Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melewati garis
"Hana, kau belum tidur?"
"Ya, tuan? Apa anda membutuhkan sesuatu?" Hana berbalik merapatkan jubah tidurnya untuk menutupi gaun mini yang ia kenakan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Nolan memilih duduk di kursi yang ada di sana.
"Merekam semua pemandangan yang ada di sini sebelum pulang esok hari."
Rambut Hana yang tergerai panjang dan gaun tidurnya tertiup angin, hal itu membuat Nolan terpana melihat keindahan yang ada di depan mata. Perempuan ini benar-benar memabukkan.
"Kau menyesal tak membawa ponsel?"
"Sedikit, tuan."
"Ingin mencoba memakai ponselku?"
Hana menoleh ke belakang menatap ponsel yang ada di tangan Nolan.
"Tidak, terima kasih tuan."
Nolan menyimpan ponselnya kembali dan mengedikkan bahu asal.
Namun, ia memiliki ide untuk memotret Hana dengan posisi membelakanginya.
Beberapa jepretan kamera menangkap berbagai ekspresi Hana tanpa di sadari olehnya.
Nolan tersenyum kecil memeriksa hasil jepretannya.
"Saya ingin membereskan barang-barang tuan."
"Tidak perlu. Besok masih sempat, sebagian barang sudah kurapikan ke dalam koper.
"Itu tugas saya."
Nolan melirik sebentar Hana yang menatapnya.
"Itu terjadi begitu saja."
"Apa anda ingin memakan sesuatu sembari bersantai di sini?"
"Ya, kau." Ucap Nolan pelan.
Mata hijaunya menatap lekat ke arah Hana. Ia segera berbalik memunggungi pria yang seakan ingin melahapnya itu.
Nolan mengulas senyum kecil, ia beranjak dari duduk dan menghampiri Hana.
Dua tangan besar tiba-tiba melingkar di perut Hana, ia terlonjak kaget.
"Kau menerima pekerjaan ini dan terima semua perlakuan dari penjahat kelamin." Nolan membisikkan kalimat yang membuat Hana merinding.
"Kita sudah membuat perjanjian di awal, tuan."
Gadis itu merasa jantungnya berdegub kencang, ia khawatir pria ini kembali melecehkannya.
"Posisi ini tak ada di dalam perjanjian. Di sana hanya tertulis untuk tak menidurimu."
Kedua tangan Hana menggenggam erat pagar balkon, hembusan napas pria itu menyentuh kulit lehernya.
"Kenapa kau begitu wangi? Apa kau sedang menggodaku dengan baju ini, hm?"
"Anda membuang semua pakaian yang saya bawa." cicit Hana.
"Ya, pakaian itu tak cocok untuk kau pakai. Sisi cantik dan sexymu tertutupi."
"Untuk itulah saya mengenakannya, agar pria cabul seperti anda tak mengganggu." Kini label baru ia dapatkan kembali dari Hana.
Rasanya saat itu juga ia ingin membawa Hana ke atas ranjang dan menghukumnya hingga memohon ampun.
"Jangan turun ke bawah dengan pakaian ini. Aku tak rela tubuhmu dilihat oleh para bodyguardku."
"Anda bukan suami saya. Dan terima konsekuensi dari apa yang anda berikan pada saya."
"Oh, Hana. Aku menyesal memberikanmu gaun tidur ini."
"Singkirkan tangan anda, tuan."
"Kenapa? Kita saling menghangatkan. Pipimu dingin." Nolan mengusap lembut pipi Hana dari bawah ketiak. Otomatis tangan kekarnya bersentuhan dengan payudara Hana.
"Mereka sangat kenyal." Ucap Nolan tersenyum kecil.
Hana diam.
"Bolehkah aku menyentuhnya?"
"Saya rasa ini sudah malam, saya permisi tidur lebih dulu."
Dengan mudah, Hana melepaskan diri dari kungkungan Nolan, namun tangan besar itu menahan tangannya yang membuat Hana kembali berbalik dan menabrak dada bidang Nolan.
Pria itu segera membawanya ke dalam pelukan yang erat.
"Diam, dan biarkan aku memelukmu."
Tanpa seizin Hana, air matanya kembali lolos membasahi pipi.
"Rasanya aku jatuh cinta padamu."
"Anda sedang dikuasai oleh nafsu."
"Tidak, lihat mataku. Aku serius." Nolan menangkupkan tangannya di kedua pipi Hana.
