NovelToon NovelToon
Istriku Tak Bisa Ditaklukkan

Istriku Tak Bisa Ditaklukkan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Pengantin Pengganti Konglomerat / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Tamat
Popularitas:200.5k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Tangan Naya melayang tepat di depan butik berlian. Satu tamparan untuk Dimas yang berani memukulnya, dan detik itu juga pernikahan mewah itu batal. Tapi nasib punya selera humor yang kejam karena keesokan harinya ia justru berdiri di altar sebagai pengantin pengganti untuk Arga Kusumaatmaja. Konglomerat dingin yang terkurung di kursi roda, pria yang tatapannya saja sanggup membekukan seluruh ruangan, dan perjanjian bisnis yang mengikat mereka lebih erat dari sumpah pernikahan mana pun.

Semula hanya transaksi di atas kertas. Namun ketika keluarga Wiratama mulai menebar fitnah dan mengirim ancaman, Naya dan Arga justru berbalik menjadi tembok bagi satu sama lain. Di tengah rahasia yang berlapis dan kebohongan yang siap meledak kapan saja, mereka menemukan sesuatu yang tidak tertulis dalam kontrak. Bahwa cinta sejati tidak pernah datang sebagai pengganti. Ia datang sebagai pilihan. Dan kali ini, Naya memilih "

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16 - Saham Terakhir

Proses pengalihan saham Wira Kencana selesai pada Jumat siang.

Naya menandatangani dokumen terakhir di kantor notaris dengan perasaan yang jauh lebih ringan daripada yang dia kira. Di hadapannya, Pak Surya dan dua investor lain menandatangani bagian mereka. Pengacara keluarga Adisatria dan pengacara Naya memastikan semua klausul sesuai. Notaris membacakan poin penting dengan suara datar.

Setelah tanda tangan terakhir, saham itu bukan lagi milik Naya.

Empat tahun hubungan dengan Wira Kencana selesai dalam beberapa goresan pena.

Naya menatap ujung pulpen.

Tidak ada kembang api.

Tidak ada rasa sedih besar.

Hanya lega.

Seperti melepas sepatu sempit setelah memakainya terlalu lama.

"Selamat, Bu Naya," kata Pak Surya. "Semoga setelah ini lebih tenang."

"Semoga perusahaan juga lebih tenang," jawab Naya.

Pak Surya tersenyum pahit. "Itu agak sulit selama Pak Dimas masih seperti itu."

Naya tidak membantah.

Begitu keluar dari ruang notaris, dia mendapat pesan dari Rafi tentang jadwal kampanye minggu depan. Dia membalas sambil berjalan ke lift. Pengacaranya, Laras, mengikuti di samping.

"Bu Naya, soal ancaman dari Bu Rina, saya sarankan tetap buat laporan awal. Tidak perlu langsung diproses besar, tapi tercatat."

"Siapkan drafnya."

"Baik. Untuk Dimas?"

"Kalau dia mendekat lagi di luar urusan hukum, kita ajukan peringatan resmi."

"Saya akan susun."

Pintu lift terbuka.

Dimas ada di dalam.

Naya tidak terkejut. Gedung ini memang masih milik Wira Kencana. Yang mengejutkan hanya betapa cepatnya pria itu menemukan cara untuk muncul di tempat yang salah.

Dimas menatap map di tangan Naya.

"Jadi kamu benar-benar menjualnya."

Naya masuk lift. Laras ikut masuk, berdiri sedikit di depan Naya. "Pak Dimas, semua sudah sesuai prosedur."

Dimas tidak memandang Laras. "Aku bicara dengan Naya."

"Saya pengacaranya."

"Aku tidak peduli."

Naya menekan tombol lobby. "Aku peduli. Jadi bicara lewat dia."

Pintu lift menutup.

Ruangan kecil itu langsung terasa sesak.

Dimas menatap Naya melalui pantulan dinding lift. "Kamu puas? Setelah menghancurkan hubunganku, mempermalukan ibuku, menjual saham, sekarang apa?"

"Hidup dengan tenang."

"Dengan Arga?"

"Dengan diriku sendiri."

Dimas tertawa hambar. "Kamu pikir Arga tidak punya tujuan? Pria seperti dia tidak akan mengambil sesuatu tanpa alasan."

"Aku tahu."

Dimas terdiam sebentar, seolah jawaban itu tidak sesuai harapannya.

"Kamu tahu?"

"Ya. Dia sudah bilang."

"Dan kamu tetap tinggal?"

"Itu urusanku."

Lift berhenti di lantai lain. Dua karyawan hendak masuk, tapi melihat suasana di dalam lalu mundur pelan. Pintu menutup lagi.

