NovelToon NovelToon
JODOHKU MAJIKANKU

JODOHKU MAJIKANKU

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintapertama / Cintamanis / Perjodohan / Tamat
Popularitas:92.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nie Junie

Risha yang akan dijodohkan memilih kabur dari rumahnya, dan akan bertahan dengan bekerja menjadi ART.

Namun siapa sangka ternyata tempat ia bernaung adalah rumah lelaki yg akan dijodohkan olehnya.

Bagaimana Risha mengahadapi perjodohan ini, bagaimana lika liku yang akan dihadapi Risha?

Nantikan ceritanya disini yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nie Junie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 9 - PETANGNYA DAY 1

Rayhan dan Esa kembali ke kantor setelah selesainya mereka makan siang bersama di rumah Rayhan.

Kini Rayhan sedang duduk dibelakang kemudi bersama dengan Esa yang duduk di kursi penumpang. Sebenarnya Rayhan malas untuk kembali ke kantor namun ternyata ada rapat dadakan dari para petinggi direksi. Sehingga membuat Rayhan harus kembali ke kantor.

"Sa emangnya ga bisa besok aja ya rapatnya?" tanya Rayhan masih fokus ke jalan.

"Ga bisa Ray, katanya proyek di luar kota ada kendala dan harus rapat sekarang juga" jelas Esa.

"Ganggu orang mau iseng aja" lirih Rayhan namun masih terdengar oleh Esa.

"Apa kata lo Ray? Mau iseng?" tanya Esa memastikan.

"Salah dengar lo!" sangkal Rayhan yang tidak ingin Esa tahu apa yang ada di pikirannya.

"Ya udah up to you lah Ray. Gue capek, ngantuk" Esa yang seperti orang kelelahan langsung memejamkan matanya seolah ia ingin tidur.

Baru berapa detik ia menutup matanya, Rayhan yang berada di sampingnya langsung melemparkan tempat tisu ke arah Esa dan mendarat tepat di wajah Esa.

"Gila lo!" Esa langsung membuka matanya, menegakkan duduknya dan melemparkan lagi tempat tisu tersebut ke pangkuan Rayhan.

"Harusnya lo yang nyupirin gue. Ini malah terbalik" Rayhan yang kesal dengan kelakuan sahabatnya menoyor kening Esa.

"Weits biasa aja Ray. Tadi gue minta tuker lo ga mau" ucap Esa sambil tersenyum.

"Kapan lo bilang mau tukar?" Rayhan mengerutkan keningnya, berpikir.

"Tadi pas gue lagi merem Ray, lo ga denger ya?" tanya Esa tanpa rasa bersalah sedikitpun.

"Itu namanya lo mimpi sialan!" Rayhan kemudian meletakkan telapak tangannya ke wajah Esa.

Setelah tiga puluh menit mereka berkendara akhirnya mereka sampai di kantor. Mereka sampai kantor lima belas menit sebelum waktu rapat yang telah ditentukan.

Rayhan selalu mengikuti aturan perusahaan dengan sangat baik. Para direksi dan pemegang saham belum mengetahui bahwa ia adalah pewaris dari pemilik perusahaan tersebut karena Pak Bagas memang belum mengumumkan hal tersebut. Pak Bagas ingin mereka semua melihat Rayhan karena kinerjanya bukan karena faktor turunannya.

Sedangkan posisi CEO dijabat oleh orang kepercayaan sang papa. Dan hanya ialah satu-satunya orang yang tahu bahwa Rayhan adalah anak dari Pak Bagas.

Kini mereka berdua sudah berada di ruang rapat yang sudah dihadiri oleh beberapa petinggi direksi lainnya. Mereka akan membicarakan masalah proyek pengembangan taman yang bekerjasama dengan pemerintah. Perusahaan mereka bergerak di bidang properti, kesehatan dan fasilitas umum. Namun masih ada juga di bidang lain.

Ternyata pembicaraan mereka sangat alot, karena sudah satu setengah jam lamanya mereka rapat masih belum menemukan titik temu dari masalah tersebut. Hingga akhirnya rapat dilanjutkan esok bersama dengan petinggi lainnya dan pimpinan perusahaan cabang yang bermasalah dalam pembangunan tersebut.

"Sa kenapa bisa lambat begini sih pengurusannya? Terus untuk kendalanya kenapa pihak pimpinan cabang luar kota ga bisa atasi?" tanya Rayhan kesal.

"Itu katanya karena faktor cuaca ekstrim sampai akhirnya pembangunan terkendala. Dan buat pembebasan lahan yang masih ada warga menurut mereka ada warga yang menjadi provokator Ray. Jadi pembebasan lahan ini terhambat" jelas Esa sesuai dengan informasi yang ia dapatkan.

