Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.
Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**
Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.
Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.
Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10
Basah Kuyup dalam Kemejanya
Tatapan itu pecah ketika guntur kembali menggetarkan kaca jendela.
Bara membawa Arum masuk dan menurunkannya di kursi ruang tengah. Tangannya bertahan satu detik terlalu lama di pinggang gadis itu sebelum akhirnya terlepas.
"Ganti baju," katanya.
Arum melihat genangan yang terbentuk di bawah sepatu mereka. "Mayor juga."
"Aku setelah kamu."
"Punggung Mayor harus dibersihkan dulu."
"Arum."
"Pak Mayor."
Bara mengembuskan napas. "Lima menit. Ganti baju, lalu periksa perbannya."
Arum masuk ke kamar utama. Dua potong bajunya yang lain masih tergantung di halaman dan sekarang basah kuyup. Di atas kursi, hanya ada kemeja lapangan lama milik Bara yang tadi hendak ia rapikan.
Ia mengenakannya.
Kemeja itu terlalu lebar di bahu dan panjangnya berhenti beberapa jari di atas lutut. Arum menggulung lengan sampai pergelangan, lalu menatap kakinya yang terbuka. Tak ada sarung atau rok kering di kamar.
Ia menarik ujung kemeja serendah mungkin dan keluar dengan langkah kecil.
Ruang tengah kosong.
Suara air mengalir terdengar dari kamar mandi.
Arum bergegas ke sana. Bara berdiri membelakanginya, menyiram air dingin ke kepala dan bagian depan tubuh. Kasa di punggung sudah ditutup kain plastik sementara agar tidak basah.
"Mayor sedang apa?"
Bara mematikan keran. "Membersihkan lumpur."
"Dengan air sedingin itu?"
"Airnya biasa."
"Tangan Mayor sampai mengepal."
Ia tidak tahu bahwa air dingin bukan hanya untuk lumpur. Setiap kali Bara memejamkan mata, ia merasakan kembali tubuh lembut Arum di lengannya, jemari di lehernya, dan wangi melati bercampur hujan. Air dingin adalah satu-satunya cara mengembalikan kendali tanpa menakutinya.
Bara mengambil handuk dan berbalik.
Tatapannya langsung jatuh pada Arum yang mengenakan kemejanya.
Kakinya yang berisi terlihat dari bawah kain. Rambut basah menjuntai di satu bahu. Kemeja yang biasanya longgar di tubuh Bara kini mengikuti lekuk tubuh Arum dengan cara yang membuat tenggorokannya kering.
"Kenapa memakai itu?" tanyanya kasar.
"Baju saya basah semua."
"Pakai selimut."
"Kalau pakai selimut, bagaimana saya mengganti perban Mayor?"
Bara memalingkan muka. Otot di rahangnya bergerak. "Tunggu di ruang tengah."
Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan kaus kering. Arum telah menyiapkan salep dan perban. Ia berdiri di belakang Bara, membuka kasa sementara, lalu membersihkan luka yang terbuka kembali. Tidak ada robekan dalam, hanya bagian tepi yang berdarah akibat benturan.
"Besok tetap harus diperiksa dokter," kata Arum.
"Kalau tidak demam, tidak perlu."
"Saya akan bilang kepada petugas kesehatan."
"Kamu mengancam Danyon?"
"Saya melaporkan pasien keras kepala."
Bara hampir menoleh, tetapi Arum menahan bahunya. "Jangan bergerak."
Ia menurut.
Setelah perban baru terpasang, Arum mengambil handuk kering. Rambut Bara masih menetes ke leher. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri di depan lelaki itu dan mengusap rambutnya.
"Aku bisa sendiri."
"Tangan Mayor harus menahan tongkat."
"Aku sedang duduk."
"Kalau begitu diam."
Kata yang biasanya keluar dari mulut Bara kini digunakan untuk memerintahnya. Lelaki itu menatap Arum dari bawah handuk, tetapi tidak menghentikan gerakannya.
Arum mengeringkan rambut di pelipis, lalu turun ke rahang. Setitik air menggantung di ujung dagu Bara. Jari Arum menyentuh kulit di sana saat hendak menghapusnya.
Keduanya membeku.
Kulit Bara panas, berlawanan dengan air dingin yang baru mengguyurnya. Arum merasakan otot rahangnya menegang di bawah ujung jari.
"Maaf," bisiknya.
Ia menarik tangan. Bara justru menangkap pergelangannya.
