Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hampir lepas kendali
Kunyahan Raina mendadak berhenti. "Ketemu orangtua kamu?" jujur Raina terkejut mendengar.
Hadi mengangguk. "Iya sayang. Kamu mau kan?"
Tatapannya penuh harap. Sepertinya Hadi ingin sekali mempertemukan Raina dengan kedua orangtuanya. Tapi sepertinya malah Raina yang ragu.
"Harus secepat itu ya?" tanya Raina. Yang sama sekali tidak berekspektasi jika perkenalan dengan orangtua Hadi harus secepat itu.
"Aku berencana menceraikan Monica dalam waktu dekat dan menikahi kamu?"
Tatapannya terlalu tulus, dan terlalu penuh harap hingga Raina sulit untuk menjawabnya.
"Kamu serius?"
Hadi kembali mengangguk. "Kalau aku tidak serius, ngapain aku jadikan kamu kekasihku! Dari dulu, jika aku sudah menyukai seorang wanita... maka wanita itu harus jadi milikku sepenuhnya. Memangnya kamu gak mau nikah sama aku?"
Raina diam. Ia memang sudah menyukai Hadi. Tapi untuk menikah... Raina belum kepikiran Samapi kesana. Apalagi statusnya juga masih sah istri Robby.
"Kamu gak mau ya nikah aku?" Hadi yang semula memegang tangan Raina, kini ia lepaskan perlahan.
"Bukan begitu!" Raina panik melihat wajah kecewa Hadi. "aku mau nikah sama kamu Mas. Tapi status kita masih sangat rumit. Apalagi tentang ibunya Mas Robby, aku takut terjadi apa-apa dengan beliau jika sampai tahu hal ini!"
Raina menunduk, meremas jari jemarinya sendiri dengan kencang. Balas dendam dengan menjadikan Hadi miliknya memang rencana dari awal. Tapi Raina tidak pernah berfikir lebih jauh... jika Hadi ingin hubungan yang serius secepat ini.
"Aku akan bantu. Kita bicara dengan Ibunya Robby pelan-pelan!" Hadi kembali meraih tangan kekasihnya, mengusapnya dengan lembut.
"Tapi itu bukan hal yang baik Mas. Tantang perselingkuhan Robby saja mungkin sudah membuatnya syok. Apalagi jika beliau sampai tahu jika aku ikutan selingkuh!"
Kekhawatiran tergambar jelas dari wajah Raina. Ia begitu menyayangi Ibu mertuanya yang terlalu baik padanya.
"Jadi kamu maunya gimana sayang? Kita gak mungkin terus-terusan seperti ini! Aku ingin memiliki kamu selamanya." Hadi mencium punggung tangannya. Pelan, lembut dan hangat terasa.
"Beri aku waktu untuk menjelaskannya sendiri! kamu bisa sabar menunggu kan?" pinta Raina.
Hadi sedikit keberatan. Ia ingin segera memiliki Raina seutuhnya. Tapi melihat wajah kekasihnya yang penuh tekanan... Ia jadi tak tega.
"Baiklah! Tapi kita harus sama-sama menceraikan mereka!"
"Cerai?"
"Iya. Aku minta kamu kumpulkan semua berkasnya perceraian itu secepatnya! nanti aku akan meminta Laras untuk mengurusnya!" Hadi menjeda. "Raina! Jadi istriku ya?"
Raina seperti terhipnotis oleh tatapan Hadi yang penuh dengan cinta. Ia mengangguk. Memang Raina sudah berencana untuk menceraikan suaminya, hanya masalah waktu saja... yang sepertinya memang harus dipercepat.
"Terima kasih sayang!" Hadi tersenyum lebar ketika permintaannya disetujui.
Dari kantung celananya... Hadi mengeluarkan sebuah kotak bludru. Yang ketika dibuka, ternyata isinya sebuah cincin bertahtakan berlian.
"Indah sekali!" Raina sampai menutup mulutnya sendiri. "Ini cincin berlian?"
Raina pernah melihatnya disebuah majalah yang ada di kantor. Cincin berlian limited edition katanya.
Hadi menggeleng cepat, tatapannya berubah sendu. "Bukan! ini cincin tiruan yang aku beli di pasar. Maaf ya aku belum bisa membelikan kamu cincin yang asli?"
"Tidak apa-apa! Cincin ini juga bagus kok. Aku pakaikan di jariku?" Raina mengulurkan tangannya.
Hadi menyematkan cincin itu dijari manis kekasihnya. Cantik, sangat pas di jari manis Raina yang lentik.
"Kamu gak malu pakai cincin palsu begini?"
Raina menggeleng. "Kanapa harus malu? Cincin ini bagus kok. Mau asli maupun palsu, aku sangat menyukainya!"
