Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Acara pun dimulai tepat waktu. Fatma berjalan dengan langkah anggun namun perlahan menuju podium yang telah disediakan di aula kantor Dinas Pendidikan.
Dengan suara yang lembut, tenang, dan sarat akan keteduhan, ia mulai menyampaikan tausiah mengenai kesabaran, keikhlasan, serta bagaimana menyikapi ujian dalam kehidupan sehari-hari.
Di salah satu barisan kursi jemaah, Hakam duduk diam.
Ia mendengarkan setiap bait tausiah yang disampaikan oleh kakak iparnya dengan seksama.
Kata-kata yang keluar dari bibir Fatma begitu menyentuh hati, membuat Hakam semakin kagum dengan kepribadian wanita yang kini menjadi istri kakaknya itu.
Namun di atas podium, perjuangan Fatma sebenarnya teramat berat.
Di tengah-tengah penyampaian materinya, Fatma mendadak merasakan rasa sakit yang luar biasa hebat menjalar di sekujur tubuhnya.
Bekas cambukan semalam yang mulai mengering kini terasa begitu perih dan kaku setiap kali ia menggerakkan tubuh atau menarik napas dalam untuk berbicara.
Kepalanya bahkan sempat berputar menahan pening akibat rasa lemas yang mendera.
Meski begitu, Fatma mencengkeram sisi podium dengan kuat.
Ia memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya.
Ia tahu ia harus tetap kuat dan tegak berdiri agar tidak ada satu pun orang di ruangan itu—termasuk Hakam—yang menaruh curiga tentang penderitaan yang sedang ia sembunyikan.
Sementara itu, di dekat pintu masuk aula yang terbuka, Bryan berdiri diam di kejauhan.
Dari posisi tersebut, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Fatma berdiri di atas panggung sandiwaranya sendiri.
Bryan menatap takjub sekaligus miris, menyaksikan bagaimana seorang wanita yang tubuhnya dipenuhi luka lebam akibat penyiksaan kejam tuannya, masih mampu berdiri tegak dan menyampaikan kata-kata penuh kedamaian kepada orang banyak.
Setelah satu jam berlalu, acara tausiah itu pun akhirnya selesai dengan lancar.
Hakam yang menyadari wajah Fatma tampak sedikit pucat segera bergegas menuju meja prasmanan.
Tidak lama kemudian, ia kembali sambil membawa sepiring makanan dan segelas air untuk kakak iparnya.
"Ini, Mbak, silakan dimakan dulu," ucap Hakam sopan sambil menyerahkan piring tersebut.
Fatma menerimanya dengan senyuman tulus. "Terima kasih banyak ya, Hakam. Kamu baik sekali."
Sembari menyuap makanannya perlahan, Fatma mencoba mengalihkan rasa sakit di tubuhnya dengan mengobrol.
"Oh iya, Hakam, kalau boleh tahu, sekarang kamu tinggal di mana? Kenapa kamu tidak tinggal satu rumah saja dengan Mas Adrian? Rumahnya, kan, sangat besar."
Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Hakam berubah agak canggung dan serba salah.Ia menghela napas pendek sebelum akhirnya menjawab dengan jujur.
"Sebenarnya, dulu Hakam tinggal satu rumah dengan Mas Adrian, Mbak," aku Hakam dengan nada suara yang merendah.
"Tapi, Hakam akhirnya memutuskan pindah karena sudah tidak tahan. Mas Adrian dulu selalu mengajak Liana ke rumah, dan mereka sering menghabiskan waktu di dalam kamar yang sama padahal statusnya belum menikah. Hakam merasa sangat tidak nyaman dengan lingkungan seperti itu."
Hakam menatap Fatma dengan pandangan bersalah sekaligus prihatin, seolah ingin memperingatkan kakak iparnya tentang tabiat asli pria yang kini menjadi suaminya.
"Selain itu, Mas Adrian juga mempunyai sifat yang temperamental sangat keras, Mbak. Kalau emosinya sudah tersulut, tidak ada yang bisa menghentikannya. Karena itulah Hakam memilih untuk menyewa kontrakan kecil di dekat kantor sini saja, demi ketenangan sendiri," lanjut Hakam.
Mendengar penuturan jujur dari Hakam, Fatma tertegun di tempatnya.
Dadanya terasa semakin sesak. Fakta bahwa Adrian dan Liana sering berdua-duaan di dalam kamar sebelum menikah membuat hati kecil Fatma menyadari satu hal: Adrian yang begitu diagung-agungkan oleh keluarga Liana ternyata adalah pria yang jauh dari batas-batas norma agama yang selama ini dipegang teguh oleh Fatma di pesantren.
