Devi yang dibesarkan dengan penuh bergelimpahan harta, apa yang menjadi keinginannya harus tercapai bagaimana pun caranya, termasuk cintanya terhadap laki-laki.
Pada pandangan pertama ia sudah jatuh cinta kepada seorang laki-laki yang cukup dewasa, dan dari tatapan dapat dipastikan laki-laki itu tidak ada niat untuk melirik Devi yang memandanginya penuh kekaguman.
Novel ini Season 2 dari Mafia Kejam Jatuh Cinta, kalau mau baca novel ini silahkan baca mafia kejam jatuh cinta terlebih dahulu biar lebih mantap.
Author juga mau pesan sama resders semua yang baik hati dan tidak sombong, kalau misalnya masih ada yang salah dalam penulisan nama atau kalimat yang kuras pas tolong dikritik dengan kata yang sopan dan membangun ya, biar author perbaiki.
terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linasolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Menghilangkan nyeri apa sayang?".
"Coba kamu angkat kaki ada yang sakit nggak?" tanya Devano dan arahan itu langsung dilakukan Devi dan benar saja Devi merasa ada yang sakit dibawah sana.
"Hehe iya, makasih ya sayang kamu perhatian banget" ujar Devi dengan senang, ternyata setelah melakukan beberapa kali malam tadi Devano memikirkan dirinya juga.
"Aku bertanggung jawab karena membuat mu sakit, jadi jangan GR Itu sudah sepantasnya aku lakukan" ucap Devano.
"Apapun itu aku senang".
"Yaudah istirahatlah dulu, aku mau kerja" ujar Devano lalu mematikan telfon secara sepihak.
Devi pun mulai beranjak dari ranjang rasa sakit pada bagian bawahnya dikalahkan rasa senang yang ia rasakan saat ini dimana ia berhasil menyerahkan mahkotanya kepada suami yang ia cintai dan pagi ini juga ia mendapat perhatian lebih dari suami dinginnya itu.
"Makin sayang deh kalo dia bersikap manis begitu" batin Devi saat mengingat percakapn mereka barusan ditelefon.
Selesai mandi Devi tidak langsung turun kebawah, tiba-tiba saja ia kepikiran dengan mantan istri Devano dengan langkah tidak sabar Devi menggeledah isi lemari didalam kamar itu tapi satu petunjuk pun tidak ia temukan poto atau barang peninggalan istri Devano.
"Kok nggak poto ya?" batin Devi.
"Udah achh aku sarapan dulu baru makan obat, kapan-kapan kalau aku nggak lupa nanya langsung kedevano ajalah" ujar Devi lalu ia segera melangkah menuju lantai satu. disana ia melihat Aris yang sedang bermain ditemani salah satu ART.
"Hay sayang nenek sama kakek kemana tumben nggak main sama aris?" tanya Devi.
"Kakek sama nenek pergi lagi tante, Aris bosan kalau cuma kita berdua yang main-main" keluh Aris.
"Aris mau nggak kalau kita pergi kekantor papa?" taya Devi dan dijawab gelengan kepala oleh Aris.
"Kenapa nggak mau sayang?".
"Papa nggak kasih Aris ikut kekantor, papa cari uang biar bisa beli mainan sama ice cream" jawab Aris dengan polos.
"Nanti disana Aris main-main sama tante nggak usah ganggu papa kerja gimana?".
"Kalau papa marah gimana?".
"Tante yang akan pukul papa kalau berani marah sama Aris" ucap Devi untuk meyakinkan anak kecil itu.
"Aris main disini dulu ya tante mau makan baru siap-siap untuk pergi" Devi pun melangkah untuk makan lalu lalu mengganti baju kelantai atas.
Setelah semuanya selesai Devi turun dan melihat anak kecil itu sudah siap untuk brangkat, Devi langsung menggandeng tangan Aris dan membawanya keluar rumah, didepan rumah mobil sudah siap meluncur untuk membawa mereka kekantor Aderson company dan tentunya akan dikendarai oleh Devi.
Sebelum berangkat Devi meletakkan Aris tepat disampingnya dan tidak lupa memakaikan sabuk pengaman supaya Aris tidak bisa jatuh. Berhubung Devi sedang membawa anak kecil ia mengemdari mobil dengan kecepatan sedang berbeda dengan biasanya Devi mengendari mobil demgan kecepatan tinggi.
"Ayok sayang kita sudah sampai" ajak Devi saat mobil itu sudah sampai di basement kantor.
"Papa kerja digedung besar ini, wahhh.... papa hebat ya tante" puji Aris.
