“Apa yang ada di dalam fikiran kamu, dia itu adikmu?”
Sakti menundukkan kepalanya saat bentakan itu datang dari sang Bunda. Tak pernah sekalipun ia mendapat hal seperti ini dari kedua orang tuanya. Ia adalah seorang pemuda yang patuh, tak sekalipun ia membantah perintah dan keinginan orang tuanya. Termasuk memilih jalan hidupnya, ia pasrahkan pada kedua malaikat tak bersayapnya itu. Tetapi untuk masalah jodoh, entah kenapa ia sendiri pun tak pernah menyangka jika ia akan jatuh cinta pada Ayra. Gadis yang menyandang predikat resmi sebagai adik kandungnya sendiri.
Apakah yang Sakti fikirkan sehingga ia mencintai adiknya sendiri?
Bagaimanakah kisah cintanya akan berakhir?
Dapatkah semua orang menerima perasaannya yang tak lazim ini?
A story by : Myhani
Ig : Srihani.92
Fb : Srihani
Tg : Srihani.92
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan Ayra
“Abang marah ya?” Ayra membuka suara setelah sekian lama mereka diam-diaman.
Sakti yang sedang fokus mengemudi tak menjawab, bahkan melirik pun ia seakan tak mau.
“Abang, tadi itu tidak seperti yang Abang fikirkan kok. Kak Arsa ha-”
“Hanya apa?” Sakti memotong perkataan Ayra dengan cepat. “Kamu mau membela laki-laki itu? Andai Abang tidak cepat datang, kamu pasti sudah bertukar nomor telepon dengannya, iya kan?” lanjutnya lagi, masih dengan nada ketusnya. Bahkan ia menyahut tanpa melihat pada lawan bicaranya.
Sejak bertemu dengan Arsa tadi. Wajah Sakti tak menunjukan keramahan sedikitpun. Ia sangat tidak menyukai laki-laki yang suka modus, mencari celah agar bisa mendekati adiknya.
“Bukan. Ish makanya Abang dengar dulu.” Ayra mengerucutkan bibirnya.
Kesal bercampur gemas pada sang kakak mendominasi hatinya. Abangnya itu memang mempunyai watak yang keras. Jika ia sudah berkata A maka siapapun tidak akan bisa merubahnya menjadi B. Jika menurutnya itu adalah benar, maka ia tidak akan perduli jika menurut orang lain salah.
“Abang,” Ayra menggoyangkan lengan kiri Sakti yang berada diatas setir.
“Apa?” Sahut Sakti masih tanpa menoleh pada Ayra.
“Dengerin Ay dulu!” rengek Ayra, seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.
Sakti menepikan mobilnya di pinggir jalan. Ia melepas seatbelt yang melingkar di badannya. Kemudian beringsut menghadap Ayra dengan tatapan intens.
Mata Ayra kicep melihat apa yang dilakukan Abangnya, ditambah kini Abangnya itu menatap dirinya dengan aneh.
“Abang ngapain?” tanya Ayra. Ia memalingkan wajahnya, merasa serba salah mendapat tatapan seperti itu. Ya walaupun tatapan itu ia dapat dari kakaknya sendiri.
“Nunggu penjelasan kamulah. Memang kamu fikir Abang ngapain?” jawab Sakti, yang diahiri dengan pertanyaan.
Ayra menghembuskan nafasnya pelan. Kemudian ia pun duduk menyamping, mengikuti apa yang Sakti lakukan. Kini mereka berdua berhadapan. Mata mereka bertemu.
“Kenapa aku harus punya kakak setampan ini sih? Andai dia bukan kakak- Ah apa sih? Aku mikir apa coba?” monolog Ayra di dalam hatinya.
“Jadi?” tanya Sakti lagi tak sabaran. Membuat lamunan sesaat Ayra buyar begitu saja, saat mendengar suara berat sang kakak.
Karena Ayra tak kunjung membuka mulut dan berbicara, selama beberapa menit itu. Ia malah fokus memandangi wajah tampan kakaknya.
“Ekhm.. Begini loh, Bang.” Ayra memutus kontak mata mereka berdua. Ia kembali menghadap lurus ke depan. Sakti masih diam, kali ini menunggu dengan sabar apa yang akan di ucapkan adiknya.
“Tadi itu, Kak Arsa. Itu senior di kampus. Jadi waktu di kampus kak Arsa ngajakin kenalan sama Mita juga kok.” ia melirik sekilas pada Sakti yang maaih menatapnya dengan sebelah alis terangkat seakan tak percaya.
“Terus, waktu Ay nungguin Abang di halte. Kak Arsa nawarin bareng. Ya Ayra tolaklah, 'kan Ay mau dijemput Abang.” Kali ini Ayra menoleh dengan kedua sudut bibir melengkung sempurna, tersenyum semanis mungkin. Agar Sakti tak marah lagi.
“Terus masalah nomor?”
“Itu, Ay nggak enak nolaknya. Walaupun Ay tahu bahwa Abang akan marah karena sudah sembarangan memberi nomor Ay pada laki-laki.” Ayra menundukan wajahnya menyesal.
“Nah itu kamu tahu, lain kali jangan diulangi!” Sakti mengusap puncak kepala Ayra lembut. Ia kembali duduk dengan benar dan bersiap melajukan mobilnya. Senyum Ayra merekah mendengar nada bicara Sakti yang sudah melembut, berarti ia sudah dimaafkan.
S
hubungan sakti sama ayra tu sesungguhnya apa..