Dimas mendekat setengah langkah.

Laras langsung berkata, "Pak Dimas, jaga jarak."

"Diam."

Naya menatap Dimas. "Jangan bentak pengacaraku."

"Kamu selalu membawa orang sekarang."

"Karena kamu tidak bisa dipercaya saat hanya berdua."

Kalimat itu membuat wajah Dimas berubah. Ada rasa tersinggung, marah, dan sesuatu yang lebih gelap.

"Aku tidak pernah berniat menyakitimu."

Naya memandang pelipisnya sendiri di pantulan lift. Bekas luka tipis masih ada.

"Terlambat untuk kalimat itu."

Lift akhirnya sampai di lobby.

Naya keluar. Dimas mengikuti.

Di lobby, beberapa karyawan langsung menoleh. Mungkin mereka sudah terbiasa dengan drama beberapa hari terakhir, tapi tetap saja mata mereka haus tontonan.

Dimas berkata lebih keras, "Naya, aku hanya ingin bicara baik-baik."

Naya berhenti.

Dia berbalik.

"Baik. Bicara di depan semua orang."

Dimas tampak ragu.

Naya melanjutkan, "Kamu ingin apa?"

"Aku ingin kamu berhenti."

"Berhenti apa?"

"Berhenti menghukumku."

Naya hampir merasa kasihan.

Hampir.

"Dimas, aku tidak menghukummu. Aku hanya keluar dari hidupmu. Kalau hidupmu berantakan setelah aku pergi, mungkin selama ini akulah yang merapikannya."

Lobby sunyi.

Seseorang di belakang meja resepsionis menunduk terlalu cepat.

Dimas tampak seperti ditampar.

"Kamu kejam."

"Aku belajar dari orang-orang di sekitarku."

"Naya!"

Dia mengulurkan tangan.

Laras langsung maju, tapi kali ini Naya lebih cepat. Dia mundur satu langkah, membuat tangan Dimas menangkap udara kosong.

"Satu kali lagi kamu mencoba menyentuhku," ucap Naya, "aku pastikan laporan gangguan itu bukan hanya peringatan."

Dimas menatapnya dengan mata merah.

Untuk sesaat, Naya melihat sesuatu yang membuat nalurinya bergerak.

Pria itu tidak hanya marah.

Dia putus asa.

Dan pria putus asa yang kehilangan rasa memiliki bisa menjadi sangat berbahaya.

Naya pergi tanpa menoleh.

Di mobil, dia langsung mengirim pesan pada Arga.

Naya: Saham selesai. Dimas muncul. Tidak ada kontak fisik.

Balasan datang cepat.

Arga: Kamu baik?

Naya: Aku lapar.

Arga: Itu berarti baik atau sangat buruk?

Naya: Itu berarti aku lapar.

Arga: Pulang. Bu Sri membuat rawon.

Naya: Aku masih ke kantor.

Arga: Aku kirim makan siang ke sana.

Naya menatap pesan itu. Sudut bibirnya bergerak.

Naya: Kamu kembali cerewet.

Arga: Aku berhenti sehari. Tidak sehat.

Hari itu Naya bekerja sampai malam. Kirana sedang berada di puncak momentum. Pesanan meningkat, beberapa investor kecil mulai menghubungi, dan media bisnis meminta wawancara. Naya menolak wawancara yang terlalu menyinggung kehidupan pribadi, menerima satu wawancara yang fokus pada strategi brand lokal.

Pukul delapan malam, saat dia baru keluar dari ruang meeting, asisten lamanya dari Wira Kencana, Fikri, menelepon.

Naya mengangkat.

"Bu Naya, maaf mengganggu."

Suara Fikri terdengar cemas.

"Ada apa?"

"Saya menemukan beberapa dokumen lama milik Ibu di ruang arsip Pak Dimas. Sepertinya dokumen pribadi. Ada fotokopi ijazah, beberapa berkas dari Bandung, dan satu kotak kecil. Saya takut kalau dibiarkan di sini."

Langkah Naya berhenti.

"Kenapa ada di ruang arsip Dimas?"

"Saya juga tidak tahu. Mungkin dulu waktu Ibu mengurus legal perusahaan, staf memasukkan ke sini."

Naya tidak langsung menjawab.

Berkas dari Bandung.

Kotak kecil.

Hanya ada satu kotak kecil yang berarti baginya: kotak berisi surat dari keluarga Pradipta, keluarga yang membesarkannya.

"Kamu di kantor?"

