NovelToon NovelToon
DUA ALTER EGO

DUA ALTER EGO

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:861
Nilai: 5
Nama Author: Desty Haris Wahyuni

WARNING ***
Terdapat kata-**** ***** dan beberapa ****** ******

Ketika kejadian masa lalu membuat seorang gadis yang sedang merayakan ulang tahunnya justru harus kehilangan keluarganya, pembantaian yang terjadi tepat di depan mata seorang gadis kecil yang berusia 5 tahun yang sedang memeluk adik laki-lakinya yang berusia 3 tahun supaya tidak melihat ke jadian mengerikan itu walaupun dia yakin adiknya bisa mendengar suara jeritan dan kesakitan dari orang yang mereka cintai,mereka hanya mampu menangis dalam diam di balik tempat persembunyiannya

Membuat rasa trauma dan rasa takut yang berlebihan muncul di dalam diri gadis itu sampai membentuk jiwa baru yang tinggal bersama raganya

Apakah gadis itu mampu mengendalikan jiwa barunya atau jiwa baru itu lah yang akan menguasai tubuh sang gadis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desty Haris Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PEMBANTAIAN MASA LALU.

10 tahun yang lalu…

Hujan sedang turun membasahi kota A.

Di suatu Mension milik salah satu pengusaha terkaya tuan Albertson Thomson, pemilik Albe Company, sedang merayakan ulang tahun putri sulungnya secara sederhana yang hanya dimeriahkan oleh keluarga kecilnya dan para maid yang bekerja di Mension itu.

Elena Skhaya, wanita cantik yang menjadi istri tuan Albertson Thomson. Dari pernikahan mereka dikarunai dua orang anak bernama Alluna Skhaya Thomson dan adiknya Alfino Skhaya Thomson.

"Sayang, apakah kau yakin hanya ingin merayakan sesederhana ini?" tanya sang ayah.

"Iya ayah, aku hanya ingin merayakan bersama ayah, bunda, dan adik. Aku ingin berfoto bersama," jawab Alluna riang.

Setelah mendengar permintaan sederhana putrinya, mereka akhirnya berfoto bersama. Alluna sangat bahagia di hari ulang tahunnya, ia bisa merayakan bersama orang tuanya dan juga adiknya.

"Sayang, katakan pada ayah dan bunda apa yang kamu inginkan sebagai hadiah di hari spesialmu?" tanya sang ayah sambil menikmati kue ulang tahun sang anak.

"Apakah aku boleh meminta untuk liburan bersama, ayah?" tanya Alluna penuh harap.

"Iya sayang, nanti kita pergi liburan yah kalau sudah ada waktu," ucap sang bunda. Entah kenapa perasaannya sangat tidak enak sekarang, namun ia menutupinya karena sekarang hari bahagia sang putri.

Saat sedang asyik menikmati makan bersama dengan tawa yang tidak pernah berhenti, tiba-tiba tangan kanan ayahnya yang berjaga di Mension itu masuk ke dalam dengan wajah panik dan tergesa-gesa.

"Ada apa denganmu, Bram?" tanya Albertson.

Bram membisikkan sesuatu ke bosnya yang membuat wajah tuan Albertson menegang seketika. Setelah itu, Bram pamit untuk kembali ke depan tempat ia berjaga.

"Yah, ada apa?" tanya Elena sang bunda.

"Kita sudah pernah membicarakan ini sebelumnya, sayang. Mungkin ini waktunya siapkan semua berkas-berkas itu dan sembunyikan anak kita," ucap sang ayah dengan tersenyum lembut.

Sang bunda yang paham segera berlari ke kamar mengambil beberapa barang yang sudah mereka siapkan, menuruti perkataan suaminya.

"Ayah, ada apa?" tanya Alluna bingung.

"Tidak ada apa-apa, sayang. Alluna dengarkan ayah, apapun yang terjadi jagalah dirimu dan juga adikmu. Kalian tahu bukan ayah sangat menyayangi kalian," ucap Albertson pada kedua anaknya, lalu memeluk dan menciumnya beberapa kali.