"Coba lo cari tahu. Kayanya ada yang main-main" Rayhan terlihat mengepalkan tangannya karena kesalnya sudah berada di ambang batas.

"Oke. Lo mau pulang?" tanya Esa karena mengingat rapat sudah selesai dan Rayhan sedang emosi, kalau dibawa bekerja tentu ia tidak akan fokus.

"Iya gue pulang aja. Lo tolong terusin" Rayhan langsung pergi menuju lift khusus untuk petinggi dan Esa menuju ruang kerjanya.

Rayhan berkendara dengan emosinya yang masih tersisa. Mobilnya berhenti saat lampu berubah menjadi merah. Saat ia sedang menunggu lampu berubah warna Rayhan mengalihkan penglihatannya ke arah taman yang ada dipinggir jalan.

Mata Rayhan terbelalak saat tak sengaja melihat wanita yang sangat dikenalnya. Ya dia pasti tak salah lihat. Wanita itu sedang berbincang dengan teman laki-lakinya, sangat akrab. Rayhan memperhatikan mereka yang tengah berbincang dan sesekali tertawa riang. Tak terasa ternyata Rayhan mengepalkan satu tangannya, dan satu tangannya lagi mencengkeram kemudi sampai buku-buku jari tangannya terlihat memutih.

"Mimpi apa gue semalem, habis ada masalah di perusahaan, sekarang tambah lagi masalah gue" Rayhan kemudian memukul setir mobil dengan kedua tangannya.

Rayhan yang menjadi sangat emosi akhirnya tidak jadi pulang ke rumah, tapi ia memilih untuk pergi ke pantai melepas penat dan emosinya. Di sana ia menenangkan pikirannya dan tengah memantapkan hatinya.

Sesampainya di pantai Rayhan langsung turun dari mobil kemudian berlari menuju tepian pantai, dan masuk ke air lalu ia lepaskan semua kekesalannya. Ia berteriak sekencang-kencangnya hingga tanpa ia sadari telah menitikan air matanya.

Ada beban yang masih Rayhan tanggung sampai saat ini, masih ada rasa yang tersirat dihatinya seakan ingin menolak namun tak bisa. Ingin bertanya namun entah kepada siapa. Dan seperti ada ganjalan besar dihatinya yang selalu diselimuti kecemasan.

"Sebenarnya apa mau gue! Apa yang harus gue lakuin!" Rayhan seakan bertanya pada hatinya yang terdalam.

Dengan isakan kecil yang keluar dari bibirnya ia kemudian berjalan gontai menuju tepian pantai. Ia duduk dan kemudian menidurkan badannya di pinggir pantai ditemani dengan matahari yang sedang terik-teriknya.

"Tuhan kalau memang jalanku hanya menuju kepadanya tunjukkanlah, tapi jika tidak maka hapuslah perasaan ini. Sudah terlalu lama Tuhan" ingin rasanya Rayhan mengeluhkan semua masalah hatinya, tapi tidak akan ia lakukan. Ia yakin semua ini memang takdirnya.

Rayhan kini sedang menantang panasnya matahari, yang mana membuat panasnya kian menjalar ke seluruh tubuhnnya. Ia pejamkan matanya merasakan suhu tubuhnya. Kemudian tak terasa ternyata ada seorang yang tengah memayungi bagian kepala Rayhan.

"Sedang apa Mas?" tanya pria tersebut.

"Lagi santai aja" jawab Rayhan singkat.

"Mau sewa payung?" tanyanya lagi.

"Boleh" jawab Rayhan kemudian mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar uang lima puluh ribu rupiah dan langsung diberikan kepada pria tadi.

"Makasih Mas" ucapnya kemudian ia merogoh sakunya ingin memberikan kembalian.

"Ga usah Pak, ambil aja kembaliannya" Rayhan menghentikan aktifitas pria itu untuk mencari uang di sakunya.

"Saya numpang duduk boleh?" tanya pria itu meminta persetujuan.

Rayhan hanya menganggukkan kepalanya dan kemudian ia berbaring lagi dengan payung yang sudah menancap di dekat kepalanya.

"Terkadang hidup sulit ya Mas, apalagi kalau sudah dikasih dua pilihan. Tapi yakin mas apa yang sudah ditakdirkan ialah yang terbaik. Udah ga usah cari lagi yang lain kalau gitu mah" ucap pria tersebut, sesekali ia menoleh ke arah Rayhan.

Rayhan menghela nafasnya seakan setuju dengan perkataan pria yang kini sedang menemaninya.

"Terkadang seseorang itu datang bukan untuk tinggal Mas, tapi hanya peran figuran dan jalan kita menuju takdir yang sesungguhnya" lanjut pria itu sambil terus memandangi laut yang berombak kecil.

Rayhan kemudian menatap pria tadi, ditatapnya pria itu dalam-dalam. Dipikirannya kini sudah dipenuhi dengan kata-kata dari pria yang kini tengah berdiri seperti akan meninggalkannya.

