NovelToon NovelToon
Efisiensi Kaum Rebahan

Efisiensi Kaum Rebahan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.

​Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.

​Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.

​Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.

​Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 10

Waktu menunjukkan tepat pukul 13.00 WIB. Pintu ballroom hotel bintang lima itu perlahan ditutup setelah tamu undangan terakhir resmi melangkahkan kaki keluar. Kebisingan pesta yang sejak pagi memenuhi ruangan mendadak reda, menyisakan alunan musik latar yang terdengar samar.

Begitu area pelaminan steril dari pandangan tamu, pertahanan tubuh Kinan akhirnya runtuh. Tanpa peduli pada gaun pengantin yang masih ia kenakan, Kinan langsung menjatuhkan diri, duduk di atas kursi pelaminan dengan kepala bersandar lemas pada sandaran sofa.

Arga yang berdiri di sampingnya melirik, seraya merapikan sedikit kerah tuksedonya. "Kamu terlalu berlebihan, Kinan."

"Jangan samakan energi saya dengan kamu Pak CEO, hari ini... sungguh sangat melelahkan untuk saya." gumam Kinan pelan, matanya menatap kosong ke arah deretan lampu kristal di langit-langit ballroom. "Bahkan kaki saya terasa sangat berat saat ini."

Arga mengembuskan napas pendek. Ia bergeser, ikut duduk di samping Kinan, lalu mencondongkan tubuhnya untuk berbisik sangat pelan di dekat telinga wanita itu. "Ayo cepat bereskan ini. Kamu kan tahu, kita harus segera menuju bandara. Pesawat kita akan berangkat jam empat sore."

**

Sementara di sudut ruangan yang tak jauh dari pelaminan, Orangtua mereka berdiri berdampingan memperhatikan interaksi kedua pengantin baru itu.

Melihat Arga berbisik mesra di telinga Kinan hingga wajah mereka yang begitu dekat, senyum lebar nampak jelas di wajah Mira. Wajahnya berseri-seri penuh kepuasan.

"Wah, Rina... sepertinya nggak lama lagi kita akan punya cucu," bisik Mira antusias menyenggol pelan lengan Rina. "Lihat itu, baru juga selesai pesta mereka sudah tidak sabar... Romantisnya anak-anak kita ini."

Rina terkekeh hangat, mengangguk setuju bersama Juna dan Hendra. "Iya, Mira. Padahal awalnya kita sempat cemas mereka bakal saling cangung ya. Eehh... Ternyata malah nempel terus begitu."

Keempat orang tua itu tertawa bersama.

Sementara itu, di atas pelaminan, realitanya sama sekali jauh dari kata romantis.

"Tolong berdiri, Kinan. Kita harus cepat berganti pakaian," desak Arga. Dengan ujung telunjuknya yang mengetuk-ngetuk lengan Kinan dengan frustrasi.

Kinan tidak bergeming. Ia hanya bisa termenung lemas, memperhatikan dekorasi rangkaian bunga mawar putih di sekeliling pelaminan yang sangat terlihat indah, lalu perlahan jemarinya terulur memegang perutnya sendiri.

Kruuuk...

Suara halus dari dalam perut Kinan terdengar jelas di antara keheningan mereka.

Arga menaikkan sebelah alisnya. "Kamu lapar?"

"Sepertinya iya," gumam Kinan lemas dengan tatapan yang masih kosong menatap lurus ke depan. "Saya dari tadi cuma kamu suruh senyum dan salaman sama direktur, komisaris, dan sepupu-sepupu kamu yang jumlahnya kaya pasukan militer."

Arga menatap Kinan dengan raut jengah. Arga tahu, jika ia menunggu Kinan bangkit dan mengambil makan sendiri, mereka akan terlambat mengejar penerbangan.

Tanpa menunggu persetujuan, Arga berdiri, melangkah menuju meja catering yang berada tak jauh dari panggung pelaminan. Pria itu mengambil satu piring kecil berisi beberapa potong pudding dan makanan penutup yang praktis, lalu kembali ke pelaminan.

Arga duduk kembali di samping Kinan. Menggunakan sendok kecil, Arga mengambil satu potongan pudding, lalu menyodorkannya tepat di depan bibir Kinan.

"Makan," perintah Arga singkat.