Raina menatap cincin indah itu yang sudah tersemat di jarinya. Senang? tentu saja. Meski kata Hadi cincin ini hanya tiruan, tapi ia tetap menyukainya. Lagi pula, jika sampai cincin ini asli... Raina malah takut memakainya.
"Untung dia percaya!" batin Hadi.
Sebenernya cincin itu memang berlian asli yang sengaja ia beli khusus untuk Raina. Hanya saja ia sengaja berbohong. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Raina saat mengetahui jika cincin itu hanya tiruan.
Apakah sama dengan reaksi Monica dahulu?
Tenyata tidak. Raina malah sangat menyukai dan menghargainya. Berbeda dengan istrinya, yang dulu malah langsung membuangnya ke tempat sampah saat Hadi mengatakan jika itu barang tiruan.
Hadi masih ingat dengan jelas! Kalimat pedas yang dulu Monica katakan. Katanya Kalau miskin jangan coba-coba pamer dihadapannya. Karena dia hanya pantas memakai barang asli yang meskipun lokal tapi tidak boleh tiruan.
Dulu Hadi tidak terlalu memikirkan kalimat itu. Dia anggap itu hanya ungkapan karena kesal. Sekarang, ia pemikirannya jadi berubah... ternyata jika cinta itu tulus, apapun pemberian kita pasti akan dihargai.
"Mas Hadi kenapa bengong!" Raina menyentuh tangan Hadi.
"Ah iya!" Hadi tersentak. "Jaga cincin ini baik-baik sayang! mulai sekarang kamu resmi jadi calon istriku!"
Raina mengangguk malu-malu. Ah! kenapa sekarang segalanya jadi terasa berbunga-bunga.
"Rain!"
"Ya?"
"Boleh aku cium kamu?"
Belum sempat Raina menjawab, Hadi sudah melumat bibirnya dengan lembut.
Raina terkejut. Reaksi yang otomatis muncul karena pergerakan Hadi yang tiba-tiba.
"Balas ciumanku sayang!" pinta Hadi saat Raina hanya diam.
Raina mulai membalas. Pelan, lembut, penuh perasaan yang mendalam. Mereka menutup mata, menikmati setiap detik peraduan bibir yang baru pertama kali ini mereka lakukan.
Tangan Hadi bergerak lebih jauh. Tapi Raina menahannya.
"Jangan Mas!" Raina melepaskan pagutan bibir mereka.
Sorot matanya berkabut gairah. "Maaf sayang! aku terlalu terbawa suasana!"
Hadi kembali ke posisinya. Ia menenggak segelas air putih hingga tandas.
"Maaf ya Mas! aku tidak mau melakukannya sebelum menikah!" kata Raina dengan berani.
"Gak apa-apa sayang! Aku yang salah. Aku yang tidak bisa Manahan diri!" balas Hadi merasa bersalah.
Jujur ia malu. Sebagai pria seharusnya ia bisa lebih menahan diri. Tapi ternyata malah dirinya yang kehilangan kontrol.
"Ayo kita lanjut makan! Jam istirahat kamu hampir habis.
Mereka lanjut menghabiskan makanan. Suasana kembali seperti semula. Raina mulai mengeluarkan candaan yang mencairkan suasana.
"Sepertinya aku harus segera menikahi Raina!" batin Hadi.
Sebagai pria normal yang sudah menikah. Tentu ia punya kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Tapi, sejak ia terus ditolak oleh Monica berkali-kali. Sejak saat itu Hadi tidak kepikiran lagi untuk meminta haknya pada sang istri. Entahlah, mungkin karena dish mati rasa jadi hasrat itu tak pernah lagi muncul ke permukaan.
Tapi hari ini, tiba-tiba hasrat itu malah muncul sendiri. Dan membuatnya malu dihadapan Raina.
"Terima kasih ya Mas?" ucap Raina, saat Hadi kembali mengantarkannya ke kantor.
"Sama-sama sayang! sekali lagi maafin aku ya udah lepas kendali?"
"Gak masalah. Tapi lain kali jangan diulangi ya?" Raina memiringkan kepala sambil tersenyum lebar.
"Iya sayang, aku janji!"
Setelah itu Raina pamit untuk kembali bekerja. Hadi mengangguk, tapi ia tidak langsung pergi dari sana. Pria itu masih duduk diatas motornya, memperhatikan punggung Raina yang semakin menjauh.
"Semoga kali ini aku tidak salah pilih istri!" gumamnya.
Saat Raina tidak lagi terlihat, Hadi meninggalkan tempat itu. Kembali ke rutinitas biasa... yaitu bekerja.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang