Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.
Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.
Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.
Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluh Kesah
Selamat membaca
Maafkan aku baru update
Sibuk merevisi Married With Single Daddy
Jangan lupa jempolnya (👍)
***
Tiga jam setelah pulang dari kantor Hana dan keluarga duduk di ruang tamu menghabiskan waktu bersama mengobrol. Ia juga menceritakan bagaimana awalnya mendapat loker di perusahaan tersebut. Semuanya berkat Audy sahabatnya yang sudah memberitahu. Kalau tidak mungkin sekarang ia tidak berada di perusahaan terbaik itu. Ada rasa yang susah diungkapkan dengan kata-kata. Beberapa hal pun yang masih mengganjal hatinya sejak pertama kali Hana bertemu dengan keluarga Winajaya. Mereka mengenal Hana? Apa memang seseorang yang ia maksud adalah orang yang sama dengannya? Hana menjadi penasaran. Apa harus ia yang cari tahu? Karena membuatnya amat tidak nyaman. Apalagi dengan sikap Bima membuatnya ganjil untuk seseorang yang pertama kali bertemu.
Hana duduk menyandarkan tubuh yang kelelahan. "Hari pertama benar-benar capek." keluhnya pada Bundanya yang sibuk dengan Itung-itungannya.
"Namanya juga kerja. Mana ada kerja gak capek. Penulis saja yang notabenenya hanya duduk di depan laptop dan memikirkan imaji mereka ke dalam tulisan agar menjadi sebuah cerita yang bagus dan bisa dinikmati pembaca, bisa capek yang benar-benar menguras tenaga dan otak pula. Jadi kamu jangan pernah mengeluh akan apa yang sudah kamu pilih. Kalau gak mau capek, gak usah kerja. Gitu saja kok repot." kata Bundanya dengan segala kata nasehatnya panjang lebar penuh tekanan membuat Hana tidak ingin menjawab. Keluh kesahnya malah di anggap serius.
Nah loh? Hana hanya mengeluh saja sudah disangka mengeluh karena pekerjaan yang berat padahal ia capek dalam arti biasa saja bukan hal berat yang Bundanya cetuskan. Hana melirik Ayahnya hanya mengangkat bahu pelan dengan bibir sedikit mendelit.
Helaan nafas terdengar gusar. Safira fokus kembali pada kerjaannya. Karena Hana tidak menjawab apapun setelah mendapat ceramahnya.
"Memangnya hari pertama kerjaan kamu berat?" tanya Ayahnya seraya membuka majalah bisnis yang sering dibaca sebelum menjelang tidur.
"Gak juga sih. Cuma tadi Hana banyak gerak kesana kemari terus beres-beresin dokumen di atas meja dan beberapa yang harus disiapkan besok." balas Hana kemudian menyuapkan kacang kedalam mulutnya dan posisi duduk bersila mengarah ke depan televisi.
"Bos kamu gimana? Ayah dengar dia anak pertama dari Pak Reza. Siapa namanya, Ayah lupa." Azata sembari mengingat-ingat nama yang di maksud.
"Namanya Bimantara Reza Winajaya. Masih hari pertama jadi belum tahu sifatnya secara keseluruhan."
Asal tahu saja Bosnya itu sifatnya lebih dari dosennya kuliah dulu saat di Bandung. Pak Karma, dosen setengah baya yang sering membuat mahasiswanya frustasi akan ujian lisan yang dibuatnya. Kalau Hana jujur akan sikap dan sifat ajaib Bosnya pada Ayahnya.
"Ayah mengenal Pak Reza?"
"Itu―Ayah hanya mengenalnya antar relasi bisnis saja. Tidak mengenal dalam arti dekat." Azata terlihat gugup namun kembali santai. Membuat Hana mendelik curiga akan kegugupan Ayahnya seperti ada sesuatu yang disembunyikan atau Hana tidak boleh mengetahuinya. Ia benar-benar penasaran.
"Hana kira Ayah kenal." Hana mendengus kecewa akan kenyataan yang tidak sesuai harapannya.
Azata menutup majalahnya. Meletakkannya di atas meja. Memfokuskan dirinya pada perbincangan dengan Hana putrinya. "Kenapa memang?"
"Bukan apa-apa hanya saja kalau Ayah kenal keluarga mereka suatu kebanggaan."
"Terlalu berlebihan."
"Tapi aneh saja. Saat aku ketemu dan memperkenalkan diri. Semuanya melihat Hana dengan tatapan penuh. Ditambah mereka juga sangat ramah menyambutku."