"Sangat hebat, malah lebih hebat dari yang Aris bayangkan" batin Devi saat mengingat betapa hebatnya Devano membuatnya terbang melayang dengan sentuhan Devano yang memanjakan tubuhnya.
"Astaga aku kok mikir kesana sih?" gerutu Devi dalam hati saat pikirannnya menerawang kegiatan panas tadi malam sambil menggelengkan kepalanya.
Klek......
Devi membuka pintu ruangan Devano saat sudah dapat ijin dari Ara, Devi memandang Devano yang sedang sibuk dengan komputer didepannya, dan sepertinya tidak mengetahui Devi dan Aris masuk kedalam ruangan itu.
"Sayang kamu duduk disofa sana ya, tante mau samperin papa dulu" bisik Devi tepat ditelinga Aris, setelah memastikan anak kecil itu duduk dengan manis diatas sofa Devi berjalan menghampiri Devano, hal itu membuat konsentrasi Devano terganggu dan terpaksa ia harus melihat kearah Devi.
"Ngapian datang kesini, bukannya aku suruh untuk istirahat?".
"Hehe aku merindukan mu sayang" ucap Devi dengan pelan, Devano hanya bisa menaikkan satu alisnya mendengar ucapan Devi yang terlalu lebay karena baru tadi pagi mereka masih bersama sekarang sudah kangen aja.
"Aris sama siapa, bukannya mama dan papa lagi pergi keluar rumah ya?" tanya Devano karena belum melihat Aris ada disana.
"Aris aku bawa kesini, itu dia duduk disofa" ujar Devi sambil menunjuk Aris yang sudah duduk manis sambil menatap papanya.
"Kenapa kamu bawa kesini, ini kantor lho bukan tempat main-main, dan kantor ini bukan milikku jadi jangan sembarangan bawa Aris kesini".
"Tapi ini kantor daddyku" jawab Devi dengan enteng.
"Tapi bukan punyaku kan? jadi jaga sedikit peraturan kantor".
"Hmn.... mulai besok aku akan bilang sama daddy kalau suamiku bisa membawa anaknya kekantor ini supaya disuruh karyawan membuat leraturan baru kalau suamiku devano bisa membawa anaknya kedalam kantor".
"Devi jangan kekanak-kanaan, jadilah istri yang penurut kalau kamu masih mau disampingku" ucap Devano denga tegas.
"Baiklah sayang aku akan jadi istri yang penurut tapi ci*m aku dulu" ujar Devi sambil menunjukkan bibirnya.
"Devi aku mau kerja nanti saja dirumah, sana ajak aris pulang" usir Devano.
"Ci*m dulu" paksa Devi, dan dengan terpaksa Devano mencium Devi dengan sekilas. Cup.....
"Udahkan?".
"Belum sayang" rengek Devi ia malah menarik tangan Devano menuju toilet disana Devi malah menyuruh Devano menci*mnya sampe puas, Devano yang kesal dengan ulah Devi mengigit dengan kuat bib*r itu sampe Devi merasa sakit.
"Bagaimana? enakkan?" ucap Devano tersenyum karena ia berhasil membuat perempuan didepannya menutup mulut dengan tangannya.
"Sakit yank hiks....hiks...." Devi malah menangis didepan Devano membuat Devano merasa serba salah, akhirnya Devano mendiamkan Devi dengan cara menc*um kembali bib*r itu dengan cara yang lembut.
"Nggak sakit lagi kan? sudah jangan nangis lagi, sana temani aris bermain" ujar Devano saat Devi sudah tenang dan tersenyum.
"Makasih ya sayang" ujar Devi lalu ia keluar dari kamar mandi itu mememui Aris.
"Tante ngapain narik papa ke kamar mandi?" tanya Aris dengan polos.
"Tadi punggung papa gatal jadi tante bawa kekamar mandi untuk digaruk" ujar Devi dengan berbohong.
"Tante papa nggak marahkan kita kesini?".
"Nggak dong sayang, kita duduk dulu ya bentar lagi mainan Aris datang sama ice cream untuk Aris juga" ucap Devi, mengingat mainan yang ia pesan belum datang juga.
"Makasih tante, tante memang the best" puji Aris sambil memberikan jempolnya kepada Devi.
"Sama-sama sayang, oh ya sayang? Aris mau nggak panggil tante dengan sebutan mama?" tanya Devi.
"Mau tante, dulu tante Alice nggak mau aris panggil mama, makanya aris nggak berani panggil mama juga sama tante takut tante marah" ujar Aris dengan senang.
🌛🌛🌛