Mata mereka saling beradu menyampaikan apa yang ada di pikiran.
"Tidakkah kau melihat ketulusanku?" Ibu jari Nolan mengusap air mata Hana.
"Ya, ketulusan pria cabul dalam merayu calon mangsanya."
"Apa aku begitu buruk di matamu, Hana?"
"Anda pria cabul."
"Padahal aku sudah memberanikan diri menyatakan cinta padamu." Nolan berbalik memunggungi Hana dan memilih menatap gunung.
"Cinta? Dalam satu pekan?"
"Kau tak percaya cinta?"
"Tidak."
"Apa kau hidup tanpa cinta?"
"Saya hidup dengan cinta dari ibu saya."
"Lalu?"
"Saya permisi." Nolan ditinggalkan seorang diri oleh Hana.
Pria itu memejamkan mata menikmati malam yang damai.
Hampir satu jam ia menenangkan diri, ia memilih masuk ke dalam kamar. Namun, bukan ke dalam kamarnya melainkan kamar Hana. Ia ingin menghabiskan malam terakhirnya di Swiss dengan tidur sembari memeluk Hana.
Perempuan itu sudah terbuai mimpi tanpa terganggu dengan pelukan hangat dari Nolan. Keduanya meringkuk di dalam selimut saling mencari rasa hangat.
Alarm berbunyi, Hana segera mematikannya. Ia terkejut ketika tubuhnya seperti ditahan oleh sesuatu, dan mendapati Nolan yang tidur sambil memeluknya.
Hana bernapas lega ia masih lengkap berpakaian begitu juga dengan Nolan yang masih mengenakan kimononya.
"Tuan, bangun. Ini sudah pagi." Hana menepuk pipi Nolan dengan pelan.
"Hei, good morning Hana." Suara khas pria baru bangun tidur menelisik gendang telinga Hana.
Nolan merenggangkan ototnya sebelum bangun.
"Anda tidur dengan nyenyak, tuan?"
"Ya, aku tidur nyenyak ketika bersamamu." Nolan tersenyum kecil.
"Saya akan menyiapkan sarapan terlebih dahulu."
Nolan sedikit kesal pada Hana yang lebih banyak bersikap seperti robot.
Gadis itu akan langsung menangis ketika dirinya melakukan pelecehan.
"Tidak. Kau bereskan barangku. Kita sarapan di bandara saja."
"Baik, tuan."
Hana melangkah keluar kamar untuk melakukan tugasnya.
Tidak memakan waktu lama, sesuai dengan yang dikatakan Nolan, ia hanya sedikit membereskan sisanya. Ia kembali untuk mandi dan bersiap, semua barangnya sudah ia rapikan semalam sebelum tidur.
Hana harus menunggu beberapa saat ketika Nolan menggunakan kamar mandinya untuk mandi.
"Kenapa anda mandi di sini?" Nolan dengan santainya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dililit di pinggang.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak. Saya ingin mandi." Hana berlalu menutup kamar mandi sebelum Nolan berbicara.
Pria itu melangkah keluar kamar untuk berganti pakaian. Ia sesekali menghirup aroma sabun mandi Hana yang ia pakai. Bibirnya mengulas senyuman tipis.
"Kau yakin sudah memeriksa semua barang?" Tanya Nolan ketika mereka berada di depan Villa dan bersiap pergi.
"Ya, tuan."
"Tapi, saya akan mengecek kembali." Hana berlari masuk ke dalam untuk memastikan tak ada barang mereka yang tertinggal.
Kamarnya yang terakhir ia buka, Hana melihat kartu nama yang diberikan Nolan saat di danau terjatuh di lantai. Ia menunduk untuk mengambilnya.
"Apa ada barang yang tertinggal?" Nolan masuk ke dalam, Hana segera berdiri dan menyimpan kartu nama tersebut ke dalam saku.
"Apa itu?"
"Kartu nama anda."
"Benarkah?"
"Ya, tuan. Sebaiknya kita pergi sebelum terlambat."
Hana lebih dulu melangkah keluar, namun saat hampir mencapai pintu tubuhnya tiba-tiba berbalik akibat tarikan tangan Nolan.
"Aku ingin menciummu." Belum sempat Hana memberi jawaban, Nolan sudah menyerangnya, pria itu begitu nafsu melumat bibirnya.
Hana memukul dada Nolan agar pria itu berhenti, ia hampir kehabisan napas.
Hana meraup oksigen sebanyak-banyaknya ketika Nolan melepaskan pagutannya.