NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kau Abaikan

Cinta Yang Kau Abaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Romansa
Popularitas:74.9k
Nilai: 5
Nama Author: h.alwiah putri

8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.

Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.

Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.

Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.

Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18. Diabaikan

Suasana pagi itu terasa sedikit lebih hidup dibanding hari sebelumnya, meski kecanggungan masih menggantung tebal di udara. Eveline sudah tampak segar dengan celana kulot dan blus kasual yang membuatnya terlihat seperti wanita karier yang siap menaklukkan dunia. Sera pun sudah rapi dengan seragam sekolahnya, duduk manis sambil menyantap sarapan.

Di kamar atas, Aldric berdiri di depan cermin, tampak payah mencoba merapikan kerah kemejanya sendiri. Akhirnya, dengan suara rendah yang hampir menyerupai bisikan, ia meminta bantuan Eveline. Untuk kali ini, Eveline tidak menolak. Jemari lenturnya bergerak cekatan merapikan dasi Aldric, persis seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, ada yang beda. Tidak ada tatapan mata penuh kekaguman dari Eveline, yang ada hanyalah gerakan mekanis yang efisien.

"Urutan jemput hari ini masih sama? Aku jemput Sera jam dua?" tanya Aldric, mencoba memecah keheningan saat Eveline merapikan pundak jasnya.

"Iya. Aku antar pagi ini, kamu yang jemput nanti siang," jawab Eveline singkat.

"Eve... sebenarnya urusan apa lagi hari ini? Sampai kapan kamu harus pergi-pergi terus?" Aldric memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit menuntut namun ada nada cemas di dalamnya.

Eveline menghentikan gerakannya. Ia menatap lurus ke mata Aldric. "Mas, aku sudah bilang kan? Kamu nggak perlu tahu dan tolong jangan cari tahu. Aku punya urusan di luar, tapi aku nggak akan menelantarkan rumah ini. Buktinya pagi ini aku masak, kan?"

Aldric terdiam. Ia ingin memprotes, ingin mengatakan bahwa sebagai suami ia berhak tahu, tapi sorot mata Eveline yang tegas mengunci mulutnya. Ego Aldric menciut seketika.

Mereka pun turun ke ruang makan. Aroma nasi goreng bumbu kencur kesukaan Aldric memenuhi ruangan. Untuk sesaat, Aldric merasa semuanya telah kembali normal. Ia melihat Eveline dengan telaten memasukkan kotak bekal ke dalam tas sekolah Sera.

"Nanti kalau pulang dijemput Daddy lagi ya, Sayang," ucap Eveline sambil mengusap rambut Sera. "Kalau Mommy belum sampai di rumah, Sera main dulu sebentar sama Bibi. Tapi Mommy usahakan sudah di rumah saat Sera sampai."

"Siap, Mommy!" jawab Sera ceria, jauh lebih bersemangat daripada kemarin.

Aldric memperhatikan pemandangan itu dengan perasaan campur aduk. Entah apa yang merasuki pikirannya, tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa sempat ia saring.

"Bekal buat saya mana, Eve? Kamu nggak siapkan juga?"

Pertanyaan itu terdengar spontan, bahkan bagi Aldric sendiri terdengar sedikit konyol. Namun, ia benar-benar merindukan rasa bangga saat membuka kotak bekal dari istrinya di depan para kolega kantor.

Eveline menoleh, menatap Aldric seolah pria itu baru saja menanyakan hal yang sangat tidak masuk akal. Ia menarik napas pendek, lalu menjawab dengan nada datar namun menohok.

"Mas kan bisa beli makanan di luar. Uang Mas banyak, kan? Lagi pula kalau jam makan siang, bukannya Mas selalu makan bareng kolega atau klien di restoran mahal? Di kantor juga ada kantin, atau kalau Mas malas gerak, tinggal suruh asisten Mas buat belikan."

Aldric tertegun. Kalimat Eveline benar adanya, namun rasanya tetap saja pahit. Selama ini ia sering mengabaikan bekal Eveline karena alasan "makan siang bisnis", tapi sekarang, saat tawaran itu ditarik, ia justru merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga.