"Iya, Bu. Tapi Pak Dimas juga masih di gedung. Saya bisa titipkan ke security kalau Ibu mau."

Naya berpikir cepat.

"Titipkan ke security. Aku ambil besok."

Ada jeda.

"Bu... Pak Dimas meminta saya menyerahkan langsung pada Ibu. Katanya kalau tidak, dia akan membuangnya."

Naya menutup mata.

Jadi begini caranya.

"Fikri, kamu dengar baik-baik. Jangan berdebat dengannya. Jangan sentuh lagi dokumen itu. Kirim foto kotaknya padaku sekarang."

"Baik, Bu."

Telepon ditutup.

Tidak sampai satu menit, foto masuk.

Itu memang kotak miliknya.

Kotak kayu kecil dengan ukiran bunga sederhana, hadiah dari Papa Pradipta saat dia lulus SMA.

Naya menggenggam ponsel erat.

Lalu pesan dari nomor Dimas masuk.

Dimas: Ambil sendiri malam ini. Kalau tidak, aku buang.

Naya menatap layar.

Dia tahu ini jebakan.

Tapi dia juga tahu Dimas cukup bodoh untuk benar-benar membuang kotak itu.

Setelah beberapa detik, dia mengirim pesan pada Arga.

Naya: Aku perlu mengambil sesuatu di Wira Kencana. Kemungkinan jebakan.

Arga menelepon langsung.

Naya mengangkat.

Suara Arga terdengar rendah. "Jangan pergi sendiri."

"Aku tahu."

"Aku kirim Bima dan Rendra."

"Jangan terlalu ramai. Dia bisa panik dan merusaknya."

"Naya."

"Aku akan bawa Laras dan sopir. Aku juga aktifkan lokasi."

Arga diam satu detik.

"Tunggu aku."

"Kakimu belum stabil."

"Tunggu aku."

Untuk pertama kalinya, suara Arga terdengar hampir memerintah.

Naya menatap foto kotak di ponselnya.

"Tiga puluh menit."

"Aku sampai dalam dua puluh."

Telepon ditutup.

Naya berdiri di lorong kantor, memandang lampu kota dari jendela kaca.

Dia tahu malam ini tidak akan selesai hanya dengan mengambil kotak.

Dimas akhirnya kehilangan semua yang membuatnya merasa berkuasa.

Dan orang seperti itu biasanya mencari cara terakhir untuk membuktikan bahwa sesuatu masih miliknya.

Naya menatap lift kantor Kirana yang tertutup di belakangnya. Dia tahu keputusan berikutnya harus sangat hati-hati. Satu langkah salah, Dimas bisa mendapat ruang untuk memutar cerita. Tapi jika dia tidak bergerak, kotak itu mungkin hilang. Untuk orang lain, benda itu hanya kayu tua. Untuk Naya, itu bukti bahwa sebelum nama Adisatria menuntutnya pulang, ada keluarga yang pernah mencintainya tanpa syarat.

Dia tidak boleh salah.

1
Dewa Nara
kapan hubungan Arga dan Naya lebih mesra Thor
Dewa Nara
Dimas sudah gila
Dewa Nara
akhirnya Naya takluk 😄
Dewa Nara
hahahaha 🤣🤣🤣
Dewa Nara
Arga lucu😄😄
Dewa Nara
mudah2an jodoh Naya dan Arga awet. aamiin
Dewa Nara
apa ada cerita sebelumnya tentang Naya dan Sekar Thor?
Dewa Nara
Sekar siapa-nya Naya Thor
Dewa Nara
semangat Thor 💪
Dewa Nara
wuih....cewek badas nih 😄👍
lenny sukmasari
Luar biasa
lenny sukmasari
Lumayan
WHATEA SALA
Betul....baru ketemu keluarga sudah di jadikan alat tukar,sementara orang lain merawat dengan tulus,klu gitu gak perlu lagi keluarga kandung
Lilik 383
aku meweqq😭😭
Lilik 383
sy selalu suka percakapannya
setiap pemeran memiliki karakternya kuat .
authornya the best
sukensri hardiati
masih bingung aku....siapa sih anaknya maya...? sekar...?...kinan...?...naya...? sekar dan naya kan sepupu...
sukensri hardiati
rafi yg ini beda dengan rafi di perusahaan kosmetik ya....ada juga laras pengacara naya sama laras mantan dimas yg dah meninggal...
sukensri hardiati
binguuung....mana nama ibunya berubah....ratna adisatria apa maya adisatria...
sukensri hardiati
👍
Trisna Yogantari05
membaca karya mu seperti melihat cara robot bercerita, tapi aku suka😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!