Elena yang menyaksikan itu dari jauh saat ia hendak kembali menuju keluargannya hanya bisa meneteskan air matanya.

"Ya Tuhan, jika aku dan suamiku akan tiada malam ini, tolong jaga putra-putri kami, berikan kebahagiaan untuk mereka. Hanya itu yang kupinta pada-Mu," ucap Elena dalam hati. Sungguh ia tidak ingin anaknya terluka.

Elena segera menghapus air matanya, ia tidak ingin anak-anaknya juga bersedih.

"Yah, aku sudah menyiapkan semuanya," ucap sang bunda.

"Berikan ini pada Alfin dan sembunyikan anak kita, Bun. Perintahkan semua maid untuk bersembunyi, jangan keluar sampai semuanya aman," ucap sang ayah, lalu pergi mengambil katananya dan bergegas membantu Bram di gerbang utama Mensionnya.

Elena segera ke dapur menemui beberapa maid yang mulai panik dengan keadaan ricuh di halaman Mension.

"Kalian bersembunyilah, jangan keluar sampai semuanya aman." Setelah mengatakan itu, semua maid segera bersembunyi untuk menyelamatkan dirinya masing-masing.

"Bi Asih, ikutlah denganku," suara Elena menghentikan langkah Bi Asih, maid terpercaya yang sudah lama bekerja di Mension ini, bahkan sebelum Alluna dan Alfino lahir.

Bi Asih mengikuti langkah majikannya menuju salah satu kamar tamu yang berhadapan langsung dengan ruang keluarga.

Elena meminta Bi Asih dan kedua anaknya untuk masuk ke dalam salah satu lemari pakaian yang lumayan besar. Sebelum menutup pintunya, Elena memeluk kedua anaknya lekat, bahkan memeluknya sangat erat.

"Bundaa..." lirih Alluna dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.

"Alluna, Alfin, dengarkan Bunda. Jagalah ini untuk Bunda dan Ayah," ucap Elena, melepas kalung yang berada di lehernya dan memakaikannya ke leher Alluna, kemudian memakaikan kalung suaminya yang sudah di berikannya tadi ke leher Alfin.

"Bunda, Alluna takut," ucap Alluna lirih, sedangkan adiknya sejak tadi sudah menangis sesenggukan tak mengerti dengan keadaan yang membuatnya tak nyaman.

"Anak-anak Bunda anak yang kuat. Berjanji sama Bunda, kamu akan jaga dirimu dan adikmu, bahagiakan adikmu, sayang, hm?" ujar sang bunda.

Setelah itu, Elena memberikan sebuah tas kepada Alluna yang terdapat beberapa berkas yang nantinya akan berguna untuk mereka.

"Jangan biarkan tas ini diambil darimu, dan jangan biarkan siapapun membuka tas ini sebelum dirimu," pinta sang bunda.

"Bi Asih, aku titip anakku denganmu. Tolong jaga mereka dengan baik, aku hanya percaya padamu. Jangan keluar sebelum semuanya aman dan tetaplah diam. Bunda mohon, bila nanti waktunya tiba untuk keluar, bergeraklah dengan cepat. Jangan biarkan para polisi melihat kalian, karena mereka tidak akan membantu kalian, mereka bekerja sama," jelas Elena serius.

"Baik Nyonya, saya akan menjaga Non Alluna dan Den Alfin semampu saya," jawab Bi Asih dengan air mata yang mulai berjatuhan.

"Aku berikan ini padamu, jagalah dengan baik dan pakailah untuk biaya hidup kalian nanti," ujar Elena, memberikan satu tas berisikan uang kepada Bi Asih.

"Alluna, Alfin turuti kata Bunda, ya. Apapun yang terjadi, jangan mengeluarkan suara apapun," ucap sang bunda.

"I-iya, Bunda," jawab Alluna.

"Anak pintar, Bunda sangat menyayangi kalian," ucap sang bunda.

"Yahh..."

"A-yah, bangun..."

"Bunda mohon..." ucap Elena meratap putus asa.

