NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Suamiku Dokter Dingin Dan Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Intan Wiwi

Valen Adisty, seorang gadis yatim yang gigih dan penuh semangat, baru saja menyelesaikan pendidikan kedokterannya dan bersiap memulai karier sebagai dokter muda. Namun, kehidupannya berubah drastis ketika takdir membawanya masuk ke dalam pernikahan tak terduga dengan Kevin Axelle Rayyan, seorang dokter spesialis tampan, dingin, dan sangat disegani di rumah sakit tempat Valen bekerja.
Di mata orang lain, Kevin adalah sosok dokter hebat yang perfeksionis, pendiam, dan sulit didekati. Namun di balik jubah putih dan tatapan matanya yang tajam, Kevin menyimpan kehangatan—sekaligus sifat posesif yang luar biasa tajam hanya untuk Valen seorang.
Sebagai dokter baru sekaligus istri rahasia dari dokter senior papan atas, Valen harus berjuang menyeimbangkan profesionalitas kerjanya dengan dinamika rumah tangganya yang penuh intrik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejujuran Kevin

Melihat momen manis nan mendadak itu terjadi tepat di depan mata, Seinara, Jessy, dan Firly langsung saling pandang sekilas sebelum akhirnya pecah dalam sorakan kompak yang menggelegar di taman kampus.

"Cieeee! Dokter Kevin! Ada angin apa nih tiba-tiba?! Bunga spesial buat Valen doang nih ya?!" teriak Jessy tanpa ragu-ragu.

"Ehem! Ada yang diam-diam main belakang nih! Kok nggak bilang-bilang kalau udah ada pergerakan?!" seru Firly menimpali sambil bersiul menggoda.

Seinara bertolak pinggang, ikut berseru dengan tawa renyah, "Duh, Pak Dokter gercep banget ya! Selamat ya Valen, bunganya bagus banget. Tapi kok yang ngasih mukanya mendadak tegang begitu?"

Sorakan dan godaan dari ketiga sahabat itu sukses membuat Dokter Kevin salah tingkah hingga harus menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajah Valen makin memerah merona, mengalahkan warna mawar yang digenggamnya. Nathan yang baru datang menghampiri Seinara hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan istrinya dan para sahabat yang heboh mengerjai pasangan baru tersebut.

Dokter Kevin berusaha berdeham untuk menetralkan rasa canggungnya, sementara tangannya berpindah ke dalam saku celana. "Ehem... Kalian ini heboh banget. Saya cuma mau kasih apresiasi buat Valen karena dia sudah berhasil menyelesaikan studinya dengan baik."

"Apresiasi tapi bunganya paling besar sendiri ya, Dok? Pakai mawar merah lagi," goda Jessy sambil mengedipkan mata pada Valen yang makin menundukkan wajahnya, berpura-pura sibuk merapikan pita di buket bunga.

Nathan yang sudah berdiri di samping Seinara langsung merangkulkan tangannya di pinggang sang istri. Ia menatap sahabatnya itu dengan senyum tipis yang sarat arti. "Nggak usah banyak alasan, Vin. Dari awal kamu minta info jadwal wisuda kampus ini ke aku, harusnya aku udah paham arahnya ke mana."

"Nah kan! Ternyata ada keterlibatan suami aku juga di balik skenario ini!" seru Seinara seraya menatap Nathan penuh selidik namun diiringi tawa renyah.

"Mas cuma bantu kasih info, sayang. Sisanya pure perjuangan Dokter Kevin sendiri," sahut Nathan santai tanpa merasa bersalah, padahal ia memang tidak tahu sejauh mana perkembangan hubungan Kevin dan Valen.

"Terima kasih banyak ya, Dok... bunganya bagus banget," cicit Valen akhirnya bersuara, memberanikan diri menatap Kevin dengan senyuman manis yang tertahan.

"Sama-sama, Len. Semoga ilmu yang kamu dapat bisa bermanfaat," balas Kevin halus, matanya tak lepas menatap wanita di hadapannya itu.

