dihianati suami dan adiknya, dan menjadi tameng bagi kebebrokan perilaku kedua orang terdekatnya. Afifah memutuskan untuk bercerai.
dah, gitu aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19 - Menuju Sidang Perceraian
"Besok sidang keduamu ya, Afifah?" tanya Yuyun pada Afifah.
Afifah mengangguk. Ya, sidang perceraian antara Afifah dan Arga masih berlanjut. Pasangan suami istri itu masih harus bertemu sampai mereka benar-benar berpisah.
"Iya, Yun. Besok aku mengambil cuti," ungkap Afifah.
"Kamu akan datang sendiri?" tanya Yuyun.
"Iya, Yun. Aku akan berangkat sendiri. Kenapa?"
"Mantan suamimu itu pasti akan datang bersama selingkuhannya. Kamu yakin ingin datang sendiri? Lebih baik kamu mengajak seseorang untuk menemani," saran Yuyun pada Afifah.
Memang benar apa yang Yuyun sampaikan, dulu saat sidang pertama, Afifah hanya membawa dua saksi itu pun hanya dua emak-emak yang pernah ikut mengrebek Arga dan Putri. Dan mereka tidak bisa lagi ikut di sidang ke dua.
Afifah sendiri tak memiliki siapa pun di Semarang. Ia tak tahu harus mengajak siapa. Apalagi selama ia menikah dengan Arga, Afifah benar-benar membatasi diri dengan lawan jenisnya. Demi menjaga Maruwah sang suami. Namun, balasan yang dia terima, justru sangat meyakinkan.
"Tidak apa-apa, Yun. Aku pergi sendiri saja," cetus Afifah.
"Sebaiknya kamu jangan pergi sendiri, Afifah!"
"Tak apa, aku akan baik-baik saja. Aku bisa menghadapi mereka walau sendiri."
"Jangan, Fah. Begini saja, bagaimana kalau kamu ditemani kenalanku?" tawar Yuyun mengusulkan temannya untuk menemani Afifah menghadapi persidangan.
Afifah mengerutkan kening. "Kenalan? Siapa, Yun?" tanya Afifah.
"Kamu mau, kan?"
"Mana mungkin aku mengajak orang asing ke sidang perceraian, Yun? Lebih baik tidak perlu," tolak Afifah halus.
"Santai saja, Afifah. Aku yakin orangnya tidak akan keberatan," sahut Yuyun. "Mau, ya? Mau, kan?"
Afifah termenung sejenak. Memang ia ingin ditemani, tapi ia tak mau ditemani orang asing.
"Bagaimana, ya?"
"Mau, ya? Kamu tidak perlu malu atau sungkan. Aku akan memberitahu orangnya. Besok kamu akan berangkat jam berapa?" tanya Yuyun antusias.
"Benar tidak apa-apa? Aku merasa tak enak, juga tak ingin merasa canggung." Cetus Afifah mengutarakan isi hatinya.
"Sudahlah, kalian tak akan merasa cangung. Aku jamin." Sahut Yuyun yakin.
Aku tidak ingin merepotkan kenalanmu."
Yuyun menggeleng. "Tidak apa-apa. Tenang saja!"
Malam harinya, Afifah pun segera bersiap untuk hadir di persidangan esok hari. "Besok aku harus bertemu dengan pasangan bejat itu lagi," gumam Afifah.
Afifah sudah muak dan tak mau lagi melihat wajah mantan suaminya. Namun, ia harus bersabar dan bertahan sampai semua proses perceraian selesai.
****
"Afifah!" Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke pabrik, Yuyun yang memang sudah serumah dengan Afifah mengetuk pintu kamar.
"Iya sebentar, Yun!" Afifah segera membukakan pintu untuk Yuyun yang mengetuk kamarnya pagi itu. Afifah memang langsung kembali tidur begitu selesai solat subuh tadi. Ia harus mempersiapkan tubuhnya agar terlihat segar saat persidangan nanti.
"Kenapa, Yun?" tanya Afifah pada Yuyun.
"Aku sudah memberitahu kenalanku. Nanti dia akan menjemput ke sini," ujar Yuyun.