"Dan sekarang giliranmu, Elena. Ini salahmu karena lebih memilihnya dibanding diriku," ucap sang pembunuh. Setelah mencapai kenikmatannya, ia mengarahkan ujung pistolnya tepat di kepala Elena yang sudah terlihat hancur, dan...

Dor!

Dor!

Dua kali suara tembakan kembali terdengar memekikkan, dan Elena mendapatkan dua tembakan, satu di kepala dan satunya lagi tepat di jantungnya, membuatnya mati seketika.

Bagaimana tidak, di depan matanya sang ayah ditembak tepat di kepalanya ketika sang ayah sedang memohon dan meminta belas kasihan dari pembunuh itu untuk membebaskan istrinya dari pemerkosaan yang dilakukan pembunuh itu kepada Elena.

"Akh, kau sungguh nikmat, Elena. Seandainya kau lebih memilihku, maka ini tidak akan pernah terjadi," ucap sang pembunuh yang sedang memerkosa Elena.

"Lepaskan aku, mohon lepaskan..." ucap Elena memohon, bahkan tenaganya tidak cukup untuk memberontak lagi.

"Lepaskan istriku, aku mohon. Kau boleh mengambil semuanya, tapi bebaskan istriku," ucap Albertson yang sedang terikat di sebuah kursi dengan bermandikan air mata.

"Kau tahu, selain aku ingin mengambil hartamu, aku juga sudah lama menginginkan istrimu. Tapi dia malah memilihmu, sialan," ucap sang pembunuh sebelum akhirnya menembak mati Albertson.

Dor!

Dor!

Dua kali tembakan itu menembus kepala sang ayah, bahkan isakan dari bundanya terdengar sangat memilukan.

Alluna, anak kecil berusia 7 tahun, menyaksikan ayahnya tertembak mati, dan ia hanya mampu memeluk sang adik yang berusia 5 tahun, memastikan Alfin tidak melihat kejadian mengerikan itu. Bayangkan saja, di usia mereka yang masih sangat kecil, ia harus melihat kematian orang tuanya secara langsung.

Alluna hanya menangis dalam diam, sakit sungguh hatinya sakit dan hancur melihat pembantaian keluarganya itu, sampai rasanya suara sudah tidak mampu ia keluarkan.

Bi Asih yang melihat anak majikannya itu hanya bisa menangis dalam diam, merasa iba dan juga khawatir terhadap mereka.

Bi Asih menunggu sampai subuh tiba untuk membawa kedua anak majikannya pergi dari rumah ini sebelum polisi datang untuk mengamankan rumah ini sesuai apa yang Elena katakan. Alfin sudah tertidur dalam pelukan Alluna, sedangkan Alluna hanya menatap kosong ke arah ayah dan bundanya yang sudah tiada.

Saat mereka sudah merasa aman, Bi Asih membawa kedua anak majikannya keluar dari rumah itu. Bi Asih menggendong Alfin yang sedang tertidur, sedangkan Alluna berlari memeluk ayah dan bundanya.

Ada rasa takut, sedih, dan marah yang berkecamuk dalam diri Alluna. Ia hanya mampu menangis tanpa suara, rasa sakit di hatinya seolah membakar dirinya.

"Non, ayo kita harus segera pergi dari sini," ucap Bi Asih menyadarkan Alluna dalam lamunannya.

"Ayah, Bunda... Alluna pergi dulu. Alluna janji akan jaga adik dan akan membalas mereka semua," ujar Alluna dengan mata yang memancarkan kebencian.

Bi Asih membawa kedua anak majikannya menuju terminal. Ia berencana untuk tinggal di pedesaan pinggir kota sampai semuanya aman.

Lamanya perjalanan membuat mereka sangat lelah, terlebih Alluna dan Bi Asih yang belum tidur sejak kejadian kemarin, hingga mereka tiba di tempat tujuan mereka.

Di sebuah pedesaan terpencil yang terlihat sangat asri dan nyaman, mereka tinggal di salah satu rumah kecil yang sangat sederhana.

