NovelToon NovelToon
Menikahi CEO Muda

Menikahi CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Berondong / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:41.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andi Putri Yasmin

Elza adalah seorang gadis berumur 27 tahun yang dijodohkan dengan pria yang lebih muda 3 tahun di darinya, karena paksaan dari kedua orang tua, Elza tak dapat menolak perjodohan tersebut.

"What?! Apa dia calon suamiku?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi Putri Yasmin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istri Bar-barku

Bruk!

"Pelan-pelan dong, emang gue ini karung beras?" protesnya. Namun, aku tak menggubris sama sekali ucapan wanita yang berstatus istriku itu.

Setelahnya aku masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil ini menuju rumah orang tuaku. Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara, aku tahu dia pasti marah.

Ini memang salahku tidak mengejarnya. Waktu aku dipeluk oleh Amel pasti dia sakit hati melihatnya, tapi aku merasa lucu dan bahagia juga karena ternyata dia mengakuiku sebagai suaminya, melarang Amel untuk memelukku. Sebenarnya aku juga risih dipeluk seperti itu, tapi mau bagaimana lagi dia adalah sepupuku. Dia menelepon ku karena ingin mengatakan sesuatu dan keadaannya waktu aku sampai dia seperti baru saja selesai menangis.

Hm, tapi itu tidak terlalu penting karena wanita ku marah dan ngambek dia pikir aku tidak mengejarnya padahal sewaktu dia pergi aku langsung mengejarnya tidak peduli dengan teriakan Amel. Ternyata dia pergi ke restorannya saat aku mengikuti taksi yang ia tumpangi dan kalian tahu sendiri 'kan apa yang ia lakukan di sana. Akan tetapi, yang membuat ku menahan tawa saat mendengar percakapannya dengan Dinda—sahabatnya menurut ku itu sangat lucu. Iya, aku mengikutinya sampai ke restorannya dan ikut duduk di meja yang dekat dengannya. Kulihat dia serius membaca map yang diserahkan oleh karyawannya sangat serius hingga tak menyadari keberadaanku.

Saat Dinda sudah datang, mereka berdua begitu heboh yang membuat pengunjung menatap mereka aneh. Tak terkecuali aku, aku berpikir apakah wanita jika bertemu dengan teman-temannya akan sangat heboh?

Mereka mulai mengobrol entah apa yang mereka obrolkan, karena mereka saling berbisik jadi aku tidak terlalu mendengarnya, tapi dilihat dari ekspresi istriku dan tindakan apa ya ia lakukan kepada Dinda itu pasti adalah suatu hal yang aneh antara wanita.

"Kok lo tabok gue, sih?" Ku dengar suara Dinda yang mengaduh karena telah mendapatkan tabokan sayang dari istriku.

"Sapa suruh tuh otak isinnya mesum semua," tutur istriku kesal. Ha? Mesum? Jadi mereka membahas hal mesum? Tanyaku pada diri sendiri.

Aku mendengar lagi ucapan istriku yang membuat bibirku berkedut menahan tawa.

"Gue jawab ya, gue sama Devan belum ngelakuin 'itu' soalnya dia belum paham, lo tahulah kalau bocil masih polos dan gue gak mau rusak kepolosannya," papar istriku dengan lugasnya. Astagah, aku hanya tidak ingin menyakitinya jadi aku tidak melakukan apa pun padanya bukan berarti aku tidak menyukainya. Suka? Ya, aku jujur aku suka kepada istriku tidak salah 'kan? Dengan tingkahnya yang apa adanya tidak dibuat-buat membuat ku nyaman berada di sisi wanitaku.

"Bener yang lo bilang, Din. Bukannya pernikahan kami baru kemarin ya. Bagaimana jika gue mengajukan cerai kepada Devan supaya dia bisa bahagia dengan kekasihnya itu. Gue anak baik lho, jadi gue mau, ah sepertinya bukan ide buruk," ungkapnya dengan raut wajah tanpa dosa. Bisa-bisanya dia memikirkan hal seperti itu.

