Aku bisa melihat mereka 2
Inara seorang gadis indigo, yang ternyata hidupnya di incar oleh seorang iblis yang menginginkannya menjadi ratu iblis.
Dapatkah Inara bisa lepas dari jerat iblis itu?
Lalu bagaimana dia menghadapi musuh lama keluarganya, yang selalu meneror dirinya dan keluarganya?
Bagaimana ceritanya? Ikuti terus ya Aku bisa melihat mereka 2.
Selamat Membaca 📖
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Un.Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Sesampainya di rumah Inka, Penty langsung menghampiri Inara yang sudah terlelap. Penty berbaring di samping Inara sambil memeluk Inara.
Sedangkan Shina dan Sandi tidur di kamar lain. Tak lama Penty langsung terlelap, dia tidak tau bahwa dari tadi Inara tidak tertidur meski matanya terpejam.
Air matanya mengalir, dia berharap semua yang terjadi hari ini hanyalah mimpi. Inara terisak, hatinya terasa sakit jika ingat ayahnya sudah tiada meninggalkannya.
Inara beranjak dan meninggalkan Penty yang sedang terlelap. Dia keluar kamar dan menuju kamar Inka dan Iqbal. Dia menangis dan menumpahkan rasa sakit dan kesedihannya di kamar orang tuanya.
Dadanya terasa sesak seperti ada beban berat yang menghantamnya, sangat sakit dan sesak.
"Ayah!!" Isaknya.
Tiba-tiba dia teringat makhluk itu yang sudah membuat ayahnya meninggal. Tiba-tiba dadanya terasa panas membara, bola mata Inara seketika berubah jadi merah menyala, tangannya mengepal kuat. Suhu badannya memanas bahkan area kamar itu pun menjadi panas.
Tiba-tiba sosok setan berbaju merah muncul di belakangnya. Dia mendekat ke arah Inara yang sedang mengeluarkan amarahnya.
Sosok itu berbisik pada Inara. "Keluarkan semua amarahmu tuan putri, saya akan membantumu untuk membalaskan dendam." bisiknya ditelinga Inara sambil menyeringai.
Amarah Inara semakin memuncak, dari tubuhnya keluar cahaya merah dan bola matanya berubah menjadi merah darah, urat-urat tubuhnya menyembul.
Sosok berbaju merah itu tersenyum melihat amarah Inara.
"Teruskan tuan putri, keluarkan semua amarahmu dan balaskan dendam atas kematian ayahmu." Ucap sosok baju merah itu.
Semakin sosok itu memprovokasi Inara, amarah Inara semakin memuncak bahkan sudah di luar batas, hingga kekuatan yang ada di dalam tubuhnya menyembul keluar.
Bahkan sosok setan merah itu pun menjauh saat tubuh Inara perlahan berubah, rambutnya panjang terurai semrawut, tubuhnya memerah, bahkan bola matanya berubah menjadi merah kebiruan, kuku-kukunya berubah menjadi panjang dan runcing. Namun tiba-tiba dia terkulai lemas, dan kekuatan yang keluar tadi masuk kembali ke dalam tubuhnya.
Tubuh Inara lemah, pandangannya buram, perlahan tubuhnya kembali ke bentuk semula. Nafasnya terengah-engah, keringat bercucuran.
Samar-samar dia melihat senyuman ayahnya, Inara tersenyum lalu dia tidak sadarkan diri.
***
Pagi hari saat Penty terbangun dia panik karena tidak menemukan Inara di mana pun, dia sudah mencarinya kemana-mana. Dia membangunkan Sandi dan Shina. Akhirnya mereka mencari Inara ke seluruh rumah, tapi mereka tidak menemukannya.
"Apa dia ke rumah sakit menemui Inka?" Tanya Shina.
"Coba aku telpon Argan." Ujar Penty.
Penty menelpon Argan. Sandi dan Shina berharap Inara benar-benar ada di sana. Mereka sangat khawatir dengan Inara, kemana anak itu perginya?
Selesai menelpon, Penty langsung memberitahukan Sandi dan Shina, kalo Inara tidak ada di rumah sakit dan itu membuat mereka semakin panik.
"Ya Allah dek kamu kemana sih sayang?" Ucap Shina khawatir.
"Tadi Argan sudah menyuruh Rafa untuk mencari dedek om, kak. Kita di suruh tunggu aja di rumah." Ujar Penty.
"Ya udah kalian tunggu di rumah ya, biar saya cari dedek." Ujar Sandi.
"Iya hati-hati pah--hati-hati om." Ucap Shina dan Penty serempak. Sandi mengangguk.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Sandi pun pergi untuk mencari Inara. Penty dan Shina semakin khawatir dengan Inara.
Mendengar Inara tidak ada di rumah Argan langsung menyuruh Rafa untuk mencari Inara, kebetulan Rafa sedang menemani Argan di rumah sakit.
Rafa mencari Inara kemana-mana tapi tidak menemukannya. Lalu dia ingat tempat yang mungkin Inara datangi.
