Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter Kenzo
Siang ini, jadwal Aretha untuk imunisasi akhirnya tiba.
Areksa berdiri di depan pintu rumah sambil memastikan semua perlengkapan putrinya sudah dibawa.
“Perlengkapan Aretha sudah dibawa semua?”
“Sudah, Tuan.” Adira mengangkat tas perlengkapan Aretha sambil tetap menggendong bayi kecil itu.
“Baiklah. Naik.”
Adira mengangguk dan berjalan menuju mobil.
Setelah memastikan Adira dan Aretha sudah masuk, Areksa menyusul ke kursi pengemudi. Mobil pun meninggalkan mansion.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil cukup hening.
Tidak ada percakapan berarti di antara Areksa dan Adira. Hanya sesekali terdengar ocehan kecil Aretha yang seolah sedang mengajak bicara siapa pun yang mau mendengarkannya.
Adira tersenyum setiap kali mendengar ocehan bayi itu.
Areksa sempat melirik melalui kaca spion. Melihat Adira tersenyum sambil mengajak Aretha berceloteh membuat sudut bibirnya ikut terangkat tipis.
Dia benar-benar sayang pada Aretha.
Beberapa menit kemudian, mobil mereka tiba di rumah sakit.
Areksa turun lebih dulu dan berjalan ke sisi belakang mobil. Begitu pintu terbuka, ia mengulurkan kedua tangannya.
“Sini Aretha.”
Adira menyerahkan Aretha kepadanya. “Biar saya yang bawa tasnya, Tuan.”
“Iya.”
Areksa menggendong putrinya, sementara Adira membawa tas perlengkapan Aretha.
Mereka berjalan memasuki rumah sakit. Adira berjalan beberapa langkah di belakang Areksa, mengikuti pria itu menuju ruang dokter anak yang sebelumnya sudah dipesan.
Sesampainya di depan ruangan, mereka tidak perlu menunggu lama.
“Pasien atas nama Aretha Maharani Dirgantara.”
Areksa mengangkat kepala. “Itu kita.”
Ia melangkah mendekati pintu.
Namun, begitu pintu ruangan dokter terbuka, langkahnya justru terhenti.
Sosok dokter yang duduk di balik meja bukanlah dokter perempuan yang biasanya menangani Aretha. Melainkan seorang pria yang sangat ia kenal.
“Kenzo?”
Dokter itu langsung mengangkat wajah.
Tatapannya membulat sebelum akhirnya berubah menjadi senyuman lebar.
“Reksa?”
Kenzo berdiri dan menghampiri sahabat lamanya itu. “Ya ampun! Reksa!”
Keduanya berjabat tangan kemudian saling memeluk singkat.
“Jadi lo dokter baru di sini?” tanya Areksa.
“Iya. Gue baru seminggu di sini. Gantiin Bu Tias yang pindah.”
Areksa mengangguk kagum. “Keren. Padahal lo bisa bangun rumah sakit atau klinik sendiri, malah milih kerja.”
Kenzo terkekeh. “Bisa aja lo. Tapi aminin aja, siapa tau suatu hari kejadian. Dan lo jadi donatur ahahaha."
Keduanya tertawa.
Kenzo kemudian melirik bayi yang berada dalam gendongan Areksa. “Eh, by the way... ini anak lo?”
“Iya. Waktunya imunisasi.”
Kenzo menatap Aretha dengan ekspresi kagum. “Hebat juga papa muda satu ini. Bisa ngurus anak sendirian.”
Areksa langsung menatapnya datar. “Itu muji atau nyindir?”
“Muji lah.”
“Gue nggak ngurus sendirian. Ada babysitter Aretha yang ngurusnya.”
Areksa kemudian sedikit menyingkir dan memberi ruang agar Kenzo bisa melihat Adira yang berdiri di belakangnya.
“Oh, ini babysitter-nya.”
Adira memberikan senyum sopan. “Selamat siang, Dok.”
“Siang.”
Kenzo sempat terdiam. Matanya tanpa sadar memperhatikan Adira beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Penampilannya sederhana dalam seragam khas babysitter, tetapi kecantikannya tetap begitu mencolok.
