Seorang wanita bernama Tiara Indah Soraya yang merupakan wanita yang sukses dengan kariernya sebagai desainer dan pemilik butik terkenal.
Tapi dibalik kesuksesannya tidak sebanding dengan kisah cintanya. Diusianya yang sudah dipenghujung kepala 2 membuatnya selalu diteror oleh ibunya untuk segera menikah.
Setiap hari ibunya selalu bertanya tentang laki laki bahkan dia juga sering menjodohkannya dengan banyak laki laki tapi semuanya selalu berakhir dengan ketidakcocokan.
Hal itu membuat ibunya sangat frustasi karena di usianya yang sudah tua dia ingin sekali menimang cucu dari putri tunggalnya.
Hingga akhirnya dia bertemu dengan Rivan dan besoknya langsung diajak menikah tanpa mengetahui asal usul dari pria tersebut.
Bagaimana kehidupan Tiara setelah menikah dengan Rivan? apakah rumah tangga mereka akan bahagia atau malah sebaliknya.
yuk ikuti dan baca novel keduaku ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolong
Tiara terus diseret oleh kedua pria yang tidak dikenalnya, hingga lengan bajunya robek karena terus meronta minta dilepaskan. Bahkan dia terus berusaha berteriak meminta tolong dengan air mata yang terus mengalir tiada henti.
Salah satu pria juga membantu temannya yang menyeret Tiara dengan membekap mulut Alya menggunakan tangannya. Agar Tiara berhenti berteriak meminta tolong takutnya ada yang mendengar teriakan Tiara.
" Aughh... " salah satu pria mengaduh sakit saat tangannya yang ada di bibir Tiara digigit oleh Tiara.
" Tolong...." teriak Tiara dengan suara yang keras, dia berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya.
Belum sempat dia berteriak lagi untuk kedua kalinya pipi Tiara sudah dipukul dengan keras oleh pria yang tangannya tadi digigit oleh Tiara. " Brengsek..!" umpat pria tersebut yang marah karena tangannya digigit dan mendengar Tiara berteriak keras.
Mereka terus membawa Tiara menjauh dari sana, dan Tiara terus meronta hingga salah satu sepatunya terlepas dari kakinya. Karena terus meronta melawan tidak mau diseret kedua pria tersebut. Hingga kini mereka sudah membawa Tiara dibelakang gudang yang berada dipinggir jalan.
*
*
*
Sedangkan seorang pria yang tadi menghentikan mobilnya saat menerima panggilan telepon dari bundanya. Kini dia meletakkan ponselnya dan akan menyalakan mesin mobilnya tapi diurungkan saat dia mendengar suara teriakan wanita yang meminta tolong.
Pria itu adalah Rivan, di terus mencoba menajamkan telinganya untuk mendengarkan lebih jelas suara tersebut. Tapi setelah ditunggu beberapa detik tidak ada suara minta tolong lagi.
" Hah... mungkin hanya suara angin yang terdengar seperti minta tolong" ucapnya bermonolog sendiri dan tersenyum samar tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya. Lalu dia memegang kunci mobilnya yang masih menancap ditempatnya.
" Tapi bagaimana kalo memang ada yang meminta bantuan?" tangannya masih memegang kunci dan belum menyalakan mobilnya, dan kini dia mulai ragu dengan pikirannya barusan.
Setelah lama mencoba mendengarkan lagi dan tidak ada suara sama sekali, dia mencoba mencari tau karena perasaannya mengatakan bahwa apa yang didengarnya tadi adalah nyata. Rivan langsung turun dari mobilnya dan mencoba menyusuri trotoar mencari tau kebenaran sumber suara yang didengarnya tadi.
Dia terus berjalan dengan pandangan yang terus mengawasi disekitarnya dan tanpa sengaja sepatunya menendang sesuatu saat berjalan. Lalu dia menghentikan langkahnya dan berjongkok mencari sesuatu yang tidak sengaja ditendang oleh kakinya tadi.
Dilihatnya ada satu sepatu yang kini dia ambil dan dilihatnya dengan teliti. " Ini sepatu perempuan" katanya sambil terus mengamati sepatu tersebut.
Rivan mencoba mencari di sekelilingnya siapa tau ada orang yang mencari sepatunya. Lama dia mengamati sepatu dan sekelilingnya tapi tidak ada orang sama sekali. Dia beranjak dari jongkoknya dan berjalan lagi, terus berusaha mencari asal suara yang didengarnya tadi.
Setelah melangkah terus hingga dia berada disebelah bangunan gudang besar. Dia terus berjalan kebelakang dengan hati hati, dan tanpa sengaja saat dia belum berada diujung belakang tembok, dia melihat bayang bayang orang yang berada dibalik tembok yang terlihat sepi.