"Jodoh itu unik, kita mau lari kemanapun mau nolak seperti apapun kalau dia jodoh kita mau dikata apa, masalah hidup bergantungnya cuma satu Mas. Sama Tuhan" ucap pria itu sambil menunjuk ke langit. Ia pun pergi meninggalkan Rayhan yang kini masih bingung.

"Dia lihat gue apa ya tadi? Kok bisa ngomong gitu" Rayhan menggaruk tengkuknya, bingung.

Walau apa yang dibicarakan pria itu memang ada benarnya dan sebagian besar yang diucapkan memang tengah Rayhan hadapi. Rayhan kembali mencerna ucapan pria yang ia temui tadi, ia benar-benar meresapi apa yang baru saja ia dengar.

Sudah satu jam Rayhan berada di pantai, kini ia akan bergegas pulang. Ia ingin mengadukan segalanya di atas sajadah yang sudah beberapa bulan ini ia tinggalkan. Miris.

Rayhan menaiki mobilnya, dengan kecepatan sedang ia mengendarai mobilnya menuju rumah. Ia sudah lebih tenang saat ini. Perkataan pria di pantai tadi masih saja terngiang-ngiang di kepalanya.

"Bagaimana gue tahu seseorang itu yang akan tinggal atau yang hanya sekedar figuran?" itu yang selalu menjadi pertanyaan di hatinya.

Tak terasa Rayhan yang sibuk dengan pikirannya kini sudah berada di depan rumahnya. Ia langsung turun dan memberikan kunci mobilnya kepada pelayan di rumahnya untuk di parkir ke garasi.

Rayhan sampai di rumah sudah petang. Ia bergegas ke dapur namun yang dicari tak ia temukan. Akhirnya Rayhan langsung menuju kamar seseorang.

Tok... Tok... Tok...

Ceklek

"Mas Ray, sudah pulang?" ternyata ia mencari Risha dan menemuinya di kamar Risha.

"Iya gue baru pulang" ucapnya santai tak memperhatikan raut muka Risha yang mendadak berubah.

"Kenapa?" tanya Rayhan bingung.

"Mas Ray dari mana? Kok banyak pasir di celana, baju sampai rambut-rambutnya. Tadi ke pantai?" tanya Risha yang dijawab anggukkan oleh Rayhan.

"Guling-guling disana panas-panas terik tadi?" tanya Risha lagi yang mana membuat Rayhan membelalakkan matanya.

"Mana mungkin gue guling-guling di sana panas-panas Ris! Lo yang benar aja!" protes Rayhan sambil berdecak kemudian ia menaruh tangannya di depan dada.

"Terus kenapa bisa banyak pasir?" Risha tanpa sadar memegang lengan baju Rayhan yang dilipat sampai siku dan penuh dengan pasir, memutar badan Rayhan demi melihat pasir yang menempel di bagian belakang pakaian Rayhan.

"Tadi habis buang masalah di sana. Udahlah ga usah di bahas, gue mau mandi cepat siapin airnya!" perintah Rayhan kepada Risha yang belum selesai dengan penasarannya karena pasir yang menempel hanya bagian belakang saja yang paling banyak.

"Ris, Ris buruan" Rayhan menggoyangkan lengan Rayhan seperti anak kecil yang minta dibelikan mainan oleh ibunya.

"Iya iya, sebentar" Risha menutup pintu kamarnya kemudian berjalan melewati Rayhan menuju kamar Rayhan di lantai dua.

*******

"Mas airnya udah disiapin. Mas mau pergi lagi?" tanya Risha yang mana membuat Rayhan mengerutkan keningnya, bingung.

"Gue di rumah aja. Lo ngusir gue?" Rayhan malah balik bertanya.

"Bukan gitu mas Ray, kalau mau pergi nanti saya siapin baju buat pergi" jawab Risha santai sambil mengambil handuk dari dalam lemari pakaian Rayhan.

"Nih, handuk yang kemarin saya udah taruh di cucian" Risha menyerahkan handuk yang tadi ia ambil kepada Rayhan.

"Ya udah gue mandi dulu" Rayhan kemudian berlalu menuju kamar mandi.

Risha menuju walk in closet menyiapkan baju yang akan Rayhan kenakan nanti setelah ia mandi. Karena Risha belum terlalu hapal maka ia masih harus membuka satu per satu lemari pakaian milik Rayhan.

Ia mengambil sebuah baju berwarna biru dongker dan celana santai dengan warna senada. Namun saat ia menarik celana yang akan diambilnya, bersamaan dengan itu jatuh sebuah foto.

