Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Batasan yang Dilanggar
Menyadari atmosfer yang canggung, Mita segera bergerak untuk mencairkan suasana.
"Mbak Vanya, daripada bosan di sini, mau lihat kamar pribadi Mas Sam di kamar utama?" ajak Mita menawarkan.
Tibalah di kamar Samudra.
"Wah, bagus sekali, Mit! Sangat indah," puji Vanya dengan nada takjub.
Tanpa rasa canggung, Vanya menjatuhkan tubuhnya dan berbaring di atas kasur milik Sam.
Mita yang berdiri di dekat pintu hanya bisa tersenyum tipis melihat kelakuan kekasih kakak angkatnya itu.
Vanya menatap langit-langit kamar, lalu menoleh ke arah Mita. "Mit, ini kan sudah siang. Apa boleh ya aku tidur siang di sini?" tanyanya tanpa rasa sungkan.
Mita tertegun sejenak. Ia meremas jemarinya sendiri, merasa bimbang. "Eh... Mbak Vanya, kalau soal itu, aku tidak tahu sejauh apa Mas Sam akan mengizinkannya atau tidak. Mas Sam sangat menjaga privasi area tidurnya."
Vanya mendengus pelan, sedikit tidak suka dengan jawaban Mita. "Masa sih tidak diizinkan? Aku kan kekasihnya, calon istrinya juga nanti."
"Iya, Mbak. Tapi lebih baik Mbak tanya dulu deh ke Mas Sam lewat telepon, karena aku pribadi tidak yakin, dan Mbak juga sebenarnya belum tahu pasti kan? Tapi kalau Mbak memang sudah yakin tanpa perlu bertanya, ya... berarti itu terserah Mbak," ujar Mita mencoba bersikap netral dan mengembalikan keputusan pada Vanya.
Vanya memejamkan mata dan memilih untuk tetap berbaring di sana hingga akhirnya terlelap untuk tidur siang.
Sore pun tiba. "Mita, di mana Vanya?" tanya Sam heran karena tidak melihat kekasihnya di ruang tengah.
"Dia sedang tidur di kamar pribadi Mas Sam, di kamar utama," jawab Mita jujur apa adanya.
Mendengar jawaban itu, langkah Sam langsung terhenti. Matanya membelalak, wajahnya berubah terkejut sekaligus tidak suka. "Kenapa dia bisa seberani itu masuk dan tidur di kamarku tanpa izin?" gumam Sam dengan nada kesal yang tertahan.
"Oh... Mas Sam, kalau memang Mas tidak suka, cobalah masuk dan bilang baik-baik kepadanya," ucap Mita menenangkan, tidak ingin memicu keributan.
Sam menghela napas berat. Kemudian pergi menuju kamarnya.
Tepat saat Sam membuka pintu kamar secara perlahan, sesosok tubuh tiba-tiba muncul dari balik pintu. Vanya yang rupanya sudah terbangun langsung menarik lengan Sam dengan kuat hingga pria itu tersentak masuk ke dalam kamar, lalu Vanya segera menutup pintu di belakang mereka.
Di dalam kamar yang remang, Vanya mulai menggoda Sam. Ia menggelayut manja di leher Sam, mencoba merayunya untuk melakukan hubungan yang lebih jauh. Namun, Sam dengan cepat memegang kedua pundak Vanya dan mendorongnya menjauh secara halus. Sam menolaknya.
Raut wajah Vanya seketika berubah masam. Ia melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan kesal.
"Mas, masa kamu menolak aku lagi untuk kesekian kalinya? Aku bosan deh ditolak terus," keluh Vanya dengan nada menuntut. "Ayo kita lakukan itu sekarang, Mas. Untuk membuktikan kalau kita ini memang sudah saling memiliki sepenuhnya!"
"Itu hanya akan dilakukan untuk kita pertama kali saat kita sudah resmi menikah nanti, sayang. Tolong sabar dulu ya," ujar Sam, mencoba menjaga batasan moral yang diyakininya.
Merasa usahanya sia-sia, rasa kecewa dan amarah seketika menguasai hati Vanya. Dengan Wajah bersungut-sungut penuh kekecewaan, ia menghentakkan kakinya dengan keras, lalu berjalan cepat keluar dari kamar tanpa memedulikan panggilan Sam lagi.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)