Aluna Anna harus menelan kenyataan pahit ketika ibunya, Yusi, memaksanya mengakhiri rencana pernikahan dengan pria yang sangat dicintainya, seorang dokter muda bernama Alvaro Alexander. Di balik keputusan itu tersimpan keinginan Yusi yang dianggap lebih penting daripada kebahagiaan putrinya sendiri: ia ingin Alvaro menikahi Elizabets, adik Anna yang hidup dengan keterbatasan fisik, dengan harapan sang dokter dapat merawat dan membantu kesembuhannya.
Keputusan tersebut menghancurkan hati Anna dan Alvaro. Cinta yang telah mereka bangun harus dikorbankan demi tuntutan keluarga dan rasa tanggung jawab. Di tengah luka dan air mata, Anna berusaha menerima nasib yang tidak pernah ia pilih, sementara Alvaro terjebak antara cinta sejatinya dan kewajiban yang dipaksakan kepadanya.
Namun, ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, mereka menyadari bahwa cinta sejati tidak mudah dipisahkan oleh keadaan. Mampukah Anna dan Alvaro memperjuangkan kebahagiaan mereka, atau akankah mereka selamanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meindah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10
Anna berdiri di depan cermin dengan senyum tipis yang mengembang di bibir. Jemarinya sekali-kali merapikan helai rambut yang terurai lembut di bahunya. Sementara gaun berwarna
putih tulang bermotif anggun membalut tubuhnya dengan sempurna. Kilau manik-manik putih yang menghiasi bandol rambutnya memantulkan cahaya lembut, membuat pesonanya terlihat semakin memikat dan berkelas. Namun, di balik itu ada sepasang mata yang yang tak lepas memandangnya tanpa Anna sadari.
" Kamu tidak bosan memandang Anna?" Suara dari belakang tiba-tiba membuyarkan lamunannya. Eliz segera mengalihkan pandangan ke ruangan lain.
"Anna memang wanita yang paling beruntung, ya, Ma," suara Eliz terdengar bergetar, tatapannya melayang jauh.
"Ada apa, Eliz? Sejak kamu berobat ke dokter Alvaro, kamu jadi lebih sering melamun," Yusi mendekat dengan lembut pada putrinya. Bukan Yusi tidak mengerti isi hati Eliz, tapi ia sendiri bingung harus berbuat apa. Anna juga putrinya, meski sering membuatnya kesal. "Apa aku harus mengorbankan perasaan Anna demi Elizabeth?" batin Yusi bergemuruh tak menentu.
"Aku ingin ada seorang pangeran tampan yang menerima kondisiku, Ma," kata Eliz tiba-tiba, sambil menundukkan kepala dengan pelan, namun matanya penuh harap.
"Aku ingin dicintai seperti Mbak Anna, yang dicintai dengan begitu ugal-ugalan oleh dokter Alvaro."
Yusi tak mampu menahan rasa penasarannya. Dengan hati-hati, ia memberanikan diri untuk menanyakan apa yang sedang mengganjal di pikirannya.
"Kamu menyukai dokter Alvaro?" tanyanya lembut. Eliz terdiam, tak berani menatap mata ibunya, membiarkan keheningan menjawab segala keraguannya.
" Aku ingin ke kamar, Ma," ucap Eliz, sengaja ingin menghindari pertanyaan ibunya.
Yusi tidak bertanya apapun lagi, ia pun meninggalkan tempat tersebut bersama Eliz.
"Bib... bib... bib," bunyi klakson nyaring memecah suasana. Yusi sudah menduga siapa yang datang.
"Sebentar ya," ucapnya pada Elizt sambil melangkah terburu keluar.
"Nak, masuk dulu, Anna ada di dalam," suara Yusi terdengar ramah. Alvaro baru saja hendak mengikuti di belakang ibu Yusi, tapi Anna sudah muncul berdiri tepat di depan pintu. "Aku tidak jadi masuk, Tante. Anna sudah keluar," jawab Alvaro dengan sopan.
Yusi mengangguk, lalu mendekat pelan ke arah Anna dan berbisik. Hati Anna seketika berkecamuk, hanya dia yang tahu apa yang ibunya katakan.
Pandangan Anna masih tertuju pada punggung ibunya yang melangkah masuk ke dalam rumah. Hatinya sesak, hampir saja air matanya menetes, tapi sebisa mungkin ia tahan.
“Mama tega mengatakan itu padaku, padahal aku putri kandungnya juga. Apa salahku?” batinnya, sebelum melangkah mendekati Alvaro.
“Kamu cantik banget, Anna,” puji Alvaro, tak bosan memandang wajah Anna yang semakin menawan.
“Terima kasih, Mas,” jawab Anna sambil tersenyum tipis.
“Aku takut, jangan-jangan orang tua kamu tidak suka sama aku,” kata Anna, membuat Alvaro berbalik menatapnya.
“Tahu dari mana kalau kedua orang tuaku tidak menyukaimu?” tanya Alvaro.
