Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: DMAM
Di rumah Aisyah berada...
Malam masih terlalu dini. Jam dinding tua di ruang tengah berdentang tujuh kali, menandakan pukul tujuh malam baru saja bertandang.
Namun, suasana di pemukiman padat tempat Aisyah tinggal sudah tampak lengang. Sisa hujan gerimis sejak sore tadi meninggalkan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, membuat warga sekitar memilih berdiam diri di dalam rumah menutup rapat pintu dan jendela mereka.
Aisyah menghela napas panjang lalu merenggangkan jemarinya yang terasa kaku. Seharian penuh ia berkutat dengan tumpukan kertas lembar jawaban ulangan harian matematika anak-anak kelas empat.
Oleh sebab itu, meski waktu masih terbilang sore tapi matanya sudah terasa berat dan berair karena lelah menatap angka-angka dan coretan pulpen berwarna merah.
"Alhamdulillah... akhirnya selesai juga," gumam Aisyah.
Krik krik Krik krik!
Suara jangkrik di luar rumah terdengar saling bersahutan. Keadaan rumah kayu sederhana itu terasa amat sunyi tanpa kehadiran Bu Rahmi yang saat ini masih berada di Bandung untuk merawat adiknya yang sakit.
Keheningan itu membuat rasa lelah Aisyah terasa melipat ganda. Hingga ia pun berencana akan langsung beristirahat setelah beres membersihkan diri.
Kini, Aisyah berdiri dari kursi kayunya dan berjalan menuju meja dapur. Ia menuangkan air hangat dari termos ke dalam sebuah gelas kaca bening, dan berniat meminumnya setelah selesai membersihkan diri.
Gelas berisi air hangat itu ia letakkan begitu saja di atas meja makan kecil yang berada di area tengah rumah.
Pikirannya yang terlampau lelah membuat kewaspadaannya menurun. Saat Aisyah berjalan menuju kamar mandi di bagian belakang rumah, ia sama sekali tidak menyadari bahwa selot besi pintu depan rumahnya belum terpasang.
Karena sibuk membawa tumpukan buku dan menyiapkan pakaian ganti, Aisyah lupa mengunci pintu utama.
Aisyah kemudian masuk ke kamar mandi sederhana bertembok batako tersebut. Tak lama kemudian, suara gemericik air hangat yang menyiram tubuhnya terdengar memenuhi ruangan yang lembap itu.
Aisyah menikmati setiap tetes air panas yang membahasi kulitnya, dan berusaha meluruhkan seluruh beban pikiran, rasa lelah, serta ingatan pahit tentang kejadian bersama Dimas di sekolah tadi siang.
Sementara itu di luar rumah, sebuah bayangan hitam melangkah pelan menyusuri gang sempit yang gelap. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam dengan topi yang ditarik rendah hingga menutupi sebagian wajahnya.
Matanya yang liar dan licik menyapu sekeliling, guna memastikan tidak ada tetangga yang memperhatikan gerak-geriknya.
Pria itu adalah Jaka, seorang pria pengangguran bermoral bejat yang dikenal sebagai salah satu teman dalam lingkaran pergaulan bebas Dimas.
Namun, kedatangan Jaka malam ini bukan atas perintah Dimas, melainkan atas segepok uang tunai bernilai puluhan juta rupiah yang dikucurkan langsung oleh Bu Rosma.
Bu Rosma telah menyewa Jaka untuk melakukan perbuatan keji. Ia ingin laki-laki itu merusak kehormatan Aisyah dan membuat Aisyah kehilangan nama baiknya secara permanen.
Rencana busuk itu dirancang agar Aisyah tidak memiliki pilihan lain selain menyerah, berlutut, dan terpaksa menerima pernikahan dengan Dimas demi menutupi rasa malu.
Ketika tiba, Jaka langsung mendekati pintu depan rumah Aisyah. Jemarinya yang kasar mendorong gagang pintu kayu itu secara perlahan.
Kreeek...
Pintu kayu tua itu terbuka sedikit tanpa hambatan. Jaka tersenyum miring, matanya berkilat penuh kemenangan begitu menyadari pintu tersebut tidak terkunci. Dengan langkah seringan kapas, ia menyelusup masuk ke dalam rumah dan menutup pintu kembali tanpa menimbulkan suara.
Suara gemericik air yang menyiram tubuh dari arah kamar mandi langsung tertangkap oleh pendengaran Jaka. Pria itu pun terkekeh tanpa suara, saat menyadari Aisyah yang sedang asyik membersihkan diri di dalam sana.
Jaka celingukan dan mengamati interior rumah yang sangat bersahaja itu. Pandangannya berputar mencari kesempatan terbaik hingga matanya tertuju pada meja makan di area tengah. Di sana, sebuah gelas berisi air hangat yang baru saja dituangkan Aisyah berdiri mengembun.
"Dasar perempuan polos... dimudahkan banget jalan gue," bisik Jaka penuh kejahatan.
