Apa jadinya kalau CEO dan asistennya selalu bertengkar hanya karena hal sepele?
Andrian yang selalu saja ribut dengan Jasmine asistennya dalam segala kesempatan. Tiada hari tanpa keributan antara mereka, dari saling mengejek dan menggoda jadi aktifitas mereka disela kegiatan kantor.
Seiring kebersamaan dan langkah mereka yang sering ribut justru menimbulkan perasaan nyaman antara keduanya. Namun gengsi seakan menahan perasaan keduanya untuk tidak terucap.
Mampukah mereka saling jujur akan perasaan masing-masing? atau justru terus terperangkap pada gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lijun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nonton
sore ini Jasmine pulang dari kantor dengan wajah yang teramat bahagia. Bagaimana tidak bahagia jika akan di jemput oleh pujaan hati.
Boby sudah menunggunya di loby kantor dengan motor matic yang dulu pernah di gunakan pemuda itu saat masih sekolah di Jakarta.
Andrian yang awalnya tidak mengijinkan Jasmine pulang lebih dulu jadi pusing sendiri dibuatnya.
Bagaiamana tidak pusing jika gadis itu terus saja mengganggunya bekerja bukan membantu. Ditambah lagi dengan ancamannya yang mengatakan akan menangis histeris kalau tidak di beri ijin pulang lebih dulu.
Saat di tanya alasannya, Jasmine langsung mengatakan agar tidak ada yang mengikutinya kalau pulang malam.
Jadilah Andrian mengalah dan membiarkan gadis itu pulang lebih dulu karena ia masih banyak pekerjaan. Kalau di biarkan Jasmine tetap di ruangannya dengan berbagai kalimat yang akan di keluarkannya.
Bisa-bisa pekerjaan Andrian yang masih banyak terbengkalai. Terkadang pemuda itu sampai merasa heran sendiri dengan posisi mereka yang jadi terbalik.
Dia yang seorang bos tapi bisa di kalahkan oleh bawahan hanya dengan ancaman sepele begitu. Sungguh aneh mereka berdua itu.
Senyum Jasmine mengembang sempurna saat mendapati orang yang akan mengajaknya jalan-jalan sudah ada di depan mata dan sedang tersenyum padanya.
"Lama ya?" tanya Jasmine.
"Tidak juga, aku baru sampai" jawab Boby menyerahkan helm pada Jasmine yang segera di terima oleh gadis itu.
"Kita mau kemana?" tanya Jasmine sebelum memakai helmnya.
"Ke bioskop tempat kita sering nonton dulu, ada film baru disana" jawab Boby.
Jasmine mengangguk lalu memakai helmnya kemudian naik ke atas motor.
Motor yang di kendarai oleh dua orang itu melaju keluar dari area kantor milik Andrian.
Jasmine sangat senang karena impiannya untuk bertemu lagi dengan Boby bisa terwujud. Ia juga sudah berencana akan mengatakan isi hatinya pada pemuda itu nanti saat waktunya tepat.
Ia tidak mau lagi menahan perasaannya sendiri, sudah sangat lama ia menantikan hal ini mengumpulkan segenap keberanian untuk mengatakan kejujuran perasaannya pada sahabatnya sekaligus cinta pertamanya.
Hari ini biarlah mereka bersenang-senang dulu, Jasmine tidak ingin merusak kencan pertama mereka ini.
Ya bagi Jasmine ini adalah kencan pertama mereka setelah sekian lama tidak pernah berjumpa.
Sampai di bioskop mereka menuju tempat tiket dan membelinya. Sementara Boby beli tiket, Jasmine pergi beli popcorn dan minuman untuk di dalam nanti.
Setelah semuanya lengkap, keduanya menuju ruangan di mana film mereka akan di putar.
Film dengan gendre roman action menjadi favorit keduanya, lebih tepatnya Boby saja. Karena Jasmine tidak ingin menggagalkan kesenangan Boby jadilah ia ikut menonton walaupun bosan dengan adegan actionnya.
Tapi kalau bagian romantisnya barulah Jasmine akan sangat antusias menyambutnya.
Disela-sela adegan romantis itu Jasmine mengkhayalkan jika itu adalah dia danBoby.
Dalam adegan itusi pria memberi kejutan untuk si kekasih yang batu di temuinya setelah mereka lama berpisah. Kejutan lamaran yang indah dan sangat manis membuat Jasmine benar-benar sangat menginginkan hal seperti itu menjadi nyata pada dirinya.
Apa lagi kisah mereka hampir sama, lama berpisah lalu berjumpa lagi. Bedanya Jasmine dan Boby bersahabat sedangkan di film itu sepesang kekasih.
Biarlah dia mengkhayal dulu saat ini, tidak lama lagi perasaan yang di simpannya ini akan di deklarasikan pada pemuda di sampingnya dengan harapan manis akan menjadi nyatanya seperti bayangannya.
Setelah 2 jam film yang di putarpun selesai, semua penonton yang ada di ruangan itu keluar. Begitupun dengan Jasmine dan Boby yang juga keluar dari sana.