" Aku tidak tahu kenapa tiba-tiba aku merasa tidak percaya diri, Mas," ucap Anna pelan. Alvaro menghembuskan napas berat sambil mengemudi, berusaha meyakinkan Anna bahwa semuanya akan berjalan sesuai harapan. Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan rumah Alvaro. Di sana, seorang wanita paruh baya menunggu di luar, aura cantiknya tetap terpancar. Senyum tipis mengembang di wajahnya saat menyambut kedatangan mereka.
Anna dan Lidya sebenarnya pernah bertemu, tapi itu sudah sangat lama sekali. Waktu itu, Alvaro mengajak Anna jalan-jalan ke sebuah mal. Kebetulan, ibu dan adiknya Caca juga sedang berada di sana. Tanpa pikir panjang, Alvaro segera mempertemukan mereka.
"Kamu Anna, kan?" tanya Lidya sambil menggandeng lembut lengan gadis itu, dengan sikap seolah mereka sudah saling mengenal.
"Iya, Tante, aku Anna, teman dokter Alvaro." "Oalah, bukan teman, tapi calon," bisik Lidya tepat di telinga Anna. Sesaat Anna tertunduk malu, wajahnya berubah merah menahan rasa malu.
Suasana makan di ruangan itu terasa hangat dan penuh keakraban. Cahaya lampu yang lembut memantul di atas meja makan yang dipenuhi hidangan lezat. Sesekali terdengar suara tawa ringan dan percakapan santai yang mengalir tanpa jeda. Denting sendok dan piring berpadu dengan suara obrolan, menjadikan momen makan di malam itu begitu mengesankan.
“Di mana Papa, Ma?” tanya Alvaro saat menyadari ayahnya tak ada bersama mereka.
“Mmm, Papa sedang sibuk mengurus bisnisnya, Nak. Tapi lain waktu Papa pasti hadir,” jawab Lidya, ibu Alvaro, dengan wajah yang seolah menyembunyikan sesuatu, meski tak seorang pun menyadarinya.
“Ada yang ingin aku katakan, Ma. Ini tentang hubunganku dengan Anna.” Kata Alvaro, jantungnya pun ikut berdebar tak karuan.
“Katakan saja, Nak. Jangan ragu kepada Mama,” ucap Lidya, berusaha menenangkan pria muda di sampingnya. Wajah Alvaro tampak pucat, gugupnya sangat terlihat. “Dalam waktu dekat aku ingin melamar Anna, Ma. Kebetulan kuliahnya juga tidak lama lagi selesai.”
Lidya hanya menyimak yamg disamnpakan putranya, ia pun mengangguk pelan, menatap lembut gadis itu yang tertunduk malu.
“Kalau kamu ingin melamar Anna, kenapa tidak mengajak keluarganya datang ke rumah?” tanya Lidya.
“Aku hanya ingin mengenalkan Anna kepada Mama dan Papa dulu. Selanjutnya, aku akan melamar Anna secara resmi di depan orang tuanya.”
"Mama tidak masalah,bahkan justru senang. Akhirnya, putraku akan melepas masa lajangnya," goda Lidya pada putranya.
"Mama sudah tahu kan, Ma, aku tidak ingin menikah dengan wanita lain selain Anna." Anna yang mendengar ucapan kekasihnya itu langsung mencibir, seolah-olah sengaja dirayu di depan calon ibu mertuanya.
"Tapi bagaimana dengan Om Denis, ayah Alvaro?" Anna memberanikan diri bertanya. Ia tak ingin ada orang tua Alvaro yang menolak kehadirannya sebagai menantu.
"Tenang saja, Sayang. Aku yakin Papa pasti setuju, seperti Mama," jawab Alvaro dengan penuh keyakinan.
Tiba-tiba Lidya tersedak makanan, dan Alvaro segera memberinya air minum.
"Pelan-pelan saja makannya, Ma," ucap Alvaro dengan lembut.
Anna ikut membantu Lidya yang tersedak, menepuk-nepuk pelan punggungnya agar segera membaik.
Usai drama singkat itu usai, semua orang di ruang makan bubar, dan Anna berencana segera pulang. Lidya memeluk hangat Anna sebelum berpisah. Alvaro ikut senang melihat keakraban mereka. Dia yakin Anna bisa segera menyatu dengan keluarga. Di ambang pintu, tampak sosok pria berwajah tegas menatap ke dalam ruangan. Wajah dinginnya menyorot tajam setiap orang yang ada di sana. Sesaat Alvaro tampak tegang, namun Lidya segera menghampiri suaminya.
“Ayo masuk, Pa,” ucap Lidya sambil menuntun suaminya masuk. Sementara itu, jantung Lidya sendiri berdebar-debar menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Terlebih lagi, Anna tak berani menatap wajah pria itu. Tatapan tajam dan sinisnya seketika membuatnya ragu.
"Papa, ini Anna, gadis yang sering aku ceritakan," ujar Alvaro cepat, mencairkan ketegangan suasana.