Ia lalu merogoh saku jaket kulitnya dan mengeluarkan sebuah pembungkus kertas kecil berisikan serbuk putih tak berbau.
Dengan tangan gemetar karena semangat yang menyesatkan, Jaka membubuhkan seluruh serbuk pembius yang mengandung obat perangsang racikan pekat itu ke dalam gelas air minum Aisyah.
Ia lalu mengambil sendok kecil di samping gelas dan mengaduknya perlahan hingga serbuk itu larut sempurna tanpa menyisakan bekas atau perubahan warna pada air.
Setelah selesai, Jaka mengembalikan sendok ke posisi semula, lalu memutar pandangannya mencari tempat bersembunyi. Tak lama, natanya menangkap tirai kain tebal yang menutupi celah di samping lemari pakaian tua yang tak jauh dari kamar mandi.
Dengan senyum licik yang terkembang di wajahnya, Jaka melangkah pelan dan menyembunyikan tubuhnya di balik tirai tersebut, dan menunggu mangsanya keluar dengan tenang.
Pada saat yang bersamaan, beberapa kilometer jauhnya dari rumah Aisyah, suasana riuh dan gemerlap memenuhi sebuah kafe terbuka berkonsep ruang atas (rooftop) di pusat kota.
Dentuman musik bernada sedang dan aroma asap rokok menyelimuti meja besar di sudut ruangan tempat sekelompok pemuda kaya nongkrong.
Di tengah-tengah mereka, Dimas duduk bersandar di sofa kulit. Di mejanya terpampang beberapa gelas minuman mahal dan iPhone 15 Pro Max terbarunya.
Namun, meski dikelilingi kemewahan dan gelak tawa teman-temannya, wajah Dimas tampak sangat muram. Pria itu terus-menerus menatap layar ponselnya yang sepi tanpa notif dari Aisyah.
Rasa frustrasi akibat penolakan Aisyah di sekolah tadi siang masih membakar dadanya. Kejadian di mana bunga mawarnya dibagikan ke murid-murid dan ia diusir di depan umum terus terbayang, dan menggores harga dirinya.
"Woy, Dim! Muka Lo melipat gitu dari tadi" tegur Rian, salah satu teman dekat Dimas dalam kelompok tersebut, sambil mengembuskan asap rokoknya ke udara lalu menoleh ke arah Dimas sambil tertawa kecil.
"Lagian, kok bisa Lo putus sama Aisyah sih? Bukannya kemarin ibu Lo udah koar-koar ke mana-mana mau bikin lamaran mewah?" lanjut Rian sambil menyenggol lengan Dimas.
Dimas langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya mendelik tajam karena tidak terima dengan kata 'putus' yang diucapkan Rian.
"Gue gak putus!" bentak Dimas dengan nada sewot. "Cuma istirahat aja, ntar juga gue nikahin Aisyah! Dia itu cuma lagi jual mahal aja sebentar!"
Rian dan teman-teman lainnya di meja itu langsung meledak dalam tawa yang meremehkan.
"HA HA HA HA HA HA..."
"Jangan bercanda Lo, Dim!" celetuk temannya yang lain bernama Doni. "Semua orang di tongkrongan pada tau kalau Lo putus dan ditolak mentah-mentah sama guru honorer itu. Makanya si Jaka berani pdkt sama cewe Solehah itu, he he he..."
Kata-kata Doni bagai menyiramkan bensin ke dalam api yang sedang berkobar di hati Dimas.
"Apa maksud Lo?!" reaksi Dimas sangat marah. Pria itu langsung berdiri mendadak dari sofanya hingga kursinya terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berdecit keras yang menarik perhatian beberapa pengunjung kafe lain.
Rian langsung mengangkat kedua tangannya ke udara, dan mencoba menenangkan Dimas meski senyum mengejek masih tersisa di bibirnya.
"Tenang, bro! Santai, gak usah emosi gitu!" ujar Rian. "Si Jaka kan cuma baru mau pdkt juga. Ya... Mungkin saat ini dia lagi ada di rumah Aisyah."
"Jaka?! Di rumah Aisyah malam-malam begini?!" suara Dimas melengking, napasnya mulai terengah-engah.
Mata Dimas membelalak lebar. Pria itu mengenal betul siapa Jaka, seorang pria bermulut manis namun berniat jahat yang sering menghalalkan segala cara untuk mendapatkan perempuan.
Bayangan bahwa Jaka berada di dekat Aisyah saat Aisyah sedang sendirian di rumahnya membuat darah di dalam tubuh Dimas sangat mendidih.
"Iya, tadi sore si Jaka pamer di grup chat," tambah Doni tanpa dosa. "Katanya dia dapet 'proyek' gede malam ini dan mau datengin rumah cewek idaman Lo itu. Kirain Lo udah ikhlas, Dim."
Proyek gede?
Bersambung...