Areksa yang berdiri di sampingnya menangkap tatapan itu. Entah kenapa, ia merasa sedikit tidak nyaman.
“Ekhem.” Areksa sengaja berdeham.
Kenzo langsung tersadar. “Eh, sorry, sorry.”
Ia kemudian mendekat ke Areksa dan berbisik. “Lo dapet babysitter ini dari mana? Cantik banget.”
Areksa langsung menatapnya tajam. “Mulai.”
Kenzo terkekeh. “Apaan? Gue cuma nanya.”
“Udah, cepetan periksa anak gue.”
“Iya, CEO. Sabar.”
Kenzo kembali ke meja pemeriksaan sambil terkekeh.
Begitulah mereka sejak dulu. Sudah terlalu lama bersahabat hingga Kenzo tidak pernah merasa canggung untuk menggoda Areksa.
Seorang perawat kemudian datang membantu menyiapkan perlengkapan imunisasi.
Kenzo mulai memeriksa kondisi Aretha terlebih dahulu.
“Berat badannya bagus. Kondisinya juga kelihatan sehat.”
Areksa mengangguk. “Bagus.”
Kenzo kemudian bertanya sambil mempersiapkan vaksin. “Anak lo gemoy banget. Susu, ya? Sehari berapa botol?”
Areksa menjawab santai. “Dia nggak sufor. Tapi dia ASI.”
Tangan Kenzo yang sedang mempersiapkan perlengkapan berhenti sejenak. Ia langsung menoleh.
“ASI?”
Tatapannya kemudian beralih kepada Areksa. “Bukannya... Aruna udah—”
“Adira yang kasih ASI.”
Kenzo terdiam. “Hah?”
Areksa menghela napas pendek.
“Kok bisa?”
“Ck. Kerjain aja apa urusan lo.”
Kenzo mengangkat kedua tangannya menyerah. “Oke, oke. Galak banget.”
Ia kembali fokus pada pekerjaannya. “Ya sudah. Kita lanjut ya, Papa Aretha.”
Areksa mendengus kecil. “Jangan panggil begitu.”
“Kenapa? Kan bener."
Tak lama kemudian, Kenzo selesai mempersiapkan vaksin.
Ia memberi aba-aba kepada perawat, lalu memeriksa posisi Aretha sekali lagi.
“Sebentar ya, Sayang. Sakit sedikit.”
Areksa memegang tangan kecil putrinya. “Papa di sini.”
Jarum suntik kemudian mengenai kulit Aretha. Tangisan keras langsung pecah memenuhi ruangan.
“Waaa...!”
Wajah Areksa seketika berubah cemas. “Aretha...”
Adira yang sejak tadi berdiri di dekat pintu langsung mendekat. “Biar saya, Tuan.”
Setelah proses imunisasi selesai, Areksa menyerahkan Aretha kepada Adira.
Begitu berada dalam pelukan Adira, Aretha masih menangis sambil sesenggukan.
Adira mengusap punggung kecilnya perlahan. “Sudah, Non. Sudah... Jangan menangis. Sakit sedikit saja.”
Aretha masih merengek, tetapi perlahan tangisannya mulai mengecil. “Saya bawa Non Aretha keluar dulu, Tuan.”
Areksa mengangguk. “Iya.”
Adira kemudian membawa Aretha keluar dari ruangan.
Tatapan Areksa mengikuti mereka hingga sosok Adira menghilang di balik pintu.
Kenzo yang memperhatikan itu hanya tersenyum tipis. “Reksa.”
“Hm?”
“Gue baru tau lo sekarang punya babysitter secantik itu.”
Areksa menoleh tajam. “Kenzo.”
“Iya, iya. Gue diam.” Kenzo terkekeh lagi. Namun, senyum jahil di wajahnya tidak benar-benar hilang.
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah menjadi lebih serius.
“Tapi gue sekarang serius. Kok bisa dia yang nyusuin anak lo?”
Areksa menghela napas. “Dia baru kehilangan anaknya dua hari sebelum Aretha lahir.”
Kenzo langsung membulatkan mata. “Ck, gilaaa! Jadi dia sudah punya anak?”
“Iya.”
“Masih muda begitu?”
Kenzo melirik ke arah pintu ruangan, seolah masih bisa melihat Adira dari sana. “Dan cantik banget lagi.”