"Makam! Dedek pasti di makam Uncle Iqbal."
Rafa melajukan mobilnya menuju pemakaman, setelah beberapa saat dia sampai dan dugaannya benar, Inara sedang terlelap di samping makam Iqbal.
Rafa menghampiri Inara, Rafa menatap sendu Inara. Dia tau betapa Inara kehilangan ayahnya.
"Dek bangun dek, ini kakak." Ucap Rafa membangunkan Inara sambil menepuk pipi Inara.
Inara tak bangun dia masih terlelap, wajahnya pucat, matanya sembab. Rafa miris melihat keadaan Inara. Terpaksa Rafa menggendong Inara.
"Ayah jangan pergi!" gumam Inara dengan mata yang masih terpejam.
Rafa segera membawa Inara ke mobil. Rafa menaruh Inara di kursi depan, dia juga memasangkan seat beltnya. Untuk sesaat Rafa menatap Inara, dia mengusap kepala Inara dan mengecup kening Inara.
"Kamu harus kuat dek. Kakak janji akan jagain kamu, kakak sayang sama kamu. Kakak gak mau lihat kamu seperti ini." Ujar Rafa.
Lalu dia bergegas masuk ke mobil dan membawa Inara pulang. Sepanjang perjalanan Inara terus mengigau memanggil-manggil ayahnya.
Setelah sampai ke rumah, Rafa segera menggendong Inara dan membawanya masuk. Penty dan Shina senang melihat Rafa membawa Inara. Rafa membawanya ke kamar dan membaringkannya di kasur.
"Kak, di mana kamu nemuin dedek?" tanya Penty.
"Di makam mah." jawab Rafa.
Hati Penty terasa teriris, dia tau keponakannya masih belum menerima kepergian ayahnya. Setelah Shina menelpon Sandi dan memberitahukan jika Inara sudah ketemu dia menemui Inara.
"Gimana kak sudah menelpon om?" tanya Penty. Shina mengangguk.
"Tapi Abang tidak langsung pulang dia kerumah sakit menyusul Argan." Penty mengangguk.
"Oh iya kak, aku mau pulang dulu mau nengok Arvi kasian dia sendirian dari kemarin jagain rumah." Ucap Penty.
"Ya udah biar kakak yang jaga Inara."
"Mau Rafa anter mah?"
"Gak usah, kamu jagain dedek aja." Rafa mengangguk.
"Ya udah aku pulang Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
"Rafa jagain dedek dulu ya, aunty mau masak buat dedek." Rafa mengangguk.
Setelah Shina keluar, Rafa menghampiri Inara dan duduk di samping Inara. Rafa mengusap kepala Inara.
"Kakak yakin dedek pasti bisa melewati ini semua." Ujar Rafa sambil menggenggam tangan Inara.
Perlahan Inara membuka mata, dia melihat ke sekeliling, dia juga melihat Rafa yang sedang tersenyum padanya. Lagi-lagi air matanya mengalir. Dia beranjak dan memeluk Rafa.
"Ayah gak mungkin ninggalin kita kan kak. Ayah gak mungkin ninggalin Inar." Isaknya.
Rafa tak bisa berkata apa-apa, dia juga merasakan sesak saat melihat Inara terpuruk seperti ini. Rafa mengeratkan pelukannya dan mengusap kepala Inara. Inara masih terisak dalam pelukan Rafa.
Rafa melepaskan pelukannya dan menatap Inara lalu mengusap air matanya.
"Dedek harus ikhlasin ayah, dedek harus kuat demi bunda. Dedek terus doain ayah dan bunda. Kakak janji akan jagain dedek." Ucap Rafa.
Inara menatap lirih Rafa. Rafa tersenyum dan mengusap pipi Inara.
"Kakak gak mau lihat dedek sedih terus, kakak sayang sama dedek." Ucap Rafa. Inara menatap dalam mata Rafa entah kenapa hatinya berdesir saat menatap Rafa.
Rafa memeluk Inara lagi dan mengecup kepala Inara. Inara memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan Rafa, dia mengeratkan pelukannya. Pelukannya sama seperti memeluk Iqbal hangat dan menenangkan. Pelukan Rafa bisa mengobati rasa rindunya pada Iqbal.
"Ayah aku rindu." lirihnya dalam hati.
Rafa mengusap kepala Inara, sampai tak terasa lumayan lama Inara dalam pelukan Rafa, dia sampai terlelap saking nyamannya.
Rafa membaringkan tubuh Inara lalu menyelimutinya. Rafa menatap intens wajah Inara.
"Maaf dek, tapi kakak menyayangi kamu bukan sebagai adik tapi lebih. Kakak ingin suatu saat kamu jadi pendamping hidup kakak, tidak apa-apa kan jika kakak mencintai kamu?" Rafa mengecup kening Inara.
Shina yang akan masuk tak jadi saat melihat Rafa sedang mengecup kening Inara, dia juga mendengar pernyataan Rafa. Shina tersenyum dia kembali dan tak jadi masuk.
Bersambung..