NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

BAB 1: Penipu di Gerbang Kaca

10 Tahun Sebelumnya

[Sudut Pandang: SURA]

Kabut di Tebing Bisik tidak seperti kabut biasa. Ia tidak basah, tapi berasa asin dan lengket, seolah-olah laut di bawah sana sedang memuntahkan napas hantunya ke daratan.

Sura merapatkan mantel wol bekas yang ia beli di pasar loak dua hari lalu. Mantel itu kebesaran, baunya apek, dan ada bekas tambalan di siku kiri yang ia samarkan dengan sisa tinta hitam. Tapi itu adalah satu-satunya "baju layak" yang bisa ia pakai untuk berdiri di sini, di depan gerbang besi setinggi sepuluh meter yang memisahkan dunia orang biasa dengan Akademi Gagak Putih.

"Nama?"

Suara penjaga gerbang itu terdengar bosan. Dia adalah pria tua bungkuk dengan satu mata kaca yang tidak bergerak. Di meja kerjanya, bertumpuk gulungan surat rekomendasi dengan stempel lilin warna-warni—merah, emas, biru kerajaan. Semuanya asli. Semuanya dari keluarga terpandang.

Sura menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Di saku dalamnya, ada satu amplop kusut.

"Sura," jawabnya. Ia berusaha agar suaranya terdengar datar, meniru nada bicara para pedagang kaya yang sering ia lihat di ibukota. "Sura dari... Valerine."

Penjaga tua itu berhenti menulis. Mata aslinya melirik Sura dari atas kacamata, sementara mata kacanya tetap menatap kosong ke depan.

"Valerine?" gumam si penjaga. Ia membolak-balik daftar nama di buku besar bersampul kulit. "Tidak ada wilayah bernama Valerine di peta Ostand. Dan tidak ada keluarga bangsawan dengan nama itu."

Antrean di belakang Sura mulai kasak-kusuk. Anak-anak bangsawan dengan pakaian sutra dan pelayan pribadi mulai berbisik mengejek.

"Minggir, Tikus Kecil," celetuk seorang pemuda di belakangnya. "Kau menghalangi jalan Tuan Muda Kian."

Sura mengabaikan mereka. Ia menatap lurus ke mata penjaga itu, lalu mengeluarkan amplop dari sakunya. Dengan gerakan tenang—yang sudah ia latih ratusan kali di depan cermin retak di panti asuhan—ia meletakkan surat itu di meja.

"Valerine adalah wilayah baru di perbatasan selatan, Tuan," Sura berbohong dengan lancar. Tidak ada keraguan sedikit pun di wajahnya. "Tanah perkebunan anggur yang baru dibuka tiga tahun lalu. Ayah saya, Baron Valerine, mengirim saya ke sini karena beliau dengar Akademi ini menghargai bakat di atas silsilah."

Itu bohong. Tidak ada Baron Valerine. Sura menulis surat itu sendiri menggunakan tinta curian dan mencetak stempel lilinnya menggunakan cincin tembaga yang ia ukir sendiri dengan paku.

Penjaga itu mengambil surat tersebut. Ia meraba kertasnya (kertas murah), mencium bau lilinnya (lilin murahan), lalu mematahkan segelnya. Ia membaca isinya dalam diam.

Sura menahan napas. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut si penjaga bisa mendengarnya. Jika ia ketahuan memalsukan dokumen masuk Akademi Gagak Putih, hukumannya bukan sekadar diusir. Tangannya akan dipotong.

Penjaga itu mendongak. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang mengerikan.

"Tulisannya indah," kata penjaga itu serak. "Gaya bahasanya kuno, mirip bangsawan era Dinasti Lama. Dan stempel ini... ukiran tangan yang rapi."

Sura membeku. Dia tahu.

"Kau tahu apa hukuman bagi pemalsu dokumen kerajaan, Nak?" tanya penjaga itu pelan.

Sura mengepalkan tangan di balik lengan mantelnya yang kepanjangan. Ia punya dua pilihan: Lari dan dikejar anjing penjaga, atau... menggandakan taruhannya.

Sura mengangkat dagunya. Ia membuang topeng "anak patuh"-nya.

