NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalian harus menikah!

Soraya dan Bayu sebenarnya sudah menyelesaikan seluruh urusan mereka di Singapura. Tadinya, mereka pikir masih sempat menghadiri acara anniversary besannya malam itu. Namun, penerbangan mereka mengalami penundaan sehingga keduanya masih berada di dalam pesawat.

“Harusnya kita sudah sampai sekarang nih, Mas.”

“Iya. Malah pesawatnya delay.”

Soraya menghela napas sambil melirik jam di ponselnya. “Pasti jam segini Areksa sudah pulang, terus tidur.”

Bayu mengangguk santai. “Iya. Sampai rumah, kita langsung tidur aja nanti.”

Soraya tersenyum kecil. “Besok pagi baru kita lihat Reksa sama Aretha.”

“Iya. Yang penting kita sudah sampai dengan selamat.”

Soraya mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya dengan tenang di kursi. “Iya, Mas.”

***

"Aaahh, Adira.." Ini ketiga kalinya Areksa melakukan pelepasan.

Rasa panas yang menyelimuti dirinya benar-benar hilang. Ia merasa candu pada tubuh babysitter anaknya itu.

Adira sudah terlelap, di setiap inci tubuhnya terdapat kissmark yang dibuat oleh Areksa. Tubuhnya terasa sakit karena Areksa tidak berhenti juga. Laki-laki itu benar-benar seperti singa kelaparan.

Maklum saja, sejak kehamilan Aruna memasuki usia tujuh bulan, Areksa dan mendiang istrinya sudah tidak lagi memiliki melakukan kegiatan sebagai suami istri. Hingga Aruna meninggal dunia tiga bulan lalu, Areksa masih belum sempat kembali merasakan surga dunia.

Dan sekarang ia merasakan lagi pada wanita yang menjadi babysitter sekaligus ibu susu untuk putrinya.

Karena kelelahan, Areksa pun memejamkan matanya. Tanpa ia sadari, besok adalah hari dimana ia akan menyesali semua perbuatannya.

Disaat Areksa dan Adira terlelap, Soraya dan Bayu akhirnya tiba di rumah sekitar pukul dua dini hari.

Keduanya sama sekali tidak menyadari bahwa di salah satu kamar rumah itu, putra mereka baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal terhadap Adira—kesalahan yang mungkin akan mengubah kehidupan mereka semua.

***

Suara tangis Aretha seperti biasa menjadi alarm bagi orang-orang dewasa di rumah itu.

Orang pertama yang terbangun adalah Adira.

Matanya perlahan terbuka. Ia duduk dengan tubuh yang terasa begitu pegal dan sakit. Selama beberapa detik, pikirannya masih kosong.

Namun ketika ia menyibak selimut, wajahnya seketika memucat. Ia membeku.

Tubuhnya tidak tertutupi pakaian.

“Aaa…” Suaranya tercekat. “Aku kenapa?”

Ingatan tentang semalam perlahan kembali memenuhi kepalanya.

Areksa pulang dalam keadaan tidak seperti biasanya. Ia membuka pintu untuk pria itu, lalu semuanya berubah menjadi sebuah kejadian yang tidak pernah ia inginkan.

“Ya ampun…”

Air mata Adira kembali mengalir.

Tangisan Aretha yang semakin keras membuatnya tersadar. Ia buru-buru meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.

Di sisi lain, suara tangisan putrinya akhirnya membangunkan Areksa.

Kepalanya terasa berdenyut hebat. Namun begitu mendengar isak tangis Adira, matanya langsung terbuka lebar.

Ingatan tentang malam sebelumnya berputar kembali di kepalanya.

“Adira…” Wajah Areksa seketika dipenuhi rasa bersalah.

Tangisan Aretha membuatnya segera bangkit. Ia mengambil pakaian yang tergeletak di lantai, mengenakannya dengan terburu-buru, lalu mengangkat putrinya dari boks bayi.

“Sudah, Sayang… jangan menangis.”

Areksa berusaha menenangkan Aretha sambil sesekali melirik Adira yang masih menangis di atas ranjang.

Setelah tangisan Aretha sedikit mereda, ia mendekati Adira.

“Adira… maafin saya.”

Adira langsung menggeleng. “Cukup, Tuan!"

“Saya nggak bisa diam begitu saja. Saya benar-benar minta maaf. Saya—”

“Cukup!” Suara Adira bergetar.

Areksa terdiam.

“Kita akan membahas semuanya nanti,” ucapnya pelan. “Tapi sekarang tolong… jangan di sini.”

Adira menatap Aretha yang masih berada dalam gendongan Areksa. “Taruh Aretha di dekat saya.”

