Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Persiapan Sandiwara
"Tepat sekali. Kamu akan menjadi umpan hidup di tempat publik," sahut Ronan tanpa sedikitpun rasa empati. "Kita akan keluar dari apartemen ini, mendatangi tempat-tempat ramai, dan memancingnya untuk menyerang di zona yang sudah dipasangi jebakan taktis kepolisian."
"Kamu benar-benar gila!" Cala menunjuk wajah Ronan dengan jari telunjuknya yang gemetar. "Siapa yang mau keluar jalan-jalan denganmu saat ada pembunuh berkeliaran? Lagi pula, orang waras mana yang percaya kalau ahli forensik antisosial sepertimu tiba-tiba jalan berdua dengan perencana pernikahan di pusat perbelanjaan? Itu terlihat sangat mencurigakan!"
Langkah Ronan terhenti. Pria itu menatap Cala cukup lama. Tatapannya menelisik setiap inci wajah Cala yang memerah karena marah.
"Itu poin yang sangat akurat," gumam Ronan pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia kembali menekan tombol di ponselnya. "Komandan, siapkan tim pengawasan jarak jauh berpakaian preman. Kita akan memancing pelaku keluar dari sarangnya. Tutup panggilan."
Sambungan telepon terputus. Ruang kerja itu kembali hening, menyisakan suara dengung halus dari mesin pendingin ruangan.
"Jelaskan padaku apa rencanamu sekarang, Dokter," tuntut Cala sambil berkacak pinggang. Ketakutannya perlahan memudar, tergantikan oleh rasa penasaran dan keinginan kuat untuk bertahan hidup.
Ronan bersandar pada ujung meja baja. "Seperti yang kamu bilang tadi. Sangat tidak logis melihat kita berdua menghabiskan waktu bersama di luar ruangan. Pembunuh itu pasti curiga aku sedang mengawalmu sebagai agen kepolisian. Kita butuh alibi. Sebuah status sosial yang membuat kita wajar menempel satu sama lain selama dua puluh empat jam di tempat publik tanpa dicurigai."
"Maksudmu pura-pura pacaran?" tanya Cala ragu. Bulu kuduknya meremang hanya dengan membayangkan harus bersandiwara mesra dengan manusia kaku ini.
"Pacaran itu konsep remaja yang tidak stabil secara emosional," tolak Ronan mentah-mentah. "Terlalu banyak celah logika. Orang yang sekadar berpacaran tidak tinggal satu atap dan tidak saling menjaga secara agresif di depan publik."
Cala memutar bola matanya malas. "Lalu apa maumu? Kakak beradik? Wajah kita sama sekali tidak mirip."
"Tunangan," ucap Ronan tegas dan lugas.
Cala nyaris tersedak ludahnya sendiri. Matanya melotot menatap Ronan. "Apa kamu bilang?"
"Kita harus memalsukan status menjadi sepasang tunangan," ulang Ronan tanpa mengubah nada suaranya sama sekali. "Dalam ilmu psikologi evolusioner, status tunangan menunjukkan tingkat komitmen proteksi teritorial yang paling tinggi pada mamalia jantan sebelum tahap reproduksi resmi. Dengan skenario tunangan protektif, aku punya alasan rasional yang sangat kuat untuk memeluk pinggangmu di tempat umum, mengawasi setiap orang yang mendekatimu, dan melindungimu dari bahaya."
Cala membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Ia benar-benar kehabisan kata-kata. Dari jutaan skenario penyamaran di dunia ini, pria gila kebersihan yang menganggap cinta hanyalah oksitosin ini justru memilih ide paling romantis dan konyol sekaligus.
"Ini ide terburuk yang pernah kudengar," gerutu Cala. "Kamu mau kita bersandiwara mesra? Memanggil sayang? Berpegangan tangan? Jangan bercanda. Kamu bahkan nyaris pingsan saat hidungmu mencium bau parfum mawarku. Bagaimana bisa kamu meyakinkan pembunuh bayaran kalau kita ini saling jatuh cinta?"
"Aku ahli forensik tingkat tinggi. Kemampuan observasi dan rekayasa tingkah lakuku berada di atas rata-rata manusia normal," jawab Ronan sangat percaya diri. "Aku tahu persis letak saraf mana yang harus disentuh untuk memalsukan reaksi kasih sayang. Lagipula, ini hanya manipulasi visual untuk mengecoh target."
Cala membuang napas kasar. Ia tahu tidak ada pilihan lain. Berdiam diri di apartemen ini hanya tinggal menunggu waktu sampai pembunuh itu menemukan cara menjebol pintu baja, atau lebih buruk lagi, meracuni mereka. Keluar dan melawan adalah satu-satunya cara mengambil alih kendali permainan gila ini.
"Baiklah," putus Cala akhirnya, mengalah pada logika sinting sang dokter. "Tapi kalau kita mau memainkan skenario tunangan ini dengan meyakinkan, kita butuh alat peraga. Pembunuh sekelas dia tidak akan tertipu hanya dengan genggaman tangan murahan. Dia akan memeriksa setiap detail."
Ronan tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu merogoh saku dalam kemeja hitamnya. Dengan gerakan sangat cepat dan mulus, ia mengeluarkan sebuah benda pipih dan melemparkannya ke atas meja kaca tepat di depan Cala.
Bunyi ketukan plastik keras beradu dengan kaca terdengar tajam.
Cala menunduk. Sebuah kartu kredit berwarna hitam pekat tanpa batas limit, yang biasanya hanya dimiliki oleh segelintir konglomerat kelas atas, tergeletak manis memantulkan cahaya lampu laboratorium.
Ronan menatap lurus ke dalam mata Cala, sorot matanya tajam dan tidak menerima bantahan sama sekali.
"Besok kita beli cincin tunangan. Jangan pilih yang norak."
berasa nonton adegan action