Sudah, aku tak tahan lagi, ingin rasanya kusumpal bibirnya dengan bibirku, kenapa dia terlalu polos? Kita baru saja menikah kemarin dan apa tadi? Dia ingin mengajukan cerai karena aku punya kisah cinta dengan sepupuhku, yang benar saja itu tak akan terjadi.

Aku berdiri dari tempat duduk ini kemudian mendekat ke meja di mana istriku berada, dia kaget saat aku memegang tangannya. Dia menatap ku sejenak. Kemudian dia mengusirku.

"Mbak, saya pinjam temennya dulu," izinku pada Dinda yang juga kaget melihatku.

"De-Devan, ngapain lo di sini? Bukannya lo punya urusan dengan sepupu lo itu? Sana pergi jangan ganggu gue dulu," usirnya dengan muka jutek, sangat lucu.

"Aku sudah tidak punya urusan dengannya," jawabku sembari kembali menarik tangannya.

"Gak mau," tolaknya mentah-mentah, tapi aku tidak menyerah.

"Ok, kalau gitu," tuturku sembari melepaskan tangannya, kulihat raut wajah istriku berubah. Aku tahu itu, dia pikir aku akan menyerah untuk membujuknya? Tidak akan.

Aku langsung saja menggendong tubuhnya seperti karung beras. Dia berontak dipelukanku, tapi aku bodoh amat, pengunjung yang datang hanya menatap kami aneh.

"Diam, atau aku cium kamu di tempat ini," ujarku menakutinya. Dia langsung saja terdiam seperti kelinci.

"Gadis pintar," ujarku lembut dan membawanya ke mobil kami.

"Devan," panggilnya. Aku meliriknya sekilas kemudian kembali fokus ke jalan raya.

"Gimana kalau kita ceria aja?"

Ckit!

Pernyataan Elza membuatku langsung merem mendadak. Aku langsung saja menatapnya tajam yang membuat Elza takut.

"Awh, pelan-pelan dong, kalau mau berhenti bilang jangan ngerem mendadak gini," tuturnya kesal.

"Kamu ngomong apa sih? Gak ada cerai," putusku tampa menghiraukan perkataannya kemudian melajukan mobil ini kembali.

"Iya, bukannya kita menikah baru kemarin. Nah, kamu bisa sama-sama pacar lo itu, gue udah bilang kemarin gue bisa batalin perjodohan ini dengan alasan lo udah punya kekasih, tapi lonya bandel sih, jadi Pernikahanya terlaksana deh. Kalau—eumh."

"Kenapa kamu cerewet sekali?" tanyaku padanya sembari melepas bekapan pada bibirnya. Sapa suruh dia terlalu cerewet.

"Ih, lo gimana sih, gue udah baik hati lho mau satuin lo dengan pacar lo itu, kenapa lo gak mau, bodoh, dasar bocil," ujarnya cemberut. Aku kemudian memberhentikan mobil ini di pinggir jalan.

"Kenapa berhenti? Ada masalah ya?" tanyanya padaku.

"Elzania Saputri Wijaya, kamu itu adalah istirku, wanita yang akan menemani sampai akhir khayat jadi kumohon berhenti membahas mengenai perceraian dan pacar, telingaku sakit, pliss," mohonku padanya sembari menatap matanya dalam. Dia terdiam menatap manik ku. Aku tahu aku ini tampan jadi dia menatapku seperti itu.

"Oh, ya, apa kamu tidak merasa sakit hati jika suamimu ini dimiliki oleh orang lain, hm?" tanyaku lagi padanya sembari mendekatinya.

"Eum, gue ...." Dia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Aku sudah tahu jawabannya karena dia tidak ingin aku dimiliki oleh orang lain. Kulihat dia menggigit bibir bawahnya sembari menatap ke sana kemari agar kami tak bertemu pandang.

"Gue—"

Cup!

Kucium saja pipinya. Ha ha, dia lucu sekali. Baru aku cium pipinya sudah mematung.

"Ih, Devan. Dasar bocah tengik, main cium-cium anak orang, gue laporin lo sama Ayah gue, mau lo," kesalnya sembari mengancam ku. Matanya melotot tajam. Sangat lucu, aku rasanya ingin tertawa terbahak-bahak saja rasanya.