Areksa mengangguk. Ia meletakkan Aretha di sisi Adira dengan hati-hati.

“Dan Tuan keluar dari sini.”

Areksa menundukkan kepalanya. “B-baik.”

Ia berjalan menuju pintu tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sebelum keluar, Areksa sempat menoleh.

Tatapan Adira yang penuh luka membuat langkahnya terhenti sesaat. Namun akhirnya ia tetap keluar dan menutup pintu perlahan.

Di balik pintu itu, Areksa berdiri terpaku. Ia benar-benar memahami bahwa apa yang terjadi malam tadi bukan sekadar sebuah kesalahan.

Ia telah melukai seseorang yang selama ini dipercayakan Aruna untuk menjaga putri mereka.

***

Soraya turun ke lantai bawah setelah menunaikan salat Subuh.

Begitu sampai di ruang keluarga, langkahnya terhenti ketika melihat Areksa duduk di sofa dengan pakaian yang kusut juga berantakan dan wajah yang terlihat sangat lelah.

“Reksa?”

Areksa tersentak. “Ma-mama sudah pulang?”

“Sudah. Sekitar jam dua tadi.” Soraya mengernyit. “Kamu kenapa duduk di sini? Kenapa penampilan kamu seperti ini? Aretha kamu tinggal sendirian di kamar?”

Pertanyaan Soraya datang bertubi-tubi.

“Aretha di kamar Adira, Ma. Lagi disusui.”

“Oh.”

Soraya hendak melangkah menuju kamar Adira, tetapi Areksa buru-buru berdiri dan menghalangi jalannya.

“Mama mau ke mana?”

“Ke kamar Adira. Mama mau lihat cucu Mama.”

“Nanti saja, Ma.”

Soraya menatap putranya dengan heran. “Kenapa?”

“Pokoknya jangan sekarang.”

“Kamu ini kenapa sih? Aneh banget.”

Soraya menyingkirkan tangan Areksa yang menghalanginya. “Minggir.”

Tanpa menunggu jawaban, Soraya langsung menuju kamar Adira. Ia bahkan lupa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam membuat langkahnya terhenti.

Adira duduk di atas ranjang sambil menepuk pelan lengan Aretha yang berada dalam pelukannya.

“Aretha sudah tidur?”

Adira tersentak. “Eh, Nyonya… s-sudah.”

Soraya tersenyum kecil, tetapi senyum itu perlahan menghilang ketika matanya mengamati wajah Adira.

Mata wanita itu sembap. Rambutnya berantakan.

Ada beberapa tanda kemerahan yang terlihat di leher dan lengannya. Bahkan wanita itu belum berpakaian dengan lengkap yang hanya ditutupi oleh selimut.

Kamar yang biasanya selalu rapi pun kini tampak berantakan.

Soraya menatap keadaan itu dengan penuh kebingungan. “Ada apa ini, Adira?”

Adira terdiam. Bibirnya bergetar sebelum akhirnya air matanya kembali jatuh.

Soraya langsung mendekat. “Adira…”

Wanita itu hanya menundukkan wajah sambil memeluk Aretha lebih erat.

Dari ambang pintu, Areksa menyaksikan semuanya dalam diam.

Tatapan Soraya kemudian beralih kepadanya. “Reksa.”

Areksa tidak menjawab.

Soraya mulai memahami bahwa ada sesuatu yang sangat serius terjadi malam itu.

“Kamu tau apa yang terjadi?”

Areksa menundukkan kepalanya. Rasa bersalah yang sejak tadi menghimpit dadanya semakin berat.

Ia tidak tau bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada sang ibu.

Terlebih karena ia sendiri tau bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sebagai kesalahan kecil.

Ia sempat sadar. Ia sempat tau bahwa Adira menolak.

Namun dalam kondisi pikirannya yang kacau, ia gagal menghentikan semuanya.

Dan kini, melihat Adira menangis di hadapan ibunya, Areksa sadar bahwa konsekuensi dari perbuatannya baru saja dimulai.

Soraya memandang putranya dengan tatapan tajam. “Reksa, Mama tanya sekali lagi. Sebenarnya apa yang terjadi?”

Areksa tetap diam.

“Kenapa Adira menangis? Kenapa kamarnya berantakan? Dan kenapa kamu keluar dari kamar itu dengan keadaan seperti ini?”

“Ma…”

“Jangan panggil Mama kalau kamu belum mau menjelaskan!” Suara Soraya mulai bergetar menahan emosi.

Ia kemudian beralih kepada Adira. “Adira, kamu tidak perlu takut. Ceritakan kepada saya. Apa yang dilakukan Reksa?”

Adira menggigit bibirnya. Air matanya kembali mengalir.

