengan ritme yang menghancurkan sisa-sisa kewarasan Aurelia.
Penglihatannya berbayang, dipenuhi oleh titik-titik hitam yang menari liar di udara. Dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa dari tubuhnya yang gemetar hebat, Aurelia—berusaha memaksa kedua kakinya untuk bergerak mundur. Namun, tubuhnya terasa bagaikan patung es yang membeku. Saraf-sarafnya menolak bekerja sama, dikuasai sepenuhnya oleh gelombang teror purba yang menghantam jiwanya tanpa ampun.
Di atas meja etalase di sampingnya, sebuah nampan kecil berisi deretan roti manis buatan tangannya tersenggol oleh sikunya yang bergetar.
Brak!
Nampan kayu itu meluncur jatuh, menghantam lantai dengan suara bising yang memecah kesunyian pagi. Roti-roti empuk yang baru saja ia panggang dengan penuh kasih berhamburan di atas lantai kayu yang kotor, ternoda oleh debu. Namun suara pecahan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan suara degupan jantung Aurelia yang memukul rongga dadanya dengan brutal.
Aurelia terhuyung mundur, punggungnya menabrak rak penyimpanan tepung di belakangnya hingga butiran putih halus berjatuhan menimpa bahunya. Ia mengangkat kedua tangannya secara defensif, mencoba melindungi dirinya dari sosok raksasa yang kini berdiri menjulang di hadapannya.
Sosok itu nyata. Damian Valerius.
Pria itu berdiri tepat di balik ambang pintu yang baru saja ia masuki, menatap lurus ke arahnya dengan manik mata abu-abu badai yang memancarkan badai emosi yang rumit. Namun, yang membuat napas Damian tercekat di tenggorokan bukanlah kemarahan atau kelegaan karena telah menemukan sang pelari, melainkan ekspresi yang terukir di wajah wanita di hadapannya.
Ketakutan itu.
Aurelia tidak sedang berakting. Tidak ada sandiwara bangsawan, tidak ada senyuman palsu, ataupun topeng arogan yang biasa ia tunjukkan di masa lalu. Manik mata hijau wanita itu melebar sempurna, dipenuhi oleh teror murni yang teramat sangat—sebuah keputusasaan yang begitu mendalam, seolah-olah ia sedang menatap monster yang siap mencabut nyawanya detik itu juga. Seluruh tubuh Aurelia gemetar sedemikian rupa hingga giginya bergemeretuk menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan. Wanita itu tampak bagaikan seekor binatang kecil yang terperangkap di sudut gelap, siap mati karena ketakutan yang teramat sangat terhadap bayangannya sendiri.
Melihat pemandangan itu, dada Damian terasa seperti dihantam palu besi berukuran raksasa.
Sebuah sensasi sesak yang luar biasa menusuk tajam di balik tulang rusuknya, merambat naik dan mencekik rongga pernafasannya. Selama ini, di dalam keangkuhannya sebagai seorang Jenderal Agung, Damian selalu mengira bahwa ketakutan Aurelia di masa lalu hanyalah bentuk manipulasi murahan—sebuah drama kekanak-kanakan dari seorang wanita bangsawan manja yang tidak tahan dengan aturan keras Kediaman Valerius. Ia mengira dirinya adalah korban dari keegoisan sang istri.
Namun, berdiri di sini, melihat bagaimana tubuh wanita itu menyusut ketakutan hanya karena kehadirannya, kesadaran yang kejam dan menghancurkan menghantam kesadaran Damian bagaikan sambaran petir di siang bolong.
Dialah sumbernya.
Kehadiran dirinyalah—sentuhannya, suaranya, bayang-bayang otoritasnya yang menindas—yang menjadi sumber luka terbesar dan paling mengerikan di dalam jiwa wanita ini. Damian adalah monster yang menciptakan trauma mendalam itu. Setiap detik penderitaan yang terpancar di mata hijau Aurelia saat ini adalah hasil dari kekejaman dan pengabaian yang ia lakukan selama bertahun-tahun di bawah atap kastilnya sendiri.