"Non, masuklah di kamar itu dan beristirahatlah. Bibi tidur di kamar lainnya," ucap Bi Asih.

"Terima kasih Bi sudah membantu Luna dan Alfin," ucap Alluna kecil.

"Itu sudah tugas Bibi, Non," jawab Bi Asih sendu.

Alluna memasuki kamar yang terbilang sangat kecil. Alfin sedang tertidur lelap di kasur itu. Alluna hanya menatap adiknya sedih.

Selesai membersihkan diri, Alluna mengambil tas pemberian sang ibu, tangan kecilnya bergetar membukanya. Ia harus menjaga tas itu dengan sangat hati-hati.

Alluna terbilang sangat pintar di usianya yang masih sangat dini, ia bahkan sudah bisa membaca dengan lancar, menghitung, dan juga menguasai beberapa pelajaran lain dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Alluna membuka tas yang diberikan oleh sang bunda. Ada beberapa berkas dan kartu hitam, serta ponsel rahasia milik ayahnya. Alluna bingung apa yang akan dilakukannya dengan semua barang itu, hingga ia membaca sebuah catatan kecil yang ditulis bundanya:

"Sayang, saat kamu membaca ini, mungkin Ayah dan Bunda sudah tidak bersama kalian lagi. Jagalah berkas ini baik-baik. Ini semua adalah surat asli dari warisan Ayah dan Bunda untuk kalian berdua. Surat asli kepemilikan Albe Company, dan semua aset yang Ayah punya akan jatuh ke tangan kalian berdua saat berusia 17 tahun. Dan untukmu putriku, Alluna, gunakan kartu hitam ini untuk keperluanmu dan juga adikmu. Ayah percaya Alfin ada padamu, Nak."

Alluna kembali menangis lama membaca surat singkat yang ditulis langsung oleh ayahnya, mengingat bahwa orang tuanya sudah tiada.

Terluka hingga tak sengaja ia melihat catatan lain yang jauh lebih kecil terselip di antara berkas-berkas itu. Alluna membukanya lagi dengan ragu:

"Sayang, teleponlah nomor ini menggunakan ponsel Ayah dan perkenalkan dirimu. Hanya dia yang akan membantumu melawan orang-orang jahat yang akan berbuat jahat padamu dan adikmu. Turuti apa yang dia katakan, maka kamu akan tumbuh menjadi gadis yang kuat."

Alluna mengambil ponsel ayahnya. Ia yakin apa yang ayah dan bundanya katakan itu benar, maka ia tak akan ragu melakukannya.

…

Drrt… drrt…

Drrt… drrt…

Dering telepon mengganggu tidur seorang pria berkepala tiga itu. Seketika ia terkejut melihat nama siapa yang tampil jelas dalam panggilan itu — "Albertson", nama seseorang yang telah meneleponnya.

"Halo," ucap pria itu datar saat mengangkatnya.

"Aku Alluna, putri Albertson. Ayah memintaku untuk menelepon di nomor ini," ujar Alluna pelan.

"Tetaplah terjaga, jangan coba untuk tidur sebentar lagi. Aku akan menjemputmu. Dan satu hal lagi, aku hanya akan membawamu, tidak dengan adikmu, karena itu akan sangat berbahaya untuknya kelak," ujar pria itu, lalu mematikan telepon tanpa mendengar jawaban Alluna.

 

Dan inilah awal perpisahan alluna dengan sang adik Alfino skhaya Thomson.

1
Tosari Agung
thor saran ya kalau alter ego itu kejam dan nenanginnya agak lama jangan cuma satu jam udah tenang nah kalau ada dua tokoh punya alter ego maka dua duanya keluarin sekaligus atau pilih salah satu tapi harus benar psikopat karena cerita ini gak ada arah ke psikopat secara halus nya
Tosari Agung: sama-sama thor
total 3 replies
Dedek Titii (⁠◠⁠‿⁠◕⁠)
haii guys makasih udah mampir dan baca cerita akuu☺jangan lupa like, subcribe dan vote yaa guys(⁠◠⁠‿⁠◕⁠)🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!