"Kamu jangan berharap apapun Hana. Wajar saja kalau mereka menatap kamu begitu. Karena kamu itu memang cantik dan anggun. Siapa coba yang tidak terpesona." ungkapan dan penilaian seorang Azata membuat Hana malu tiada tara. Azata melanjutkan ucapannya. "Mereka bersikap demikian karena memang harus di lakukan. Itu karena kamu akan berada disisinya selama bekerja dan menjaganya."
"Maksud Ayah, aku jadi Babysitter dia?" Hana teringat akan ucapan Ibu Luna yang memintanya untuk menjaga anaknya. Sudah bangkotan masa minta di jagain sama perawan lagi. Harusnya seorang pria lah yang menjaga wanita.
"Bukan jadi Babysitter. Tapi tugasmu mencakupi segala sesuatunya, termasuk hal pribadi sekalipun."
Hana manggut-manggut mengerti. Ayahnya memang pengusaha makanya dia tahu akan pekerjaan seorang sekretaris.
"Ayah dulu punya sekretaris wanita atau pria?" tanyanya penasaran. Melirik pada Bundanya ingin tahu reaksi yang akan di perlihatkan.
"Ayah dua kali ganti." balasnya sekilas memandang Safira yang tampil cantik dengan gamis berwarna khaki dengan kerudung cream.
"Dua kali?" Hana menjulurkan dua jari tangan berbentuk V sebagai dukungan reaksinya.
"Iya benar. Kenapa?"
"Hanya terkesan boros saja. Sampai dua kali ganti. Yang pertama siapa?" tanya Hana. Penasaran akan sekretaris pertama Ayahnya. Yang ia tahu kalau sekarang yang jadi sekretaris Azata adalah seorang pria, Lesmana.
Azata mendelik matanya ke arah Safira yang sejak tadi sedang ngitung-ngitung penghasilan toko kuenya dan menghentikan pekerjaan sejenak. Saat ada sesuatu yang menyangkut dirinya dalam percakapan. Hana menyadari akan maksud Ayahnya.
"Wait! Jangan bilang…"
"Benar, Hana. Yang pertama Bunda kamu. Dia adalah sekretaris Ayah."
Hana masih diam.
"Memang kenapa? Begini-begini Bunda adalah sekretaris terbaik Ayah kamu dulu." Safira angkat bicara. Hana menatap sosok wanita yang sekarang sudah berhijab. Ia amat sangat cantik dengan pakaian tertutupnya.
Hana kagum. "Jadi Ayah sama Bunda cinlok?"
"Kita sebelumnya sudah punya hubungan, Hana. Tidak ada yang namanya cinlok atau affair." kata Safira. Ia pun menceritakan kisah masa muda masa. Mereka berdua bertemu di Malang. Saat itu Bundanya sedang berlibur. Safira dan Azata diperkenalkan sepupunya seorang yang berprofesi sebagai Pilot. Yang tidak lain adalah Ayah kandung Hana.
Mendengar cerita masa lalu kedua orangtua angkatnya, Hana merindukan orang tua kandungnya. Meski hanya tinggal sebelah tapi beruntung kalau Hana masih memiliki Ibunya.
"Ayah harap kalau kamu tidak terlibat hubungan apapun dengan atasanmu, Hana. Profesional lah dalam bekerja."
***
"Kak Bi, dipanggil Daddy keruangan kerjanya." panggil Nadila memberitahu. Nadila melihat Bima terlihat lesu.
Bima menghela nafas gusar. "Memang harus?"
"Ya, haruslah Daddy yang panggil. Pasti ada yang penting kalau gak penting gak mungkin manggil. Masa gak mau samperin." balas Nadila mendelik ke arah Bima sedang menyandarkan tubuh di tumpuan sofa sambil memainkan ponselnya.
"Kakak tahu apa yang bakal dibahas sama Daddy. Males ah."
"Dila bukan mau nasehatin. Kakak coba temuin Daddy aja dulu. Kalau sekiranya tebakan kakak benar. Kakak bikin alasan lain aja untuk menghindar." kata bijak Nadila yang pertama kali Bima dengar langsung dari mulut dowernya. Bima kira seorang Nadila masih kekanak-kanakan, tapi dia sudah tumbuh menjadi wanita dewasa.
Bima mengacak-acak rambut Nadila. "Ternyata sudah menjadi wanita dewasa." katanya membuat Nadila malu dan bercampur kesal akan sikap Bima yang mengacak rambutnya.