Tidak keras. Hanya cukup untuk membuatnya berhenti.
Tatapan Bara turun ke bibir Arum, lalu kembali ke matanya. Wangi melati muncul lagi dari rambut yang lembap.
"Jangan berdiri terlalu dekat kalau kamu tidak tahu akibatnya," katanya pelan.
Arum menelan ludah. "Akibat apa?"
Jari Bara mengencang sedikit, kemudian terlepas.
"Tidak ada."
Ia berdiri terlalu cepat dan berjalan ke kamar mandi. Keran kembali dibuka.
Arum menatap punggungnya yang menghilang di balik pintu. "Mayor belum selesai dikeringkan!"
"Sudah."
Untuk kedua kalinya malam itu, suara air dingin mengalir.
Arum berbalik dengan wajah panas. Ujung kemeja tersangkut sudut meja. Saat ia melangkah, kain tertahan dan kaki kanannya kehilangan keseimbangan.
Nyeri menusuk pergelangan.
"Ah!"
Suara air langsung berhenti. Bara keluar dengan rambut kembali basah.
"Apa lagi?"
"Tidak apa-apa."
Arum mencoba berdiri tegak. Kakinya justru bergetar.
Bara mendekat dan mengangkatnya tanpa bertanya. Arum refleks merangkul lehernya. Kemeja yang kebesaran naik sedikit di paha, lalu segera ditarik turun oleh tangan Bara setelah ia mendudukkan Arum di tepi ranjang.
Gerakan itu cepat dan penuh hormat, tetapi telinga lelaki itu kembali merah.
"Jangan bergerak."
Bara mengambil minyak param dan berlutut. Ia menopang tumit Arum di atas lututnya, lalu memeriksa pergelangan yang mulai bengkak.
"Ini kaki yang sama."
"Saya tahu."
"Kamu tidak pernah belajar?"
"Mayor juga jatuh dengan punggung yang sama."
"Aku jatuh untuk menangkapmu."
"Saya keluar untuk menyelamatkan pakaian Mayor."
"Pakaian bisa dicuci lagi."
"Tubuh Mayor juga tidak bisa diganti."
Tangan Bara berhenti mengoleskan minyak.
Arum baru sadar betapa jujur kalimat itu. Ia menunduk, tetapi Bara telah mendongak.
Mereka sangat dekat. Lelaki itu masih berlutut di antara kakinya, telapak tangannya hangat di pergelangan, sementara hujan terus memukul atap.
"Kamu takut aku terluka?" tanyanya.
Arum menggenggam ujung kemeja. "Saya takut Mayor tidak pulang."
Bara menatapnya tanpa berkedip. "Aku hanya pergi ke halaman."
"Hari ini iya. Besok Mayor bisa kembali bertugas."
"Itu pekerjaanku."
"Saya tahu." Suara Arum mengecil. "Ayah juga selalu bilang begitu. Setiap kali pergi, beliau bilang tugasnya hanya sebentar. Suatu hari beliau tidak kembali. Tidak ada yang menjelaskan apa pun kepada saya. Saya hanya disuruh berhenti menunggu."
Bara meletakkan botol minyak di lantai. Telapak tangannya tetap menopang tumit Arum.
"Aku tidak bisa berjanji tidak akan mendapat tugas," katanya. "Aku juga tidak akan berjanji perang atau bencana mengikuti keinginanku."
Arum menekan bibir, tahu itulah kejujuran seorang prajurit.
"Tapi kalau aku bisa pulang, aku akan pulang." Suara Bara rendah dan mantap. "Kalau harus pergi, kamu akan tahu ke mana aku ditugaskan sejauh yang boleh disampaikan. Tidak akan ada orang yang menyuruhmu menunggu tanpa jawaban."
Mata Arum terasa panas. "Kenapa Mayor menjanjikan itu kepada saya?"
Bara memandang kemeja miliknya yang membungkus tubuh Arum, lalu motif melati yang ia tahu sedang tergantung basah di halaman.
"Karena sekarang ada seseorang yang akan menunggu di rumah ini."
Di luar, seragam-seragam mereka masih diguyur hujan, tetapi Arum tidak lagi memikirkan satu pun pakaian yang belum terselamatkan.
Mata Bara menggelap.
Hujan terus turun di sekeliling rumah mereka.
Jari yang mengoleskan minyak bergerak lebih pelan, seolah kaki Arum adalah benda paling berharga yang pernah dipercayakan kepadanya.