Diambilnya foto tersebut dan dilihatnya baik-baik. Ternyata itu adalah foto wanita, tapi bukan wanita yang selalu ada di samping Rayhan yang ada di foto dindingnya. Dibaliknya foto tersebut, ternyata ada sebuah tulisan "Inggit", mungkin nama dari wanita itu, pikir Risha.

"Risha...udah selesai belum siapin baju gue?" teriak Rayhan dari kamar mandi.

"Iya udah Mas" jawab Risha dengan berteriak juga.

Risha langsung meletakkan foto tersebut ke tempat semula dan membawa pakaian yang akan Rayhan kenakan. Risha menaruh pakaian tersebut di tempat tidur. Lalu ia mendekat ke kamar mandi dan mengetuk pintunya.

"Mas Ray pakaiannya di atas tempat tidur ya" ucap Risha dari depan pintu kamar mandi.

Setelah memberitahu hal tersebut Risha langsung berbalik badan hendak keluar kamar, namun langkahnya terhenti karena Rayhan memanggilnya, lagi.

"Risha, siapin baju muslim gue juga"teriak Rayhan lagi dari dalam kamar mandi.

Risha menghela napasnya kemudian menghentakkan kakinya, namun tak urung ia tetap kembali berjalan ke walk in closet untuk mengambilkan baju yang diminta Rayhan. Ia pun kembali membuka setiap pintu lemari pakaian Rayhan.

"Akhirnya ketemu" gumam Risha saat sudah menemukan pakaian muslim milik Rayhan.

"Apanya yang ketemu?" ucap seseorang di belakang Risha membuatnya terkejut.

"Astaghfirullah, Mas Ray! Hampir copot jantung saya!" Risha memegang dadanya dan mendekati Rayhan kemudian ia mencubit lengan Rayhan.

"Aww sakit Ris!" pekik Rayhan mengusap lengannya.

Risha tak sadar kalau Rayhan hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya. Dan saat ia melihat dada Rayhan yang bidang, langsung ia menutup wajahnya dengan pakaian yang dibawa tadi.

"Mas sana pakai baju" perintah Risha sambil masih menutup wajahnya.

"Bajunya aja sama lo Ris" jawab Rayhan santai.

"Nih pakai cepat!" perintah Risha lagi, ia memberikan pakaian Rayhan yang ada ditangannya dan berganti menggunakan satu telapak tangannya untuk menutupi wajahnya.

Setelah pakaian yang ia serahkan diambil oleh pemiliknya Risha langsung berjalan perlahan keluar walk in closet, kemudian berlari setelah ia keluar dari pintu tersebut. Tanpa terasa Rayhan mengulas senyum dibibirnya.

Rayhan menggelengkan kepalanya kemudian langsung mengenakan pakaian yang diberikan oleh Risha.

"Andai lo tahu Ris" lirih Rayhan.

Ia pun berjalan menuju tempat tidurnya. Kemudian mengambil ponselnya di atas nakas, dan mengecek laporan harian sebelum waktu sholat Maghrib datang.

_____________________________________

hai ketemu lagi sama aku...

ada yang mau kutanyain sama kalian nih readers...

kalian mau pakai visual atau ga...enaknya gimana terserah aja..nanti kita pilih jawaban terbanyak yaa...

makasih ya buat pembaca sekalian...happy reading

1
nisa
mksih kk ok critanya👍👌
Dewi Anggriani Efendi
ZzzZu
Anyta Djami Lay
visualnya
Aldy Yhla
💖💖💖💖
nie junie
buat pembaca novelku ini, yang mau ikutin kisah anaknya Risha dan Rayhan bisa ke apk yang lambangnya G ya...
terima kasih semua...
salam sayang...
TK
👍
StrawCakes🍰
aku mampir kak💖
StrawCakes🍰: sama-sama kak Junie
total 2 replies
❤ yüñdâ ❤
modus oohh modus 😂😂😂
nie junie: harus dong kak...biar tambah lengket 😂😂
total 1 replies
Bang Regar
👍👍👍👍👍👍
❤ yüñdâ ❤
nerus lg bacanya 🙈🙈🙈
nie junie: maacih kak yun 😗😗
total 1 replies
Neti Jalia
10 like untukmu🤗🙏
🜲 P̶e̶a̶c̶e̶M̶i̶n̶u̶s̶O̶n̶e̶
hmmm
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
next
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅
tap tap neng
🏘⃝Aⁿᵘᴠͥɪͣᴘͫ✮⃝ȋ⏤͟͟͞R🍒⃞⃟🦅: udah masuk list..sabar ya🤣
total 2 replies
TK
salam Anne dan Anna 🙏✌️
TK
next Thor
🌷Srie❤💋🍆
baru mampir lg
Rahmalia Maricar
next kak
TK
2 jejak semangat
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘ ve
Siapa yg tergila-gila dengan mama Risha, sehingga anaknya jadi korban penculikkan 😱

Semangat thor nie 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!