Dastan berasal dari negeri petir terlempar ke bumi untuk menyelamatkan diri dari kejaran The Destroyer dan mengumpulkan serpihan kristal petir. Dalam petualangan nya mengumpulkan serpihan kristal petir, dia dipertemukan dengan Ayesha yang akan membantu nya.
Ayesha merupakan keturunan dari Dewi Sekartaji Kediri. Akankah cinta tumbuh di hati mereka setelah melewati petualangan bersama mengumpulkan serpihan petir, bagaimana dengan misi menyelematkan negeri petir dari serangan destroyer.
Bagaimana kisah kelanjutan cinta mereka?Apakah mereka akan bisa bersatu dan menyelamatkan kan negeri petir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ruby kejora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 10 Bintang Jatuh
Setelah hujan turun seharian awan tidak berwarna gelap lagi, dan langit kelihatan cerah sekali.
Ayesha terbangun dari tidurnya dengan segar dan mendapati Dastan tertidur dalam posisi duduk menjaganya.
Ayesha memanggil namanya, namun Dastan tidak mendengarnya dan masih tidur. Kemudian dia menoleh ke arah jarum jam yang menunjukkan pukul empat sore.Dia merasa lapar dan teringat salad buahnya masih dimeja.
Ayesha mengambil salad membawanya untuk Dastan.
"Dastan...Dastan...bangunlah. Ini ada salad, ayo cobalah." kata Ayesha sambil menepuk pelan pundak Dastan.
"Oh....aku menunggumu tidur dan ikutan tertidur. Kau kelihatan segar, apa sudah baikan? Kau yang sakit, makanlah duluan." saran Dastan
"Ayolah, kau butuh nutrisi dan energi. Bukan, maksudku ini sebagai balasan rasa terima kasihku. Aku akan ambil lagi dua porsi makanan dari dapur." bujuk Ayesha sambil menyerahkan salad nya dan pergi ke dapur.
Dastan menerima nya dan menaruh kembali ke meja karena bukan dia semestinya yang makan.
Ayesha kembali dari dapur membawa dua porsi nasi daging dan sambal.
"Ayo kita makan Dastan setelah berhasil melalui mimpi buruk." kata Ayesha memaksa.
Mereka memakan dengan wajah damai, menikmati tiap sendok nasi dan daging yang masuk ke mulut.
"Kau melupakan salad nya. Tenang saja ini tidak akan membakar lemak di tubuhmu." kata Ayesha menawarkan salad lagi.
Dastan menerima salad yang berisi irisan kiwi, potongan anggur merah, jeruk ponkam dan apel yang tercampur dalam saus mayonaise dan susu serta serutan keju di atasnya. Dia mengaduk agar saus dan kejunya tercampur rata, kemudian menyuapkan satu sendok ke mulutnya. Dia merasakan sedikit berbeda dengan buah yang ada di negerinya tanpa tambahan saus untuk menikmatinya, manis, masam, segar jadi satu. Kemudian dia menghabiskan sendok demi sendok sampai habis.
Ayesha menatap jam di dindingnya yang menunjuk kan pukul empat lewat lima belas menit. Dia segera membereskan meja kamarnya, membawa kembali piring kotor ke dapur dan mencucinya, karena ayah dan ibu sebentar lagi datang. Sekembali dari dapur, Ayesha ke kamar Bisma dan mengintipnya namun tidak ada. Namun dia mendengar suara pancaran air dari shower di kamar mandi di sebelah kamar Bisma. Kemudian Ayesha kembali ke kamarnya teringat Dastan masih di sana.
Bisma masuk kamar mandi dari pukul empat tadi. Dia membawa serta beberapa mainan dan mengguyurnya dengan air dari shower, mengisi pistol air dengan air dan menembaki mainan yang dia susun berjajar di tepi bathub. sepuluh menit kemudian dia keluar kamar mandi mengenakan setelan merah bergambar spiderman berjalan ke ruang keluarga.