Kehebohan di taman kampus itu terinterupsi saat rombongan orang tua berjalan mendekat. Papi Shandy, Mommy Merlin, Papa, dan Mama Adelia menghampiri mereka dengan raut wajah penuh kehangatan.

"Wah, ramai sekali di sini. Lagi pada ngobrolin apa sih?" tanya Merlin penasaran sambil merangkul pundak Seinara.

"Ini loh, Mom. Dokter Kevin tiba-tiba datang bawa bunga super besar buat Valen. Kayaknya sebentar lagi kita bakal dapet undangan baru," jawab Seinara antusias, sukses membuat Kevin dan Valen kembali jadi pusat perhatian seluruh keluarga.

Papi Shandy terkekeh geli melihat wajah Kevin yang memerah. "Bagus itu, Vin. Jangan mau kalah sama Nathan. Dia dulu paling susah dijodohkan sama Seinara."

"Papi, kok malah bahas aku sih," protes Nathan datar, membuat semua orang terkekeh melihat reaksinya.

Mama Adelia kemudian menyerahkan sebuket bunga lily putih yang elegan kepada Seinara. "Selamat ya, anak Mama yang cantik. Mama bangga banget sama kamu."

"Makasih banyak ya Mama, Mommy, Papa, Daddy," ujar Seinara haru seraya menerima bunga tersebut dan bergantian memeluk orang tua serta mertuanya.

Setelah sesi foto bersama selesai, Papi Shandy mengusulkan untuk makan malam bersama di sebuah restoran guna merayakan kelulusan Seinara. Para sahabat Seinara serta Dokter Kevin pun diundang untuk ikut bergabung.

Malam itu, suasana restoran mewah bernuansa warm lighting terasa begitu hangat dan penuh suka cita. Meja panjang yang disewa khusus dipenuhi tawa renyah, denting gelas, serta aroma hidangan lezat. Seinara, Jessy, Firly, dan Valen duduk berdampingan, sementara Nathan dan Dokter Kevin berada di sisi berseberangan bersama para orang tua.

Meskipun acara makan malam ditujukan untuk merayakan kelulusan Seinara dan ketiga sahabatnya, fokus godaan beberapa kali tetap melenceng ke arah Dokter Kevin dan Valen.

"Vin," celetuk Papi Shandy sambil memotong daging steak-nya, "kalau mau bikin acara sejenis ini lagi, bilang ya. Nanti Papi yang atur tempatnya."

"Waduh, Om Shandy langsung minta kejelasannya nih!" sahut Firly cepat, disusul tawa menggoda dari Jessy.

Dokter Kevin yang baru saja meminum air mineralnya hampir tersedak. Wajah pria yang biasanya dingin dan berwibawa di rumah sakit itu kembali memerah. "Belum sampai sana, Om. Saya masih mau memastikan Valen nyaman dulu."

Jawaban yang terkesan dewasa namun sangat jujur itu sukses membuat Valen makin menundukkan kepala, meminum supnya dengan salah tingkah. Sementara itu, Seinara menyikut pelan lengan Nathan yang duduk di sebelah kirinya.

"Lihat deh, Mas. Dokter Kevin ternyata bisa manis juga ya," bisik Seinara pelan.

Nathan menoleh, lalu mengelus lembut jemari Seinara yang melingkar di atas pangkuannya. "Manis sih manis, tapi tetap aja masih berguru sama Mas," balas Nathan percaya diri dengan nada setengah berbisik.

Seinara terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. "Narsisnya kumat."

Acara makan malam berlanjut dengan penuh kehangatan. Papa dan Mama Adelia berulang kali menyampaikan rasa bangganya pada Seinara, sementara Mommy Merlin tak henti-hentinya menatap sang menantu dengan pendar bahagia. Bagi mereka semua, kelulusan Seinara bukan sekadar pencapaian akademis, melainkan bukti kedewasaan dan ketangguhan wanita muda tersebut.