"Mau kemana lagi kita?" tanya Boby membuka suara ketika mereka menuju parkiran.
"Kita cari makan yuk, aku lapar" ucap Jasmine.
"Ok" sahut Boby lalu mengambil motornya untuk di kendarai bersama Jasmine.
15 menit diperjalanan keduanya tiba di rumah makan pinggir jalan langganan mereka waktu sekolah dulu. Tempatnya masih sama seperti dulu dan masih tetap ramai juga.
"Kamu pesan apa?" tanya Boby pada Jasmine saat mereka masuk kedalam.
"Kaya dulu aja" sahut Jasmine.
Boby mengangguk lalu berlalu untuk memesan makanan kesukaan mereka jika di tempat itu.
Jasmine mencari tempat duduk dan ia memilih tempat yang berada di pojokan yang menampakkan ramainya jalanan malam.
"Sudah!" tanya Jasmine saat Boby duduk di depannya.
"Iya, rupanya pemilik tempat ini masih ingat pada kita tadi dia kaget waktu melihatku memesan" kekeh Boby.
"Benarkah! padahal sudah lama sekli ya kita tidak kesini, aku juga tidak pernah kesini lagi karena sangat sibuk" sahut Jasmine.
"Ya aku tahu kesibukanmu, kau kan si pemakan buku, hampir setiap hati kau selalu memegang buku tanpa lelah jika aku tidak mengajakmu pergi maka buku itu akan selalu didepan wajahmu" ucap Boby mengingat masa sekolah mereka dulu.
Memang dulu Jasmine suka sekali membaca buku, bukan hanya buku saja, koran atau majalah yang mengandung tulisan yang berisi informasi semua di bacanya ketika sekolah.
"Kamu pikir aku rayap pemakan buku apa? enak aja bilang aku makan buku" ucap Jasmine ketus melemparkan gumpalan tisu yang ia pegang.
Boby tertawa mendengar ucapan Jasmine.
"Ya kamu memang seperti itu dulu, kemanapun pasti selalu membawa buku di dalam tas mu walaupun di luar jam sekolah"
"Terserah sajalah aku lapar" cuek Jasmine lalu mulai makan karena pesanan mereka sudah datang dibawa seorang wanita yang mungkin pekerja di tempat itu.
"Hey hey kau ini tidak pernah berubah ya dari dulu, aku heran apa kau bisa menyukai seorang pria dengan sikapmu itu" ucap Boby mulai makan juga.
Yang ku sukai ya kamu batin Jasmine berseru mendengar ucapan Boby tadi.
"Aku para pria pasti akan mundur teratur jika tahu kau sangat ketus dan cerewet, ibaratnya petasan di nikahan orang betawi, nah begitulah kau jika sudah berbicara tapi kalau sudah cuek mereka pasti akan menatap aneh padamu" lanjut Boby.
Jasmine melirik tajam pada pemuda di depannya ini yang malah dibalas senyuman manisnya. Jantung Jasmine berdetak melihat itu, sungguh olahraga yang paling tidak menyehatkan.
Olahraga jantung bisa menyebabkan resiko penyakit atau lepas jantung gumam Jasmine dalam hati sembari terus makan dengan cuek untuk menutupi debaran jantungnya.
Selesai makan, Jasmine minta di antarkan pulang oleh Boby selagi masih belum terlalu malam. Jalanan masuk kedalam gang rumahnya pun belum terlalu sepi jadi masih aman.
"Minggu besok kita jalan ke taman bermain yuk, ada yang ingin ku katakan padamu" ucap Boby menatap Jasmine yang sudah berdiridi depan pintu rumahnya.
Boby mengantarkan Jasmine hingga depan rumahnya langsung karena sudah malam, ia tidak mau terjadi sesuatu pada gadis itu.
"Baiklah tapi kau yang beli tiket masuknya" ucap Jasmine tersenyum senatural mungkin agar tidak ketahuan kalau jantungnya kembali berdebar.
"Ok, nanti ku jemput lagi ya" kata Boby mulai memakai helmnya setelahdi angguki oleh Jasmine.
Boby mulai menghidupkan mesin motornya dan melaju keluar dari lingkungan rumahJasmine.
Gadis itu masih terus menatap Boby yang sudah jauh, ia sangat senang karena berpikir Boby juga memiliki perasaan yang sama padanya. Dan akan mengajaknya berpacaran.
Senyum Jasmine tiba-tiba pudar saat melihat bayangan seorang pria yang bersembunyi di balik pohon yang tidak jauh dari rumahnya.
Dengan langkah cepat ia masuk dan mengkunci rapat pintu bahkan kursi yang tidak jauh dari sanapun ia dorong untuk mengganjal pintunya.
"Semoga dia tidak menyusup kesini" gumam Jasmine mengganjal jendela rumahnya dengan segala yang bisa di gunakan.
Bahkandi samping ranjangnya ia sediakan sapu yang batangnya dari rotan untuk memukul jika ada yang masuk. Setelah semuanya di rasa aman tanpa bisa di terobos setidaknya sampai ia bisa mencari pertolongan.