Terdengar suara ayah dan ibu memanggilnya di depan pintu masuk, Bisma menyambut kedatangan mereka.
"Bisma, apakah kakak sudah bangun?" tanya ibu
"Tadi masih tidur ibu dan aku baru keluar dari kamar mandi." jawab Bisma
Kemudian mereka berjalan bertiga menuju kamar Ayesha.
"Saatnya aku pergi Ayesha, atau kita dalam masalah jika bertemu Ayah dan ibumu sekarang." kata Dastan
"Tapi..., kata Ayesha terputus melihat Dastan menghilang dan liontin petir nya berkedip.
Ayesha duduk di tepi tempat tidurnya menunggu Kedatangan Ayah, Ibu dan Bisma. Beberapa saat kemudian Ibu mengetuk pintu kamar Ayesha dengan tak sabar dan langsung membukanya lalu mereka bertiga masuk.
"Kata Ayah badanmu panas, nak? Apa sudah baikan?" tanya Ibu cemas dan memeluk Ayesha.
"Panas ku sudah reda ibu, jangan khawatir tadi Ayah memberiku obat dan bangun tidur sudah kembali normal." jawab Ayesha
"Syukurlah kalau sudah baikan, nak. Makanlah yang banyak." kata ibu mencium pipi Ayesha.
Saat Ibu menggenggam tangan Ayesha, ibu merasakan telapak tangannya dingin, kemudian membalik tangan Ayesha dan melepaskan genggamannya.
"Apa ini nak, ada gambar bunga lottus di sini?" tunjuk Ibu
Ayah dan Bisma pun ikut melihatnya.
"Ini adalah hienna Bu, aku bermain hienna beberapa hari yang lalu." jawab Ayesha dengan tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
"Oh...anak Ibu sudah beranjak dewasa rupanya, sekarang sudah dua puluh dua tahun. Apakah sudah ada cowok spesial, nak? Kenal kan pada Ibu." kata ibu tersenyum.
"Itu...kalau ada aku akan tunjukkan pada Ibu." jawab Ayesha terbata sambil memikirkan Dastan dan membuat pipinya memerah.
"Kenapa wajahmu merah, nak? Apa ada yang kamu sembunyikan?" tanya ayah
Ayesha menggelengkan kepala nya pelan.
"Sebenarnya Kakak punya teman _" kata Bisma terpotong.
Ayesha menatap Bisma dengan tatapan memohon, sehingga dia tidak melanjutkannya.
"Maksud Bisma adalah teman baru dari media sosial, Ayah. Hanya chat saja belum pernah bertemu." jelas Ayesha dengan menunduk agar tidak ketahuan berbohong lagi.
"Hati-hati nak dengan orang yang baru dikenal terutama dari media sosial, jangan mudah percaya. Jika kau punya teman lelaki, kenalkan pada Ayah, dan Ayah akan menilainya." pesan Ayah
"Pasti Ayah, aku akan membawanya ke Ayah suatu saat nanti." kata Ayesha.
"Ibu mau mandi dulu Kak. Minumlah obatnya selama dua hari ke depan walaupun sudah reda panasnya, agar tidak demam lagi." kata ibu berdiri dan keluar dari kamar dan menarik tangan Ayah.
"Bisma, hampir saja tadi ketahuan. Sudah Kakak bilang jangan cerita pada Ayah dan Ibu dulu, kakak belum siap. Dasar kau...." kata Ayesha sambil melempar bantal ke arah Bisma dengan sedikit kesal.
"Tidak kena..." kata Bisma menghindari lemparan bantal dari Ayesha sambil berlari keluar dengan tertawa meledek Kakaknya.
Malam datang merayap menyelimuti bumi. Langit malam ini terlihat cerah, bulan sedang purnama. Suara tonggeret dan jangkrik bersahutan meramaikan malam yang hening.