"Kamu lupa status kita?" tanyaku. Jangan bilang dia lupa lagi status kita yang sudah sah secara hukum dan Agama.

"Status apa?" tanyanya.

Huft! Aku memukul kepala ku pelan. Dia lupa atau pura-pura lupa.

"Baiklah, aku ingatkan. Kita itu suami istri udah nikah kemarin, dan besok kita ingin honeymoon di Bali, dan kita akan melakukan apa yang seharusnya pasangan suami istri lakukan," godaku padanya.

Dia langsung saja menyilangkan tangannya di depan dada. Ha ha, dia takut rupanya.

"Aku akan tunjukkan kalau aku mencintaimu, jangan memikirkan hal aneh-aneh," sambung ku lagi yang membuatnya tampak legah.

"Serius kita mau honeymoon? Wah, berarti kita bisa ke pantai dong? Asik, gak sabar buat liburan," ujarnya senang aku ikut tersenyum melihat senyuman tulusnya.

"Oh iya, satu lagi ruba panggilanmu jangan lo-gue, tapi aku-kamu, ngerti Sayang?" Aku berucap sembari mengelus puncak kepalanya, aku tak suka mendengar sebutan itu rasanya jarak kita terlalu jauh.  Dia hanya mengangguk sebagai jawaban, setelah kurasa semuanya aman aku kembali melanjukan mobilku.

Seteleh menempuh perjalanan yang cukup lama, kami sudah sampai di rumah orang tuaku. Saat aku ingin ke luar dari mobil tiada pergerakan dari istriku. Ternyata dia tertidur.

Aku tidak tega untuk membangunkannya. Jadi, aku menggendong dia masuk.

"Assalamualaikum," salamku.

"Waalaikumsalam," jawab Mama yang datang dari dalam.

"Elza tidur ya? Sana kamu bawa dia ke kamar kamu," ujar Mama saat melihat Elza tertidur di gendongan ku. Aku hanya mengangguk dan izin pamit untuk membawa Elza ke kamar ku. Ini pertama kali seorang wanita masuk ke dalam kamarku dan aku sendiri yang membawanya masuk. Amel saja sepupuku tak pernah ku izinkan untuk masuk.

Aku meletakkan Elza pelan-pelan di atas kasur king size ber-sprei abu-abu. Setelahnya aku merapikan rambut istirku yang menghalangi wajah ayunya.

Cup! Aku mengecup kening istriku kemudian aku membiarkannya untuk istirahat terlebih dahulu, aku tahu istri bar-barku ini lelah bergosip seharian dengan sahabatnya.

"Elza gimana?" tanya Mama saat aku keluar dari kamar.

"Dia masih tidur Ma, kayaknya dia capek banget soalnya tadi cek restonya dulu baru kita ke sini," paparku yang setengah benar.

"Ouh, kamu sudah makan, Sayang?" tanya Mama sembari tersenyum.

"Udah Ma," jawabku.

"Oh, kalau kamu lapar tinggal ke meja makan ya, Mama udah siapin makan untuk kalian. Pasti Elza kalau bangun dia lapar," balas Mama masih tersenyum lembut.

"Kok, Mama bisa tahu kalau Elza bangun pasti cari makanan?" tanyaku penasaran. Apa ini salah satu sifat anehnya.

"Ibu  Sinta yang cerita. Kalau Elza bangun tidur pasti selalu cari makanan. Meskipun itu larut malam," jawab Mama tersenyum kecil.

"Oh, makasih Ma infonya," ucapku.

"Sama-sama, Sayang. Kalau gitu Mama ke atas dulu ya, mau istirahat," tutur Mama sembari berbalik untuk pergi ke lantai dua di mana kamarnya dan Papa berada.

***

Aku terbangun sudah berada di tempat yang berbeda. Ini kamar siapa? Kok aku bisa ada di sini. Aku menggeleng kuat, apa jangan-jangan aku lagi diculik. Huwa, tidak mungkin, lalu Devan di mana? Aku celingak-celinguk mencari sosoknya. Kamar bernuansa abu-abu ini sangat asing bagiku. Tentu ini adalah kamar pria karena bau maskulin berkuar dari kamar ini. Aroma tempat tidurnya pun aroma pria.

