"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi
Deru mesin mobil sport mewah itu meraung membelah badai di tengah malam Jakarta, meninggalkan jejak kepulan asap tipis yang langsung tersapu angin kencang. Di teras mansion yang megah, Damara berdiri mematung di bawah guyuran hujan yang deras. Air hujan membasahi kemeja putihnya yang kini melekat ketat pada dada bidangnya, menyamarkan noda kemerahan di pipinya akibat tamparan keras Kayna beberapa menit lalu.
Sepasang mata abu-abu milik Mara menggelap sempurna, memancarkan kilat kemurkaan yang sanggup membuat siapa pun berlutut ketakutan.
kelinci kecilnya baru saja menendangnya, menamparnya, dan melarikan diri. Dan yang membuat amarahnya kian membakar adalah fakta bahwa dalam kepanikan tadi, Kayna justru menyambar kunci mobil milik Mara yang terparkir di halaman. Menyetir mobil bertenaga monster dalam kondisi kacau dan jalanan basah adalah tindakan bunuh diri.
Tanpa memedulikan tubuhnya yang basah kuyup, Mara merogoh saku celananya dan menarik ponsel miliknya. Ia menekan satu tombol panggilan cepat.
"James," suara Mara terdengar seperti desis kematian yang dingin, memotong kesunyian malam di seberang telepon. "Lacak GPS mobilku hari ini sekarang juga. Kayna membawanya pergi. Bawa dia kembali kepadaku dalam keadaan hidup, apa pun caranya!"
"Baik, Tuan Veldens," jawab James.
Mara mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia melangkah kembali ke dalam mansion, mengabaikan tetesan air yang membanjiri lantai marmer hitamnya. Pria itu berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya bagai seekor predator yang kehilangan mangsa tangkapannya. Setiap detak jarum jam dinding terasa bagai siksaan yang mengikis sisa-sisa kesabarannya. Obsesinya telah berubah menjadi kegilaan murni. Ia tidak akan melepaskan Kayna. Tidak akan pernah.
Hanya berselang kurang dari lima belas menit, ponsel di tangan Mara kembali bergetar keras. Nama James berkedip di layar. Mara langsung menggeser layar dengan cepat.
"Katakan padaku kau sudah menangkapnya, James," desis Mara urgen.
Namun, keheningan sesaat di seberang saluran membuat firasat buruk langsung menghantam dada Mara. Suara James terdengar bergetar, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada seorang agen terlatih.
"T-Tuan Veldens... Ada kabar buruk. Sistem GPS mobil Anda berhenti bergerak di koordinat flyover menuju jalan tol utama." James menelan ludah dengan berat sebelum melanjutkan, "Saat saya tiba, Nona Kayna sudah mengalami kecelakaan tunggal, Tuan. Saksi mata mengatakan mobil Anda melaju dengan kecepatan yang teramat tinggi di tengah hujan badai, lalu kehilangan kendali saat melewati tikungan tajam yang licin."
DEG!
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang Damara Lexander Veldens, jantungnya seolah berhenti berdetak. Darahnya mendadak terasa membeku. "Bagaimana keadaannya?!" raung Mara, urat-urat di leher dan rahang tajamnya menegang keras hingga tangannya yang menggenggam ponsel memutih.
"Ambulans baru saja tiba di lokasi kejadian, Tuan. Kondisi Nona Kayna sangat kritis. Mereka sedang melarikannya ke Rumah Sakit Pusat Medika Jakarta," jawab James dengan cepat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Mara melempar ponselnya ke atas meja, menyambar kunci mobil cadangan, dan berlari keluar menembus badai menuju rumah sakit dengan kecepatan yang menggila.
...----------------...
Aroma antiseptik yang pekat dan suara konstan dari mesin pendeteksi jantung memenuhi ruang perawatan intensif (ICU) Rumah Sakit Pusat Medika.
Di balik dinding kaca tebal, Kayna Ramida terbaring lemah di atas ranjang medis. Wajah cantiknya yang biasa memancarkan ambisi kini tampak pucat, dipenuhi oleh beberapa luka goresan kecil. Bagian kepalanya dibalut oleh perban putih yang tebal. Berbagai selang penunjang hidup dan infus menancap di tubuh mungilnya, menjadikannya tampak bagai boneka porselen yang telah hancur lebur.
Dokter spesialis bedah saraf terbaik baru saja keluar dari ruangan, memberikan vonis yang meremukkan hati: Kayna mengalami cedera otak traumatis yang sangat parah akibat benturan keras di kepala, dan kini gadis itu dinyatakan koma dalam waktu yang tidak bisa ditentukan.
Damara berdiri di samping ranjang Kayna, menatap lurus ke arah wajah tak berdaya tunangannya. Tidak ada air mata di sepasang mata abu-abu pria itu. Yang ada hanyalah pancaran kegelapan, rasa bersalah , dan obsesi yang justru semakin mengakar kuat di dalam jiwanya. Ia perlahan mengulurkan tangannya yang besar, membelai lembut pipi Kayna yang terasa sedingin es dengan ujung jarinya.
"Kau mencoba berlari dariku hingga senekat ini, mijn engel?" bisik Mara rendah, suaranya terdengar begitu mesra namun sarat akan ancaman yang mengerikan di dalam kesunyian kamar ICU. "Kau lebih memilih mati daripada menjadi milikku?"