"Dulu kamu selalu bawakan tanpa aku minta," gumam Aldric pelan.

"Dulu aku melakukannya supaya aku merasa berguna bagi kamu, Mas. Tapi sekarang aku sadar, kamu sudah punya segalanya untuk mengurus dirimu sendiri. Kamu pria dewasa, bukan anak kecil yang perlu aku siapkan kotak makannya setiap hari," pungkas Eveline sambil menyampirkan tasnya di bahu.

Setelah itu, suasana menjadi kembali dingin. Mereka berangkat masing-masing. Eveline meluncur ke arah tujuannya yang penuh rahasia—studio desain Maya tempat impiannya mulai bersemi kembali—sementara Aldric mengemudikan mobilnya menuju kantor dengan pikiran yang melayang. Kemejanya memang rapi pilihan istrinya, namun di dalam hatinya, Aldric merasa kemeja itu sangat sesak. Ia mulai menyadari bahwa Eveline yang sekarang tidak lagi bisa "dibeli" dengan sekadar nafkah lahiriah. Wanita itu sedang mencari jalannya pulang ke dirinya sendiri, dan Aldric tertinggal jauh di belakang.

Aldric menyandarkan punggungnya pada kursi kebesaran di ruang kerja yang luas itu. Di depannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan, sementara suara Satria, asisten pribadinya, dan Siska, sekretarisnya, terdengar seperti dengungan lebah yang tak bermakna. Pikiran Aldric justru tersangkut pada memori tujuh tahun silam.

Ia mengingat bagaimana Eveline dulu selalu menunggunya pulang meski jam menunjukkan pukul dua pagi. Ia ingat bagaimana wanita itu tetap tersenyum meski sapaannya hanya dibalas dehaman dingin. Dulu, Aldric merasa di atas angin. Baginya, Eveline adalah satelit yang akan selalu berputar mengelilingi porosnya. Ia yakin, sebesar apa pun pengabaian yang ia berikan, Eveline tidak akan pernah pergi karena wanita itu terlalu mencintainya. Ia menganggap kesabaran Eveline sebagai kewajaran, dan pengabdiannya sebagai kewajiban yang tak perlu diapresiasi.

Namun sekarang, keheningan di rumah dan tatapan mekanis Eveline pagi tadi terasa seperti jarum yang menusuk perlahan. Ego Aldric memang masih berteriak bahwa ia tidak peduli, tapi keresahan di lubuk hatinya berkata lain.

"Tuan Aldric? Apakah Tuan setuju dengan revisi kontrak untuk proyek ini?" Suara Siska memecah lamunan Aldric.

Aldric mengerjap. Ia tidak mendengar satu kata pun sejak lima menit lalu. Siska dan Satria saling lirik. Mereka bukan orang baru; mereka tahu ada yang tidak beres dengan atasan mereka yang biasanya sedingin es. Sesaat sebelum mereka merapikan berkas untuk keluar, Aldric tiba-tiba berdeham. Suaranya terdengar parau.

"Tunggu," ucap Aldric. Ia terdiam sejenak, memutar pulpen mahalnya dengan gelisah.

"Saya mau tanya sesuatu. Di luar urusan pekerjaan."

Satria dan Siska berhenti melangkah, menanti dengan raut wajah heran.

"Menurut kalian... kenapa seseorang yang dulunya sangat sabar, yang selalu mengejar-ngejar cinta orang lain, tiba-tiba berubah? Dia jadi acuh, tidak mau lagi melayani, bahkan diajak bicara pun tidak mau. Kenapa bisa begitu?"

Siska tampak ragu untuk menjawab, namun Satria yang memang dikenal lebih blak-blakan dan sering melihat bagaimana Aldric mengabaikan telepon istrinya selama bertahun-tahun, menarik napas panjang. Ia melangkah satu tindak lebih dekat ke meja Aldric.