"Huwa, Mama. Tolong Elza," teriakku sedikit kencang air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Hu, aku lapar, tapi ini bukan di rumah bagaimana jika aku keluar penjahat itu akan membunuhku.

"Ayah, tolong Elza, Elza takut," lirihku lagi—air mata sudah membasahi pipi. Bayangan masa lalu yang entah di mana dan kapan itu terjadi kini kembali muncul, meskipun samar aku bisa melihat diriku yang menderita memohon untuk dibebaskan. Ternyata traumaku tak pernah sembuh.

Brak! Tiba-tiba kamar terbuka yang menampakkan sosok Devan dengan raut wajah khawatir aku langsung saja beranjak dari tempat tidur ini dan menghampiri Devan.

"Huwa, Devan Elza takut," ujarku padanya sembari memeluk tubuh Devan yang lebih tinggi dariku.

"Tenang ok, aku ada di sini, kamu kenapa teriak tadi?" tanya Devan lembut.

"Gue takut, ini di mana, gue gak diculik, 'kan?" tanyaku padanya. Kulihat Devan tersenyum kecil.

"Lo kenapa? Lo juga bersekongkol dengan penculik itu?" Aku mundur perlahan sembari menatapnya waspada, "gu-gue, minta maaf, gue gak akan menggangu kehidupan lo lagi, tolong lepasin gue An, pliss. Huwa, Mama tolong Elza." Tangisku pecah. Jujur sekarang aku takut apa karena aku menerima perjodohan ini, Devan sudah menampakkan sifat aslinya dan ingin membunuh ku. Tidak-tidak aku tidak mau mati muda aku belum merasakan bagaimana rasanya malam pertama.

"Tenang, Sayang. Aku gak mau apa-apain kamu kok," ujar Devan sembari tersenyum aneh. Aku makin takut. Firasat ku tidak enak.

"Lo jangan mendekat! Pliss An, gue gak akan ganggu lo lagi, gue rela lepasin lo, gue belum rasaain bagaimana malam pertama gue belum mau mati, plisss jangan bunuh gue," mohonku dengan berderai air mata.

"Gak gitu, Sayang. Sini dengerin aku," tutur Devan seraya ingin meraih tanganku. Namun, aku menyembunyikan tanganku di belakang tubuh ku.

"Ada apa ini? Elza kamu kenapa menangis, Sayang?" Tiba-tiba seorang wanita paruh baya datang itu Ibu mertuaku. Ini adalah kesempatan untuk kabur dari Devan.

"Huwa, Mama, Devan mau bunuh Elza. Elza belum mau mati, tolong Elza Ma," mohon ku pada Mama.

"Aku gak mau bunuh dia Ma, aku juga heran Elza kenapa dia nangis tadi terus ngomong ngawur gitu," elak Devan membela dirinya.

"Ma, Elza mau pisah aja sama Devan dia sudah punya kekasih, Elza gak mau disebut pelakor, Ma, Elza takut nanti dibunuh kayak di film itu karena dikira pelakor," tuturku lagi sembari bersembunyi di balik punggung Mama mertuaku.

Kulihat Mama meliriku bergantian dengan Devan setelahnya Mama menggeleng.

"Elza, Sayang. Kamu jangan ngomong gitu ya, Devan suami kamu. Nanti Mama yang hukum dia kalau macam-macam di belakang kamu," ujar Mama menenangkan.

"Devan tidak ingin membunuhmu, Sayang. Tadi waktu kamu teriak Devan langsung lari tergesa-gesa ke kamar ini untuk melihat kondisi mu, Sayang. Ini di rumah Mama Filza jadi kamu gak usah takut ya," lanjut Mama lagi menenangkan.

Aku melirik Devan. Sembari menatapnya lekat.

"Lo gak akan bunuh gue 'kan seperti di film-film yang suka gue tonton?" tanyaku padanya sembari mendekat untuk melihat apakah dia tidak punya niat lain.

"Gak, Sayang. Kamu itu istirku mana mau aku membunuhmu," tutur Devan lembut yang membuatku tenang.