Kinan yang pandangannya masih kosong refleks membuka mulutnya, menerima suapan pudding itu tanpa protes. Sensasi manis yang meleleh di lidahnya mendadak memancing sedikit kehidupan di matanya.

"Enak..." gumam Kinan pelan dengan gaya polosnya yang santai. "Ternyata makanan orang kaya rasanya begini. Kamu gak mau coba suapin saya hidangan utamanya, Pak CEO? Mumpung hari ini saya lagi jadi ratu sehari."

"Jangan ngelunjak," balas Arga datar, namun tangannya kembali menyuapkan potongan berikutnya ke mulut Kinan. "Habiskan ini cepat, setelah itu bangun."

Di kejauhan, keempat orang tua mereka kembali menahan napas haru.

"Astaga, Hendra, lihat anakmu!" bisik Mira heboh sambil memegang dadanya. "Arga yang biasanya kaku itu, ternyata bisa romantis juga... bahkan menyuapi istrinya di atas pelaminan? Demi Tuhan, ini sejarah baru di keluarga Draken!"

Rina tak jauh berbeda ia mengusap sudut matanya. "Aduhh... Manis sekali mantuku itu... Arga benar-benar perhatian sama Kinan."

"Iya Bu, Aku juga ikut senang." jawab Juna seraya membantu mengusap sudut mata istrinya.

Setelah potongan puding terakhir berpindah ke mulut Kinan, Arga menaruh sendok plastik itu ke atas piring, lalu berdiri dan menatap Kinan dengan pandangan tegas.

"Lima menit sudah lewat. Bangun," ujar Arga.

Kinan mendesah pasrah. Dengan dibantu tarikan pelan dari tangan Arga, wanita itu akhirnya memaksa kakinya berdiri kembali di atas heels.

Mereka melangkah turun dari pelaminan menuju holding room untuk berganti pakaian.

Belum sempat Kinan mengganti gaun pengantinnya, pintu holding room terbuka. Kedua orang tua mereka melangkah masuk dengan senyum yang merekah lebar.

"Kinan, Arga... kalian berdua manis sekali tadi di pelaminan," goda Mira dengan mata berbinar. Ia mendekati Kinan, merapikan sedikit helai rambut di wajah menantunya itu. "Mamah tidak menyangka Arga bisa seromantis itu."

Rina ikut mengangguk haru. "Iya, Nak Arga. Terima kasih ya sudah begitu perhatian dan menjaga Kinan."

Arga berdeham pelan, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap tenang. "Sudah kewajiban saya, Bu."

"Nah, karena kalian mau langsung honeymoon ke Singapura sore ini," Ucap Mira seraya merogoh tas tangannya, mengeluarkan sebuah amplop dan menyodorkannya pada Arga, "Mamah sudah aturkan reservasi restoran romantis dan paket spa berdua di hotel kalian. Kamu, Arga... jangan memikirkan kerjaan dulu di sana. Fokus saja membahagiakan istri kamu! Syukur-syukur bisa langsung kasih kami cucu."

Kinan yang mendengar semua itu mendadak terdiam dan nyaris saja terhuyung ke belakang.

Mira lalu beralih ke arah Kinan. "Kinan, nanti kalau di sana Arga masih sibuk sama ponsel atau urusan pekerjaan, bilang saja sama Mamah, ya. Biar Mamah susul kalian ke sana."

Kinan dengan cepat memegang lengan Arga untuk menjaga keseimbangannya yang sempat oleng. Menyusul ke Singapura? Bayangan Mamah Mira mendadak muncul di kamar hotel tempatnya berencana rebahan seharian langsung membuat bulu kuduk Kinan berdiri.

Arga sendiri langsung menyambar amplop dari tangan ibunya sambil berdeham tegas. "Tidak perlu sampai menyusul, Mam. Aku pastikan ponsel akan mati selama di sana."

"Bagus kalau begitu!" Mira tersenyum puas, memeluk Kinan erat-erat. "Jaga diri baik-baik ya, Sayang."

Setelah serangkaian pelukan hangat, wejangan panjang dari Rina, serta tepukan bangga dari Juna dan Hendra.

Arga dan Kinan akhirnya diizinkan melangkah menuju kendaraan yang sudah menunggu di area lobby, setelah sebelumnya mereka berganti pakaian lebih dulu.

**

Di dalam pesawat Business Class. Penerbangan sore menuju Singapura.