Areksa langsung menatapnya tajam. “Ken, lo benar-benar, ya.”
“Hehehe. Gue cuma ngomong fakta.”
Kenzo menyandarkan tubuhnya ke meja. “Tapi serius, Kok lo bisa dapat babysitter seperti itu?”
“Dia sahabat Aruna.”
“Sahabat?”
Kenzo terlihat benar-benar terkejut. “Gila. Gue baru tau.”
“Gue juga baru tau.”
Kenzo mengernyit. “Lah, kok lo baru tau? Lo kan suaminya Aruna?”
“Panjang ceritanya.”
Areksa bangkit dari kursinya. “Udah, ah. Gue mau balik.”
“Eh, tunggu dong, Rek.”
Kenzo ikut berdiri. “Gue mau kenalan sama babysitter lo.”
Areksa langsung berhenti. “Ngapain?”
“Ya kenalan.”
“Dia janda.”
Kenzo mengangkat alis. “Terus kalau janda kenapa?”
“Lo nggak keberatan?”
“Gue nggak pernah masalah sama status.”
Areksa mendengus. “Iya, lo memang nggak masalah. Tapi lo itu brengsek, Ken.”
“Heh!” Kenzo protes sambil tertawa.
“Ingat, gue memang pecinta wanita, tapi gue cuma setia sama satu perempuan.”
“Bukan urusan gue.”
“Terus kenapa lo kelihatannya keberatan banget gue kenalan sama babysitter lo?”
Areksa terdiam. “Gue cuma nggak mau lo macam-macam.”
Kenzo menyipitkan mata. “Gue nggak akan macam-macam.”
“Gue nggak percaya.”
“Ck.” Kenzo tersenyum semakin lebar. “Lo emang siapanya dia?”
Areksa mengernyit. “Apa maksud lo?”
“Atau jangan-jangan...” Kenzo sengaja mendekatkan wajahnya. “Lo suka sama dia?”
“Gak. Apaan!” Jawaban Areksa keluar terlalu cepat.
Kenzo langsung tertawa. “Nah! Nah! Kenapa langsung defensif begitu?”
“Karena pertanyaan lo nggak masuk akal.”
“Kalau memang nggak suka, kenapa keberatan gue kenalan?”
Areksa terdiam. Ia sendiri tidak tau harus menjawab apa.
Yang ia tau, sejak Kenzo tadi memandang Adira dengan tatapan seperti itu, ada sesuatu dalam dirinya yang terasa mengganjal.
Kenapa gue peduli?
Kenzo menepuk bahunya. “Nah, makanya kenalin gue sama dia.”
Areksa mendecakkan lidah. “Ck. Yaudah. Buruan.”
“Siap, Bos.”
Mereka pun keluar dari ruangan.
Di ruang tunggu, Adira masih duduk sambil menggendong Aretha. Bayi kecil itu sudah kembali terlelap setelah menangis cukup lama.
Begitu melihat Areksa keluar, Adira segera berdiri. “Tuan.”
Ia membungkukkan badan sedikit.
Areksa mengangguk. “Adira, ini Kenzo. Dia sahabat saya.”
Areksa melirik Kenzo. “Dia mau berkenalan sama kamu.”
Kenzo langsung maju sambil tersenyum ramah. “Hai, aku Kenzo.”
Adira membalas senyumnya dengan sopan. “Saya Adira, Dokter.”
Kenzo menatapnya beberapa saat, kemudian tersenyum semakin lebar.
“Nama yang cantik. Secantik wajahnya.”
Adira langsung terlihat salah tingkah. “Ah... terima kasih, Dok.”
Areksa memutar bola matanya. “Baru kenal sudah mulai.”
Kenzo menahan tawa. “Kenapa? Gue cuma kasih pujian.”
Adira yang mendengar itu hanya tersenyum canggung.
Sementara itu, Kenzo melirik Areksa dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Dasar buaya,” cibirnya pelan.
“Gue dengar. Hehehe.”
Areksa mendengus. “Sudah? Kenalannya?”
“Belum selesai.”
“Kenzo.”
“Iya, iya. Gue cuma mau ngobrol sebentar.”