Afifah makin dibuat sungkan. Sudah minta ditemani, masih harus menjemput juga.
"Memangnya tidak apa-apa? Temanmu tidak bekerja? Aku pasti membuatnya repot," cetus Afifah.
"Tidak perlu mencemaskan hal itu!" timpal Yuyun. "Tunggu saja dia datang! Aku sudah memberikan alamat padanya!"
"Semangat untuk hari ini, Afifah! Semoga kamu bisa berpisah dari Arga secepatnya!" ujar Yuyun menyemangati Afifah.
"Terima kasih, Yun!" sahut Afifah.
Yuyun melambaikan tangan dan bergegas berpamitan untuk berangkat kerja. Afifah pun segera bersiap sebelum kenalan Yuyun datang menjemput.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintu rumah Afifah. Afifah yang sudah bersiap dengan pakaian rapi, segera melangkah menuju pintu dan menyambut tamu yang datang.
Cklek! Pintu terbuka dan Afifah mendapatkan kejutan tak terduga. Ya, seorang pria tampan sudah berdiri di depan rumah Afifah dengan wajah penuh senyuman.
"P-pak Raka? Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanya Afifah.
Raka melempar senyum. "Saya rasa, pertanyaannya terbalik."
Kening Afifah berkerut tak mengerti.
"Apa kamu butuh bantuan?"
"Maksud bapak?" Tanya Afifah makin tak mengerti.
"Hari ini saya yang akan menemani kamu di persidangan, Afifah."
Afifah membulatkan mata lebar-lebar. Ternyata kenalan yang dimaksud oleh Yuyun tak lain adalah Raka.
"A-apa? Tapi, apa bapak nggak kerja? Bapak nggak mungkin ambil cuti, kan?" tanya Afifah gelagapan.
"Saya memang mengambil cuti." Aku Raka membenarkan dugaan Afifah. "Yuyun bilang, kamu terus di sakiti oleh mantan suamimu yang tidak tau diri itu sampai kamu setres. Dan itu sedikit mempengaruhi kinerja mu selama ini. Dia juga bilang, saat bersama pak Tito dulu kamu sangat maksimal. Aku ingin kamu maximal juga saat bekerja denganku. Jadi,,"
"Gila memang si Yuyun." Gumam Afifah pada dirinya sendiri.
"Kita akan berangkat sekarang?" tanya Raka.
"T-tunggu sebentar, Pak! Pak Raka yakin akan menemani saya?" tanya Afifah sungkan."bapak baru satu bulan bekerja, bagaimana bisa bapak mengambil cuti?"
"Aku hanya sedikit menggunakan kekuatanku." Ungkap Raka mengerling.
"Kekuatan?" Tanya Afifah makin bingung.
"Sudah! Ayo cepat berangkat. Nanti terlambat."
"Baiklah, saya kunci pintu terlebih dahulu." Ujar Afifah.
Setelah mengunci pintu, mereka berangkat ke pengadilan agama dengan kendaraan milik Raka. Sesampainya di pengadilan agama, dan memarkirkan mobil SUV nya. Raka menahan lengan Afifah yang sudah mendorong pintu di sampingnya. Karyawannya itu menoleh dan menatap tanya pada Raka.
"Jika kamu tidak keberatan, kita bisa berakting sebagai pasangan." Tawar Raka melepas genggaman di lengan Afifah.
Afifah tampak terkejut dengan tawaran dari atasan nya itu. Melihat reaksi Afifah yang terkejut itu, Raka mencoba menjelaskan maksudnya.
"Begini, saat kamu masuk ke bangunan itu. Pasti calon mantan suami tidak sendiri. Saya sangat yakin dia bersama selingkuhannya. Akan sangat menyebalkan jika kamu hanya sendiri. Setidaknya, kamu tidak terlihat terpuruk jika menggandeng tangan ini."
Afifah masih terdiam, ia tak tau apakah bijak menerima tawaran dari Raka itu. Tapi, apa yang bosnya itu sampaikan tidak sepenuhnya salah.
"Bagaimana? Menerima tawaran saya?"
terimakasih author
bahwa kehadirannya sungguh berharga.,. wkwkkkk