"Mungkin saja, orang itu sudah sangat lelah, Tuan," ujar Satria. Suaranya datar namun setiap katanya terasa menghujam.

"Lelah karena selama bertahun-tahun dia memberikan segalanya, tapi hanya dianggap angin lalu. Perubahan itu bukan mendadak, tapi adalah hasil dari luka yang dipendam terlalu lama sampai akhirnya dia sadar bahwa dia sedang mengejar bayangan yang tidak punya hati."

Aldric tertegun, rahangnya mengeras.

Satria melanjutkan dengan nada yang lebih tajam, "Orang yang dulu mengejar itu mungkin sudah sampai pada titik di mana dia berhenti menjadi bodoh. Dia menyerah bukan karena dia tidak cinta lagi, tapi karena dia mulai menyadari bahwa orang yang dia kejar tidak layak untuk mendapatkan langkahnya. Baginya, lebih baik melupakan dan pergi daripada terus mengemis perhatian pada orang yang bahkan menganggap kehadirannya tidak ada."

"Maksudmu, dia akan benar-benar pergi? Atau dia menyerah untuk mengejar cinta itu?"tanya Aldric dengan nada defensif yang bergetar.

"Sangat mungkin, Tuan. Saat seorang wanita mulai belajar mencintai dirinya sendiri, dia tidak lagi butuh pengakuan dari siapa pun untuk merasa hidup. Jadi, jika dia sekarang bersikap acuh, itu karena dia sedang membiasakan diri untuk hidup tanpa orang tersebut—persis seperti cara orang tersebut memperlakukannya selama ini. Dia tidak lagi mengejar, karena dia sedang berjalan pulang menuju dirinya sendiri."

Ruangan itu mendadak senyap. Aldric merasa seperti baru saja ditampar telak di depan umum. Kata-kata Satria menguliti egonya hingga ke tulang. Aldric mematung, sementara Satria dan Siska berpamitan keluar. Kursi mewahnya terasa sangat keras dan tidak nyaman. Untuk pertama kalinya, Aldric merasa bahwa kemeja yang dirapikan Eveline pagi tadi tidak hanya sesak, tapi juga terasa seperti belenggu penyesalan yang mulai mencekik lehernya.

1
Supri Yanti
satu kata buat Evelyn, bodoh ngorbanin anak yg lucu huh,
Supri Yanti
lagian laki kayak gitu masih aja di pertahanin, orang mah pergi kek, jadi greget sama perempuannya jadinayka n anak jd korban bego
Siti M Akil
lanjut thor
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeeet ku bcnya asyik klw sekarang krn Evelyn dah membalas sakit hatinya selama 5 th biar si Aldric merasakan gmn sakitnya di acuhkan semangat Evelyen ,meskipun dlm berumah tangga itu ngga boleh kecuali dah perjanjian ....hehehe ko ku ngenes ya Thor pdhal tuh cuma ceritra ....ok
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Nur Anna
bagus
nn
next
Syifa
ko engga up sih tour udah lama nunggunya
Uthie
Kayanya bakalan Gol proyek nya sehabis ini nanti 😁👍
Nia nurhayati
mongho sing wareg mas aldric😂😂😂
Uthie
Semoga segera launching proyek adik baru nya Sera 👍😁
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
Uthie
ikut senyum-senyum juga bacanya 😁👍👍
Uthie
Lanjuuttttt 😁👍
Daulat Pasaribu
selamat sera mommy dan daddymu lagi buat kan kamu adik🤣
smoga segera launching adikmu
Yeni Wahyu Widiasih
umur balita cadel wajar lah ini udah 7 thn
Dewi Yanti
aku setuju dengan tasya, bertahan demi anak tp malah anak nya yg menderita jg bodoh itu
Syifa
aaah udah engga sabar nunggu lonceng adeknya sera 🤩
Daulat Pasaribu
akhhh cepetan dong gak sabar kalau sera punya adik pasti lucu 😍
Uthie
Nahh....buruan dehhh bikin nya 🤩😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!