Di barisan kursi paling depan, Kinan sudah memposisikan tubuhnya dalam mode paling nyaman. Ia meluruskan kakinya yang pegal di atas footrest, menyenderkan kepala pada bantal empuk, dan menyamankan posisi duduknya tanpa memedulikan tatapan heran dari Arga di sebelahnya.

Arga melirik ke arah kompartemen atas, lalu menatap Kinan dengan dahi berkerut. "Kinan, kamu tidak salah bawa barang?"

Kinan menengok pelan. "Salah bagaimana, Pak CEO?"

"Kamu hanya membawa satu tas yang Bahakan ukurannya hanya sekecil itu," ujar Arga heran, menatap istrinya itu dengan pandangan tak percaya.

Di kepala Arga, memori masa lalu mendadak berputar sekilas. membandingkan sosok istri di hadapannya ini dengan seseorang di masa lalunya, yang terlihat sangat berbeda jauh.

Dengan santainya, Kinan menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke kursi empuk pesawat. "Untuk apa bawa banyak barang, Pak CEO? Bukankah saya hanya pindah tempat tidur saja?"

Arga terdiam. Tatapannya tertahan selama beberapa detik pada wajah Kinan yang tanpa beban itu.

Kinan yang mulai bosan lantas merogoh tas kecilnya, mengeluarkan amplop pemberian Mamah Mira.

"Pak CEO, kira-kira ada fasilitas apa saja ya, di tempat spa itu?" tanya Kinan semangat.

"kamu lihat saja sendri." jawab Arga singkat.

Jemari Kinan akhirnya merobek segel amplop itu. Selain beberapa lembar voucher, ternyata ada sebuah kotak kecil berwarna hitam-merah yang terselip di dalamnya.

"Apa ini?"

Dengan polos dan tanpa rasa curiga, Kinan mengambil kotak kecil itu, membolak-balik kemasannya, lalu membaca tulisan cetak tebal di bagian belakang dengan suara yang terdengar agak keras.

"'Suplemen Stamina Pria Dewasa... Membantu memelihara vitalitas, dan mencegah gejala loyo...'"

Greb!

Belum sempat Kinan menyelesaikan kalimatnya, sebuah telapak tangan mendadak membekap mulut Kinan secara refleks!

Mata Arga membelalak lebar. Wajah pria yang biasanya selalu tenang, dan penuh kendali itu mendadak panik dengan Tatapan yang memperhatikan sekeliling.

"Mmphhh! Mphh!" Kinan menepuk-nepuk lengan Arga yang membekapnya.

"Diam, Kinan!" bisik Arga pelan dari sela giginya. Kali ini bukan hanya kupingnya yang memerah tapi wajahnya pun ikut memerah.

"Jangan dibaca keras-keras Kinan, kamu pikir itu apa?"

1
Alyaaa_Lryyy.
apa sih danu kepo amat sama yang udh nikah😒😒
Alyaaa_Lryyy.
cemburu nih cerita nya si argaa🤭
Alyaaa_Lryyy.
danu lo ganggu banget sih😭😒
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
nyesel pasti. enak banget malam malam makan martabak hangat
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
aku ngiler Thor
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
dah nan makan sendiri aja
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah enggak jadi seneng deh
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
Surga dunia ya nan
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
wah mirip rumah aku dong.
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
hua aku rindu suasana bandara Soekarno Hatta. udah bertahun-tahun enggak ke sana
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
enggak penasaran kah kamu Ga?
🥳➊ˢᵗ ᴀɴɴɪᴠ'sᴛᴀʀѕ⍣⃝✰Senja
kasih gps ga
Alyaaa_Lryyy.
serah kamu kinan yang penting kmu bahagia🤭🤭
Alyaaa_Lryyy.
arga seperti nya ada dendam pribadi deh, kinan di skat mulu😭🤭
RahmaYesi
gak cemburu kan kamu Kinan? gak lah ya. toh kamu juga kan yg dinikahi Arga. mantan mah apa, masa lalu yg gak penting juga 🤣
RahmaYesi
gak apa-apa Bik, buka aja semuanya 😅
RahmaYesi
oh ada barang peninggalan mantan juga toh....
RahmaYesi
kurir ternyata yg datang syukur deh 😅
Hs Mochi
wkwkwk.. sini bi, aku bantuin. aku tarik yaa bibirnya
Hs Mochi
iiish si bibi. nyeplos aja dah ah🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!