Setelah selesai makan, pimpinan tempat Hakam bekerja menghampiri Fatma dengan senyum ramah dan memberikan sebuah amplop tebal sebagai bentuk penghormatan dan ucapan terima kasih atas tausiah yang luar biasa.
"Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu saya pamit pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Fatma sopan seraya menerima amplop tersebut.
Hakam yang berdiri di sampingnya langsung menawarkan diri dengan cemas.
"Mbak, saya antar pulang ke rumah ya?"
Fatma buru-buru menggeleng halus sembari tersenyum menenangkan.
"Tidak usah, Hakam. Terima kasih. Mbak sudah ada Bryan yang menunggu di luar."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju area parkiran gedung.
Begitu sampai di dekat mobil, Hakam melihat Bryan yang berdiri tegap di samping pintu kemudi.
Hakam melangkah mendekati pria itu dan menepuk pundaknya pelan.
"Bro, aku titip Mbak Fatma, ya. Tolong jaga dia baik-baik," ucap Hakam dengan tatapan penuh arti, menyiratkan kekhawatirannya atas watak keras sang kakak.
Bryan menganggukkan kepalanya dengan tegas. "Baik, Den Hakam. Anda tidak perlu khawatir."
Namun, tepat saat Fatma melangkah masuk dan duduk di dalam kabin mobil, ponselnya kembali bergetar.
Layar ponsel menampilkan nomor yang tidak dikenal, dan saat diangkat, ternyata itu adalah suara isak tangis dari orang tua Jamie.
Dengan suara parau, mereka memohon dan meminta Fatma untuk datang ke rumah mereka sekarang juga karena ada hal penting terkait kecelakaan itu yang harus dibicarakan.
Fatma meremas ponselnya, dilanda kebingungan dan ketakutan yang hebat.
Ia menatap punggung Bryan yang mulai menyalakan mesin mobil.
"Bryan, apakah kamu bisa mengantarkan aku ke rumah Jamie? Orang tuanya baru saja menghubungiku dan memintaku datang," lirih Fatma dengan ragu.
"Tapi, kalau Mas Adrian sampai tahu hal ini, bagaimana?"
Bryan terdiam sejenak, melirik Fatma dari spion tengah.
Ia tahu risiko besar yang menghadang mereka jika Adrian mencium pergerakan ini. Namun, melihat sorot mata Fatma yang begitu menderita dan butuh kejelasan, hati kecil Bryan kembali tergerak.
Bryan menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Kita rahasiakan ini, Nyonya. Tenang saja, Tuan Adrian tidak akan tahu," jawab Bryan tegas, langsung memutar kemudi menuju alamat rumah Jamie demi membantu Fatma mencari kebenaran.
Tanpa disadari oleh Fatma maupun Bryan, sebuah mobil mewah dengan kaca yang sangat gelap terparkir beberapa puluh meter di seberang jalan gedung Dinas Pendidikan.
Di balik kemudi, sepasang mata elang milik Adrian menatap tajam ke arah mobilnya sendiri yang baru saja melaju pergi membelah jalanan.
Adrian mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas setir, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang.
Tatapannya dipenuhi dengan kilat kemarahan dan rasa dikhianati yang semakin membakar dadanya.
Awalnya, Adrian sengaja memutar balik mobilnya ke gedung itu karena ada dokumen penting yang tertinggal di laci dasbor. Namun, pemandangan yang baru saja ia saksikan justru menyulut kembali api dendamnya.
Ia melihat bagaimana Fatma berbohong pada Hakam, bagaimana ia menerima uang, dan puncaknya—bagaimana Bryan, orang kepercayaannya sendiri, tampak begitu patuh dan "bersekongkol" dengan istrinya.
Lebih dari itu, GPS pelacak yang terpasang tersembunyi di mobilnya menunjukkan arah yang sama sekali bukan jalan pulang menuju rumah mereka.
"Hebat sekali kamu, Fatma..." gumam Adrian dengan senyum sinis yang mengerikan di bibirnya.
"Baru satu hari menjadi istriku, kamu sudah berhasil menjinakkan adik serta pengawal pribadiku,"
Adrian tertawa hambar, sebuah tawa yang sarat akan ancaman mematikan.
Ia menginjak pedal gasnya dalam-dalam, memutar arah dan kembali ke perusahaannya dengan pikiran yang berkecamuk.
Ia sengaja membiarkan permainan ini berjalan sedikit lebih lama.
Adrian ingin melihat sejauh mana Fatma akan melangkah, sebelum ia sendiri yang akan menjatuhkan hukuman yang jauh lebih kejam dan menghancurkan segala hal yang tersisa dari hidup wanita itu.
lanjut thor🙏
bikin jengkel aja thor 😡😡