"Hukumannya adalah potong tangan," jawab Sura tegas. Ia mencondongkan tubuh ke depan, menatap tajam si penjaga. "Tapi saya dengar moto akademi ini adalah 'Veritas est Fragilis'—Kebenaran itu Rapuh. Jika saya bisa membuat Tuan percaya—walau hanya sedetik—bahwa Baron Valerine itu ada, bukankah saya sudah membuktikan bahwa saya layak masuk ke sini?"

Hening.

Angin laut menderu, menggoyangkan gerbang besi. Anak-anak bangsawan di belakang terdiam, kaget melihat seorang gembel berani menantang penguji.

Penjaga itu menatap Sura lama. Sangat lama. Lalu, tiba-tiba, dia tertawa. Tawa kering seperti suara kertas diremas.

"Cerdas," gumam penjaga itu. Ia mengambil stempel merah Akademi, lalu menghantamkannya ke atas surat palsu buatan Sura. BAM!

"Lulus," katanya.

Sura ternganga. "Apa?"

"Kami tidak butuh orang jujur di sini, Nak. Orang jujur mati muda di Ostand," si penjaga melempar surat itu kembali ke dada Sura. "Kau masuk Kelas C. Jurusan Fabrikasi dan Muslihat. Sekarang masuk sebelum aku berubah pikiran dan memanggil algojo."

Sura menyambar surat itu, kakinya gemetar saking leganya. Ia bergegas melangkah melewati gerbang besi yang terbuka sedikit. Ia berhasil. Dia masuk ke sarang monster.

Namun, sebelum ia melangkah jauh, sebuah suara menghentikannya.

"Teknik yang menarik."

Sura menoleh.

Sebuah kereta kuda hitam mengkilap berhenti tepat di samping pos penjaga. Pintunya terbuka, dan seorang pemuda turun. Dia seusia Sura, mungkin sekitar lima belas tahun, tapi auranya jauh lebih tua. Rambutnya hitam legam, disisir rapi ke belakang. Pakaiannya terbuat dari sutra biru malam dengan kancing perak asli.

Itu pasti "Tuan Muda Kian" yang dibicarakan orang-orang di antrean tadi.

Pemuda itu tidak menatap Sura dengan jijik seperti anak-anak lain. Dia menatap Sura dengan... rasa ingin tahu. Seperti seorang ilmuwan yang melihat spesies serangga baru yang aneh.

"Siapa namamu tadi?" tanya pemuda itu.

"Sura," jawab Sura waspada. "Sura dari Valerine."

Pemuda itu tersenyum tipis. Senyum yang sopan, tapi matanya dingin.

"Valerine," ulangnya pelan, seolah mencicipi kata itu di lidahnya. "Aku hafal nama seluruh 142 keluarga bangsawan di Ostand, lengkap dengan lambang dan moto mereka. Dan aku pastikan, Valerine tidak ada di antaranya."

Darah Sura berdesir. Pemuda ini berbahaya.

"Mungkin buku catatanmu kurang lengkap, Tuan Muda," balas Sura tajam, berbalik hendak pergi.

"Atau," potong pemuda itu, langkah kakinya terdengar mendekat. "Kau adalah penipu yang sangat berbakat."

Pemuda itu berjalan melewati Sura menuju gerbang. Saat bahu mereka bersisipan, dia berbisik tanpa menoleh.

"Namaku Kian. Kian dari Keluarga Arselio. Ingat nama itu, Sura. Karena sepertinya... kau akan menjadi satu-satunya hal yang menarik di sekolah membosankan ini."

Kian melenggang masuk, jubahnya berkibar ditiup angin, meninggalkan Sura yang terpaku di tengah jalan berbatu.

Sura menatap punggung tegap itu menjauh. Keluarga Arselio. Keluarga Duke terkaya dan paling berpengaruh di Ostand. Orang-orang bilang darah mereka berwarna emas.

Sura meremas surat palsu di tangannya.

"Lihat saja, Tuan Emas," bisik Sura pada dirinya sendiri, menyalakan api ambisi di dadanya. "Di tempat ini, kebohongan orang miskin bisa lebih tajam daripada pedang orang kaya."

Dengan napas panjang, Sura melangkah masuk ke dalam kabut Akademi Gagak Putih. Gerbang besi tertutup di belakangnya dengan suara dentuman berat, mengunci nasibnya.

Pelajaran pertama dimulai.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!