Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.
Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.
Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.
Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?
Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.
Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.
“Kau... masih hidup?”
Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Niat yang Lain
Mira menghela napas. “Ya sudah. Asal kau tidak terlalu larut. Kau dari pagi sudah kelihatan tidak enak badan.”
Beberapa menit kemudian, Arka kembali membawa folder tipis. Ia membuka beberapa lembar foto hitam-putih dan catatan tulisan tangan. “Ini lokasi penggalian. Dan ini… simbol yang paling sering muncul di sekitar artefak.”
Alena menatap foto itu. Di salah satu gambar, terlihat ukiran yang jelas... cincin yang dipakai seorang gadis, dengan garis yang menyerupai jembatan di hadapannya. Di bawahnya ada tulisan dalam bahasa kuno yang belum sepenuhnya diterjemahkan. Tapi Alena bisa merasakan artinya. Itu cara membuka pintu antara dua dunia.
Dia menelan ludah. “Boleh aku memfotokopi catatan ini? Atau setidaknya memotret beberapa bagian?”
Arka ragu. “Secara resmi belum dipublikasikan. Tapi… karena Mira temanku, aku izinkan beberapa foto. Jangan disebar.”
Alena mengangguk cepat. Dengan tangan sedikit gemetar, dia memotret halaman-halaman penting menggunakan ponselnya. Termasuk foto close-up artefak dan simbol jembatan.
Saat dia selesai, Arka menutup kembali kotak artefak. “Kalau perusahaan kalian benar-benar tertarik, aku bisa bantu buatkan surat rekomendasi untuk studi lebih lanjut. Tapi prosesnya memakan waktu.”
Alena menyimpan ponselnya. “Terima kasih. Ini sudah sangat membantu.”
Mereka berpamitan tidak lama kemudian. Mira mengajak Alena makan malam, tapi Alena menolak dengan alasan lelah. Dia ingin segera pulang ke rumah Raka dan memeriksa foto-foto itu lebih teliti. Di dalam taksi, Alena menatap galeri ponselnya. Ukiran cincin dan wanita yang memakainya itu seolah menatapnya kembali.
Firasatnya berbisik lagi... Benda ini adalah kunci nya. Dan dia harus medapatkan cincin itu untuk membuktikan bahwa firasat itu benar.
Alena sampai di rumah Raka saat langit sudah gelap. Dia langsung menuju ruang kerja, menyalakan lampu meja, lalu membuka galeri foto di ponselnya. Satu per satu gambar artefak dan ukiran dari museum diteliti dengan saksama. Semakin lama dia menatap, semakin yakin. Benda itu bukan sekadar artefak kuno.
Denyutan cahaya yang sempat muncul, simbol jembatan, permata yang hampir identik dengan kalung Raka… semuanya saling terhubung. Jika kalung Raka bisa membuka pusaran—meski menolaknya—maka artefak di museum mungkin adalah kunci pelengkap.
Alena menyandarkan tubuh ke kursi, menatap layar ponsel hingga matanya perih. “Aku harus mengambilnya,” gumamnya pelan, tegas. “Dengan cara apa pun.”
Tekad itu mengeras di dadanya. Dia tidak peduli lagi soal risiko. Raka terluka di dimensi lain, dan setiap jam yang berlalu semakin berbahaya. Jika artefak itu bisa membuka jalan… dia akan mengambilnya.
Sementara itu, di sisi lain kota… Arka duduk di meja kerjanya di museum, menatap nomor kontak Mira di ponsel. Dia ragu sejenak, lalu akhirnya menekan tombol panggil.
Mira mengangkat setelah beberapa nada. “Halo, Arka?”
“Mira, maaf mengganggu malam-malam. Bisa minta kontak Alena?”
Mira terdiam sejenak di seberang. “Kontak Alena? Untuk apa?”
Arka menghela napas, mencoba terdengar santai. “Aku ingin bahas lebih lanjut soal artefak tadi. Dia kelihatan sangat tertarik. Mungkin bisa kerja sama informal.”
Mira tidak langsung percaya. Dia sudah melihat cara Arka menatap Alena sejak pertemuan di museum. Tatapan itu bukan tatapan seorang arkeolog pada rekan riset. Ada sesuatu yang lebih personal.
“Arka,” kata Mira pelan, “Alena sudah punya pacar.”
Di seberang, Arka terdiam. Lalu tertawa kecil. “Pacar? Belum menikah, kan? Selama belum ada ikatan resmi, semua orang masih bebas mendekati. Aku hanya ingin mengenalinya lebih jauh.”