Rasa bersalah yang pekat dan beracun mendadak merayap ke dalam aliran darah Damian, membakar nuraninya dengan siksaan batin yang jauh lebih kejam daripada luka tebasan pedang mana pun di medan perang. Ia ingin membuka mulut, ingin mengucapkan sepatah kata untuk meredakan gemetar di tubuh wanita itu, namun tenggorokannya terasa lumpuh. Kakinya terasa terpaku di lantai.
Di tengah kebisuan yang mencekam itu, di dalam pusaran teror yang melumpuhkan akal sehat Aurelia, benteng pertahanan mental wanita itu runtuh seketika.
Pikiran bawah sadarnya mendadak ditarik mundur, menembus lapisan realitas saat ini, melemparkannya kembali ke dalam potongan-potongan memori akhir dari novel tragis yang menjerat takdirnya.
Di dalam kepalanya, suara-suara bising kota pelabuhan melenyap, digantikan oleh suara deru hujan es dan bau amis darah dari malam eksekusi di dalam novel aslinya. Aurelia melihat kembali bayangan akhir hidupnya—saat ia dijatuhi hukuman mati atas tuduhan pengkhianatan palsu, saat ia berlutut di atas lantai batu penjara yang dingin, dan saat Damian—pria yang berdiri tepat di hadapannya saat ini—menatapnya dengan tatapan dingin tanpa belas kasihan sebelum algojo mengayunkan pedangnya.
Memori itu begitu nyata, begitu tajam dan menyakitkan, seolah-olah ia sedang mati untuk kedua kalinya di tempat ini.
Aurelia terengah-engah, air mata ketakutan akhirnya tumpah membasahi pipinya yang pucat. Trauma dari akhir cerita yang mengerikan itu berpadu sempurna dengan teror fisik yang ia rasakan sekarang, membuat dadanya terasa mau meledak. Ia menggelengkan kepalanya dengan histeris, jemarinya mencengkeram erat pinggiran rak kayu hingga kuku-kukunya berdarah.
"Jangan... kumohon..." bisik Aurelia dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar, gemetar ketakutan setengah mati. "Jangan bunuh aku... biarkan aku hidup... aku sudah pergi... aku tidak akan kembali ke neraka itu..."
Kata-kata itu menghantam jiwa Damian bagaikan tikaman belati bermata dua. Kata neraka yang diucapkan wanita itu merujuk pada rumah mereka—pada tempat di mana ia seharusnya dilindungi, namun justru dijadikan tempat penyiksaan psikologis yang paling keji.
Damian merasakan dunianya runtuh seketika. Ia menyadari betapa hancurnya wanita ini, dan betapa besar dosa yang telah ia perbuat. Dengan napas yang memburu dan tangan yang sedikit bergetar—sesuatu yang tidak pernah terjadi sepanjang sejarah hidupnya sebagai seorang jenderal—Damian perlahan melangkah maju, mengangkat tangannya untuk mencoba menggapai bahu Aurelia guna menenangkannya.
"Aurelia..." panggil Damian dengan suara tertahan, nada suaranya yang biasanya dingin kini dipenuhi oleh keputusasaan dan rasa bersalah yang mengoyak batin. "Aku... aku tidak akan menyakitimu... tenangkan dirimu..."
Melihat tangan besar Damian terulur ke arahnya, reaksi Aurelia justru di luar dugaan.
Didorong oleh kepanikan absolut dan insting bertahan hidup yang sudah mencapai puncaknya, Aurelia menjerit tertahan. Matanya melotot ngeri melihat pisau kecil pemotong roti yang tergeletak di atas meja kerja di sampingnya. Tanpa memikirkan akibatnya, tangan gemeternya menyambar pisau baja kecil tersebut, lalu dengan gerakan impulsif yang liar dan penuh keputusasaan, ia mengarahkan mata pisau yang berkilat tajam itu tepat ke lehernya sendiri, bersumpah lebih baik mati di tempat ini daripada harus kembali terseret ke dalam cengkeraman sang Jenderal—
mampir diceritaku juga ya😊