"Kalau gitu peluk, Elza takut," pintaku padanya sembari membuka tangan ku lebar agar dia memelukku.

Devan dengan senang hati memelukku.

"Kalau begitu Mama ke luar dulu ya, Elza Sayang. Kalau kamu mau makan udah Mama siapin ya," sahut Mama yang keberadaanya kulupakan. Bodohlah yang penting mau peluk Devan dulu.

"Kamu kenapa, Sayang. Kok takut gitu? Aku gak akan bunuh kamu kok, lagi pula aku gak punya pacar. Jadi, kamu tenang ya," papar Devan sembari melepaskan pelukan kami. Dia mengusap kepalaku sayang. Ah, aku sangat suka ini.

Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Kalau gitu, kita ke meja makan yuk, kamu pasti lapar," ajak Devan yang kubalas anggukan.

"Tapi, Gendong," pintaku. Dia kemudian membungkuk dan menyuruh ku naik ke punggungnya. Aku dengan senang hati melakukannya—memeluk leher Devan.

'Cium pipinya, ah. Ini 'kan kesempatan,' ujarku dalam hati.

Cup! Wah, nikmat!

Devan melirikku sekilas kulihat gurat senyuman di wajahnya. Kemudian aku kembali menenggelamkan wajahku di ceruk lehernya.

'Apa yang belum aku ketahu tentangmu, Za?'

1
Vitri Aditya
kedewasaan memang gak bisa diukur dengan usianya. kelihatan disini devan yg lebih muda tp lebih dewasa. dan Elza yg lebih dewasa malah kekanakan
Ade Bunda86
kayaknya si Amel suka sama Devan deh,.ihhhh
Ade Bunda86
mulai berani y
Ade Bunda86
seru bgt nih ceritanya ....lanjut Thor....
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: siap" Terima kasih udah baca ya😭☺
total 1 replies
Ayu Kartika II
gk jelas ngkunya istri tpi ma suami songong giliran ada cewe deket" suaminya cemburu,,aneh nih orang critanya yg jelas thorr,,,
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hrap sabar ya☺🙏
total 1 replies
Ade Bunda86
walau LBH tua tp masih ori y bang Dev...heheheh
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: hehe😌🤫
total 1 replies
Dida Sa'diah
knp Elza selalu berpikiran gitu sih,kan aku jadi kesel sendiri dengan sikap Elza😡
Dida Sa'diah: 😊😊 ya kakak
total 2 replies
Dida Sa'diah
Elza yang lebih dewasa tapi yang manja nya Elza,,tapi gak papa sama suami sendiri,jadi lucu sendiri baca nya
Ayu Kartika II
elza koq kyk anak kecil masa iya pikirannys sampe sejauh itu apa coba motifnya devan mau bunuh kmu gk masuk akal dehh
bisa gk sih torr critnya agk sdikit dipersingkt gtu gk diulang" jdi kurang seru gitu thorr critanya itu biar ringkas padat dan berisi gtu lho,,😊🙏
faula Ana
lanjut donk
😘 sweet baby😘
haduuhhh.... makin rumit aja thor 😏😏
Sri Wigati
lanjut
Fha Fisha
cepat satu kan Elza lagi tor
Imer Merlin
geram pengen ku jambak2 tuch si setan Laras yg GX tw diri😤😤😤😤😤😤
𝘑𝘶𝘯𝘨 𝘑𝘪𝘯𝘨𝘺𝘪: sabar, zheyeng. tapi auhtor salut sama Laras dia rela lakuin apa pun demi mendapatkan seorang yg dicintai
total 1 replies
Egik
moga Elsa cepat di temukan devan
😘 sweet baby😘
up lg donk thor.. pinisirin akuh 👍
Imer Merlin
jangan lma2 misahin Elza sama Devan Thor, kasian tw😞😞😞😞😞😞
Imer Merlin
keren Elza, ngadepin pelakor emang harus cerdik,, jangan oke emosi👍👍👍👍👍
Egik
moga devan bisa secepatnya menemukan Elsa
Fha Fisha
next

cepet temukan Elza dan Devan kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!