Dia terus berjalan pelan hingga dia berada di tikungan tembok mendekati bayangan tersebut dan matanya langsung terbelalak saat dia mengetahui bayangan tersebut adalah 2 orang pria yang berusaha menodai seorang wanita yang tidak berdaya.
Tanpa berfikir panjang Rivan mencari sesuatu untuk dia gunakan sebagai senjata agar bisa menolong wanita tersebut. Dilihatnya ada kayu yang ada dibawah kakinya dan tanpa pikir panjang langsung dia ambil.
Lalu dia terus berjalan dan mendekat dengan pelan agar kedua pria tersebut tidak mendengar dan menyadari kedatangannya. Setelah dekat dia langsung mengayunkan dan memukulkan kayu tersebut pada salah satu pria yang berusaha menodai wanita tersebut.
Satu pria langsung terjungkal di atas tanah setelah terkena pukulan kayu dari Rivan. Dan itu membuat Tiara dan pria jahat satunya langsung menoleh melihat kearah Rivan. Pria yang memegangi Tiara terkejut karena tidak menyadari kehadiran Rivan. Dia langsung melepaskan Tiara dan langsung membalas Rivan dengan mengajaknya berkelahi.
Untung saja Rivan membawa kayu sehingga dia bisa melawan pria tersebut walaupun harus dengan tenaga ekstra karena dia tidak pernah mengenal yang namanya ilmu bela diri.
Sedangkan Tiara yang merasa tubuhnya terbebas dari 2 orang jahat itu langsung merapikan bajunya yang tadi hampir dibuka oleh 2 pria kurang ajar tersebut. Dia langsung menyingkir dari 2 orang yang sedang berkelahi dengan air mata yang masih mengalir bahkan tubuhnya masih bergetar hebat karena masih ketakutan.
Dia bernafas lega dan bersyukur karena ada yang datang menolongnya, tapi air mata terus mengalir membasahi pipinya. Dengan sisa tenaga yang dimiliki karena berusaha melawan 2 orang jahat tadi dia berjalan menjauh dari mereka.
Rivan terus berkelahi dengan satu pria jahat itu hingga akhirnya dia bisa melumpuhkan pria tersebut hingga akhirnya pria tersebut ikut tergeletak bersama temannya yang sudah terjatuh sebelumnya.
Dengan nafas yang cepat Rivan mendekati Tiara. Sedangkan Tiara yang masih trauma dengan kejadian yang baru saja dia alami, mencoba menghindar saat Rivan mencoba mendekatinya.
" Jangan takut! saya bukan orang jahat" katanya berusaha menenangkan Tiara sambil duduk di samping Tiara dan melepaskan jasnya lalu memakaikan di bahu Tiara saat dilihatnya lengan baju Tiara yang robek.
Tiara masih terus mencoba menghindari pria yang menolongnya dari 2 orang jahat tadi. Karena dia juga takut kalo ternyata orang yang menolongnya juga ingin berbuat jahat padanya seperti mereka tadi.
Tapi Tiara berusaha untuk percaya terhadap pria yang menolongnya tersebut. Karena lampu jalan yang temaram mereka tidak bisa melihat wajah mereka satu sama lain.
" Mari kita pergi dari sini, takutnya mereka tersadar dan mengejar kita" ucap Rivan mencoba membantu Tiara berdiri dari duduknya dan Tiara berdiri lalu mereka pergi dari sana sebelum kedua orang jahat tersebut sadar. ' *L*ebih baik aman dulu dari mereka' pikir Tiara.
Rivan terus membantu Tiara berjalan menuju mobilnya yang dia tinggalkan tidak jauh dari sana. Rivan membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Tiara untuk masuk kedalam. Tiara masuk dan duduk di bangku penumpang sebelah kemudi.
Rivan memutar tubuhnya dan masuk kedalam mobil dibalik kemudi. Dia memutar tubuhnya kebelakang lalu memberikan air putih yang dia ambil dari belakang joknya.
Tiara terus menundukkan kepalanya hingga Rivan memberinya air putih dan dia meminumnya untuk menghilangkan rasa hausnya dan menghilangkan gemetar tubuhnya. Saat Tiara minum saat itulah Rivan bisa melihat wajah Tiara dengan jelas.
" Kamu..!" sapa Rivan yang terkejut sambil menautkan alisnya. " Ternyata kamu..." melihat wanita yang dia tolong adalah wanita yang tadi dia temui di hotel dan dia tatap terus saat diluar hotel tadi.
Tiara yang sedang minum ikut terkejut karena suara keras Rivan yang mengagetkannya. Dia juga menatap pria yang menolongnya. Tiara langsung membelalakkan matanya saat tau pria yang menolongnya. " Kamu!" balik bersuara keras karena terkejut.
Lalu mereka tertawa karena tingkah konyol mereka di hotel tadi. Bahkan mereka tidak percaya bisa bertemu lagi seperti itu.