"Baru tahu, Kak. Kamana wae?"
Ia tertawa. "Didieu yeuh."
Mereka saling membalas lontaran obrolannya dengan menggunakan basa sunda. Keduanya hanya bisa akan beberapa kata saja. Dulu diajarkan Anjasmara anak dari Mang Ujang penjaga Villa di Puncak Bogor. Dulu saat libur sekolah tiba. Keluarga mereka lebih memilih berlibur ke sana dibandingkan keluar negeri meski mereka sangat mampu.
"Kak?"
"Apa?"
"Sekretaris kakak yang namanya Hana mirip banget sih sama Kak Ara. Dila bukan mau mengingatkan soal wanita itu." Kata Nadila hati-hati. Tadinya ia sangat malas kalau
Bima tidak menjawab bukan hanya Bima yang berpikiran sama tapi juga keluarganya meski mereka hampir tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Tapi Bima maupun keluarga masih mengingat jelas wajah Clara.
"Kak, maaf kalau Dila lancang membahas dia dalam situasi kakak sedang melupakannya. Mungkin dengan datangnya Kak Hana bisa melupakan dia." kata Nadila, seakan mengatakan kalau Hana akan membuat Bima melupakan Clara.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja. Posisi badannya sedikit condong ke arah Nadila yang duduk di samping. Mengerit kening. Tidak suka akan perkataan Nadila yang memintanya untuk menjalin hubungan dengan Hana meski tidak mengatakan secara tidak langsung. Bima tidak pernah mengelak akan kemiripan mereka tapi bukan berarti Hana akan menggantikan sosok Clara. Sedangkan mereka baru sehari bertemu.
"Ara sama Hana berbeda meski agak mirip. Tapi bukan berarti wanita itu akan menjadi pengganti Ara. Kakak masih butuh waktu lagi untuk menjalin hubungan kedepannya tidak mau salah pilih. Karena itu sangat sakit."
Bima sendiri bertanya-tanya butuh waktu berapa lama lagi?
"Jodoh gak ada yang tahu. Aku suka sama Kak Hana."
"Suka? Memangnya kamu sudah mengobrol dengannya? Hingga kamu bilang suka. Jangan percaya orang asing apalagi yang baru dikenal." ujar Bima mengingatkan akan ucapan Tyana. Bicara soal gadis kecil itu, Bima jadi ingin bertemu kembali dengan kepolosan dan keceriaan Tyana.
"Cuma sebentar mengobrol di depan ruangan. Kak Hana orangnya asik diajak ngobrol. Dia bukan orang asing. Dia sekretarismu."
"Kenapa kalian belain dia terus sih?"
"Siapa membela siapa? orang Kak Hana gak salah. Yang salah kakak. Terlalu jutek dan cuek sama dia." desisnya memandang tajam pada Bima.
"Belain aja terus. Siapa juga yang jutek dan cuek. Gak merasa tuh!"
Nadila menggeleng. Kakaknya tidak bisa bohong akan sikapnya saat pertama bertemu dengan Hana. Seperti melihat mayat yang bangkit dari kuburan. Siapapun yang melihat akan percaya akan ucapannya.
Bima bangkit. Kemudian berdiri menunduk mengambil ponselnya tidak mau mendengar ucapan Nadila yang bawel macam bebek. Sebelum beranjak dari tempatnya Nadila menahan tangannya.
"Mau kemana?" tanya Nadila penasaran karena obrolan mereka belum selesai alias mengantung. Ia tidak suka akan hal itu. Bima bersidakep di hadapannya. Menatap penuh ketajaman.
Sudah lama keduanya tidak mengobrol dan berselisih paham seperti ini. Membuat Bima jengkel.
"Mau kemana?" Bima mengulang ucapan Nadila, adiknya. Sedangkan Nadila hanya manggut-manggut mengiyakan.
"Tentu saja menemui Daddy. Kamu lupa?"
"Benar juga, saking asyik ngobrol sampai lupa sama urusan sebelumnya. Tapikan―"
"Apalagi?" sahutnya cepat.
Nadila mendelik kesal. "Gak jadi. Sana pergi…"
Bima melangkah meninggalkan Nadila sendiri dengan wajah kesalnya. Ia sudah biasa menghadapi adiknya yang cerewet macam Nadila. Sekarang Bima pikirkan adalah mau apa Daddynya memanggilnya? Pasti tentangnya?
***
Terima kasih.