Setelah jam menunjukkan pukul sembilan malam, acara makan malam resmi berakhir. Satu per satu dari mereka berpamitan di area lobi restoran. Valen diantarkan pulang oleh Dokter Kevin tentu saja diiringi sorakan heboh dari Jessy dan Firly sebelum mereka berdua naik ke taksi masing-masing.

Di dalam mobil Kevin, hening mendadak menyelimuti. Namun Valen yang tidak betah dengan suasana canggung, akhirnya memecah keheningan.

"Dasar pembohong..." cibir Valen sambil bersedekap.

"Maksud kamu apa tuduh aku seperti itu?" tanya Kevin santai seraya melirik singkat ke arah Valen dengan senyum tipis di bibirnya.

"Aku nggak nuduh! Ini kenyataan! Bukannya semalam Dok... maksudku, Kamu... bilang ada jadwal operasi maraton hari ini? Terus kenapa tiba-tiba datang ke acara wisuda?!" tanya Valen semakin tegas, bibirnya mengerucut sebal.

Kevin tertawa pelan, suara beratnya terdengar begitu hangat di dalam kabin mobil yang tenang. "Oh, masalah itu. Baiklah, aku jawab sekarang ya."

Pandangan Kevin fokus pada jalanan di depannya, namun guratan senyum belum lepas dari wajah tampannya. "Kemarin setelah mengantar kamu pulang, aku menemukan selebaran undangan acara wisuda kampus kamu di meja. Dari situ aku baru ingat kalau hari ini adalah momen paling penting buat kamu dan teman-teman."

Nada suara Kevin perlahan berubah lebih lembut dan serius. Valen menahan napasnya saat menyadari pria di sampingnya itu kini secara alami mengubah gaya bicaranya menjadi lebih intim.

"Setelah itu, aku langsung koordinasi dengan tim dokter untuk memajukan semua jadwal operasi. Aku bela-belain tancap gas supaya bisa datang ke acara penting kamu ini. Alhamdulillah, semua operasi berjalan lancar dan baru selesai jam setengah empat sore tadi. Selesai dari ruang operasi, aku langsung bersihin diri dan berangkat ke kampusmu."

Kevin melirik Valen sekilas, menemukan wanita itu kini terdiam menatapnya tanpa kedip.

"Aku lega banget karena masih sempat kasih hadiah kecil itu secara langsung. Jujur, awal berangkat tadi aku udah sempat pesimis bakal terlambat," lanjut Kevin tulus.

Mobil berhenti perlahan saat lampu lalu lintas berubah merah. Kevin memutar tubuhnya menghadap Valen sepenuhnya. Tatapan matanya yang biasanya tegas dan tenang kini memancarkan kehangatan yang begitu dalam.

"Aku nggak mau melewatkan hari bahagia kamu, Valen. Aku cuma ingin jadi salah satu orang yang ada di sana buat mengapresiasi kerja keras kamu selama ini."

Jantung Valen berdegup kencang. Semua kejengkelan dan rasa sebalnya menguap begitu saja, berganti dengan desir hangat yang membuncah di dalam dada. Ia tidak pernah menyangka seorang dokter bedah yang terkenal amat disiplin dan sibuk seperti Kevin rela memajukan rentetan operasi rumit hanya demi hadir membawakannya seikat mawar merah.

"Kamu... benar-benar memajukan jadwal operasi cuma buat datang ke wisudaku?" tanya Valen pelan, suaranya hampir menyerupai bisikan.

Kevin mengangguk pelan, jemarinya bergerak ragu sebelum akhirnya terulur untuk merapikan sedikit helai rambut Valen yang terselip di dekat telinganya. Touch halus itu sukses membuat napas Valen tercekat.

"Iya. Dan melihat senyuman kamu waktu terima bunga tadi... rasanya semua rasa capek aku seharian ini langsung hilang begitu aja," ucap Kevin tulus, menyisakan keheningan manis di antara mereka seiring mobil yang kembali melaju membelah malam.

1
Intan Wiwi
sangat cocok untuk pembaca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!