Ayesha terjaga disaat yang lain sudah terlelap. Dia membuka jendela. Terdengar banyak suara ramai sekali di luar jendela. Dia melihat ke arah luar jendela tidak ada seorang pun di sana. Dia mencari arah sumber suaranya. Suaranya terdengar jelas dari bawah jendela, dan yang ada di sana adalah tanaman cabai. Dia menanam cabai karena cabai memproduksi oksigen di malam hari.
"Mungkinkah..." gumam Ayesha melihat pohon-pohon cabainya.
"Seharian hujan, banyak mineral yang kita peroleh untuk proses fotosintesis, rasanya segar , malam ini kita bisa menghasilkan oksigen melimpah."
Ayesha tidak mempercayai pendengarannya. Kemudian dia memegang succulent yang ada di kamarnya, cactus itupun mengeluarkan suara.
"Angin yang masuk kaya akan oksigen, benar-benar segar. Terimakasih Tuhan."
Ayesha berjalan menuju ruang keluarga yang terdapat tanaman juga. Mereka semua sama, mengeluarkan suara aneh, berbicara.
"Udara malam ini segar, sepertinya akan ada bintang turun dari langit."
Ayesha merasakan takut, kemudian dia berjalan menuju kolam ikan di halaman rumah. Dia berjongkok dan menyentuh air dalam kolam. Secara mengejutkan, ikan Nemo mendekati tangan Ayesha dan menggesekkan tubuhnya ke jari Ayesha.
"Ayesha, kenapa kau belum tidur, apa mau bermain denganku? ini sudah malam."
Ayesha mencoba menenangkan dirinya, menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Kemudian dia mencoba berbicara balik pada ikan Nemo.
"Nemo, apa benar aku bisa mendengar suaramu? Kenapa aku mulai bisa mendengar suaramu dan tumbuhan?"
"Kau mengenakan anting mutiara hitam dari Ratu Laut Selatan sehingga kau bisa berbicara dengan tumbuhan dan hewan. Kau akan mulai terbiasa setelah ini."
Ayesha hanya menatap nemo yang berenang menjauh dari jarinya. Kemudian Ayesha mengeluarkan tangannya dari kolam, memegang liontin petir di leher nya, berdiri dan berbalik.
Dastan muncul di sampingnya terpesona melihat Ayesha memakai setelan baby doll berwarna kuning lemon, bermotif bunga Kamboja di bagian bawah baju dan ujung bawah celananya. Ayesha tampak cantik bersinar di balik baju kuning itu, membuat kulitnya cerah ikut memantulkan sinar. Rambutnya terurai menutupi punggung sampai sebatas pinggang, mempertegas postur tubuhnya yang ramping dan tinggi. Mata Ayesha tampak bulat dan indah dengan bulu mata yang lentik. Senyum selalu menghiasi bibirnya yang mungil dan merah.
"Dastan... " panggil Ayesha mengagetkannya.
"Iya, apa ada sesuatu?" Jawab Dastan terbata-bata
"Sepertinya ada hal aneh lagi yang terjadi padaku. Aku bisa mendengar tumbuhan dan hewan bicara." kata Ayesha sambil menarik lengan Dastan menuju kolam ikan.
"Aku tidak mendengar apa-apa selain suaramu. Coba sekarang ceritakan padaku apa yang di ucapakan ikan-ikan di kolam?" kata Dastan sambil melihat mulut ikan
"Lelaki itu siapa namanya, Dastan ya. Dia tidak mengerti bahasa hewan dan tumbuhan. Dalam waktu dekat dia akan menyadari perasaannya dan mengungkapkannya padamu."
"Benarkah itu Dastan, apa yang akan kau ungkap?" Tanya Ayesha dengan pipi yang bersemu merah jambu
"Apa yang dikatakan ikan di kolam?" kata Dastan sedikit kaget.
"Ah....itu panjang, aku tanyakan lagi biar jelas." jawab Ayesha gugup kembali menatap ikan nemo
"katakan saja padanya sebentar lagi akan ada bintang jatuh di arah barat.''
