Menikah dengan seseorang yang tidak kita kenal bukanlah suatu perkara mudah apalagi bagi seorang ANANDITA PUTRI ANASTASYA.
Dita menikah dikarenakan ayahnya yang sakit keras dan meminta dita untuk menikah dengan anak temannya bagaimanakah kisah anandita akankah dia menuruti kemauan ayahnya, atau malah menghindar?
Dan akankah seorang RADITYA ANDIKA MEGATARA menerima perjodohan tersebut sedangkan mereka berdua masih duduk di bangku SMA??
ohh ya buat kalian yang udah baca season 1 udah ada season 2 nya yang di novel ini juga
Mau tau nggak gimana kisah mereka
cusss baca cerita ini :')
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aita suha15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI YANG NYEBELIN (3)
Dita dan Desva telah berada di depan ruangan osis. Mereka saling menunjuk satu sama lain untuk masuk keruangan itu.
"Lo aja lo Dit, lo kan yang istrinya "
''Lo aja lo, walaupun gue istrinya, guekan belum deket deket amat ma dia ,kan jadi lucu kalau seorang istri minta hukuman ke suaminya karena atribut nggak lengkap. Mana suaminya ketua osis lagi ,gue enggak mau'' Dita menolak untuk masuk terlebih dahulu karena takut bertemu Dika ,lebih tepatnya ia tak mau bicara dengan laki laki itu.
"Ya udah kalau gitu kita masuk bareng bareng aja" usul Desva ketika ide itu tiba tiba muncul di benaknya. Dita menyetujui hal itu karena memang ia telah lelah berdebat dengan Desva.
Keduanya mendekat ke arah pintu. Mata mereka mengarah ke hendle pintu. Tangan desva terangkat untuk membuka pintu tersebut. Belum sempat tangan Desva menyentuh hendle, pintu itu sudah terbuka dari dalam menampilkan sosok lelaki yang memang akan mereka temui saat ini. Desva dan Dita mendongakkan pandangan mereka yang semula ke arah hendle menuju ke laki laki di depannya.
"Ngapain ?" tanya Dika dengan muka datar nya. Kedua sejoli yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah. Tangan mereka menggaruk garuk rambut yang sebenarya tidak terasa gatal. Sambil senyum senyum tidak jelas.
"Anu,, gini Dik , gue sama Dita di suruh pak Zidan buat minta hukuman ke elo " ucap Desva, sedangkan Dita, ia tak berani menatap laki laki itu. Laki laki itu terus menatap ke arah Dita.
"Ya udah. Lo yang masuk dulu" tunjuk Dika pada Desva.
---
"ihhh.... Dita lama amat sih. Lumutan gue nungguin dia. Ngapain aja di dalem sama Dika tu orang" Desva menggerutu sendirian di depan ruang osis. Dirinya sendari tadi menunggu Dita yang sedang di dalam ruangan itu.
"Apa gue gedor aja pintunya ya" pikir Desva sambil memegang dagunya
"Ehh,, nggak berani gue. Nanti di bentak Dika. kan gue takut" Desva mondar mandir gak jelas di depan ruang osis. Perut gadis itu mulai berbunyi tannda ia sedang lapar.
"Ya ampun Dita gue laper, apa gue gedor aja ya ini pintu, bodo amat sama Dika" Desva sudah menguatkan tekadnya untuk mulai menggedor pintu di depannya. Namun, belum sempat ia menggedor pintu itu Dita telah kelar dengan wajah kusutnya.
Desva langsung saja menerik tangan gadis itu menuju kantin. Dita yang ditarik paksa mencak mencak.
"Ehh.. anak Dugon lepasin gue sakit ini lo tangan gue" Desva menghiraukan Dita. Ia tetap bejalan cepat menuju kantin-perut gadis itu tak bisa di ajak kompromi lagi.
"Ni anak punya kuping nggak sih " Dita masih mencak mencak dan Desva masih menghirau kannya. Akhirnya Dita yang sudah amat terlalu lelah memilih untu mengikuti gadis itu.
---
"Hahahaha...." Dita menatap heran pada Desva yang tiba tiba tertawa tanpa sebab ketika mereka telah sampai di kantin. Dita berpikiran bahwa sahabatnya itu sedang kesurupan.
"Des sadar Des, istigfar. inget Des jangan gini ah" tawa Desva semakin menggema di punjuru kanti, untuk saja kantin belum ramai kalau ramai bisa jadi pusat perhatian nanti mereka. Dita mulai lelah mendengarkan tawa Desva yang tak kunjunh mereda.
" Sumpah Dit lo tau nggak gue tadi ketawa kenapa"
" Nggak tau , orang lo tu gj, nggak ada apa apa tiba tiba ketawa, sarap ya lo." jawab Dita dengan wajah yang di polos polos kan.
"Gue nggak kuat pas liat muka lo yang baru dari kantor osis, sumpah muka lo itu udah kayak baju yang nggak pernah di setrika, KUCEL" Dita menggetok kepala temannya. Bukannya di hibur eh malah di ketawain.
"Oooo.... gitu ya lo jadi temen gue" Dita menampakkan wajah yang di buat semarah marahnya pada Desva. desva yang melihat hal itu hanya mengabaikannnya. Ia tau bahwa dita hanya bercanda.
" DITA, DESVA KALIAN KE KANTIN NGGAK AJAK AJAK GUE, EMANG TEMEN LAKNAT KALIAN ITU" dari arah pintu kantin Dea masuk sambil berteriak teriak.
itu mulut atau toa batin orang orang yang ada di situ
Mendadak Desva dan Dita malu punya temen kayak Dea yang bar bar dan suka teriak teriak. "Elah nggak usah teriak juga kali, ini kuping masih sehat kok di panggil baik baik" sinis Desva pada Dea.
"Ehhh.. BTW Dara mana kok nggak bareng sama lon?" tanya Dita penasaran
"Dia lagi ke perpus ambil buku buat tugas bahasa indonesia" Dita dan Desva ber ooo ria.
'' Eh lo berdua tadi sama dika di hukum apa"
" nggak di hukum apa apa" jawab Dita enteng
"Enak bener kalian nggak di hukum apa "
" Enak gimana. Bener gue sama Desva ngga dihukum , tapi, kita dapat mauidzoh hasana pagi pagi" Dea sontak tertawa mendengar hal itu
"Oh ya bentar lagi ujian tuh, kalian mau pada liburan kemana ?" tanya Dea yan teringat bahwa 3 minggu lagi mereka akan libur semester 1
"Kalau gue ikut ortu aja palingg ke luar nengri. Kan jarang gue bisa kumpul kumpul keluarga. " jawab Desva enteng
" Kalau gue mau ke tunangannya sepupu Dika sambil liburan disana" jawab dita teringat undangan Reno saat di hari pernikahannya kemarin.
Dea hanya ber ooo ria. Selang beberapa saat mereka kemudian melanjutkan makann yang tertunda karena obrolan barusan.
---
HAI GAIS GIMANA KABARNYA
JANGAN JADI SILENT RAIDERS YA GAISS SAKIT TAU AUTHOR
LIKE DONG TULISAN GUE
SAMA LOVE SAMA KOMEN JUGA BIAR GUE SENENG
MAAF YANG CHEPTER INI AGAK GIMANA GITU SOALNYA MOOD AUTHOR LAGI JELEK NANTI KALAU UDAH BAGUS AUTHOR EDIT
MAAF YA SEMUANYA
tapi yang lain masih blum launching ia 🤔🤭
jadi agak bingung aku bacanya , maaf ia jika menyingung 🙏🙏
sekaligus calon bibit pelakor 🤣🤣🤣