NovelToon NovelToon
Gadis Galak Milik Tuan Muda

Gadis Galak Milik Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Transmigrasi
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yusriani Yusuf

Dikhianati dan dibunuh oleh rekan seperjuangannya sendiri, Dinda, Komandan Pertama Barat yang legendaris, justru mendapat kesempatan kedua setelah jiwanya berpindah ke tubuh Ana Pramudia, gadis lemah yang dibunuh oleh saudara tirinya sendiri.

Kini, dengan jiwa seorang jenderal tangguh dan kekuatan mistis yang masih tersisa, Ana siap membalas dendam, merebut kembali harga dirinya, dan mengguncang Kekaisaran. Namun, di tengah intrik dan musuh yang mengincarnya, kemunculan Tuan Muda Adrian yang terus mengikutinya justru menambah misteri.

Akankah Ana berhasil menaklukkan dunia barunya, dan apa sebenarnya tujuan Adrian mendekatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusriani Yusuf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang sekolah

Suara bel akhir pelajaran berbunyi, membuat sorakan murid-murid kini bergema dari ruang-ruang kelas. Ana menyampirkan tasnya, berjalan santai melewati gerbang Akademi Bintang Terang. Di puncak tangga panjang sekolah ia sempat berhenti sebentar, memijat pelan bahunya yang masih terasa agak ngilu akibat insiden kemarin.

"Kalau jalan kaki sampai rumah... mungkin setengah jam," gumamnya sambil menatap trotoar yang sedikit ramai. "Ah sudahlah. Anggap saja sekalian olahraga."

Baru beberapa langkah ia melewati trotoar, sebuah sedan hitam mendadak melambat dan berhenti tepat di sampingnya. Pintu penumpang terbuka. Adrian turun dengan senyum lebar yang entah mengapa selalu berhasil membuat Ana kesal.

"Lagi cari aku ya?" tanya Adrian dengan percaya diri.

Ana menghentikan langkahnya, menatap Adrian datar tanpa ekspresi. "Nggak."

"Terus kamu lagi ngapain di sini?"

"Mau pulang."

"Pas banget. Ayo masuk aku antar."

"Nggak usah," potong Ana cepat. "Aku bisa pulang sendiri."

Ana langsung memutar badannya dan kembali berjalan. Namun, Adrian bukan tipe orang yang mudah menerima kata penolakan.

Terdengar langkah kaki yang terburu-buru mengejarnya, dan sebelum Ana sempat menghindar, Adrian sudah mencengkeram lengannya dan menyentakkan tubuh gadis itu ke atas bahunya dalam satu gerakan sepihak.

"Eh apa-apaan sih?! Lepasin aku! Turunin!" teriak Ana, refleks memukul punggung cowok itu dengan sikunya.

Adrian meringis, tapi cengkeramannya tidak melonggar. "Aku antar kamu pulang. Kalau kamu nggak mau pulang ke rumahmu, ikut ke rumahku juga boleh."

"Adrian kamu gila ya?!" Ana menghantamkan sikunya sekali lagi, kali ini tepat di bagian punggung Adrian yang cedera.

"Aw!" Adrian kini kesakitan, ia terpaksa menurunkan Ana ke aspal. Sambil memegangi punggungnya ia menatap Ana dengan dahi berkerut.

"Lukamu sendiri belum sembuh total Ana. Bisa nggak sih jangan keras kepala kalau dibilangin?"

Ana merapikan seragamnya dengan napas memburu. Matanya menatap Adrian tajam.

"Harusnya kamu bersyukur lukaku belum sembuh. Kalau kondisiku lagi fit kamu pasti sudah ku habisi sekarang juga."

Ana kembali melangkah pergi. Tapi Adrian rupanya tetap keras kepala . Kali ini ia langsung merangsek maju dan menggendong Ana dari depan. Karena terkejut dan takut jatuh, Ana secara refleks mengalungkan kedua tangannya ke leher Adrian.

"Lepaskan aku!"

"Diam dulu. Jangan banyak bergerak kalau nggak mau jatuh ke aspal," bisik Adrian.

Tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitar, Adrian membawa Ana masuk ke dalam mobil. Sang asisten yang sudah siaga langsung menutup pintu dengan cepat begitu bos mudanya masuk, lalu bergegas duduk di kursi kemudi. Mobil pun langsung berjalan melewati jalanan.

Di dalam kabin mobil Adrian, Ana hanya bisa bersedekap dengan wajah ditekuk, membuang muka ke luar jendela.

"Adrian sebenarnya kamu mau apa sih?" tanya Ana, suaranya sedikit keras.

Adrian tidak menjawab, ia justru mencondongkan tubuhnya. Dengan gerakan pelan ujung jarinya menyentuh dagu Ana, memaksa gadis itu menatapnya.