Adira memperhatikan keduanya bergantian.
Dari cara mereka berbicara, jelas sekali bahwa keduanya sudah berteman sangat lama.
Adira melihat sisi lain dari Tuan Areksa—bukan sebagai seorang majikan yang tegas dan dingin, melainkan sebagai seorang sahabat yang bisa bercanda dan saling mengejek seperti anak kecil.
Tanpa disadari, senyum kecil muncul di wajah Adira.
Areksa yang kebetulan melihat senyum itu justru terdiam sejenak. Entah kenapa, melihat Adira tersenyum membuat dadanya kembali terasa aneh.
Dan ia semakin tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada dirinya.
***
Mereka pun mulai melakukan perjalanan pulang setelah selesai dari rumah sakit.
Areksa fokus menyetir, sementara Adira duduk di kursi belakang sambil menggendong Aretha yang masih tertidur pulas.
Sesekali Adira mengusap kepala kecil bayi itu, memastikan Aretha tetap nyaman setelah mendapatkan imunisasi.
Beberapa menit dalam keheningan, akhirnya Areksa membuka suara.
“Adira.”
“Iya, Tuan?”
“Apa Aretha akan sakit lagi nanti seperti sebelumnya setelah imunisasi?”
Adira mengangguk pelan. “Bisa jadi, Tuan. Tapi biasanya nggak akan lama kok. Itu hanya reaksi tubuh setelah imunisasi. Aretha mungkin jadi lebih rewel, mengantuk, atau suhu tubuhnya sedikit meningkat.”
Areksa langsung terlihat khawatir. “Demam?”
“Bisa saja suhu tubuhnya naik sedikit. Tapi Tuan nggak perlu terlalu khawatir. Kita lihat kondisinya nanti.”
Areksa menghela napas. “Saya paling nggak tega kalau lihat dia sakit.”
Adira tersenyum kecil. “Saya tau.”
Areksa meliriknya melalui kaca spion. “Dari mana kamu tau?”
“Kelihatan dari wajah Tuan.”
Areksa terdiam.
Adira kemudian melanjutkan sambil mengusap pipi Aretha. “Kalau nanti dia rewel, cukup dipeluk dan dibuat senyaman mungkin. Jangan panik. Saya akan bantu merawatnya.”
“Kalau dia demam tinggi?”
“Kita ukur suhunya. Kalau terlalu tinggi atau ada sesuatu yang membuat kita khawatir, langsung hubungi dokter.”
Areksa mengangguk. “Kenzo?”
“Iya. Dokter Kenzo juga bisa dihubungi.”
Areksa terdiam sebentar.
Kemudian ia berkata datar, “Jangan terlalu sering hubungi dia.”
Adira mengernyit. “Kenapa?”
“Dia terlalu banyak bicara.”
Adira tanpa sadar terkekeh kecil. “Tadi saya lihat Tuan juga banyak bicara dengan Dokter Kenzo.”
“Itu beda.”
“Bedanya apa?”
Areksa tidak langsung menjawab. Ia hanya fokus melihat jalan di depan.
“Pokoknya beda.”
Adira kembali tersenyum. Beberapa detik kemudian, Aretha bergerak kecil dalam pelukannya.
“Euh...”
Adira langsung menunduk. “Kenapa, Non?”
Aretha mengerutkan wajah sebentar, lalu kembali tertidur.
Areksa memperhatikannya melalui kaca spion. “Dia nggak menangis, kan?”
“Nggak. Cuma bergerak sedikit.”
“Syukurlah.”
Adira tersenyum. “Tuan benar-benar khawatir sekali.”
Areksa menghela napas. “Dia anak saya.”
Jawaban itu sederhana. Namun entah mengapa, Adira merasa ada sesuatu yang hangat di dalam dadanya ketika mendengarnya.
Ia kembali menatap wajah kecil Aretha. “Dia beruntung punya ayah seperti Tuan.”
Areksa terdiam. Tatapannya berubah sejenak.
Beruntung?
Ia ingin percaya begitu.
Namun di dalam hatinya, masih ada satu rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar pergi.
Karena setiap kali melihat Aretha, ia selalu teringat pada satu orang yang seharusnya masih berada di samping mereka. Aruna.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