Mara menundukkan kepalanya, mengecup dahi Kayna yang terbalut perban dengan sangat lama dan penuh penekanan posesif. Saat ia menjauhkan wajahnya, seulas seringai dingin yang mengerikan terukir di sudut bibirnya.
"Dengar baik-baik, Kayna. Kau tidak akan pernah bisa pergi kemanapun seumur hidupmu," bisik Mara tepat di telinga gadis yang tengah koma itu, bersumpah di dalam kegelapan hatinya. "Tidur dan beristirahatlah sesukamu sekarang. Namun aku bersumpah demi namaku, begitu kau sadar dan membuka matamu nanti, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku bahkan untuk satu detik pun. Jika perlu, aku sendiri yang akan mengikatmu erat di atas ranjangku menggunakan rantai sutra, agar kau tahu dan sadar sepenuhnya... siapa penguasa mutlak atas hidup dan matimu yang sebenarnya!"
Pintu ruang tunggu ICU tiba-tiba terbuka dengan kasar, memecah keheningan suasana malam yang mencekam. Suara langkah kaki yang tergesa-gesa diiringi isak tangis histeris terdengar mendekat.
Orang tua Kayna, Erick dan Liliana, serta kedua orang tua Mara, Nollan dan Johanna, melangkah masuk dengan gurat wajah yang dipenuhi kepanikan yang luar biasa. Johanna memimpin di depan, wajah cantiknya yang biasa anggun kini memerah karena amarah dan air mata yang mengalir membasahi riasan wajahnya setelah mendapat kabar kecelakaan tragis menantu pilihannya itu.
PLAK!
Tanpa aba-aba, Johanna melayangkan tamparan keras ke pipi putranya sendiri begitu mereka berhadapan di depan ruang kaca ICU. Nollan mencoba menahan lengan istrinya, namun Johanna sudah terlanjur dikuasai oleh emosi yang meluap-luap.
"Apa yang telah kau perbuat, Damara?!" jerit Johanna dengan suara bergetar menahan amarah yang mendalam. "Kenapa Kayna bisa mengalami kecelakaan mengerikan seperti ini?! Ini baru malam pertama setelah pertunangan kalian! Kenapa dia bisa keluar dari mansion jam satu pagi di tengah badai seburuk itu, dan yang paling membuat Mama tidak habis pikir... kenapa dia bisa memakai mobil milikmu?! Apa yang kau lakukan pada calon menantuku, Mara?!"
Mara tetap berdiri tegak, menerima tamparan dan kemarahan ibunya tanpa mengedipkan mata sedikit pun. Wajahnya kembali mengenakan topeng ketenangan yang sempurna, seolah ia adalah korban yang ikut terluka dalam tragedi ini.
"Ma, tenanglah dulu. Ini semua adalah murni kesalahanku karena tidak menjaga Kayna dengan lebih baik," ucap Mara dengan nada suara yang terdengar begitu penuh penyesalan, melancarkan akting manipulatif terbaiknya di depan kedua keluarga. "Malam tadi... kami hanya terlibat perdebatan kecil yang tidak berarti mengenai konsep dekorasi pernikahan kami kelak. Kayna sedikit kesal dan bersikeras ingin mencoba menyetir mobil sport milikku untuk menenangkan pikirannya di sekitar area perumahan. Aku sudah mencoba melarangnya."
Mendengar penjelasan Mara yang begitu runtut dan terdengar tulus, Liliana yang sejak tadi menangis tersedu-sedu di pelukan Erick yang masih tampak lemah, langsung melangkah maju. Wanita paruh baya itu memegangi lengan Johanna, mencoba menenangkan sahabatnya tersebut sembari menyeka air matanya sendiri.
"Johanna... tolong jangan memarahi Nak Mara seperti itu," ucap Liliana dengan suara yang parau dan sarat akan kepedihan. "Ini semua adalah murni kecelakaan tragis. Kita tidak bisa menyalahkan Mara. Hujan malam ini memang terlalu deras dan badainya sangat buruk. Nak Mara sudah sangat baik pada keluarga kami, dia bahkan langsung mendatangkan tim dokter terbaik ke rumah sakit ini begitu kecelakaan terjadi. Dia pasti juga sangat terpukul melihat keadaan Kayna saat ini."
Erick mengangguk lemah, menatap Mara dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa bersalah dan terima kasih yang mendalam. "Benar, Johanna. Ini adalah ujian dari Tuhan untuk calon anak-anak kita. Jangan salahkan anakmu lagi. Mara adalah pria yang baik."
Mara menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan orang tua Kayna, menyembunyikan kilat kepuasan psikopatis yang berkilat di balik sepasang mata abu-abu miliknya. Rencana manipulasinya berjalan dengan teramat sempurna tanpa ada satu pun celah yang bocor. Di mata kedua orang tua Kayna, ia tetaplah sosok malaikat penolong yang suci tanpa noda.
Sementara di balik dinding kaca kamar ICU, tubuh lemah Kayna yang tengah koma kini telah sepenuhnya berada di dalam cengkeraman sangkar emas milik sang Capo Mafia, tanpa ada satu pun jalan untuk melarikan diri lagi.
...●Bersambung●...