"Nah kalau lagi marah begini kan kelihatan jauh lebih hidup. Daripada dari tadi kamu diam terus seperti orang yang punya utang puluhan juta."

Ana menepis tangan Adrian dengan kasar. "Kalau kamu berani macam-macam lagi, aku tidak segan-segan membunuhmu,” Ucap Ana mengancam.

Adrian malah terkekeh sama sekali tidak merasa terancam. "Anak gadis kok bahasanya seram banget dikit-dikit mau bunuh orang. Itu nggak baik tahu."

"Katakan saja apa maumu sebenarnya" desak Ana, mulai kehilangan kesabaran.

Senyum di wajah Adrian berubah menjadi senyuman penuh kemenangan. Ia meraih jemari Ana, menggenggamnya erat sebelum gadis itu sempat menariknya kembali. "Aku datang untuk bawa kabar baik. Aku sudah setuju dan Ibuku juga sudah setuju."

Ana mengernyitkan alis, tidak mengerti dengan perkataan Adrian. "Setuju soal apa?"

"Aku sudah setuju kamu membatalkan pernikahanmu dengan Aksa Aditama," ujar Adrian dengan mata berbinar penuh keyakinan.

"Dan ibuku... juga sudah setuju untuk menerimamu jadi menantunya."

Seketika itu juga, ekspresi Ana berubah. Ia menghempaskan tangan Adrian dengan kekuatan penuh. Rasa muak yang memuncak membuat emosinya tersulut.

"Dasar gila! Hentikan mobilnya sekarang!"

Asisten di depan yang panik mendengar teriakan itu refleks menginjak pedal rem. Mobil berhenti mendadak hingga ban berdecit keras.

Adrian mendengus kesal menatap ke depan.

"Kau mengerem atas perintah siapa?"

"Maaf Tuan Muda saya.." Asisten itu buru-buru menginjak pedal gas untuk melaju kembali. Namun, mesin mobil hanya mengerang pelan sebelum akhirnya mati total.

"Loh? Gasnya nggak berfungsi Tuan! Mesinnya mati!"

Adrian menatap asistennya dengan bingung, lalu perlahan menoleh ke arah Ana. Gadis itu hanya menyunggingkan senyum sinis. Di bawah telapak tangan Ana yang menyentuh jok kulit mobil, aliran energi tak kasat mata baru saja memutus seluruh sistem kelistrikan kendaraan tersebut.

Sebelum Adrian sempat mencerna apa yang terjadi Ana menarik tuas pintu.

"Tapi pintunya sudah saya kunci otomatis Tuan Muda! Bagaimana bisa.." Ucapan sang asisten terputus saat melihat Ana sudah melenggang turun begitu saja, meninggalkan pintu mobil yang terbuka lebar akibat mekanisme kuncinya yang ikut rusak.

Adrian terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersadar. "Jangan bengong! Cepat ikuti dia!"

Mereka berdua bergegas turun dari mobil, namun Ana sudah berjalan cukup jauh dan berbelok ke dalam sebuah gang sempit.

"Maaf Tuan Muda," ucap asistennya dengan napas terengah. "Nona Ana masuk ke gang kecil. Mobil kita jelas nggak bakal bisa lewat."

Adrian menatap lorong gang yang sempit itu. Alih-alih kesal, senyumnya justru kembali mengembang. Tantangan seperti ini selalu membuatnya penasaran.

"Ya sudah. Kalau begitu ayo kita kejar dengan berjalan kaki."

Di dalam gang yang berkelok-kelok, Ana mempercepat langkahnya. Napasnya sedikit memburu bukan karena lelah, melainkan karena menahan amarah yang meluap.

Namun, samar-samar di antara pepohonan, ia mulai mendengar gema langkah kaki sepatu pantofel Adrian dan asistennya yang tergesa-gesa di belakangnya.

Ana mendecah kesal, menyadari bahwa kedua orang itu belum menyerah. Hari itu, untuk pertama kalinya, Ana benar-benar menyesal karena memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki.

1
SRIANA
bagus ceritanya, semangat KK.
Syifaa
👍
Syifaa
🙏
Syifaa
👍
imran
Lanjut lagi
yuyusss: 🙏🙏😍😍😍😍
total 1 replies
imran
Makin penasaran
imran
Gregetnya
yuyusss: 😍baguss banget lanjut
total 1 replies
Syifaa
Jangan lupa like
Syifaa
Jangan lupa komen
yuyusss
greget
yuyusss
😍
yuyusss
uhuyy
yuyusss
lanjuttt
Syifaa
Makin seru nggak
imran
Lanjut kak
imran
Baguss banget
Syifaa
Lanjut nggak
Putri Sajak
kak yuk like punya kuh🤭
imran
Bagus
imran
Lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!