"Akan ada bintang jatuh di arah barat, sebentar lagi." kata Ayesha menirukan ikan Nemo dan berbalik menghadap Dastan
"Oh ya...berarti kita harus waspada dan hati-hati." kata Dastan
"Bintang yang jatuh dari langit terlihat bagus, kenapa harus berhati-hati? Saat bintang jatuh kita bisa mengucapkan keinginan kita." terang Ayesha
"Bintang jatuh adalah benda langit bisa besar atau kecil yang beredar dekat dengan orbit bumi dan tertarik ke bumi karena gaya gravitasi bumi, namun terjadi gesekan dengan lapisan mesosfer sehingga terbakar dan pecah. Karena letaknya yang jauh dari bumi maka terlihat kecil dan seperti bintang. Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi nanti di sini." terang Dastan
"Kau seperti ensiklopedi saja. Kita tunggu bintang jatuhnya disini." ucap Ayesha tersenyum mengajak Dastan duduk di halaman rumah.
"Bagaimana kalau masuk saja, demam mu baru saja reda." saran Dastan
"Jangan khawatir, semua sakit bersumber dari pikiran. Kalau pikiran senang, jauh dari sakit." kata Ayesha
"Ternyata kau keras kepala." Kata Dastan
"Sebentar saja, aku suka melihat bintang dan bintang jatuh, setelah melihat bintang jatuh aku akan masuk." kata Ayesha
Dastan menuruti permintaan Ayesha untuk melihat bintang jatuh. Mereka duduk bersebelahan di halaman, menatap ke atas, melihat kerlip bintang dan sejenak melupakan waktu.
"Lihat itu rasi bintang sagitarius. Manusia setengah kuda bernama Chyron yang memanah." tunjuk Ayesha dengan tawa lebar.
Dastan hanya diam memandangi Chyron di langit.
"Ayesha sebenarnya aku tidak tahu apa ini, aku selalu merasa berdebar hebat saat berada dekatmu. Kau bagai magnet bagiku." ungkap Dastan pelan menoleh ke arah Ayesha.
Ayesha samar-samar mendengar cerita Dastan. Dia lebih fokus menunggu bintang jatuh, untuk mengungkapkan keinginannya. Dan beberapa saat kemudian bintang jatuh melintas.
"Lihat...Bintang jatuh melintas. Ucapkan keinginanmu sekarang, Dastan." kata Ayesha sambil menutup mata dan mengucap kan keinginannya dalam hati.
Dastan melihat Ayesha yang bersungguh-sungguh memanjatkan keinginannya. Kemudian mengikuti Ayesha.
"Tuhan tolong berikan aku keberanian untuk mengungkapkan perasaanku pada Ayesha." ucap Dastan lirih hampir tidak terdengar.
"Apa yang kau minta?" tanya Dastan penasaran
"Itu rahasia. Bagaimana denganmu, Dastan ? Apa yang kau minta" tanya Ayesha tersenyum lebar.
"Itu aku akan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu." jawab Dastan.
"Bintang jatuh sudah melintas, sekarang aku antar kembali ke kamar mu." ajak Dastan
.
Dastan menyentuh pundak Ayesha dan berteleportasi ke kamar Ayesha. Sesampainya di dalam terdengar suara dentuman keras di arah barat. Mereka melihat dari jendela. Ada sinar yang menyala terang yang terasa negatif.
"Apa itu Dastan?" tanya Ayesha
"Sepertinya itu meteor lanjutan dari bintang jatuh tadi. Dari suara dentumannya yang keras menandakan benda yang jatuh berukuran besar. Besok saja kita cek ke lokasi. Selamat malam, sampai ketemu besok pagi. Sekarang beristirahatlah." pinta Dastan
Dastan menghilang dan liontin petir berkedip hijau. Ayesha pun merebahkan badan ke tempat tidurnya dengan nyaman.
Mohon maaf lahir dan batin...
Sehat, bahagia dan sukses selalu ya..🥰
Semangat berkarya Kakak ⭐❤️❤️❤️❤️❤️⭐