Mira mengerutkan dahi. “Jangan macam-macam. Dia sedang banyak masalah.”
“Justru itu,” jawab Arka lembut. “Aku ingin membantu. Tolong, Mira. Hanya kontak. Aku tidak akan memaksa.”
Mira terdiam cukup lama. Dia mengenal Arka sejak SMA—pria itu pantang menyerah jika sudah tertarik. Akhirnya, dengan enggan, Mira mengirimkan nomor Alena.
“Jangan buat masalah,” pesan Mira sebelum memutus telepon.
Arka tersenyum tipis menatap nomor yang baru saja masuk. “Terima kasih, Mira.”
Tidak menunggu lama, dia langsung mengetik pesan.
Di rumah Raka, ponsel Alena bergetar.
Nomor Tidak Dikenal, "Halo Alena, ini Arka dari museum. Mira kasih kontaknya. Maaf mengganggu. Aku ingin bicara soal artefak yang tadi kita lihat. Kau punya waktu?"
Alena menatap layar, ekspresinya datar. Dia sudah menduga pria itu akan mencari cara untuk menghubungi. Dari cara Arka menatapnya di museum, jelas ada niat lain di balik sikap ramahnya.
Tapi Alena juga punya niat tersembunyi. Dua membalas singkat. "Ada apa dengan artefaknya?"
Beberapa detik kemudian pesan masuk lagi. "Aku menemukan catatan tambahan setelah kalian pulang. Ada detail yang mungkin menarik untukmu. Kalau berkenan, kita bisa ketemuan singkat. Aku traktir kopi."
Alena menatap pesan itu lama. Dia tahu ini bukan sekadar soal catatan. Tapi kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan. Jika dia bisa mendekati Arka, mungkin dia bisa mendapatkan akses lebih dekat ke artefak itu—bahkan membawanya keluar dari museum. Dengan tenang, Alena mengetik balasan. "Baik. Besok sore, sepulang kerja. Kirim saja lokasinya."
Dia meletakkan ponsel, lalu menatap kalung Raka yang masih tersimpan di meja. “Maafkan aku,” bisiknya pelan, seolah berbicara pada Raka yang jauh. “Aku harus melakukan ini… demi bisa menemuimu.”
Di layar ponsel, pesan dari Arka sudah masuk berisi nama kafe dan jam. Alena menyimpan kontak itu tanpa mengubah nama. Permainan baru dimulai. Dan kali ini, Alena yang memegang sebagian kendali.
Keesokan harinya berjalan dengan lambat bagi Alena. Di kantor, dia mencoba fokus bekerja, tapi pikirannya terus kembali pada artefak di museum dan pertemuan sore nanti. Dito sempat menanyakan kabarnya, Mira juga sesekali melirik khawatir, tapi Alena hanya tersenyum tipis dan bilang dia baik-baik saja.
Sore tiba. Alena keluar dari gedung kantor dan langsung menuju kafe yang dikirim Arka. Tempatnya cukup tenang, di kawasan yang tidak terlalu ramai. Saat dia masuk, Arka sudah duduk di meja sudut dekat jendela, dua cangkir kopi sudah dipesan.
“Tepat waktu,” sapa Arka sambil tersenyum. Dia berdiri sebentar, mempersilakan Alena duduk. “Aku pesan yang tidak terlalu manis. Kalau tidak suka, bilang saja.”
Alena duduk, meletakkan tas di samping. “Terima kasih. Sudah pas.”
Mereka terdiam sejenak. Arka yang pertama membuka percakapan. “Soal artefak kemarin… aku menemukan catatan lapangan tambahan. Ada simbol yang berulang di sekitar lokasi penggalian. Mirip jembatan, tapi dengan dua bulan sabit di ujungnya. Beberapa ahli bahasa kuno bilang itu bisa diartikan sebagai pintu antara dunia atau pembatas waktu.”
Alena meneguk kopi, menyembunyikan ketertarikan yang sebenarnya. “Menarik. Ada petunjuk soal cara kerjanya? Atau bahan yang digunakan?”
Arka mengangkat alis, tampak senang Alena bertanya lebih jauh. “Belum ada yang berhasil mengaktifkannya, kalau itu yang kau maksud. Benda itu stabil di lab. Tapi… kemarin saat kau mendekat, aku sempat melihat kilatan aneh. Kau juga melihatnya, kan?”
Alena menatapnya datar. “Mungkin hanya pantulan.”