“Saya…” Suaranya nyaris tak terdengar.

Areksa memejamkan mata. “Sudah, Ma.”

Soraya kembali menatapnya. “Kalau begitu kamu yang bicara.”

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

Akhirnya Areksa menarik napas panjang. “Semalam aku pulang dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya.”

Soraya mengernyit. “Maksud kamu?”

“Aku merasa tubuhku sangat panas. Pikiranku kacau. Aku yakin ada sesuatu yang dicampurkan ke minumanku di acara tadi malam.”

Soraya terdiam, tetapi tatapannya masih menuntut penjelasan. “Lalu?”

Areksa menundukkan kepalanya. “Aku datang ke kamar Adira.”

Adira memejamkan mata.

“Aku seharusnya meminta bantuan. Seharusnya aku menjauh dan menunggu sampai kondisiku membaik.”

Suaranya semakin berat. “Tapi aku tidak melakukannya. Aku kehilangan kendali.”

Areksa menelan ludah. “Padahal Adira sudah menolak, tapi aku tetap melakukan sesuatu yang seharusnya tidak pernah kulakukan kepadanya.”

Ruangan itu mendadak sunyi.

Soraya menatap putranya dengan wajah tak percaya. “Kamu melakukan itu secara paksa kepada Adira, Reksa?”

Areksa mengangguk kecil. “Maaf, Ma. Aku benar-benar kehilangan kendali.”

“Ya Allah, Reksa!” Soraya menutup mulutnya, berusaha menahan air mata dan amarah yang bercampur menjadi satu. “Kamu benar-benar sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.”

Soraya menarik napas panjang. “Kita harus membicarakan ini dengan Papa."

Ia kemudian menoleh kepada Adira.

Soraya duduk di sampingnya dan menggenggam tangannya dengan lembut.

“Adira, saya benar-benar minta maaf atas perbuatan putra saya. Saya sangat malu dan menyesal kamu harus mengalami ini di rumah kami.”

Adira hanya menangis.

“Saya janji, masalah ini tidak akan saya tutupi. Kita akan menyelesaikannya dengan baik.”

Adira menggeleng pelan. “Nyonya, maaf… Saya ingin mengundurkan diri.”

Deg!

Areksa langsung menatapnya. “Tidak, Adira.”

Suaranya terdengar panik. “Saya nggak setuju. Tolong jangan pergi begitu saja. Aretha masih membutuhkan kamu,” lanjut Areksa, tetapi Soraya segera menatap tajam ke arahnya.

“Reksa.”

Areksa terdiam.

Soraya kembali menghadap Adira. “Untuk sekarang, kamu tidak perlu memikirkan pekerjaan atau Aretha.”

Soraya mengusap punggung tangannya. “Kamu bersihkan diri dulu, istirahat, dan tenangkan pikiranmu. Setelah itu baru kita bicarakan semuanya.”

Soraya kemudian mengulurkan tangannya kepada Aretha. “Biar Aretha saya yang urus sementara.”

“Ma, tapi—”

“Areksa!” Satu panggilan tegas itu langsung membuat Areksa terdiam.

“Sekarang bukan waktunya memikirkan apa yang kamu mau.”

Soraya menatap putranya dengan kecewa. “Yang harus kamu pikirkan adalah bagaimana bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakukan.”

***

Bayu sudah mendengar seluruh penjelasan dari Soraya, termasuk pengakuan langsung dari Areksa dan Adira.

Laki-laki itu memijat pelipisnya. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa putranya sendiri telah melakukan kesalahan sebesar itu.

Kini mereka duduk bersama di ruang keluarga lantai dua. Suasana begitu sunyi. Tidak ada seorang pun yang berani membuka suara.

Areksa menundukkan kepala.

Adira duduk di samping Soraya dengan tatapan kosong. Matanya masih sembap.

Bayu menarik napas panjang sebelum akhirnya berbicara. “Kalau memang kejadiannya seperti ini…”

Semua mata tertuju kepadanya.

Bayu menatap Areksa terlebih dahulu, kemudian beralih kepada Adira.

“Papa sudah memikirkan semuanya.”

Jantung Areksa berdegup lebih cepat.

Bayu akhirnya mengucapkan keputusan yang sejak tadi ia tahan. “Kalian harus menikah.”

Deg!

1
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
Lisa
ya benar Kak..Areksa menyukai Adira 😊
Syti Sarah
bilang aja klau kamu menyukai Adira 🤭🤭
Lisa
Areksa mulai suka sama Adira tuh 😊
sunaryati jarum
Mungkin Aruna sudah tahu rencana ibu tiri dan adik tirinya
sunaryati jarum
Felicia kamu pelaku meninggalnya Aruna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!